[Jakarta Malam] Seperti biasa ia terlihat jelita, seperti malam yang kian kelam..

Tinggalkan komentar

Juli 18, 2014 oleh sabiq carebesth

img_62871

Seperti biasa, ia terlihat jelita, lagi pula aku tak bisa untuk tidak mengatakan betapa sexinya ia berbalut long coat dengan dress hitam, ia terlihat klasik dengan sensualitas penuh.
“Tak ada Vodka di sini.” Ia berkata. Tapi jika kau mau, kafe sebelah menyediakan wine dan bir terbaik yang diimpor dari Eropa.”
“Aku rasanya tak membutuhkah apa pun. Lagi pula aku sudah duduk seharian dan melewati peristiwa yang belum sepenuhnya kusadari dan membuatku pusing.”
“Semua akan baik-baik saja.” Ujar Alissa. Ia menatapku, selalu mengambil posisi sebagai seorang yang lebih dewasa dan mendalam, sekaligus lebih kuat.
“Semoga kau masih bisa menemuinya besok malam. Aku juga berharap ia selamat.” Kataku.
“Tentu saja, dia akan baik-baik. Aku sudah memastikan ia ditangan seorang dokter yang ahli.” Balas Alissa.
“Kau yakin?”
“Ya. Aku menelponnya baru saja.”
“Kau sangat menyayanginya.” Kataku. Aku tak perduli dengan kata-kataku. Lagi pula aku tak bermaksud berkata demikian.
“Kau bertanya padaku? Atau kau menuduh perasaanku?”
“Anggaplah keduanya.”
“Lelaki kadang sering hidup dengan anggapan. Itu kelemahan abadi dalam diri kalian.” Ujar Alissa. “lagi pula hal itu membuat kalian menderita. Setidaknya sampai ia memastikan bahwa ia lelaki yang punya arti bagi kesepian seorang perempuan.”
“Aku manggap kau menyayanginya dan kau akan segera melupakan saat-saat aneh denganku.”
“Tentu saja, jika kau menginginkan demikian.” ajar Alissa.
“Kau tak memiliki jawaban yang lain?” kataku.
Alissa diam saja. Ia menyandarkan dirinya di kursi. Matanya manatapku, kemudian menatap pada jauh.
“Aku punya semua yang kau butuhkan malam ini, kurasa sebaiknya kita memasak di atas. Kita lelah dan lapar.” Ujar Alissa kemudian.
Aku telah mempertimbangkan, aku ragu, tapi kemudian aku tak bisa melepaskan diri. Kami pergi meninggalkan kafe tanpa memesan apa pun. Kami tak saling bicara sampai ketika lift bergerak ke lantai 7. Aku bukan tak tahu apa-apa, tapi aku merasa bahwa aku dan Alissa berada pada hasrat yang seimbang dan kami sama-sama menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya ketika pintu lift terbuka.
***
Ia membuka kamar apartemennya dan mempersilahkanku masuk. Aku mendapatkan sudut pandang yang nyaris sempurna untuk melihat permaianan terindah yang bisa kubayangkan.
“Barangkali di kejauhan sana memang ombak Sunda Kelapa.” Ujar Alissa sambil mendekatiku. Kami melihat hamparan lampu kota yang mengesankan.
Jendela aparteman ini luas karena berada di sisi pojok menghadap ke belantara lampu kota yang menyala dari gedung-gedung lain dan juga lampu-lampu jalan. Alissa tampaknya sengaja membuka gorden jendela agar ketika aku membuka pintu aku akan langsung berhadapan dengan pemandangan eksotis yang menggairahkan bagi sebuah malam yang terlewati dengan buruk, penuh ketidakpastian, cemburu, dan kucuran darah. Tapi sekarang hanya ada aku dan Alissa, malam yang kian dingin, kota yang kian sepi, tapi cahaya menjadi kian nyata di sepanjang jalan dan gedung-gedung, sesuatu yang nyaris sempurna untuk meminum segelas Wine Irlandia.
Alissa mempersilahkanku untuk merenungi pikiranku sendiri seperti biasanya. Aku berdiri di samping jendela. melihat malam jakarta yang selalu saja mengesankan dan nyaris tak terlupakan. Sementara itu Aliisa sekejap telah hilang menyelinap ke dalam kamar yang terletak di balik ruang tamu dengan sofa warna putih berhias pita dan manik warna hijau yang ceria. Aku telah mengamati sejenak apartemen ini, melihat pada dapurnya dan sebuah meja kecil yang jika tempat ini milikku aku akan duduk menulis sepanjang hari di tempat yang berdekatan dengan dapur dan kamar mandi itu. Sayang aku hanya tamu asing, hanya semalam menjelang dan barangkali tak akan kembali lagi ke kamar ini. Seorang asing tetap tak pernah mendapatkan utuh, kecuali aku mengambilnya dengan berani.
Tak lama kemudian Alissa keluar dari kamarnya. Aku melihat bayangannya dari kaca jendela yang memantulkan bayangan tubuhnya. Ia tampak tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan ragu; ketika aku memalingkan wajahku padanya ia telah dihadapanku dengan sebotol Wine yang telah terbuka. Gelas di tangan kanan, botol Wine di tangan kiri. Ia bertelanjang kaki, dan tungkainya yang mungil telah memandu betisnya yang putih jenjang sampai-sampi aku baru menyadari bahwa ia telah melepaskan celananya dan kini hanya mengenakan kemeja yang memastikan padaku ia tak mengenakan Bra. Tapi bukan itu yang membuatku gugup, kemeja itu yang membuatku mengalami kegugupan yang menjengkelkan, apakah itu kemejanya? Atau kemeja kekasihnya? Kenapa ia mengenakannya di hadapanku?
***
“Duduklah,” ujarnya sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa, lalu dengan matanya memintaku mengikutinya. “Atau kau ingin bercinta di jendela?” katanya lagi. sungguh selera humor yang menggairahkan, pikirku.
Aku menanggak segelas, dua gelas dan kosong gelas ketiga. Aku tak tahu kenapa secepat ini. Aku tiba-tiba merasa ingin meningglakan kesadaranku sendiri lebih cepat. Aku tak ingin menyadari yang akan terjadi. Hidup kadang-kadang indah bila begitu spontan dan lepas.
“Kemeja yang bagus. Lagi pula kau terlihat sexi dengan kemeja…apa itu kemeja lelaki?” Kataku setengah menyeledik. Suaraku terdengar gemetaran karena dingin AC dan hatiku yang juga nyaris membeku karena perasaan cemburu yang tiba-tiba mekar. Aku masih belum mengerti kenapa dia memakai kemeja laki-laki di hadapanku.
“Aku telah bersamanya 4 tahun.” Ujar Alissa kemudian. Aku mengatur nafasku, sebisanya meredakan diriku sendiri untuk tak guncang. Ah lagi pula siapa aku untuk marah padanya? Aku mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa usaha untuk menanyakan apa-apa. Aku memahami ia hanya ingin didengarkan dan kemudian merasa lega. Perempuan selalu butuh porsi lebih banyak untuk didengarkan.
“Selama bersama itu pula ia telah menjalin hubungan dengan 3 perempuan selainku; yang pertama seorang yang sangat cerdas, seorang yang begitu lembut dan satunya lagi seorang yang memiliki tubuh sensual dan sexi terutama pada lekuk leher dan bentuk pantatnya yang padat.” Alissa melirik padaku. ”Kau menyukai jenis wanita yang terakhir?” katanya meledekku. Kemudian melanjutkan ceritnya. Kata-katanya tajam dan penuh ironi. Hal yang kerap menunjukan kelasnya sebagai perempuan berpengetahuan dan tentu saja, dari keluarga kaya.
“Tapi tahukah, aku tak pernah merasa bahwa aku layak membalas perbuatannya dengan sebutlah bercinta dengan 3 laki-laki yang asing sama sekali, termasuk mungkin denganmu. Aku tetap mengira bahwa laki-laki sepertinya membutuhkan lebih pengalaman untuk akhirnya menjadi arif dan tahu batas kelemahannya. Tapi sayangnya, laki-laki lebih sering tak tahu batas dan kelemahannya.”
Aku menelan ludah entah kenapa. Tapi kemudian kusadari bagaimana beragamnya cerita manusia, dan betapa terasingnya aku karena hanya mengira bahwa hubungan laki-laki dan perempuan adalah hubungan yang penuh kedamaian.
“Lalu apa selanjutnya?” tanyaku.
“Aku merasa tak memerlukan suatu pembalasan atau iri pada hal yang telah ia lakukan.” Ujarnya. Ia menuangakan wine pada gelasnya. Kemudian pada gelasku hingga setengahnya. “Aku merasa aneh kenapa aku bahkan tak pernah perduli dan mempertimbangkan untuk marah atau membencinya karena kenikmatan yang mungkin ia peroleh dari sex yang berbeda dan emosi yang yang selalu baru. Ia telah berhubungan sex dengan seorang cerdas, seorang sensual dan seorang yang begitu empatik, sayangnya ketiganya tak mungkin ada dalam satu tubuh perempuan kan?”
“Kau hanya tak perduli.” Kataku ragu.
Alissa membenarkan letak duduknya. Menuang kembali wine di gelasnya. Ia tampak muram dan mulai tak memerdulikan dirinya. Matanya memerah karena pengaruh alkohol atau ia sedih.
“Dia, sayangnya, membutuhkan penyesalan dan kesalahan paling buruk yang tak bisa kumaafkan, hanya untuk membuatnya menjadi bijaksana—bahwa aku adalah perempuan yang lebih baik dari tiga perempuan yang ia kencani sepenuh hati selama tiga tahun ia menjadi kekasihku.”
Alissa berdiri dari duduknya. Berjalan ke jedela. Memandangi malam yang kian larut. Siapa yang lihat siapa yang ia ingat? Hanya ia yang tahu. Aku hanya orang asing yang tak mengenali dunia batin Alissa kecuali bahwa malam mempertemukan kami yang sama rapuh, putus asa dan absurd di hadapan kehidupan yang kerap menjadi biasa-biasa saja, dan rutin.
“Kali ini aku denganmu dan apakah aku telah membalas sebuah luka yang sama seperti yang ia perbuat?” tanya Alissa. Tepatnya ia bertanya pada dirinya sendiri. “ Tidak sama sekali. Aku tak melakukan apa pun demi pembalasaan atas nama luka, itu terdengar sentimentil dan merupakan kesalahan yang mengerikan. Aku bersamamu bahkan karena tak bisa menolak perasaanku sendiri dan sama sekali tak berniat balas dendam atau menghianati. Jika ia hendak menyalakan kita, lalu kenapa kita malam itu sama terasing dan kenapa malam mempertemukan kita? Kenapa kehidupan ingin kita melewati malam yang diam-diam akan kita kenang dengan dalam?” ujar Alissa. Aku hanya diam. Aku merasa ia membutuhkan waktu untuk bermonolog dengan kesunyiannya sendiri. Dan aku adalah penonton sekaligus kesunyian itu.
“Sejak malam di stasiun kereta itu, malam yang sejenak bahkan terlalu pendek untuk menghabiskan segelas espresso panas, tapi entah kenapa aku mempercayaimu, larut denganmu dan malam itu aku setengah telanjang di kamar yang kusewa untuk merasakan gairah yang kupendam. Apakah aku tengah membalas sebuah kekejaman di masa lalu? Aku tak pernah merasa salah memahami arti masa lalu dan masa depan. Bahwa kini aku tengah dengan seorang yang begitu asing sepertimu, tak berarti aku marah pada masa lalu. Aku bahkan merasa seperti bayi yang tak bisa mengatakan perasaan senang yang sekarang tengah berkecamuk selain dari getaran di pipiku. Aku seorang asing yang melihat keluguan dari keindahan yang juga sama tak bisa kau tolak. Lalu akan berakhir bagaimana malam antara kita?”
Alissa berjalan ke arahku. Duduk menghadap persis pada wajahku. Ia mendekatkan wajahnya padaku sehingga kaki kami beradu. Aku berusaha menahan getaran yang bergelombang dan nyaris tak bisa kutahan lagi.
“Bukankah kau juga tak pernah tahu? Bukankah kau tak pernah mengira bahwa kau akan memiliki malam terbaik denganku seperti malam ini? Jika ada malam-malam terbaik apakah sebaiknya kebersamaan itu dihindari karena hanya akan membuat kita menjadi biasa dan bosan? Itu hal kecil yang membuat kita kerap ambigu.” Alissa meletakkan gelas yang telah jadi kosong di tangannya. Kemudian melemparkan tubuhnya pada sandaran sofa. Mengangkat kakinya di atas meja persis di sebelah gelasnya, dan melipatnya dengan kelembutan yang khas. Aku melihat pada jendela. Cahaya malam tampak kelam. Entah dari mana rembulan datang. Kurasakan ada yang meraih lenganku, kemudian menyandarkan kepalanya padaku. “Biarkan saja begini.” Suara Alissa terdengar lirih hingga terasa mendalam.
Malam menggiring pekat dan dingin seolah menerobos dinding dan kaca jendela. Kami larut dalam kebisuan sebagaimana malam yang kian kelam. Bahwa kami akhirnya diam. Bahwa diam barangkali adalah cara terbaik mengungkapkan perasaan. Bahwa kami akhirnya harus berdamai dengan perasaan masing-masing. Bahwa malam ini kami bersama dan kami tak harus takut esok harinya harus kehilangan, kami bukan siapa-siapa dan tak pernah menanam rasa apa-apa, kami tak harus kehilangan apa-apa atau menyesali apa pun karena kami telah memilih untuk saling memeluk, malam ini.
Dekap yang hangat oleh hawa tubuh yang bergetar. Embun diluar menempel di kaca jendela. Aku bersandar pada tali Bra warna hitam yang mengangkat payudaranya sehingga ketika lampu ruangan ini mejadi redup kami sama-sama merasa bahwa sudah waktunya bagi kami mengakhiri ketakjuban erotis yang melankolis ini sebelum sempat tali Bra itu lepas dari pengaitnya. “Peluk saja, takkan terjadi apa-apa.” ujar Alissa sebelum akhirnya memejamkan matanya dan bermimpi. (*)

@sabiqcarebesth, 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Juli 2014
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Pengunjung

  • 43,809 hits
%d blogger menyukai ini: