“Aku kedinginan sekarang. Tahukah kau?” (ttg cara berciuman di bawah gerimis Jakarta)

Tinggalkan komentar

September 9, 2014 oleh sabiq carebesth

rain-2

12

Hujan hanya menyisakan gerimis tipis dikabut malam yang kelam dan dingin. Aku mengajaknya pergi, mencari tempat yang lebih teduh untuk mengurus hati kami.
“Harusnya kau melepaskan jaketmu untuk kukenakkan. Tahukah kau aku kedinginan?” ia berkata sebelum kami sempat berdiri dan beranjak pergi. Suaranya terdengar manja.
“Aku tahu, aku hanya menunggu kau meminta.” Kataku meledeknya.
“Kau dingin seperti biasanya.” Balasnya.
“Aku hanya gugup.”
“Aku kedinginan sekarang. Tahukah kau?” Katanya.
“Kutraktir kopi kalau begitu.”
Aku melepaskan jaketku dan menaruhnya di punggung Alissa. Kami berjalan pelan-pelan menembus malam berkabut.
Hujan mereda. Jalanan macet ketika kami sampai di jalan di depan Taman Ismail Marzuki. Bunyi klakson bertabrakan dengan cahaya dari lampu-lampu mobil mewah yang memendar seperti kilat. Aku merasa ada yang menggenggam lenganku, kami berhenti, kami saling menatap..
“Aku ingin sendirian, aku akan menemuimu lain kali. Aku ingin sendiri sekarang ini…” Alissa berkata.
“Tentu saja.” Jawabku.
“Kita berpisah di sini saja.” Katanya.
Aku menatapnya. Ada kesedihan yang tak bisa kumengerti. Ada kebahagiaan yang ambigu. Ada getaran yang kurasakan.
Entah dari mana mulanya, aku meraih rambutnya dan mendekatkan wajahnya, kami berciuman dengan mantap dan berdebar—tak perduli lagi pada sekeliling, atau pada gerimis.
“Jaga dirimu baik-baik.” Kataku kemudian pada Alissa.
Aku merasakan getaran yang sangat berlebihan. Bahwa apa yang baru saja kualami bukan sekedar ciuman, tapi keberanian yang akhirnya menemukan moment yang tepat. Bahwa kami berciuman dan tahun-tahun yang berlalu dengan menderita telah separuhnya terbayarkan.
Ciuman di tengah gerimis yang nyaris berarti segalanya. Jika setelah malam ini kami tak akan bertemu kembali untuk bersama, kami akan menganggapnya lunas dan kenangan malam ini telah cukup untuk menjadi hiburan sepanjang malam-malam yang kelam.
“Ada Taxi di belakangmu.” Ujar Alissa. Aku menoleh, taxi itu berjalan pelan ke arah kami.
“Boleh aku yang menciummu sekarang?” tanya Alissa. Aku sedikit gugup. Ia menarikku, mengucup pipiku dengan lembut sebelum aku sempat mengatakan apa-apa.
“Temukan duniamu. Kau akan selalu bahagia..” ia berbisik setengah memelukku.
Ia berjalan menghampiri taxi yang telah menunggunya. Ketika taxi itu melewatiku aku melihatnya tersenyum, senyumnya yang manis dan selalu jelita. Kali ini aku bisa memastikan senyum itu khusus buatku. (*)

bersambung…
@sabiqcarebesth, 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

September 2014
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Pengunjung

  • 46,296 hits
%d blogger menyukai ini: