[Jakarta Malam III] DI Antara Tubuhmu dan Kota yang Hampir Mati

Tinggalkan komentar

Juli 16, 2014 oleh sabiq carebesth

“Jika engkau kota yang hampir mati;
Aku badan hujan yang mengabdi.” (Octavio PAZ)

Aku berhubungan badan dan terasa begitu jauh. Untuk pertama kalinya aku berhubungan badan. Badanku dan badannya berpeluh dan berpeluk. Aku merasakan segala hal yang paling tak masuk akal dari sejenis perasaan terpacu seolah aku diletakkan di tepi jurang dengan seutas tali yang menghubungkanku dengan kehidupan tetapi pada saat bersamaan aku pelan-pelan pasti terjatuh.
Jika aku harus memilih aku akan memilih bertahan pada sandaran tali walau pada saat yang sama aku tahu aku akan terjatuh. Aku merasakan ketegangan yang luar biasa dan dari ketegangan itu sensualitas seolah terasa menggelora. Apakah di bawah jurang lautan? Jika aku terjatuh aku akan jatuh dalam pelukan keluasan yang maha absurd tetapi nyata?
Ya itu dia masalah besarku. Aku terjebak dalam keluasan antara yang absurd dan nyata. Tapi apakah ketiganya itu bagi seorang lelaki menderita sepertiku yang hanya bisa merasai kebahagian sambil setiap saatnya menanggung penderitaan yang sama menyenangkannya untuk membuatku bahkan berkali-kali bertaruh tentang kebahagiaan? Aku tahu ada saatnya aku menjadi derita itu sendiri dan ketika aku tak lagi menggubris penderitaanku aku dengan demikian telah membuat penderitaan menderita, kemudian aku bebas dan ketika aku bebas aku merasakan yang absurd. Ketika yang absurd merasuki sekujur otakku, rasanya ia kerap menjelma menjadi bidadari yang terus menawarkan godaan paling intim yang bisa membuatku terbenam dalam semacam puisi yang bisa membuatku menangis atau sangat bergairah.
Tubuh Alissa adalah penderitaan mendalam buatku ketika aku akhirnya tak kuasa menahan penderitaan sekaligus kebebasan yang meluap-luap; aku mengulum bibirnya, memungut tiap helai rambutnya yang terjatuh di tulang leher dan dadanya. Aku merasakan bulu-bulu tipis yang hidup seakan ada angin berhembus sampai ke dalam darahnya. Aku merasakan ada yang ingin dilepaskan sehingga ia memintaku terlibat dan lebih dalam. Aku rasanya telah sampai pada kedalaman paling getir dari yang bisa kuperbuat pada Alissa malam itu.
Aku tak menyangka bahwa rupanya aku hanya diam membisu sambil merasai kengerian yang akan segera terjadi. “Kau tak mencumbuku?” katanya. Ia menatap lurus ke dalam mataku. “Aku tak lebih beruntung dari pelacur. Setidaknya pelacur tak harus meminta untuk dicumbu.” Sergahnya. Suaranya parau. Aku rasa ia marah. Aku mengira ia akan pergi meninggalkanku. Ia benar-benar pergi. Membanting pintu dan membiarkanku sendirian dalam kekosongan.
Aku kaget oleh usara membanting pintu, aku benar-benar terbangun dari mimpiku. Aku gugup dan keringat dingin mengucur deras membasahi tubuhku. Aku telah mabuk semalam dan tidur seharian ini. Ah, di luar sore telah kembali.. (*)

@sabiqcarebesth, 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Juli 2014
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Pengunjung

  • 44,282 hits
%d blogger menyukai ini: