KESEDIHAN DAN PENDERITAAN (cara menikmati Jakarta malam yang kian kelam)

Tinggalkan komentar

Agustus 3, 2014 oleh sabiq carebesth

caption

Malam kian larut. Pengunjung kafe telah mengisi hampir separuh meja yang tersedia. Mereka tampak berbahagia. Memang setahuku semua orang yang ke kafe ini berbahagia. Mereka bukan untuk mencari kebahagiaan, tetapi merayakannya. Dan aku? Aku tak pernah punya tujuan pasti, kadang aku bahagia, kadang merayakannya, kadang sebaliknya, aku sangat menderita menyaksikan semuanya.
“Aku telah lama membaca namamu yang aneh” ujar Inne. “Kau seorang yang hebat.” Aku setengah kaget. Aku tersadar dari pikiranku sendiri.
“Apa kita sepadan, maksudku seumuran?” aku bertanya. Inne tampak aneh dengan responku. Tapi ia menjawab juga.
“Aku 27.”
“Aku telah jadi tua rupanya.”
“30? Ia bertanya.
“31.” Kataku. Inne mengerlingkan matanya. “kalau tidak salah” imbuhku.
“Tak ingat dengan hari lahir sendiri? Seserius itu kah kau dengan seni?”
“Tidak juga. Hanya tak ada yang merayakan hari itu.”
“Menyedihkan.”
“Tak usah kita bicarakan. Itu terdengar membuang waktu saja.”
“Ya. Cukup pada kesimpulan bahwa kau sangat menyedihkan dan tampaknya menderita.” Ia berkata. Setengahnya meledekku.
“Itu dia.” ujarku menyela. “Kurasa dua hal itu lebih menyenangkan untuk dibicarakan dua orang yang baru bertemu, tetapi merasa sangat akrab: kesedihan dan penderitaan.” Aku berinisiatif.
Inne mengangguk setuju. “Kita telah lama mengenal, aku maksudku. Hanya baru kali ini bertemu dengan sosokmu yang nyata.” Ia kemudian berkata. Aku tersenyum. Aku merasa senyumku ambigu, tapi begitu lepas dan hidupku tiba-tiba terasa ringan.

KESEDIHAN DAN PENDERITAAN

“Kesedihan adalah kehilangan keluarga yang akhirnya pergi ke tanah leluhurnya di tiongkok dan meninggalkan seorang anak gadis yang manja untuk menjalani kehidupannya yang berat dan trauma bersama seorang asing yang sama sekali tak memiliki perhatian lebih selain seperti hubungan seorang pembantu pada majikannya yang jatuh miskin karena semua kekayaanya dirampok oleh omongkosong yang memakan korban terlalu banyak. Penderitaan adalah menyaksikan puluhan orang menjarah harta benda yang terdapat di rumah orang tuanya dan ratusan aparat yang berjaga di jalan-jalan hampir tak satu pun yang memiliki nyali untuk menjadi benar. Sementara itu ketika gadis yang belum tahu menahu artinya politik berusaha melindungai harta orang tuanya secara naluriah, rok mini yang ia kenakan robek dan darah segar mengucur dari lengan dan kakinya karena tersungkur di jalanan aspal; seorang lalu membopongnya ke sudut ruangan dan memperkosanya dengan penuh hasrat seakan lelaki itu dalam dirinya tak memiliki telinga untuk mendengar jeritan jiwanya sendiri yang meronta mendengar jeritan rasa sakit dari gadis yang baru beranjak empat belas tahun.” Tutur Inne. Aku melihat tulang rahangnya mengeras. Ada kenangan yang terasa linu.
“Kesedihan adalah mendengar kebenaran tak dibela seorang pun. Penderitaan adalah mendengarmu memperdengarkan suara-suara jeritan dari kehidupan yang diperkosa.” Ujarku.
“Hanya korban yang benar-benar tahu pedihnya. Seakan inti kehidupannya diambil dengan paksa tetapi ia tak mati dan malah harus terus berjalan di jalan yang terasa berat dan membuatnya lelah karena ia bahkan tak kuasa bicara pada bayangannya sendiri ketika matahari tengah terik. Ia hanya ingin sendiri dan mengubur jeritannya sendiri. Tetapi bayangan dirinya telah mengingatkannya bahwa ia ada, dan hidup seakan memintanya untuk terus hidup.”
Aku tak sanggup mendengar Inne. Sama halnya aku tak sanggup menghiburnya. Dan betapa lalu kupikirkan, adakah ia membutuhkan hiburan dari seorang yang tak bisa merasakan jeritan sebagaimana aku? Tidakkah ia telah bertahan tiga belas tahun terakhir untuk mencari hiburan bagi kehidupannya sendiri?

IDE YANG BURUK DAN AROMA TUBUH
Ide yang buruk adalah mengingat kebencian; melihat dua orang lelaki tua yang munafik; seorang perempuan renta yang berjalan sendirian di tengah dingin malam; dan melihat seorang perempuan dengan wajah dan tatapan mata yang sama lembut, juga kulit yang putih segar dan kita tak bisa menyapanya, apa lagi memilikinya.
Mari kita bicarakan yang terakhir saja. Tentu hal itu yang paling menyenangkan dan menimbulkan hasrat yang membuat umur terasa jadi panjang. Perempuan cantik adalah pijakan utama, yang lain kemudian. Tentu saja kau tak bisa sekedar melihatnya dari seberapa bersih dan segar kulit pahanya atau lekukan di antara lehernya yang membuat kita bisa mengira seberapa segar aroma yang menyebar di sekitar dadanya. Jangan munafik, itulah hal paling menggairahkan; atau maksudku, semua yang menggairahkan memiliki dan bermula dari aroma. Seorang yang tak menghasrati suatu aroma, ia mungkin gila atau seorang yang tak lagi memiliki gairah. Gairah membantai dan membunuh pada peristiwa-peristiwa sejarah di kurun revolusi tradisional di belahan sejarah yang lalu sangat mungkin bermula dari seberapa manusia kala itu mencium aroma darah yang sama menggairahkannya dengan seorang skizofrenia dengan kecenderungan pedofil melihat bocah perempuan berambut ikal dengan tubuh bersih dan aroma wangi yang khas yang keluar dari bau kulitnya.
Ide yang paling buruk dalam sejarah adalah ide tentang aroma yang ditimbulkan dari darah suatu ras tertentu. Ras yang dihabiskan oleh seorang atau segerombolan orang gila yang tak menyukai bau dari aroma tubuhnya sendiri, sehingga setiap kali ia mencium bau yang serupa dengan bau yang melekat dalam tubuhnya ia siap menghilangkannya dan mencuci tangannya yang berlumur darah seakan ia baru saja menjagal ikan paus yang lucu dan menggemaskan.
Mereka telah membentuk sejarah dari aroma yang tak mereka sukai atas bau darah suatu ras tertentu di mana kerap pembantainya adalah seorang yang paling memiliki aroma tubuh dari ras yang ia benci. Pembantain kerap bermula dari kebencian pada diri sendiri, termasuk aroma yang keluar dari tubuhnya sendiri.
Wanita cantik dengan wajah dan tatapan mata yang sama lembutnya yang baru lewat tadi akan segera memudarkan gairah bila ia ternyata memiliki aroma yang serupa dengan aroma tubuh kita di mana pada saat yang sama kita membenci tubuh kita sendiri. Tubuh kita adalah momok dan kebencian atasnya sama bahayanya dengan kecintaan seorang rasis pada kecantikan tubuh di mana ia akan terus terobsesi pada kesempurnaan. Kesempurnaan yang nyaris tak bisa ia dapati kecuali pada seonggok tubuh yang lunglai lemah dan sama sekali tak berdaya. Sekujur mayat, kalau bisa yang gosong terbakar. Mayat yang mulanya sangat mengerikan tapi kengerian itu kemudian sirna oleh aroma tubuh yang dalam beberapa saat kemudian membuat seorang terobsesi pada bau tubuh yang terbakar, mayat yang terpanggang.
Bayangkan bila dalam sebuah kota, sepertiga dari manusia-manusia yang hidup di dalamnya adalah pemuja kecantikan tubuh, wangi dan kelembutan tubuh, tapi kemudian ia terasuki oleh ide mengerikan yang muncul dari pandangan tidak sengaja atas kesedihan seorang perempuan tua renta yang berjalan sendirian di dingin malam; kemudian merasuk dalam bagian dirinya yang lain suatu hasrat kemarahan melihat dua lelaki tua munafik yang telah membuatnya merasa sama tersiksanya dengan seorang perempuan tua renta yang kesepian di kekelaman malam? Manusia-manusia semacam itu lantas jijik melihat dirinya sendiri atau orang lain yang serupa dengan dirinya, sama menjijikan dengan bau penderitaan yang tak bisa dilawannya, atau karena batok kepalanya terlalu rentan pada benturan ide dan kenyataan. Orang-orang gila dalam sebuah kota mengamuk, mebantai dan mencari tubuh-tubuh paling lembut, segar dan putih dengan tatapan paling sejuk—untuk dicium, dibuat sama menderita dan karena ia memiliki aroma tubuh yang menciptakan kengerian pada dirinya, ia membakar dan terus menikmati dengan perasaan mendalam penghilangan atas bau tubuh—pada aroma wangi dari darah dan kulit yang sebenarnya justru sempurna di dalam tubuh, darah dan kulitnya sendiri.
Revolusi di dalam sebuah kota adalah pertaruhan bau tubuh, aroma darah, dan wewangian dari darah yang membeku dan kulit yang terbakar. Manusia dalam sejarah yang telah bergulir, sebagiannya tetap menghasrati pembantaian demi revolusi atau untuk menghancurkan apa yang telah dihasilkan oleh revolusi. Sejarah telah mengajarkan dengan cara yang paling aneh bahwa kegilaan telah mendominasi setiap revolusi; kecintaan pada tubuh telah menciptakan pembantaian paling mengerikan yang pernah terjadi; bau tubuh dan aroma dari sekujur kematian telah menciptakan drama pembakaran paling mengerikan yang pernah terjadi dalam sejarah berdirinya kota-kota; Paris, Amsterdam, NewYork, Palestina, Jakarta, dan kota-kota revolusi lainnya.
Jakarta adalah kota yang berdiri di atas puing-puing kengerian, wangi aroma perempuan dan sekujur tubuh yang terbakar di dalam sejarah yang telah membuat lautan bahkan bermuram-berduka sehingga ombaknya yang biasanya ganas luruh, telah jadi dingin dan bisu. Di manakah kamu bisa menemukan lautan Jakarta yang bergemuruh oleh deru ombak?
Jakarta adalah ketenangan abadi yang sama bisunya dengan setiap tubuh yang terbakar, perempuan yang mengeluarkan bau keringat yang disebebkan oleh ketegangan, frustasi dan kengerian paling menjijikan dari pemorkosaan yang dilakukan dengan cara yang tak bisa dibayangkan kecuali oleh kegilaan peradaban yang menyertainya. Ketenangan Jakarta adalah kebisuannya yang nyaris abadi. Kemarahan yang tak membutuhkan pemaafan, atau kengeriaan yang tak membutuhkan kata damai. Kemarahan dan kengerian itu kadung abadi bagi sebagian orang; terlalu murah untuk dilupakan. Terlalu mahal untuk sebuah maaf. Kengerian itu telah menjadi ingatan yang hanya bisa dikuburkan bersama kematian mereka sendiri. “Aku ingat semua, aku ingat wajah-wajah itu, kebencian dan aroma tubuh mereka. Tapi aku tak bicara atau menuntut mereka meminta maaf, biar ingatan itu aku bawa sampai mati.” Kenang Inne. “Ayah wafat sebulan lalu dan hanya itu yang dengan terbata-bata bisa ia wasiatkan padaku.” Katanya.
“Aroma paling wangi dan segar adalah aroma tanah yang basah oleh guyuran hujan.” Ujar Inne. “Tak sepenuhnya benar, tapi setidaknya itu kata-kata terbaik yang bisa kukatakan untuk menghibur diriku sendiri.” Ia menegaskan.

@sabiqcarebesth, Agustus 2014
Bersambung…

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Agustus 2014
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pengunjung

  • 46,295 hits
%d blogger menyukai ini: