“Drama ini terlalu indah untuk menjadi melankolis..” (ttg lampu mercury di Jakarta)

Tinggalkan komentar

Agustus 25, 2014 oleh sabiq carebesth

183879_pameran-lukisan-perempuan-jakarta_663_382
“Kenapa kita tak bercinta saja?” tanya Inne kemudian.
“Kita akan pulang dengan kebencian, kita akan pergi dengan semusim kesepian.” Aku berkata, entah apa maksudnya aku sendiri tak seberapa perduli. Karena aku memang gugup.
“Aku tak mengerti kata-katamu.” Ujar Inne.
“Sebaiknya kita pulang, kita tak perlu mempertaruhkan apa-apa, seolah tak pernah terjadi apa-apa malam ini.” Ujarku.
“Bagaimana bisa?” ia bertanya.
“Aku sudah menduga akhirnya nanti. Aku tahu kondisiku sendiri. Dan dari sejarah hidupku sendiri, aku selalu gagal. Ini tidak akan berlangsung baik buatmu.” Kataku.
“Kau yang tak ingin menggenggam.” Balas Inne.
“Mungkin saja.”
“Kau terlalu pengecut untuk hidup yang hanya sebentar saja ini.” Tukas Inne. “Kita duduk melihat senja, menyaksikan malam diarak rembulan, dan kita bahagia. Kenapa kita tak harus saling mengenang?” katanya lagi.
“Apakah kita akan duduk di taman kota membicarakan kesedihan sebagaimana remaja?” kataku menimpali.
“Kadang-kadang itu diperlukan.” Sergah Inne.
“Tapi aku telah melewatkannya dengan sangat buruk.”
“Maksudmu? Kau pernah punya seorang yang begitu dekat? Kalian berpisah dengan sangat tragis?” Inne bertanya.
“Seminggu yang lalu.” Jawabku, wajah Alissa melintas dalam benakku.
“Maksudmu?”
“Kami bersama sepanjang malam dan pada pagi harinya aku tahu ia memiliki tunangan dan pada malam yang lain mungkin ia akan menikah.” Kataku.
“Itu sangat mengesankan. Kau sakit?”
“Aku tak mengerti. Mungkin saja.”
“Kurasa itu sangat mendalam. Kau memendam kesakitan yang parah.”
“Kau hanya mengira-ngira.”
“Tentu saja, tapi jika kau tak sesakit yang kuduga, kau akan punya peluang bercinta denganku malam ini?”
“Kau cantik.” Kataku entah berkorespondensi atau tidak dengan yang Inne bicarakan.
“Apa artinya kata-kata itu?” ia bertanya.
“Aku hanya berkata.” Ujarku.
“Kau tak pernah mengiara apa yang bisa diakibatkan oleh kata-kata?”
“Aku selalu lemah di hadapan wanita.”
“Kau tidak lemah. Hanya kau sangat manja dan menginginkan momen yang sempurna.”
“Itu terdengar mengerikan.”
“Aku takut akhirnya kau tak punya cinta.” suara Inne terdengar mengutuk.
“Aku memilikinya. Aku punya bertumpuk cinta, seperti tumpukan kardus.” Jawabku sekenanya.
“Ya tentu saja, kau siap membungkus apa yang berharga buatmu. Tapi kau menjadi sangat rapuh. Dan karenanya kau cenderung memilih sendirian dan mabuk.”
“Aku hanya menyukai rasa getir dari Vodka.”
“Hanya itu?”
“Ya.”
“Kau pengagum Komunis?”
“Tidak juga. Mereka telah gagal dan tidak akan berhasil.”
“Kenapa?”
“Mereka suatu gerakan filsafat, walau berfilsafat anti filsafat.”
“Aku tak mengerti.”
“Mereka cocok untuk dipikirkan. Tapi benar-benar sulit diwujudkan.”
“Kapitalis telah jadi sebaliknya?”
“Mereka menjelma hantu. Di mana-mana, tapi tak bisa dihancurkan karena mereka tak punya patung di mana orang-orang datang menyembahnya.”
“Tapi mereka menghancurkan.”
“Tentu saja. Tak ada yang baik dari kepitalisme untuk mereka yang miskin.”
“Lalu kenapa kau tak mendukung Komunisme atau sosialisme yang lebih modern?”
“Aku lahir di mana dunia telah sulit mempercayai apa yang dipikirkan orang-orang Komunis. Mungkin saja mereka benar, tapi..”
“Tapi?”
“Tapi mudah saja ketika malam hari mereka menjadi fasis, dan ketika pagi harinya kembali menjadi komunis.”
“Kapitalisme?”
“Mereka sepenuhnya malam. Gemerlap, hingat bingar. Mereka yang masuk ke ruang gemeralapan dan hingar bingar takkan mendengar jeritan dan kematian di sudut kehidupan yang lain. Kematian dalam dunia kapitalisme terdengar sangat lirih, bahkan cenderung eksotis. Karenanya sangat mengerikan dan sunyi. Diam-diam dan tidak berisik, tapi membunuh terlalu banyak, bahkan mungkin melebihi yang jadi korban Komunisme.”
“Kenapa?”
“Karena kapitalisme mempercayai Tuhan dan sekaligus kematian.”
“Tapi katamu mereka membunuh.”
“Ya, dengan perlahan-lahan dan setiap korban bagi mereka komunis, sehingga tak apa-apa.”
“Aku mulai mual.”
“Tentu saja. Kita bisa muntah. Tapi nyatanya banyak yang mati dengan cara yang perlahan dan mengerikan.”
“Mereka korban siapa? Atau korban apa?”
“Bukan korban siapa-siapa. Mereka hanya korban dari kesalahan yang tak bisa kita benarkan.”
“Ada jalan lain?”
“Tentu saja ada. Tapi aku tak pernah tahu. Sekali komunisme mencapai puncak kekuasaanya, ia dengan kilat dihancurkan. Setiap kali kehancuran melanda, di sana kapitalisme bangkit seperti roh. Ketia roh itu telah jadi obsolut, ia nyaris mustahil dihancurkan sampai semua yang ia perintah telah sama menajdi roh. Kita semua gentayangan mencari jalan dan dunia baru.”
“Aku mual dan ingin pulang.” Ujar Inne.
“Aku akan mengantarmu.” Kataku.
“Tidakkah kau ingin aku mampir ke rumahmu?” tanya Inne kemudian.
“Aku tak punya rumah.”
“Jadi?”
“Hanya rumah sewa yang buruk.”
“Kalau begitu menginaplah di hotelku malam ini?”
“Tidak. Terimakasih.”
“Aku janji tidak akan telanjang di depanmu.”
“Tak masalah. Aku menyukai saat dia berganti baju dan membiarkanku melihatnya sejenak.”
“Dia? Kekasihmu itu?”
“Mungkin juga bukan kekasih, hanya teman di malam kelam.”
“Seperti kita sekarang?”
“Mungkin saja..”
“Anggaplah demikian. bagaimana?” kata Inne. Senyumnya jelita dan setengah kanak-kanak.
“Itu artinya kau juga akan pergi dariku besok pagi. Kemudian malam harinya kau memberiku kabar pernikahanmu yang akan berlangsung pada malam berikutnya?”
“hahaha tentu saja tidak.” Ujar Inne. wajahnya terlihat ceria, tapi kemudian menjadi ambigu. “Aku memang akan pergi esok malam. Aku memang akan ada seorang yang menjemputku di Amsterdam nanti. Tapi..”
“Aku sudah bisa menduganya. Lupakan saja. Terimakasih telah duduk dan ngobrol denganku.”
“Dia hanya teman.”
“Lupakan saja. Itu tak ada bedanya buatku.”
“Setidaknya kita bisa bersama malam ini. Sebelum esok pagi aku ke Amsterdam.” Ujarnya. Aku ragu, aku diam saja sambil merapikan barang-barangku dan memasukkannya ke dalam tas. Aku menanggak sisa vodka yang kupunya.
“Sudah setengah satu malam. Kita akan membuka pintu kamar, kemudian lelap. Kita tak perlu bicara apa-apa lagi. Dan esok ketika kau terbangun aku sudah tak ada lagi.” ujar Inne membujuk.
“Itu sangat melankolis.” Balasku. Inne terdiam. Wajahnya terlihat sangat murung. Dan aku selalu gagal menghadapi penderitaan perempuan.
“Kita duduk sebentar dan melihat pertandingan sepakbola.” Kataku lagi.
“Kau suka bola?” tanya Inne.
“Tentu saja.” Kataku.
“Kau berbeda dalam hal ini dengannya?” Ia bertanya lagi. aku diam saja. “Boleh kau sebut namanya? Karena cinta dan kenangan membutuhkan nama-nama.” Pintanya.
“Alissa.” Jawabku kemudian.
“Indah sekali. Tentu dia gadis yang cantik?”
“Cantik sekali.”
“Dan sexi?”
“Aku menyukai rambutnya yang panjanng, dan tentu saja, tubuhnya yang tingggi.”
“Bagaimana payudaranya?” tanya Inne. Ia meninggalkan beberapa uang kertas. Kami kemudian menuruni 21 anak tangga meninggalkan kafe.
“Aku hanya melihat sebagian.” Kataku kemudian.
“indah?”
“Mengesankan.”
“Kesimpulanya aku..”
“Tidak juga. Kau sama mengesankannya.”
“Pada bagian mana?”
“Sejauh ini otakmu. Selain bagian itu aku belum pernah melihatnya.”
“Kau ingin melihatnya?”
“Tidak.”
“Tahukah kau mengecewakanku?”
“Aku menghormatimu dan lelaki yang akan menyusulmu di Amsterdam nanti.”
“Bagi perempuan tubuh adalah kecerdasan tertinggi. Jika kau menolak tubuhnya, kau menghina kecerdasannya sekaligus.”
“Aku baru mengerti tentang hal itu. Maafkanku..” kataku. Hal itu tampak melegakkan Inne.
“Tentu saja. Karena kau terlalu pengecut dan absurd pada kesenangan.”
“Aku meminum Vodka tiap malam dan merasa senang.” Kataku.
“Itu kemabukan, bukan kesenangan.”
“Baiklah kalau begitu. Aku ikut denganmu malam ini.” Ujarku kemudian. Ia mengehntikan langkahnya. Ia tersenyum dan memeluk dirinya sendiri dengan manja. Aku meraih kepalanya dan membelai rambutnya entah kenapa. Inne terlihat seperti anak kecil yang sangat manja dan kesepian.
“Tapi maafkanku jika…” kataku. Bayangan Alissa seakan bergelayut dalam kenangangku. Entah kenapa..
“Ada syarat?” Inne bertanya.
“Aku mungkin akan teringat dengan Alissa. Setiap kali melihat jendela hotel aku selalu teringat malam itu.”
“Ya tentu saja, kau sudah jujur. Itu menyakitkan, dan sebaiknya lain kali kau simpan kejujuranmu pada perempuan. Tidak semua perempuan menyukai kejujuran lelaki, terutama kejujuran tentang perempuan lain.”
“Maafkan aku.” Kataku.
“Juga jangan minta maaf karena itu tak ada gunanya selain pada saat yang tepat.”
“Aku..”
“Harusnya kau mencium pipiku. Tapi sudahlah, abaikan saja.” Ujar Inne ketus. Wajahnya menjadi lugu dan kanak-kanak. Mempesona.
Kami terus berjalan dan memandangi malam yang kian kelam.
“Jangan minta maaf tapi ciumlah?” ujarku menirukan Inne.
“Ya, tentu saja. Kita kan sama-sama penulis. Dont tell bat show!?”
“Show must go on.” Kataku ceria. “Drama ini terlalu indah untuk menjadi melankolis.” Sejenak kami tertawa dan merasa sangat bahagia bahagia. Aku memeluk Inne sepanjang jalan ke hotel tempatnya menginap. Ia menyandarkan diri di dadaku sepanjang kami berjalan.
“Jika saja kita bisa berjalan lebih jauh.” Ia berkata, lengannya erat padaku. Ia menatap jalanan berkabut.

*Bersambung…
@sabiqcarebesth, 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pengunjung

  • 46,295 hits
%d blogger menyukai ini: