[Monolog Alissa]

Tinggalkan komentar

Agustus 11, 2014 oleh sabiq carebesth

254884_331246130316380_1460383479_n

Tak ada alasan yang lebih melegakan untuk meredam marah selain memikirkan apakah kita mengenali diri sendiri atau tidak.
Kita telah mengalami kebuntuan dalam beberapa kesempatan. Seorang mungkin akan lebih mudah merasa bahagia ketika hujan dan ia memastikan dirinya menemukan tempat untuk pulang. Di mana ia akan menemukan dalam kehidupannya ada seorang yang mendekap dingin yang bergelayut di tubuhnya; atau seorang yang bernyanyi untuknya. Ngomong-ngomong, bisakah kau merasakan saat ada seseorang, entah di belahan dunia yang mana, tengah bernyanyi untukmu?
Selalu ada yang tak mudah saat seorang harus berhadapan dengan kesepian. Selalu ada masa di mana seseorang selalu membutuhkan seorang yang dekat dengannya. Sedekat nyanyian favorit yang memainkan musik terbaik ditelinganya. Sedekat dingin di mendung ketika para perindu merindukan senja yang biasanya.
Aku membenarkan letak dudukku di kafe ini, meniru gayamu yang selalu gelisah, kemudian mendongak ke luar melalui jendela, menatap langit sore yang mulai jadi kelam, memandang kejauhan, seolah-olah aku tengah memandang seseorang terbaik dalam hidupku, memandangi rindu yang paling dalam dalam diriku sendiri.
Ingatan, demikian bahasa nyanyian melantunkan tembang, seolah memadati kekosongan yang kurasan seperti sekarang ini. Kau tahu, getaran itu membuatmu tenang. Degubnya membuatmu merasakan kehidupan. Cinta selalu berbuat demikian, atau bukan sama sekali.
Kenapa saat malam menjelang dan senja yang baru berlalu berganti warna jadi tambah membiru—kita selalu merasa harus menemukan tujuan yang lain dari keterasingan? Kita seakan harus berjalan, pulang dan memulai hidup yang baru. Apakah kau bisa mendengarkan nada suara dari pita hatiku yang begitu tipis dan lembut?
Kadang kita ingin menari, saling memandang, menggerenyitkan dahi sebab betapa tak tertahankannya rasa ini; kita membumbung ya, ingatkah kau? Seakan kita berada di tepi jurang tercuram, demikian katamu sebagaimana yang bisa kuingat, kita lalu melihat hamparan keluasan yang tak bisa kita lihat batasnya, dan kita terus bahagia, kita terus menari seakan tak ada lagi batas-batas selain getaran dan perasaan setengah haru bahwa kita tengah mengalami kebersamaan yang terlalu dalam. Kita tak bisa membilang berapa banyak getaran yang bisa kita rasakan karena rasa yang mencinta.
***
Kota ini akan jadi teramat indah saat hujan turun untuk beberapa saat, kemudian reda dan hanya menyisakan dingin kabut yang berarak ke barat, ke pantai, ke kanal-kanal air hingga jauh.
Aku merasa seakan melintasi sebuah dimenasi waktu yang lain. Kesendirian adalah dunia lain, kesepian adalah kabut; dan ingatan akan orang-orang yang pernah begitu penting dalam hidup kita adalah gerimis yang menempel di dinding-dinding kaca di gedung-gedung megah kota Jakarta. Di sana para perindu memandangi gerimisnya yang perlahan-lahan menyerupai air mata. Aku pun jadi tahu sekarang apa yang kau rasakan setiap saatnya waktu itu, kau sendirian, sepertiku sekarang.
Ingatkah bagaimana kau sangat menyukai pipiku yang lembut seperti kabut tipis dijatuhi gerimis? Aku pernah menyodorkannya untukmu, pipiku, dan kau tak mau, kau tak berani. Jika saja kau ingat? Betapa konyolnya.
***
Biar kukatakan sekarang, aku duduk di kafe, di dekat jendela yang langsung memberikan pemandangan ke luar, pemandangan kota Jakarta yang tua, dinding-dinding rumah Tiongkok yang belrumut, juga melihat keadaan-keadaan, sama seperti yang biasa kau lakukan ketika di kafe ini.
Ya, tentu saja aku tahu kebiasaanmu, dan sekarang aku duduk di kafe kegemaranmu ini, di sudut, di dekat jendela, membuka laptop, dan menulis sesuatu tentangmu sebagaimana kau biasa menulis surat untukku—walau tak pernah kau kirimkan padaku. Ya, diluar angin berhembus halus, dingin menyusup lembut ke dalam pori-pori; sisa hujan menempel di dadunan di pepohonan yang dibiarkan berdiri di kafe ini. Aku jadi tahu rasanya sekarang, apa rasanya duduk di kafe ini dan menyelesaikan sebuah novel, sebuah pencarian diri sendiri—indah dan mendalam, kelam dan menderitakan.
Kau hidup dengan duniamu sendiri, kau hanya ingin menemukan ketenangan, sama dengan betapa frustasinya hidupmu dalam mencari sesuatu—sesuatu yang barangkali tak hanya membuatmu merasa tenang, tapi utuh; di mana kau bisa merasakan seseorang menyentuhmu, membuatmu bergetar, menatapmu dan kau merasa hangat; ia bersuaara untukmu dan kau merasa menjadi dalam, tatapannya memastikan; hanya untukmu.
Tapi kau terus hidup dalam kebisingan yang sama sepinya dengan kenangan yang tak bisa kau genggam. Seperti lagu yang lirih-lirih, seperti lirik yang berarti puisi, perlahan namun begitu mendalam. Pendek tapi menelanmu sampai ke pangkal kehilangan. Seperti yang baru saja kutuliskan, bahasa tak selalu mudah dimengerti, atau otomatis menjadi benar, tidak sama sekali—tapi bukankah kau bisa merasakannya? Kau bisa menerjemahkannya dengan kandungan rasamu sendiri, seperti sebuah rintihan yang dipenuhi oleh metafora, seperti seorang gadis yang berjalan sendiri di tengah hujan yang teramat deras. Apa yang dicarinya? Ia menekuni kesedihannya, agar menjadi dalam, agar menjadi sangat sedih, agar menjadi tangis yang tumpah bersama hujan, beradu deras, beradu sunyi, beradu hening dan kemudian? Ia memiliki kisahnya sendiri, kenangannya.
***
Aku tahu sekarang betapa tidak mudahnya melewatkan dingin dan kau melewatkannya hanya seorang diri. Aku tahu betapa rumitnya melewatkan pikiran-pikiran yang kau tenun sendiri dan kau tak memiliki seorang teman yang begitu dekat, aku tahu kenapa kau duduk dan pada menit yang kesekian setelah segelas kopimu datang kau mereguk kehidupanmu dalam botol vodka yang kau sembunyikan di dalam tasmu. Ngomong-ngomong, kenapa kau menyembunyikan botol vodkamu? Menurutku kau pada dasarnya seorang moralis yang mudah khawatir.
Pesananku sudah datang, aku memasan kopi, kau tahu? Seperti juga kebiasaanmu. Dan ya aku duduk di kursi yang sama seperti saat kau melihatku dari jendelanya; menemukanku malam itu bersama suamiku dengan gaun hijau—sebentar kemudian mendung dan kau terlibat terlalu jauh dengan penderitaan dan kecemburanmu sendiri.
Aku tahu sekarang apa yang kau rasakan, tapi betapa tak mudahnya memastikan bahwa kita tengah menderita, atau tengah bahagia. Apa bedanya keduanya di hadapan kehidupan? Apakah penderitaan itu tak bisa kau rasakan sebagai rasa yang membuatmu hidup? Apa kebahagiaan yang kau timang tak bisa kau rasakan sebagai kesia-siaan yang mudah berlalu? Kita sama sekali tak bisa mengungkapkan dengan sempurna gagasan tentang keduanya. Kita hanya bisa memastikan bahwa perasaan kita tidak mati.
Kita berusaha, bahwa kita benar-benar hidup. Aku telah berpikir lebih dalam dari apa yang bisa kupikirkan sebelum aku bertemu denganmu malam itu. Tapi kita sama terlambatnya dan kita telah menemui beberapa pilihan yang berbeda. Aku telah menikah, dan kau telah memilih menemukan kemungkinan yang lain. Apakah kita harus menaruh harapan bahwa kita masih mungkin untuk bersama? Secara moral aku tak bisa memikirkannya sampai tiba malam itu, ya malam itu ketika aku pergi ke kafe dengannya. Kau tahu apa yang terjadi dan tengah kami bicarakan? Aku tahu kau di seberang jalan dan melihat kebahagianmu ada di mataku. Kau masih merindukan saat-saat paling intim yang pernah kita lewati, tapi jika pun kau yang di hadapanku malam itu, apakah kita bisa menjamin bahwa kita bisa merasakan kebahagiaan yang sama dalamnya dengan apa yang pernah kita rasakan ketika hujan dan kita memandangi subuh lewat jendela kacanya?
Inilah yang terjadi antara kami. Kami telah berpisah sejak malam itu sebagaimana kau telah ketahui. Ia telah memilih kehidupan yang lain. Dia telah berusaha merubah orientasi sexnya padaku, tapi kecenderungan itu selalu gagal setiap kali ia pergi dengan pasangan lelakinya. Betapa tak mudahnya memahami kondisi semacam itu. Tapi kenyataan selalu terjadi di depan kita. Apakah aku akan menemuimu? Apakah jika aku bertemu denganmu setelah ini kita akan bisa mengulang kebahagiaan yang sama seperti yang pernah kita rasakan?
***
Oh ya, apa kau telah menyelesaiakan novelmu?
Aku hanya bisa menebak, tapi kurasa kau memang telah menyelesaikannya. Aku bisa menebak bahwa mungkin kau telah menulis namaku sebagai halaman persembahan? Atau kau telah menemukan seseorang yang lain? Tentu saja kau menemui seseorang, kau bertemu dengan perempuan yang lain selama aku tak ada, aku tahu betapa tidak mudahnya sendirian di kota sebesar ini; seorang berharap dengan tidak sengaja bertemu seseorang yang tepat, atau ia akan berusaha menemukannya. Satu hal yang pasti, tak ada seorang di kota ini yang benar-benar sanggup sendirian.
Hari telah jadi malam sekarang, tadinya aku berpikir bahwa kau akan datang ketika aku selesai menuliskan surat ini, ketika petang menjelang. Tapi mungkin karena kau telah menyelesaikan novelmu kau tak lagi datang ke kafe ini. Entah di mana kau sekrang? Tapi tidak apa, aku akan mengirimkan surat ini melalui emailmu dan berharap kau sempat membcanya.
Mungkin sekarang kau di kamarmu, menelan kebosanan atau tengah berusaha bunuh diri. Atau barangkali kau tengah…Jika kau sempat membaca catatan ini, kau boleh menyusulku. Tapi jika kau merasa tak memerlukan keadaan yang sama karena waktu dan kenangan sepertinya tak bisa diulang untuk memunculkan getaran yang sama mendalamnya, maka tak apa bila kau tak datang. Biarlah waktu yang mempertemukan jika seharusnya demikian, sebagaimana dahulu kita pernah bertemu di malam yang asing, kemudian menghabiskan malam dan kembali terasing. (*) Bersambung..

@sabiqcarebesth, Agustus 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pengunjung

  • 43,834 hits
%d blogger menyukai ini: