Cara berciuman menjelang subuh

Tinggalkan komentar

Desember 13, 2014 oleh sabiq carebesth

foto spesial/dailymailisabellucas

foto spesial/dailymailisabellucas

Mulanya aku gugup dan merasa aneh dengan kehidupan yang jungkir semacam itu, tapi aku akhirnya belajar perlahan-lahan memahami; kepahitan itu menjadi candu seperti halnya kopi. Aku pun mulai terbiasa dengan semuanya; menemui teman perempuan tengah malam di kafe, duduk hingga larut, kadang sampai subuh untuk sebuah obrolan—pembicaraan sepele tapi tak pernah merupakan kesia-siaan. Atau untuk diam-diam mengatasi kesepian masing-masing. Di kota ini sepi bukanlah kegelapan atau tempat-tempat, melainkan omong kosong dan gelak tawa yang kerap tertunda untuk dibagikan atau diobrolkan di kafe-kafe ketika malam mulai larut. Seperti juga Alissa, ia menghubungiku dan meminta bertemu di kafe hanya untuk sebuah obrolan tentang penderitaan.
“Ngobrol yuk..ngobrolin penderitaan…” katanya di telpon.
Aku tanyakan balik padanya, “Penderitaan? Penderitaan siapa?” tanyaku kemudian. Tapi ia menjawab pertanyaanku dengan cara mematikan telpon. Mematikan telpon adalah cara berkomunikasi yang intim di kota ini, di mana hal itu kira-kira berarti: anda harus menemuinya di kafe!
Seminggu yang lalu di kafe ini kami untuk pertama kalinya menghabiskan malam bersama-sama setalah dua minggu sebelumnya kami dengan cara yang sama anehnya, bertemu di Stasiun Kota Jakarta. Malam itu kami sama-sama terasing, kesepian dan sama-sama tak mengerti kenapa pada akhirnya kami duduk menyebelah di peron stasiun Kota, memandangi kereta dan orang-orang lalu lalang, dan kami tak saling bicara sampai beberapa waktu lamanya. Dan kali ini, seperti kebiasaan orang-orang yang tahu caranya menikmati kopi dengan berkelas dan ekslusif, kami pun bertemu menjelang tengah malam seperti sekarang. Tak ada alasan yang pasti untuk hal itu terkecuali, dugaanku, seorang seperti Alissa bosan dengan dirinya sendiri dan memutuskan keluar rumah sambil terus mempercayai ia akan menemukan kebahagiaanya. Demikian juga aku kukira.
Kafe ini terletak lumayan jauh dari rumah tinggal yang kusewa. Aku bisa menghabiskan 30 menit dengan taxi untuk sampai di kafe yang terletak di antara museum-museum kolonial yang terlihat megah tapi menyedihkan dan tua. Kafe di Jalan Pintu Besar Utara 14 ini juga bagian dari bangunan lama yang disulap menjadi kafe dan bar di mana para tamunya bisa menikmati beragam bir, wine dan makanan eropa khas kolonial.
Kami duduk di dekat jendela di lantai bawah bar Winston churchill, dari jendela-jendela besarnya kami sejenak membeku memandangi malam dan gedung-gedung tua yang tampak kedinginan dan sepi. Atas saran Alissa kami memesan Steak Australia Tenderloin, Udang Goreng Telur Asin, Red Wine Australia, wedang jahe dan kopi untuk kami nikmati berdua—dan tentu saja aku meminum vodka yang kusembunyikan di antara buku-buku dalam tasku.
Sementara kami menunggu pesanan datang, panggung kecil di dekat kasir memainkan musik jazz yang lembut, nyaris tak ingin berhenti memainkan hentakkan bassnya yang melankolis. Mengalunlah lagu Norah Jones kegemaran Alissa, Don’t Know Why.
Alissa tampak sangat menikmati, seakan ia memasuki batin lagu itu dengan perlahan-lahan. Dan aku kemudian melihat dengan jelas gayanya—ia seorang bohemian, kaya, cara duduknya adalah cara duduk dari ketenangan seorang perempuan yang memiliki hampir 50 persen saham di perusahaan properti yang dikelola oleh jaringan bisnis ayahnya—ia terus menikmati lagu itu, bernyanyi lirih-lirih sampai lagu itu selesai. Aku pun terus memperhatikan tubuhnya yang sexi, terutama karena ia memiliki tatapan mata menggemaskan, juga tahi lalat terletak di dekat bibirnya. Lagi pula bentuk payudaranya tak buruk, maksudku tak terlalu besar atau hilang dibalut jaket kulitnya. Jaket itu berwarna hitam dan menutupi satu lagi harta seni yang menempel di tubuh jelitanya, tato kaligrafi Tiongkok di lengan kirinya. Aku sendiri tak pernah tahu apa arti tulisan itu dan tak pernah berani menanyakan pada Alissa.
Tampaknya ia memang senang mengenakan syal, jaket kulit yang dipadu dengan celana jeans. Aku sangat tahu kenapa ia menyukai syal dan celana jeans. Syal itu akan menutupi batang lehernya sehingga harta karun berupa garis tipis dilekuk lehernya yang berwarna putih susu bisa tertutup. Lekukan di lehernya adalah bagian paling sexi darinya. Celana jeans itu akan cocok untuknya karena celana satin membuat buah pantatnya terlihat sedikit berlebihan. Ia punya pantat yang padat dan sedikit lebar—hal yang kian membuat tubuhnya mengesankan karena lingkar pinggang dan perutnya yang ramping. Aku bisa menakar Alissa bertinggi badan 170 cm dengan berat badan 55 kg—ditambah dengan isi kepalanya yang rumit, hal itu benar-benar membuatnya menjadi perempuan yang diidamkan laki-laki. Dan jaket hitam itu? Jaket itu seakan membuat tubuhnya yang segar dan bersih terlihat mencolok dan bercahaya.
Alissa menikmati Red Wine yang ia pesan—seperti telah kukatakan, ia tak suka kopi. Kemudian ia memulai memandang wajahku, mengamati dengan senyum dan tatapan yang begitu manis, ia menunjukan betapa aku satu-satunya laki-laki yang berbeda dari kebanyakan laki-laki yang dikenalnya selama ini—setidaknya sampai malam ini.
“Aku tak tahu seleramu yang khusus, maaf.” katanya ramah. “Pesanlah yang lain jika kau tak suka yang ada.” Katanya lagi.
“Aku menyukai semuanya, terlihat dimasak dengan cara yang pas.” Kataku mengomentari daging steak yang mengepulkan aroma segar. Kami mencicipi makanan yang dihidangkan sambil lalu memandangi keadaan di sekliling.
Kami menjadi dekat bersama waktu yang berlalu, tapi entah kenapa ada perasaan canggung yang hinggap, atau sebenarnya kami tengah gelisah dengan pikiran masing-masing.
“Hari yang buruk buatku. Aku terus-terusan merasa bosan..” Kata Alissa.
“Setiap hari orang bosan dengan pekerjaanya.” Balasku ringan.
“Mungkin saja. Aku sendiri merasa demikian.” ujar Alissa.
Ia tersenyum dan mengerdipkan matanya. Aku balas menatapnya dengan tenang. Kadang bahkan aku sendiri tidak tahu dari mana aku mendapatkan sejenis ketenangan berlebihan yang kubutuhkan untuk menghadapi perempuan seperti Alissa. Bahkan bila aku sungguh merasa gugup, aku akan tetap tampak sangat tenang. Bola mataku akan lurus memandang, tajam namun tak pernah tampak menyelidik, jemariku akan sedikit bergerak lebih cepat tapi hal itu tak jadi keanehan yang menandai aku gugup karena aku memiliki kebiasaan memainkan jemariku di atas meja atau tempat lain seperti sedang mengetik di atas keybord.
“Bisakah kita bersama malam ini?” tanya Alissa kemudian. Pertanyaan itu mengangetkan dan membuatku kesal.
“ya,” kataku sekenanya.
Aku sebenarnya hanya main-main saja dan kukira Alissa pun hanya bercanda. Tapi tebakanku salah, rupanya ia serius dengan perkataanya. Ia bilang padaku ia ingin lebih banyak bicara denganku, semalam suntuk hingga subuh kembali kemudian keesokan harinya, terus bicara, intim dan merasa nyaman sampai kentuk merebahkan tubuhnya dengan sendirinya.
“Kita habiskan waktu di sini sampai tengah malam, setelahnya kita temukan hotel yang nyaman untuk menghabiskan malam dan melihat terangnya lampu malam di Jakarta.” Ujar Alissa. Benar-benar tawaran yang menggairahkan dan sulit dihentikan.
Aku mereasa seakan permainan antara kami berdua sudah dimulai dan aku rupanya tak sengaja memencet tombol tanda aku menyetuji permainan ini. Aku benar-benar berharap subuh nanti permainan ini akan selesai dan semua akan kembali baik-baik saja.
Alissa sibuk dengan handphonenya, tampaknya membalas pesan. Aku memandanginya selagi ia sibuk mengetik. Sekali lagi ia cantik, rambutnya panjang dan tebal. Rambut itu kerap jatuh tergerai dari gelungan yang terkesan sembarangan tapi tetap tak mengurangi kecantikannya—justeru aku paling suka melihat rambut hitam itu tergelung dengan gaya sembarangan. Jika rambut itu tergerai rambutnya menggelombang seperti ombak yang jatuh di pantai yang landai dengan warna putih susu yang adalah punggungnya. Punggung itu tirus dengan tulang yang terlihat mononjol tetapi di antaranya ia memiliki tubuh yang kencang dan bobot lemak yang proporsional sehingga membuat punggungnya seperti hamparan pantai dengan pasir putih yang sangat suci. Kalung di lehernya warna putih cemerlang, seperti berlian. Ketika bandul kalungnya yang berupa kunci berwarna keemasan terjatuh dari lehernya, aku tak mungkin menghindar untuk mengagumi celah di antara payudaranya, seolah ada kabut pagi dengan hawa dingin yang menyergap kehidupan; putih berkabut dan urat-urat kebiruan yang transaparan dikulitnya seolah menyatukan perpaduan hasrat dan jiwa yang kekanak-kanakkan.
“Aku muak dengan kehidupanku.” Ujar Alissa kemudian sambil meletakkan handphonenya di atas meja, setengah membantingnya.
“Aku tidak tahu bagaimana menalikan diri dalam sebuah kehidupan yang bisa-biasa saja, atau hal baru yang dengan segera akan menjadi biasa saja. Aku telah berciuman dan memulai hasratku yang mendalam pada sekujur tubuhku. Tapi kemudian aku merasa bahwa bukan tubuh yang bergejolak ini yang membuatku merasakan ungkapan terdalam dari kehidupan. Aku seolah tak memahami lagi kebahagiaan selain sebagai lawan kata dari penderitaan yang biasa digunakan untuk menipu kenyataan. Dan aku tak ingin itu terjadi padaku, sementara kukatakan aku bahagia tapi aku sendiri merasa hampa dan merasa terlalau banyak hal yang menjadi tidak menarik dengan keadaanku sekarang.” Katanya panjang lebar, tapi suaranya terdengar terjaga.
Aku meminum kopi—dan juga wine yang di pesan Alissa. Aku tak seberapa menggubris apa yang tengah Alissa bicarakan. Ada yang bergerak dalam pikiranku, aku rasanya tengah memikirkan sebuah gagasan atau ide tertentu untuk menulis sebuah kolom di koran minggu.
Aku memandang Alissa, kemudian menyandarkan punggungku di kursi yang terbuat dari kayu tua. Aku baru menyadari kemudian bagaimana Alissa rupanya memiliki bentuk kaki kanan yang setengah berlekuk sehingga kaki kirinya terkesan lebih tinggi; hal itu membuat cara berjalannya seolah selalu berlenggok sekaligus rapuh. Aku baru benar-benar memperhatikan, tepatnya mengingat, betapa cara berjalannya memang jelita.
“Aku tahu seorang memperhatikan cara berjalanku dari belakang, ia menelan ludah dan membiarkan untuk beberapa lamanya fantasi sexnya membumbung.” Ujar Alissa seakan ia tahu apa yang kupikirkan.
“Aku?” tanyaku.
“Termasuk juga kau.” Katanya. Ia mengerlingkan mata kirinya. Aku tersenyum sinis. Ia setengah tertawa.
Hidup bagi golongan kaya seperti Alissa adalah hidup yang membutuhkan tawa dan keceriaan yang didapat tidak dari komedi putar, melainkan dari hidup yang tragis. Bagi Alissa sebuah pilihan akan berdasar pada dua pandangan hidupnya; pertama ia memastikan dirinya menginginkan dan ketika dirinya menginginkan ia tengah dalam kondisi batin yang baik. Sekali ia berkomitmen ia nyaris akan mempertaruhkan semuanya demi menjaga kehormatan kata-katanya. Kriteria kedua, ia membenci kegelisahan walau kenyataanya, ia type pribadi yang sangat komplusif dan nyaris selalu gelisah sepanjang malam karena takut akan mendapatkan mimpi buruk atau pagi harinya ia tak terbangun. Karenanya ia selalu berkata pada Tuhan sebelum tidur, “Tuhan selamatkanlah aku dari mimpi buruk, hari ini aku masih harus mengerjakan sesuatu”.
Malam ini aku barangkali akan jatuh hati padanya. Tak ada alasan untuk tidak terkesan pada Alissa. Memendam perasaan padanya terasa begitu indah, sama dengan penderitaan yang harus kutanggung karena walau kekagumanku padanya berbalas, tapi aku tahu antara kami tetap tak punya banyak alasan untuk bersama. Apakah satu alasan cukup untuk cinta? kataku pada diri sendiri. Rasanya tidak. “Cinta yang berharga adalah cinta yang salah. Tapi dunia terlalu normal untuk menerima cinta yang berharga.” Pikirku sendiri.
“Kau mabuk? Kau tidak mendengarkanku?” Alissa bertanya. suaranya mengagetkanku dari permenunganku sendiri.
“Tidak. Aku baik saja, maaf..” balasku.
“Pelaut sejati mencari kesunyian.” Ujar Alissa mengomentari sikapku. “pelaut amatiran menacari tambatan keramaian, demikian?”
“Mungkin saja, “ balasku.
“Dan kau tahu?” ujar Alissa, aku memandangnya, ia balas memandangku lebih mendalam. Rasanya seperti ada yang memasuki tubuhku melalui mataku. “Pelaut sejati memancing ikan ke tengah lautan. Pelaut amatiran berlayar ke tepian.” ujarnya dengan suara terjaga.
Aku mendengar kata-kata itu sinis dan sentimentil. Tapi Alissa kemudian tersenyum segar. Pipinya merona sambil sesekali memandangi ke luar kafe melalui jendela.
Aku melirik jam tangan merk audemars piguet millenary di tangan kiri Alissa, Pulul 23.27 wib.
“Apa kita akan bersama malam ini?” tanyaku tiba-tiba. Aku tersentak sendiri dengan pertanyaanku. Aku tak tahu apa yang membuat mulutku selancang itu. Tapi kegugupanku segera berlalu ketika Alissa hanya menggangguk dan mengatakan “iya” sambil lalu dengan tenangnya menggelung rambutnya yang tergerai.
“Aku tak tahu apa yang akan terjadi.” Katanya, ”Aku tak tahu kenapa aku merasa nyaman duduk di Kafe ini denganmu. Entah kenapa setiap kali tengah malam tiba dan hati kita nyaman, Jakarta menjadi kota yang sangat menggairahkan.” Ujar Alissa dengan tenang, nada suaranya terdengar ceria tetapi sangat terjaga seperti cara khas seorang perempuan kelas atas.
Ia bicara sambil menaruh dagu di kepalan tangan kanannya, sementara kedua bola matanya berbinar-binar sambil sesekali menatap lurus pada bola mataku sehingga ketika celah bibirnya terbuka mengucap kata “menggairahkan”, aku kembali merasa ada yang berdesir dalam diriku.
“Ciuman menjelang subuh di kamar lux lantai 19 sambil melihat Jakarta malam adalah filsafat yang radikal, sekaligus menggairahkan. Kau harus mencobanya.” Kata Alissa. Ia kemudian memandang tajam arahku, aku memandangnya dan ia tersenyum kecil seolah ingin mengatakan padaku betapa dungunya penikmat buku filsafat sepertiku yang sibuk dengan kerumitannya sendiri tentang hal-hal yang sesungguhnya bisa diselesaikan dengan ciuman.
“Ciuman menjelang subuh di kamar lux lantai 19 sambil melihat Jakarta malam..” ujar Alissa mengulagi kata-katanya. Ia terus meledekku dengan tatapan matanya yang menggoda.
Ah selamat malam jakarta..

@sabiqcarebesth, 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Desember 2014
S S R K J S M
« Okt   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 45,698 hits
%d blogger menyukai ini: