Beberapa Jenis Laki-Laki

Tinggalkan komentar

Agustus 13, 2014 oleh sabiq carebesth

timthumb.php

Aku duduk di kafe—dua bulan terakhir sejak memutuskan berhenti dari pekerjaan aku menghabiskan hampir semua waktuku di kafe—mengamati orang-orang dan menulisnya untuk hal-hal yang tampaknya hanya bersifat komplusif. Akhir-kahir ini aku kerap dilanda perasaan bosan yang keterlaluan.
Kali ini aku melihat pengunjung kafe, mereka beragam, bebas dan selalu bergembira. Di antara mereka ada beberapa lelaki dan perempuan. Seorang lelaki berdiri dari duduknya, kemudian berjalan ke jendela, terus bicara dengan seseorang di dalam telpon genggamnya. Tangan kirinya di pinggang, tangan kanannya menggenggam telpon. Secara bergantian kedua tangannya seolah-olah menunjuk-nunjuk langit, atau terlihat seperti seorang sedang menangkis sesuatu di langit-langit. Ia bicara keras dan berjalan mondar-mandir. Aku jengkel bukan kepalang melihatnya, pengunjung lain bicara lirih-lirih, seperti berbisik, mereka memperlihatkan mimik muka yang sama jengkelnya denganku. Aku mengeluarkan buku catatanku, mengamati semua lelaki di kafe ini sambil menunggu pesananku datang. Ketika segelas kopi pesananku tiba aku segera memulai menulis, aku menulis tentang beberapa jenis laki-laki:
Jenis pertama adalah lelaki di hadapanku ini, seorang lelaki yang bicara keras-keras dengan telepon genggamnya dan menunjukan betapa superioritasnya ia, sama sekali tak sadar bahwa lelaki macam itu justeru menunjukan betapa kecil pengaruhnya. Kesombongan verbal hanya menunjukan dengan lebih jelas seorang hanya pecundang tanpa memiliki pengaruh. Lelaki semcam itu menjengkelkan dan membuat kita ingin mematahkan lehernya.
Seorang lelaki yang lain adalah lelaki tua yang telah lama menderita dengan rumah tangganya kemudian ia menemukan seorang perempuan muda yang tak lebih cantik dari istrinya—tapi begitu tulus dan baik sehingga lelaki tua itu merasa beruntung karena menemukan kehidupan yang walau hanya tersisa sedikit, tapi memberinya perasaan indah. Karenanya lelaki itu akan menggandeng lengan perempuannya dengan perasaan bangga dan memastikan bahwa ia tak perduli pada apa pun, pada publik yang memandangnya! Perasaan tidak perduli itulah yang membuat inti kehidupannya yang beku kembali hidup dan begitu bergariah. Lelaki semacam itu adalah jenis lelaki yang beruntung. Tapi dalam cerita berikutnya, barangkali perempuan yang mendampinginya akan segera merasa bosan dan lelaki tua itu akan tercampakkan sehingga ia sesungguhnya adalah potret dari drama panjang paling tragis yang mengesankan. Tapi toh demikian, sebagai drama ia tetap merupakan hal yang indah bukan? Oh ya, lelaki yang kuceritakan itu kebetulan adalah tetanggaku di rumah sewa yang kutempati dua tahun lalu, sekarang lelaki itu telah meninggal karena jantung dan aku juga sudah menempati rumah sewa yang baru yang jauh dari tempatku yang lama. Kali ini aku menyewa tempat yang lebih sempit dan murahan.
Lelaki yang lain adalah seorang yang sepenuhnya beruntung, normal, mewah, memiliki reputasi yang hampir seluruhnya baik, tetapi ia buruk dengan selera makan dan minum termasuk tidak menyukai kopi, Vodka dan suasana malam hari serta tidak memakan makanan yang getir seperti pare, paprika, dan cuka. Hanya perempuan yang sepenuhnya bernasib sial akan menjadi pasangan yang cocok dengan lelaki jenis ini.
Seorang lelaki yang lain adalah type pemikir yang lemah dan mudah cemas, lagi pula lelaki semacam itu kebanyakan adalah seoang komplusif yang sekaligus pelupa, tetapi sekaligus sangat teliti pada detail. Ia seorang yang tenang—bukan karena mati rasa atau tak mengkhawatirkan apa-apa, melainkan karena kemampuannya menyembunyikan kegelisahan dan lelaki seperti itu telah belajar untuk mengatasi penderitaanya dengan cara-cara yang nyaris sulit dimengerti. Jangan berusaha menandingi atau meremehakan lelaki macam itu untuk mendapat keinginan yang telah ia hasrati. Ia bisa dengan segera menjadi Serigala!
Jenis lelaki yang terakhir tampak memiliki kecenderungan sepertiku. Tapi bagaimana pun aku sebenarnya adalah jenis lelaki yang tak masuk salah satu golongan tersebut. Aku bahkan tak tahu golongan darahku—yang diperlukan untuk mengambil simpati publik dalam donor darah atau menukarnya dengan makanan jika dalam keadaan terdesak karena tak memiliki uang. Selain itu aku juga tak memilki banyak uang untuk menjadi seorang philantropist yang flamboyan. Jadi aku ini lelaki seperti apa?
Aku adalah lelaki yang menghabiskan waktuku di kafe, pulang ke kamarku yang mungil dan lembab, membaca buku, menikmati segelas kopi arabika, menulis kritik dan menikmati vodka untuk keperluan kejiwaan yang mengguncang terlalu parah akibat kesedihan yang kerap mudah melandaku tanpa demam atau alasan yang benar-benar layak. Tapi bagaimana pun juga aku pun bukan seorang pengidap melankolia. Aku sering—pada akhirnya kusadari—menjadi histeris dan agresif. Entahlah, sekarang aku hanya sedang memikirkan untuk berbuat sesuatu yang memungkinkanku merasa gembira dari malam ke malam. Merayakan malam pada setiap keterjagaan. Aku bosan pada sepi, aku lelah pada keputusasaan.(*)

@sabiqcarebesth, 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pengunjung

  • 43,809 hits
%d blogger menyukai ini: