tentang asmara yang menggairahkan, luka yang mendalam, rindu yang tak masuk akal

Tinggalkan komentar

September 10, 2014 oleh sabiq carebesth

111108_62011

“Tuhan telah memilihkan, hidup mempertemukan: dua manusia, dua kehidupan. Dua hasrat, cinta, sebuah kisah.
Aku mencintaimu Alissa, dengan cinta yang tak bernama. Engkau laksana sublim dari setiap keindahan yang semayam dalam kalbu. Tapi malam ini kita telah duduk berjauhan. Tak ada lagi malam-malam kelam seperti malam-malam yang kita lewati dengan mabuk di kafe-kafe di mana kita bisa melihat dunia lewat jendelanya—dan selalu saja merasa bahwa kita tidak sedang berada disebuah kota, malainkan di atas sebuah kapal di tengah lautan yang dipenuhi cahaya berombak.
Aku ingat bagaimana tubuhmu yang putih mengkilat seperti salju. Singlet hitam yang kau kenakan memberi alas sempurna bagi kulit tubuhmu yang segar. Aku selalu saja jatuh hati melihat lekukan lehermu yang berombak, begitu kanak-kanak, sunyi, dan ketika kulihat sebagian dari dadamu yang kau biarkan terbuka dengan acuhnya, aku melihat godaan paling mistik yang hanya bisa kugambarkan dengan kesunyian di dalam puisiku.
Aku selalu tergoda untuk membual jika ingatan tentangmu bergeyalayutan dalam batok kepalaku. Betapa menggairahkannya waktu-waktu yang kulewetkan denganmu—biar aku katakan bagaimana tatapanmu yang dalam tetapi selalu ragu, dan ketika kau merasa malu karena telah lebih dulu memandangku, kau membenarkan letak rambutmu yang terkena angin malam, rambutmu yang berponi dan dipenuhi sepenuhnya pesona.
Momen semacam itu, bagiku, dan mungkin kau tak pernah mengiranya, telah membangkitkan kekaguman yang begitu sunyi sehingga aku akan akan terus menyimpannya dalam hatiku.
***
Ingatan dan kenangan, asmara yang menggairahkan, luka yang mendalam, rindu yang tak masuk akal, keinginan pada kematian dan kehidupan yang menakutkan; aku telah memelihara kesemuanya itu dan memperlakukannya dalam diriku sebagai binatang buas yang sewaktu-waktu bisa menikam batok kepalaku dan menggerogoti jantungnku sebagaimana nasib Prometheus.
Bukankah aku telah menerima hukuman sebagaimana Prometheus? Aku sendirian, terbuang, terasingkan dan merasakan sakit karena kesepian yang payah, tapi kemudian aku telah membayangkan bahwa burung nasar itu akhirnya telah jadi sama bosannya, bukan dengan daging kesepian dari tubuhku yang ia tikam tiap malam menjadi kelam, tapi dengan jeritan kesakitan yang telah membuatnya berbalik ngeri. Jeritan kesunyianku telah membuat burung-burung nasar berbalik merasakan kengerian yang lebih parah dari penderitaan yang kutanggung. Sebab sejatinya bukan rasa sakit itu yang jadi hukuman, tapi jeritan ketertawanan yang putus asa itu telah jadi lebih mengerikan dari rasa sakit yang bisa ditanggung manusia sepertiku.”

Dalam Kamarku:
Jakarta, Oktober, 2014

Aku menutup buku harianku dan tak tahu bagaimana akan melanjutkan hidupku tahun-tahun ke depan di kota yang kian ramai ini. Aku merasa sangat rapuh dan tak tahu bagaimana melewatkan malam-malam penuh cahaya sementara aku seorang diri; bagaimana melewati jalan-jalan berkabut, kanal air berbau plastik, dan kafe-kafe yang hampir semuanya di penuhi kenangan pada Alissa.
Aku sekarang merasa seolah telah dihukum oleh kenangan—yang bak burung nasar, ia terbang ke arahku ketika malam kelam, membidik jantungku, melukaiku, mentato jantung terdalamku dengan ukiran nama yang tak mungkin kulupakan. Aku merasa betapa tidak mudahnya mejalani kehidupan dengan rasa kehilangan yang terlambat kusadari.
Cinta telah menghukumku dengan kehilangan yang mendalam sewaktu aku menyadari betapa pada satu masa, manusia tak mungkin bisa melewatkan malam tanpa ada seorang yang akan datang, atau menunggunya.

Aku ingat Alissa berkata padaku pada suatu malam, “Jika ia bersandar padamu, maka dekaplah jiwanya yang kedinginan. Atau jika tidak, kau kehilangan.”

Aku telah terlambat sekarang. Alissa telah menikah dan aku tak pernah bertemu kembali atau tak sengaja melihatnya di kafe atau di jalan-jalan Jakarta. Aku kehilangan. Cinta telah memberi pelajaran dengan cara yang sama mengerikannya dengan kesendirianku.
“Ubi amor, ibi dolor”—di mana ada cinta, di situ ada rasa sakit. Mungkin saja ujaran itu benar, pikirku, bukankah kita selalu lupa caranya berhenti mencintai? (*)

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

September 2014
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Pengunjung

  • 44,282 hits
%d blogger menyukai ini: