Makelar Kopi Dan Perkulian Pribumi*

Tinggalkan komentar

Agustus 19, 2014 oleh sabiq carebesth

Buku : Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa:  Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870

Buku : Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa:
Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870

Data Buku:
♦ Judul: Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa:
Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870
♦ Penulis: Jan Breman
♦ Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014
♦ Tebal: xvi + 400 halaman
♦ ISBN: 978-979-461-874-5

Hari ini kopi dinikmati tak hanya sebagai “obat” anti kantuk. Kopi telah menjelma menjadi gaya hidup, lambang kemapanan, absurditas kaum kreatif, bahkan suatu tingkat kemewahan. Kopi telah menjelma menjadi produk kebudayaan—dan dengan demikian juga sejarah penindasan.
Cita rasa pahit kopi rupanya sebanding dengan kepahitan yang dialami kuli-kuli pribumi di kebun kopi Priangan, Jawa Barat khususnya pada masa “tanam paksa” kolonialisme Belanda. Kopi kemudian memulai globalisasi paling mutakhir di tanah Priangan. Pada level paling bawah atas rantai komoditas global, kuli kopi di tanah Pasundan adalah penyuplai setengah kebutuhan kopi dunia ini.
Melalui buku Jan Breman “Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870” ini kita ditunjukkan nasib para produsennya, yakni petani kopi pasundan, yang mengalami transformasi secara berangsur-angsur dari semula sebagai petani dan pemilik tanah dalam berbagai tingkatannya, menjadi orang yang hanya mengandalkan tenaga yang ada pada dirinya. Berakhir mereka menjadi pekerja bebas atau kuli.
Kopi Rasa Kolonial
Penanaman kopi di tanah ini dijalankan melalui tanam paksa, kerja paksa, mobilisasi penduduk dan perubahan penggunaan tanah, hingga penyerahan wajib atas biji kopi yang dipetik, yang kesemuanya itu menyengsarakan masyarakat Priangan. Ekonomi kolonial yang berlangsung sejak hadirnya perusahaan dagang VOC pada abad XVIII hingga berakhirnya era Kerja Paksa ini tak terhindarkan melahirkan masyarakat kuli.
Kolonialisme menyediakan jalan yang lempang bagi kapitalisme. Inilah setitik konklusi dari buku Jan Breman. Buku ini memberi sumbangan penting bagi penulisan sejarah sosial dan ekonomi-politik Indonesia, tepatnya sejarah kritis yang mengajak agar sejarah kolonialisme di Indonesia ditulis ulang.
Penulisan ini menurut sejarawan Muda Ahmad Nashih Luthfi, dilakukan dengan cara menempatkan perluasan ekonomi sebagai konteks global bagi berlangsungnya kebijakan-politik jajahan, dan menunjukkan nasib rakyat yang terkena dampak atas kebijakan tersebut.
Dengan demikian secara historiografis Jan Breman dalam karya ini berada di dalam wacana historiografi sub-altern, yakni menunjukkan secara meyakinkan pesimisme mikro (kekerasan kemanusiaan penduduk) atas kebijakan tanam paksa kopi, serta kemampuan para petani melakukan perlawanan ala Scottian; dan bukan sebaliknya cara pandang etatistik yang penuh gambaran optimisme (pertumbuhan ekonomi kolonial). Ia menentang historiografi dominan yang ada bahwa kebijakan “Kultuur-stelsel” atau Sistem Tanam itu menghasilkan saldo tinggi bagi ekonomi negara Belanda, dan membuka kebuntuan ekonomi masyarakat pribumi di negeri jajahan, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan mereka.
***
Meski menggunakan sumber-sumber resmi yang ditulis pejabat negara dalam rentang pergantian rezim sejak VOC hingga berakhirnya era tanam paksa, Jan Breman berhasil menghindari “colonial apologetic” sehingga tak heran, tesis Jan Breman dalam buku ini seakan membantah dengan tegas pandangan dominan selama ini. Yaitu pandangan yang menyatakan bahwa era tanam paksa berakhir sebab ekonomi negara (state enterprise) dijalankan secara lamban dan tidak efisien, sehingga harus beralih ke private enterprise.
Di situlah kemudian kita menyaksikan berkumandangnya gagasan-gagasan liberal disuarakan di parlemen. Argumen lanjutan dari pandangan umum ini, yang meski benar sebagai proses politik daripada pertimbangan utama nasib rakyat, adalah suara-suara kritis yang muncul saat itu dengan menunjukkan kekejaman dan kengerian yang dihadapi.
Suara-suara itu dipertimbangkan oleh otoritas penguasa. Akan tetapi, sekali lagi bukan pertimbangan kemanusiaan yang utama, namun karena menurunnya produksi kopi sehingga sistem ekonomi yang dijalankan tidak lagi profitable, dan koreksi diperlukan untuk memperbaiki sistem.
Marcel van der Linden, Direktur penelitian Institut Internasional Sejarah Sosial, Amsterdam, menyebut buku Jan Breman ini sebagai terobosan karya yang mampu memperlihatkan pada kita bagaimana pemerintah kolonial pada masa pemerintahan Hindia-Belanda menerapkan “kerja paksa yang didelegasikan“ sebagai dasar cara kerja yang dipakai untuk pertanian dengan tujuan ekspor.
Halaman demi halaman buku ini memuat uraian dengan argumen kuat tentang penerapan dan dampak politik kolonial, yang memperlihatkan bagaimana ‘masyarakat pribumi’ dipaksa untuk menghasilkan surplus yang menyebabkan mereka berada dalam kemiskinan, membuat para penguasa kaya, dan menjadikan negeri Belanda siap melaksanakan proses modernisasinya. Demikian komentar John Ingleson, Deputy Vice Chancellor University of Western Sydney dan sejarawan dalam bidang kolonialisme di Indonesia.
Bukan “Mooie Indie”
Tanah Priangan yang terbentang mulai dari Cianjur, Bandung, Sumedang, Sukapura, Limbangan dan sebagian Cirebon diimajinasikan secara “Mooie Indie” oleh pelukis-pelukis romantik. Kota Bandung hingga pertengahan abad XX berjejuluk indah sebagai “Paris van Java”, dan tumbuh sebagai kota kolonial yang menjadi tujuan belanja layaknya Singapore saat ini.
Di balik selubung kertas pencitraan kolonial tersebut, terdapat penghisapan sumberdaya alam dan lebih-lebih adalah eksploitasi manusia. Sistem Priangan di wilayah-wilayah “frontier” Jawa Barat ini mengingatkan mengenai modus produksi kolonialistik yang melahirkan dampak kerusakan sosial dan ekologis yang luar biasa.

*Sabiq Carebesth dan Ahmad Nashih Luthfi, editor Jurnal sosial Agaria “Agricola” Bina Desa dan Peneliti pada Sajogyo Institute (SAINS)

**Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos 17 Agustus 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pengunjung

  • 47,944 hits
%d blogger menyukai ini: