Kafe, Lampu Kota dan Asmara

Tinggalkan komentar

Agustus 19, 2014 oleh sabiq carebesth

altittude

(catatan yang kerap salah dimengerti)

KAFE DAN LAMPU KOTA
Di kota ini, kemungkin-kumungkinan terbaik untuk kehidupan ditentukan di malam hari. Persis ketika lengit-langit di atap kota telah berganti warna menjadi sepenuhnya merah keemasan. Warna keeamasan dari sisa senja petang, atau bias lampur mercury, mungkin juga dari bayangan makeup pelacur kota yang bersandar di dinding-dinding toko.
Di Jakarta waktu menuntun kita ke dalam anganan paling kelam dari malam-malam yang penuh kekhawatiran, dan tahukah bahwa malam telah merubah kita menjadi mahluk aneh. Apakah keanehan itu membuat kita kesepian? Entahlah.
Inikah cara kita bicara? Aku ingat bagaimana ia bertanya, dengan nada suara lirih, tapi begitu kelam. Kita bicara tentang sesuatu yang kalut, berkabut dan kita bukan menyengaja mengaburkan kejelasan dari tiap-tiap yang bisa kita jelaskan dengan gamblang melainkan karena memang kita hidup dalam segala yang serba saparuh, tak utuh, terbelah dan terasing, akibatnya bukan hanya terdengar tidak jelas tetapi takkan pernah tuntas.
Malam berlanjut sebagaimana pengunjung kafe yang datang silih berganti demi mengatasi migren yang hanya cocok disembuhkan dengan melihat lampu-lampu malam atau aroma sebuah kafe yang yang berbau wangi parfurm sosialita Jakarta. Akhirnya setiap orang akan pergi menempuh jalannya sendiri-sendiri dan ketika malam tengah larut kita merasa begitu sepi. Hanya ada satu hal yang kita pikirkan, betapa sia-sianya kehidupan. Kita berharap jalan kembali ke tiada, kepada keabadian yang megah. Tapi…

ASMARA
Setiap orang tentu memiliki lagu yang pernah membuatnya begitu hidup–kehidupan yang nyata, bercengkrama; saling menyentuh, saling memandang; begitu ringan, begitu langsung dan spontan…
Asmara merajam kita dalam dekapan paling menggetarkan yang kita rasakan, seolah ada sebuah nyanyian yang tengah merasuki melalui pori-pori kulit, merasuk ke dalam jantung. Ada kehendak yang kuat, naluri yang tinggi, seluruh bergetar; dan hasrat membangunkan kehendak, meluruhkan kengerian dan rasa takut—cinta telah membebaskan perindu dari kebekuannya. Dan ia menunggu.
Malam akan melumat kita dalam ketidakmengertian. Tapi kita saling percaya, cinta tak untuk dimengerti. Ada malam di mana cinta hanya membutuhkan getaran. Ada malam di mana cinta adalah angin malam yang berhembus dihawa yang panas. Cinta telah menjadikan kita begitu tak mengerti; kita hanya menanyakan, kenapa cinta? Lalu penderitaan telah membimbing kita ke dalam lamunan paling mengerikan dari kesia-siaan hidup yang selalu kita takutkan—Tapi cinta dan impian telah melunasi kesia-siaannya. Penderitaan telah mengajari kita betapa konyolnya menghabiskan waktu dalam kesia-siaan dan penyesalan.
Hidup adalah kemabukan, kita hanya harus mabuk dan menjalani malam-malam yang mengesankan. Melihat penderitaan sesama, turut merasakannya dan kembali mendengarkan nyanyian yang menggema dengan kuatnya sehingga kita seakan tak bisa tidur lagi, atau terdiam. Kita terus terjaga dan menderita—tapi anehnya kita bahagia karenanya.
Kita harus melakukan sesuatu, berbuat seseuatu seolah telah pasti—ada seorang yang tengah mencintai kita, diam-diam dan begitu dalam. Seorang hanya harus berdiri di tempat yang memungkinkannya berbuat sesuatu agar tak menderita dan jadi sia-sia, sebab pada satu malam yang tak pernah diduga, di mana cinta selalu saja akan menghampirimu.
Cinta yang tertahan; menderita; sia-sia; sampai ketika ia datang padamu, memilihmu untuk menjadi utuh—dan ketika malam benar-benar menjelang, kau memiliki alasan kuat untuk pergi ke tepian pantai, menikmati jalan-jalan dan lampu-lampu mercury di sepanjang jalanan kota Jakarta yang tua sambil merasai bahagia—dalam hatimu kau memiliki kehidupan, dan kau telah memutuskan betapa kekanak-kanakkannya cinta. (*)

@sabiqcarebesth, 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pengunjung

  • 45,245 hits
%d blogger menyukai ini: