Kecantikan Di Mana-Mana Sama Saja, Yang Beda Gairahnya

Tinggalkan komentar

Agustus 22, 2015 oleh sabiq carebesth

5870089Esok harinya, Klara berpesan pada Galen agar menyusulnya di Gereja. Hari itu adalah hari rabu yang mendung. Gerimis tiba ketika Galen memasuki pintu gereja dan Klara telah meunggunya di sana. Ia mengenakan dress warna ungu dan topi besar warna putih dengan manic-manik warna ceria. Klara terlihat jelita seperti mempelai yang kenak-kanakkan.

Mereka kemudian duduk menghadap altar di deretan bangku terdepan seperti biasanya. Bangku-bangku, kanopi dan dinding-dinding gereja seakan menjadi saksi untuk kesekian kalinya cerita kelam dua sejoli ini.

“Kita tak bisa memilih kapan berhenti, kita adalah jiwa perasa yang menjadi kuat karena merasai; keberanian untuk benar-benar merasai perasaan akan memupuk jiwa menjadi bejana yang tahan pada ngeri dan kecemasan. Dalam tahun-tahunku yang berlalu, kengerian dan kecemasan telah menghantui pikiranku nyaris tanpa alasan yang jelas. Aneh kurasa jiwaku ini, di tengah ramai kota Jakarta aku ngeri pada kesendirian, aku cemas pada keterbuangan. Tapi siapa nyana dalam kecemasan dan kengerian yang bergelayut diam-diam dalam benakku, aku memang kesepian, terbuang dan sendiri. Betapa pilu jiwaku ini. Mencintai bagiku selalu merupakan hal yang salah.” Klara berkata.

“Aku senang mendengarmu bicara sepanjang ini. Akhir-akhir ini kau gemar bicara panjang-panjang. Walau begitu aku tetap merasa tak seberapa mengenalmu Klara.” Ujar Galen. Matanya lurus kaku memandang altar, begitu juga dengan Klara.

“Kau mengenaliku, Galen.” Kata Klara.

“Tidak Klara. Aku bahkan sama sekali tak mengenalmu. Aku tahu hanya dengan izinmu saja orang lain bisa benar-benar mengenalimu. Hasratmu, kecemasanmu, kengerianmu. Selain kesendirianmu aku tak tahu apa-apa lagi.”

“Jangan berkata demikian. Kau membuatku merasa bersalah.”

“Tentu saja tidak. Kau akan selalu bebas dari kesalahan-kesalahan. Kau akan terus bebas dari kemarahan-kemarahan. Inilah yang kutakutkan, bahwa perasaanku yang mendalam padamu telah memaafkan semua kekonyolanku juga kau. “

“Aku tak bisa menolongmu atau memberimu pengertian yang kau butuhkan Galen.“ ujar Klara. ”Kamu hanya butuh waktu, Galen. Aku bisa mengiranya, kau akan akan kembali berjalan menjauh, kau akan menemukan kehidupan yang baru, cerita yang baru, perempuan yang lain di malam yang lain; yang sama mengasihinya sebagaimana aku juga tak pernah bisa benar-benar membencimu. Aku merasa ini takdirku walau terkadang itu konyol tapi aku cukup senang kau pernah menjadi bagian dari waktuku”

“Kau seorang yang baik, Klara.”

“Tapi tak cukup beruntung atau  menjadi mengesankan. Semua hal yang kucintai selalu menjadi salah, aku sudah mengatakan yang kedua kalinya.”

“Aku tak mengerti Klara.”

“Kau akan mengerti setelah aku pergi dari waktumu.” Ujar Klara. “Aku menyayangimu. Tapi kau sama asingnya dengan yang lain. Aku takut perasaan semacam ini tak berlangsung lama dan kau akan menanggung luka yang lebih mendalam.”

“Apakah kau mau menciumku?” tanya Galen.

“Tentu saja, kita sudah berciuman dan akan berciuman kembali, dan merasakan gairah yang mendebarkan. Kemudian tak ada apa-apa yang harus kita khwatirkan.” Jawab Klara.

“Lalu kau akan tetap pergi. Aku akan bersama yang lain sambil tetap mengagumimu?”

“Aku pun akan kembali sendirian, Galen. Aku hanya berharap tidak mati ketika usiaku rapuh dan tak ada yang datang lagi padaku. Itu mengerikan… dan kau? Menurutku, kau akan menemukan perempuan yang lain lagi; kepiluan dan drama yang lain. “

“Entahlah Klara, aku tidak memikirkan yang selainmu.”

“Semua laki-laki bicara semacam itu Galen..”

“Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?”

“Inilah keputusanku,” ujar Klara tiba-tiba. “Walau malam lalu kita begitu bahagia, tapi aku akan pergi darimu dan kamu pun tahu hal ini. Aku akan pergi ke tempat di mana kita mungkin tidak akan bisa bertemu di jalan-jalannya, di stasiusn kereta atau di gereja. Aku akan pergi Galen..”

“Bagaimana sebaiknya kepergian dirayakan?”

“Aku tak tahu Galen. Aku tahu kita bisa menjelaskan hal ini pada diri sendiri.”

“Tentu saja. Inilah kehidupan yang sebenarnya. Ini bukan cerita di dalam novel atau film. Semua ini jauh lebih mudah, bisu, dan tentu saja sebenarnya lebih menderitakan.” Ujar Galen ketika mereka telah duduk di kursi di dalam gereja Sion.

Jendela-jendela terbuka, cahaya pagi menembus seisi gereja, menghangatkan hati mereka yang kedinginan.

“Jika saja aku bisa mengatakan harapanku padamu.” Ujar Klara.

“Aku akan senang mendengarnya Klara.”

“Aku ingin kau menulis dan aku akan membacanya. Aku ingin namaku ada dalam halaman pertama bukumu. Tulislah buku untukku karena aku butuh kehidupan dalam pengasinganku. Aku tahu kita tidak akan bersama tapi paling tidak aku butuh kata-kata cintamu. Cintai aku dengan kata-katamu. Tulislah untuk semua manusia yang dilanda asmara dan aku ada dalam tiap mereka yang kasmaran.”

“Bagaimana aku memulainya?”

“Kau lebih tahu soal itu dariku, Galen. Kau tahu aku tidak akan bunuh diri. Jika kau mencintaiku paling tidak, lakukanlah sesuatu untukku. Jika cinta kadang tak harus bersama, tapi seorang mestinya bisa terus berbuat untuk seorang yang dicintainya.”

“Apa balasannya jika kulakuakan itu untukmu?”

“Aku akan membaca karyamu. Aku akan terus mencintaimu dan bernyanyi untukmu dalam hatiku. Tarian tiap ruh di dalam kalbuku untukmu. Aku berjanji padamu.”

“Bagaimana dengan kabahagianmu?”

“Aku tak perduli dengan kebahagianku. Tapi aku akan terus bergembira dan merayakan kehidupan atas namamu.”

“Tidakkah itu terdengar lebih konyol dari cerita fiksi?”

“Tak ada cinta yang terlihat lebih nyata Galen.”

“Kau akan pergi ke mana?”

“Biarlah aku tak mengatakan itu padamu. Percayalah padaku bahwa kusarankan kau tak mengharapkanku lagi. Setelah aku menjauh dari pandangan matamu malam ini, yakinlah bahwa semua tidak akan pernah kembali sama. Aku tidak akan lagi memerdulikanmu.”

“Itu terdengar menyakitkan.”

“Itu kenyataanya. Kita tidak akan bersama.”

“Kau akan kembali pada Alex dan menjalani kehidupan yang lebih baik?”

“Itu bukan urusanmu Galen. Aku tidak akan menjawabnya dan kamu tidak seharusnya mengira-ngira kerena itu akan menyakitkan saja. Dengarkan saja hatimu dan kamu mengerti.”

“Hatiku berkata aku akan menunggumu.”

“Aku tidak akan kembai Galen.”

“Aku mempercayai hatiku sendiri.”

“Carilah seorang lain. Kamu akan bahagia dengannya.”

“Aku memilihmu Klara.”

“Aku akan pergi sekarang Galen.”

“Kau yang memilih begitu.”

“Jangan menyalahkanku.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku akan pergi Galen.”

Tak ada yang bisa mencegah waktu, tidak juga Galen pada Klara. Kepergiannya adalah cinta terdalam Klara pada Galen. Kepergiannya adalah kesedihan mendalam yang merubah hidup Galen kemudian. Diam-diam dalam hatinya ia telah memutuskan ia akan menulis sebuah buku di mana ia akan menulis nama Klara di halaman pertamanya. Klara telah memberinya kehidupan baru, tarian baru dalam hidup dan penderitaanya yang panjang. Ia kadang berpikir perempuan selalu membuat lelaki patah hati, tapi tak pernah ia tak membawa lelaki pada perubahan. Karena perempuan lelaki bisa menjadi sastrawan atau selamanya terkutuk dalam keterasingan.

Klara berjalan menjauh dari pintu gereja. Ia tak menoleh lagi ke belakang, tak ingin Galen melihatnya menahan tangisan.

Galen berdiri memaku melihat Klara berlalu perlahan-lahan seperti ketika untuk pertama kalinya Klara meninggalkan gerejanya dahulu. Waktu seperti terulang kembali, tapi tidak dengan rasanya. Perasaan manusia yang membuat kehidupan terus berubah sekali pun kehidupan berulang kembali. Manusia berubah kehidupan kerap telah berlaku seperti demikian adanya.

“Yang berlalu biarlah berlalu, yang tinggal biarlah tinggal.” Suara itu terdengar lirih membisik dibelkang Galen. “Kehidupan telah menginginkan demikian. Anda telah memenangkan hatinya, adakah yang lebih indah dari memenangkan hati perempuan seperti Klara?”

Suara itu seakan menggema dari kejauhan, kemudian menjadi semakin dekat, persis dibelakang Galen. Suara Suster Maria. Galen membalik badan, melihat suster Maria tersenyum padanya. Suster Maria menatap Galen dengan lembut seolah ingin mengatakan semua hal baik adanya, seorang hanya butuh waktu memahami.

Galen memahami tatapan suster Maria, ia tersenyum kecil padanya dan entah kenapa hatinya sedikit lega. Ia berjalan ke luar gereja, dalam hatinya bayangan Klara menarik-narik dawai kalbunya, memainkan lagu paling ngilu di mana Galen menari dengan tangisan yang tak akan dilupakannya. Ia menatap senja menyemburat dari atap stasiun kereta Kota, ia menyeka air matanya, berjalan menjauh menuju kafe biasanya. (*)

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Agustus 2015
S S R K J S M
« Jun   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pengunjung

  • 44,768 hits
%d blogger menyukai ini: