Selamat Malam Jakarta

Tinggalkan komentar

883201_318540014941931_2019881245_oSelamat Malam Jakarta (SMJ) berkisah tentang lelaki usia 29 tahun, Galen, berprofesi sebagai jurnalis sebelum memutuskan untuk keluar dari pekerjaanya karena alasan yang sepele. Sesepele keputusasaannya pada hidup yang ia lihat sebagai “tak ada pilihan”—ia mabuk, ia absurd, tapi terus berjuang dan mencoba memaknai kehidupannya sendiri, tentu saja dengan cara-cara yang aneh.

Dari cara pandang hidup tokoh utamanya, Novel ini ingin berkisah tentang Jakarta, kehidupan (di waktu) malam jakarta dan segala persepsi tentang jakarta dari kaca mata yang sangat spesifik dan kecil saja; yaitu dari kaca mata seorang ‘aneh’ yang kemudian berambisi menulis novel demi mengikuti sayembara di mana ia sedang berpikir hal yang sama mustahilnya, yaitu memenangkannya! Menyelesaikan novel tak hanya berarti mendapat uang untuk melunasi hutang-hutangnya tapi secara eksistensial ia merasa ada, hanya saja ia terlambat menyadari hal itu.

Tokoh utamanya, Galen, berjuang menyelesaikan novelnya selama 15 hari sebelum sayembara menulis roman di dewan kesenian kota resmi ditutup. Selama 15 hari itulah tokoh utamanya telah menyewa sebuah tempat duduk di lantai dua sebuah kafe di Cikini. Dari kafe itu ia memandangi Jakarta, merenungkan keadaan, memberi pandangan pada dirinya sendiri bagaimana menikmati kelamnya kota jakarta—Galen ingin menunjukkan, setiap orang di jakarta memiliki tafsir dan cara sendiri dalam menikmati artifisialisme di sudut-sudut kota metropolitan ini.

Selama lima belas hari yang berlangsung di kafe Galen lantas bertemu dengan seorang yang baru, kisah yang lain, kehidupan yang berbeda, penderitaan dan keceriaan yang aneh yang tak lazim bagi penduduk ‘awam’ jakarta. Lima belas hari ia terus berjuang menyelesaikan novelnya, saban hari ketika petang ia datang ke kafe, duduk menulis hingga subuhnya—ia diam-diam mengalami penderitaan batin, guncangan psikologis, namun akhirnya ia gagal.

Kegegalan itu tak sepenuhnya membuatnya putus asa, di dalam hari-hari perjuangannya yang walau berakhir dengan kegagalan, ia telah bertemu dengan Inne—seorang gadis keturunan Tiongkok yang datang dari kejauhan pulau Remodang di Bangka Belitung. Inne singgah di Jakarta selama sehari sebelum bertolak ke Belanda untuk studi antropologi. Tanpa sengaja keduanya bertemu di kafe di Cikini.

Walau hanya semalam, tapi rupanya Inne telah memberi kesan mendalam bagi Galen, lantaran gadis itu, ternyata adalah korban pemerkosaan pada mei 1998. Ia ke Jakarta, singgah “sehari” untuk “menziarahi” rumahnya yang kini telah menjadi toko milik seorang asing yang tak ia kenali atau ia pun memang sudah tak perduli.

Siapa sangka Inne ke Jakarta untuk terakhir kalinya dan tak pernah kembali lagi, ia telah memilih beralih kewarganegaraan dan memutuskan menjadi seorang Lesbian di Amsterdam. Cinta kasih keduanya pun purna!

Tokoh lain dalam novel ini adalah Alissa Livianca, gadis sosialita jakarta yang bertemu dengan tokoh utama novel ini dengan sama anehnya. Mereka bertemu di tengah malam di stasiun kota Jakarta yang tua dan nostalgik. Keduanya sedang frusatasi, putus asa pada makna hidup dan duduk tanpa tujuan di peron stasiun kota sebelum pada satu kesempatan mereka bertemu kembali di sebuah pameran seni rupa—sejak itu mereka menghabiskan malam-malam yang mengesankan di kafe, kemudian pergi ke hotel dan mengalami “sensualitas” sexual yang mengesankan, rapuh, dan sepi.

Alissa mencintai Galen, tapi demi menyelesaikan novelnya supaya bisa mengikuti sayembara menulis novel, Galen telah memutuskan untuk mengabaikan dan tidak menggubris Alissa sampai ketika ia menyadari bahwa ia salah dan terlambat—Alissa pun memutuskan menikah dengan orang lain dan tak pernah bertemu kembali sampai suatu ketika.

***

sabiqcarebesth2014Dengan sudut pandang orang pertama tunggal, novel ini secara moral ingin mengunjungi Jakarta– kota kita semua, tetapi kali ini Jakarta dilihat dengan berjarak; tetapi intens dan mendalam, muak tatapi terus berusaha menikmati semua yang ditawarkan oleh malam di Jakarta.

Setting di gedung-gedung tua, kafe dan jalan-jalan yang akan membuat pembaca kisah ini takkan mudah melupakan Jakarta. Dan tentu saja, melihat Jakarta dengan kaca mata yang berbeda, intim, mendalam, namun begitu selalu berjarak. Dengan cara demikian, si tokoh memberi kemungkinan untuk mengeksplorasi “alam bawah sadar” dari dunia bawah tanah manusia Jakarta yang kerap banal, rapuh dan cemas. Kesemuanya itu berlangsung dalam gambaran malam-malam Jakarta yang kelam lengkap dengan lampu-lampu kafe, lampu mercury dan jalan-jalan eksotis yang menyimpan kenangannya sendiri.

Sastrawan dan penulis senior Arswendo Atmowiloto yang dimintai untuk membaca naskah ini menyebut novel ini inspiratif dan temanya langka. Melalui surat Arswendo menulis: “Saya sudah baca novelnya, inspiratif meski tidak populer. Yang diperlukan editor untuk penulis ejaan. Selamat.” ujarnya.

Penulis dengan naskah novel ini tak sekedar ingin dipahami oleh pembacanya, tapi juga mengajak pembacanya untuk merenungkan dirinya sendiri, batinnya, kecemasannya, pandangan hidupnya, cara mereka menikmati waktu di Jakarta dan pada akhirnya, seperti malam-malam di kafe-kafe Jakarta, semuanya seperti hanya omong-kosong, tapi anehnya begitu mendalam dan mengesankan—serupa Jakarata ketika malam. Selamat malam jakarta…(*)

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2017
S S R K J S M
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Pengunjung

  • 43,305 hits
%d blogger menyukai ini: