Selamat Malam Jakarta

Tinggalkan komentar

Desember 10, 2014 oleh sabiq carebesth

Aku mendengar lagu dan merasa bahwa kota tiba-tiba menjadi sembab, seperti matamu yang sendu menahan ngilu karena terasing sendiri di kota Jakarta yang kian menua dan rapuh waktu itu. Oh apa kabarmu?
Aku duduk di kafe seperti biasanya dan merasa bahwa aku sedang menunggumu atau jika saja aku mampu, aku yang ingin menempuhi perjalanan dan menemuimu di kotamu yang—katamu penuh dengan warna biru, bunga tulip, tari-tarian dan nyanyian dengan iringan musik yang mistik yang di susun dari tenor suara pada D minor. Mereka menyayikan lagu kegembiaraan, tapi begitu hening, mereka menyanyikan lagu kesedihan, tapi begitu tabah.
Aku tak tahu persis, aku hanya mengiranya, di kotamu itu hidup seperti jadi demikian, orang-orang hanya harus menjalani kenikmatan, memilih selera dan hidup untuk mencipta beragam karya untuk membuat mereka terhindar dari rasa bosan. Sementara di kota Jakarta aku melihat orang-orang di sini membayar kebosanan dengan cara yang sama putus asanya. Kita melakukan terlalu banyak untuk kesia-siaan; mengenang lagu lama, meratap sendiri sebelum jalanan sempat memanggili dengan keriuahan yang sama membuat kita kian terasing setelah merasakan kebahagian yang begitu sebentar dan bingar.
***
jakarta niight
Hujan tambah deras, hujan yang tabah, aku belajar tidak menanyakan apa-apa pada diriku sendiri tentangmu. Aku kira kau telah bahagia dengan kehidupan yang bebas dan tak lagi terhubung dengan masa lalu getir di Jakarta.Tapi selalu ada masa di mana hujan tak pernah jera membawakan cerita asmara. Seolah hujan terbuat dari sari pati cinta yang menumbuhkan kehidupan dan kenangan yang lagut di bumi.
Apa kau tahu hujan terbuat dari apa? tentu saja lautan menguap menjadi mendung, dan bisakah kau bayangkan betapa sedihnya lautan? Keluasan itu merindukan kucupan burung Bangau yang memendam rindu abadi untuk mencicipi sejuk lautan. Seperti kita?
Inilah yang kutakutkan. Bahwa kita rupanya hanya kediaman yang pasrah. Kita akhirnya terlalu sendu sehingga pada titik di mana kita dilanda kebosanan, kita seakan berada di suatu hari di mana hujan terasa abadi. Kita tak kemana-mana..
***
Bagaimana kita akan diam saja dan membiarkan saat-saat yang indah terlewatkan. Keindahan seperti asmara, tak bisa kita kendalikan, ia begitu liar, gila, dan menakjubkan. Jika kita telah kehilangan bagian dari perasaan yang kuat semacam itu, mungkin saja kita tak pernah benar-benar bahagia atau merasai asmara.
Kau tahu pada dasarnya aku seorang pemalas yang mencari hal-hal dalam hidup yang sama sekali tak menguntungkan. Apalagi di kota sebeasar Jakarta. Tapi aku beruntung bahwa dalam ketiadaan pencarianku, aku masih bisa duduk di kafe dan menikmati kopi, dan tentu saja bertemu denganmu waktu itu. Di kafe setiap orang menjadi sama dalam terasingnya. Segala sesuatu bisa terjadi sampai segelas kopimu habis dan kau harus kembali pada kehidupan yang lebih tenang tapi membosankan. Atau hidup yang begitu ramai, tapi sekaligus sama kosongnya.
Ah biar kuucapkan untukmu, selamat malam Jakarta..(*)

Sabiq Carebesth, 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Desember 2014
S S R K J S M
« Okt   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 46,295 hits
%d blogger menyukai ini: