Apa warna Bra yang anda kenakan hari ini?

Tinggalkan komentar

Desember 13, 2014 oleh sabiq carebesth

foto; spesial/google

foto; spesial/google

Kemapanan—ungkapan pendek yang terdengar menjengkelkan bukan? Kemapanan memang soal yang absurd, karenanya ia seperti bukan apa-apa, tapi demikian ia nyaris segalanya. Kesantunan, uang belanjaan dan reputasi pasangan—adalah halusinasi kemapanan gadis 20an tahun.
Tapi inilah pangkal soalnya; bahwa dalam kesantunan orang hidup dalam ketegangan antara menjadi masyarakat atau menjadi manusia. Bisa anda bayangkan bagaimana jika seorang lelaki harus hidup terus menerus dalam kesantunan?
Ia berusaha menjadi apa yang diinginkan masyarakat atau pasangannya. Keduanya lantas menjadi momok yang terus menekannya untuk menjadi laki-laki dan menjadi manusia. Seolah bahwa cara duduk, cara makan, siapa yang harus membawa keranjang bealnja, siapa yang membayar di kasir, atau bagaimana cara manyapa dan berjabat tangan, harus sesuai dengan kaidah-kaidah kebaikan yang dikonstruksi oleh sekumpulan manusia berkuasa yang disebut masyarakat—lengkap dengan perkara etikanya yang paling kontemporer dan dominan.
Jadi alangkah tertetakannya lelaki semacam itu? Ia terus berada dalam ketegangan dan kecemasan untuk memastikan bahwa dirinya sesuai dengan masyarakatnya—atau kesantunan yang diidamkan pasangannya. Kesantunan semacam itu menciptakan tingkat setres yang akut, depresi mendalam yang terus dipendam agar tak sampai dipahami oleh diri sendiri. Alangkah konyolnya…
Oh gadis-gadis…bayangkan saja bila anda harus hidup dengan laki-laki yang terus menerus dalam ketegangan mental semcam itu? Dari mana anda berharap perhatian dan romantisme? Ah yang benar saja. Paling-paling anda akan menjadi sasaran dari ekspresi ketertekanan, atau perasaan cemas yang terus menekannya bagaikan omong kosong dari hantu yang tak kasat mata, tapi setiap saat terus memperingati untuk mengucapkan terimakasih atau berpamitan dengan senyuman yang pantas sebelum meninggalkan tempat duduk?
Alangkahnya konyolnya kesantunan bukan? Penderitaan pertama dari identitas kemapanan, yang sama artinya dengan penderitaan pertama yang harus anda tanggung dari harapan yang anda idamkan; bahwa kesantunan akan membawakan pada anda uang belanjaan lebih dari tabungan yang telah anda siapkan sendiri untuk membeli perhiasan atau lingerie!
Uang belanjaan—anda tentu lebih memahami soal ini dariku. Tapi mengharapkan uang belanjaan sebagai bagian dari kemapanan, membuat anda seperti menjadi seseorang juru hibur. Bukankah anda memilih pasangan bukan karena anda dibayar untuk menghibur seorang lelaki yang dalam dirinya menanggung ketegangan antara keinginan untuk membuang putung rokok di atas meja kerja (bukan di asbak atau tempat sampah) dengan pada saat yang sama ketakutan bahwa hal itu sangat tidak santun? Percayalah padaku anda tak akan bisa mengharapkan kebahagiaan dari anak kecil berwujud laki-laki dengan keinginan sex sebagai penutup omong kosong di tengah malam.
Bercintalah dengan bijaksana dan tenang jika anda ingin sedikit merasakan kebahagiaan. Bukan dengan laki-laki yang terburu-buru dan gugup menghitung kesantunan seolah hal itu akan memberinya sebuah piala dan surat penghargaan: “Anda Tergolong Manusia Santun”.
Omong kosong bertajuk “Anda tergolong manusia santun,” adalah asumsi aneh yang dibangun perempuan usia 20an tahun untuk mengharapkan hal ketiga dari pasangannya selain kesantunan dan uang belanjaan: reputasi.
Kesantunan akan memberikan kekayaan, dan kekayaan akan memberikan satu cara hidup yang lebih lambat dan baik-baik saja—itulah reputasi. Keadaan di mana anda membayangkan duduk di kafe atau sebuah restoran, meletekkan tas bermerk yang anda beli dengan susah payah, kemudian dengan suatu cara duduk tertentu anda terlihat bersikap sangat manis dan begitu sopan, berharap pasangan mengambilkan buku menu dan mempersilahkan anda menunjuk makanan yang enak dan romantis.
Selagi anda memlih menu makanan, lelaki dengan penuh reputasi yang anda idamkan itu melihat tali bra di punggung gadis lain dengan payudara yang belum sepenuhnya matang—gadis itu duduk di meja sebalah anda. Yah, demikianlah lelaki dengan penuh reputasi yang anda impikan itu akan mengajarkan pada anda betapa pentingnya memilih menu makan dengan lambat dan begitu sopan, dan anda menyetujuinya.
Jadi sekarang mari kita pertimbangkan, hidup memuja kebebasan atau sepenuhnya mapan? Aku sendiri adalah lelaki yang tetap tak punya banyak uang atau tabungan sampai usiaku nyaris 30 tahun.
Tentu saja dengan demikian aku tak akan bisa memberi banyak hadiah kepada pasangan. Soal reputasi aku sendiri tak yakin. Aku hanya menulis beberapa kolom di koran dan mengira hal itu memberiku sedikit reputasi yang kubutuhkan untuk bicara dengan gadis-gadis usia dua puluhan tahun—sebelum akhirnya mereka lebih memilih mobil atau menikmati wine dan ikan tuna di restoran Jepang.
Tapi bagaimana pun pekerjaan menulis di koran dalam beberapa tahun terakhir telah menyambung sedikit nama baik dan uang untuk menikmati kopi arabika yang kugemari, sebotol vodka yang kubutuhkan saban hari, juga memakan daging di akhir pekan. Sejauh ini hal itu bagiku cukup, sayangnya tidak bagi gadis 20an tahun.
Apakah anda gadis 20an tahun? Jika iya, sementara anda membayangkan pasangan anda yang sepenuhnya mapan dan mungkin juga membayangkan saya, seorang lelaki lain barangkali tengah duduk menghadap pada buku catatannya dan terus memperhatikan anda. Melihat pada tali Bra warna ceria yang anda kenakan.
Apa warna Bra yang anda kenakan hari ini? (*)

Sabiq Carebesth, 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Desember 2014
S S R K J S M
« Okt   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 47,944 hits
%d blogger menyukai ini: