[Jakarta Malam II] Seorang terlihat menggairahkan karena bentuk kakinya dan caranya membisu

Tinggalkan komentar

Juli 15, 2014 oleh sabiq carebesth

cbtshoes

Aku tak mengira Alissa sedemikian matang dan mendalam. “Cinta selalu berlangsung perlahan. Bila terburu tentu bukan cinta.” ujar Alissa. Aku tersenyum saja dan entah bagaimana berusaha menunjukkan bahwa aku tak menggubrisnya. “Kadang cinta mempertemukan. Seorang bergetar, menari dan kemudian berduka sebab merasa kehilangan.” Katanya.
“Kau memiliki cinta?” tanyaku. Alissa setengah tertegun, tapi kemudian ia tampak kembali bisa menguasai dirinya. Ia berdiri dari duduknya mengambil sebotol wine dari ruangan dalam apartemennya yang ia gunakan khusus untuk menyimpan anggur kegemarannya.
“Ya. Aku memilikinya.” Katanya sambil menuangkan wine dalam gelasku. “Aku mencintai seseorang dan meraskan kebahagiaan, tapi semua berlangsung biasa-biasa saja. Tak ada tarian, tak ada dansa seperti lambang asmara.” Ujarnya ringan.
Kami sama mereguk wine dan diam untuk beberapa saat. Aku tak ingin menebak apa yang tengah dipikirkannya. Tapi aku kemudian menyadari aku baru saja melupakan satu hal yang semestinya membuat langkahku terhenti dan hatiku kelu. Alissa memiliki cinta, seseorang yang pada ia tengah belajar mencintai? Dan aku tak merasa cemburu? Aku diam sejenak dan merasakan ada yang ngilu dalam hatiku. Tampaknya itu ide yang buruk. Aku bahkan tak berani menanyakan apakah ia telah bertunangan dan akan segera menikah atau dia seorang borjuis platonik yang sibuk mengayuh cinta dalam angan.
“Aku tak pernah merasa kecewa mengetahui bahwa dia tidur dengan perempuan lain bahkan temanku sendiri yang jauh lebih tak sexi dibanding caraku berjalan dan menatap.” Ujar Alissa.
Aku tercengang. Aku terlalu lugu. Tapi aku segera menguasai diriku. Aku diam saja dan menatap Alissa persis pada bola matanya yang seketika menjadi sayu. Aku tak habis percaya dia bisa menjadi sendu. Apa itu berarti dia kecewa dan karenanya dia mencinta? Apa cinta sesederhana kekecewaan pada asmara?
Tapi kemudian aku mengabaikan pikiranku sendiri. Setiap orang punya cintanya, tiap orang punya malamnya. Aku sama sekali tak ingin membaginya atau menggubrisnya.

***
Sementara wine kembali mengucur ke dalam perut, Alissa berdiri dan menjulurkan tangan kirinya. ia mengajakku berdansa. Aku katakan aku tak bisa dan tak punya pengalaman berdansa. Tapi Alissa hanya tersenyum, kemudian menggerakkan tubuhnya mengikuti gramofon, ia memilih sebuah piringan, dan kami akhirnya saling berhadap-hadapan setengah berpelukan, aku melingkar lengan pada pingggangnya, kami terus berputar-putar di ruangan mengikuti musik (kali ini Ellington, bukan Bach).
“Kecantikan di mana-mana sama saja, yang beda gairahnya.” Alissa berkata. Aku tersenyum, menatap kecantikannya yang lembut.
“Seorang terlihat cantik karena ia memiliki pipi yang bersih dan gigi yang membuat ketika ia tertawa terbahak, ia akan tetap terlihat mempesona. Seorang terlihat menggairahkan karena bentuk kakinya dan caranya membisu yang menunjukan seberapa cemerlang isi kepalanya.” Kataku lepas.
“Itu terdengar rumit tapi aku mudah saja menyetujuinya” ia berkata.“Tapi bagamana bisa?”
“Hal paling gampang menilai seberapa seorang berharga atau tidak adalah dengan melihat seberapa ia bisa menahan kepahitan dalam kediamannya.” Kataku.
“Gagasan yang menakjubkan. Tapi terdengar mengerikan.” Ia terdengar menggodaku dan tampak ironis.
“Hidup begitu sederhana.” Kataku sekenanya.
“Hidup sangat menjengkelkan.” Balasnya.
“Kadang-kadang.”
“Seorang ketakutan pada hal yang tak pasti.” Katanya.
“Seroang yang lain bahagia dengan alasan yang sama konyolnya.” Balasku.
“Kebahagiaan membutuhkan alasan; ketakutan membutuhkan kepastian. Jika seorang mendapatkan kepastian ia berhenti ketakutan. Jika seorang menemukan alasan betapa konyolnya penderitaan, ia memulai kebahagiaannya.” Ia berkata, nada suaranya berubah lebih mantap dan berat.
“Kekonyolan membuat seorang menderita.” Kataku.
“Penderitaan membuat seorang tahu betapa mudahnya bahagia.” Balasnya.
“Seorang harus memiliki alasan. Alasan untuk berdiri tegak dari penderitaan.”
“Dengan cara yang sama buruknya menghadapi kesendirian.” Kataku.
“Seorang hanya harus berpura-pura, duduk dan memendam dalam kesepiannya, seorang yang tepat akan datang padanya.” Balasnya. “Setidaknya di malam yang nyaris sempurna bersama hujan dan mendung yang berwarna kelam.”
“Apakah kita akan bercinta malam ini?” tanyaku. Kurasa aku mabuk dan jadi sangat konyol. Alissa tiba-tiba tertawa. Tawa yang terdengar segar dan begitu lepas.
“Aku tidak tahu.” Katanya kemudian. “Cinta tak pernah mempertanyakan atau dimulai dengan pertanyaan. Kebanyakan cinta terjadi karena memang sudah seharusnya.” Tegasnya. Seakan ia memintaku memahami.
“Cinta memang menggairahkan.” Kataku sekenanya.
“Walau hanya dalam pikiran?” ia mengerlingkan matanya padaku.
“Jangan sok tahu…” kataku ringan.
“Hehe..” senyumnya..ia menatapku, melepaskan peluknya dariku, kemudian membanting tubuhnya di atas kasur, seketika lelap dan aku diam-diam pergi meninggalkanya sendiri di kamar Apartemennya.

***
Di dalam kamarku Kesunyian berirama dengan lagut sebelum kemudian membuat hatiku terasa pedih. Cinta selalu menyakitkan, sebab yang bisa diberikan cinta bukan kebahagiaan, tapi kearifan pada kehidupan. Apakah itu terdengar jujur?
Aku toh akhirnya harus arif bahwa perasaanku pada Alissa seandainya adalah sebuah perasaan cinta, paling mabuk dan menggiurkan, tapi toh aku tetap tak bisa memeluknya dengan utuh. Ia adalah bagian dari kehidupan yang lain sebagaimana aku adalah bagian dari kesunyianku.
Cinta di kota sebesar ini adalah pertemuan paling mengesankan antara kesepian dan hidup yang kian sangsi. Hanya yang beruntung maka di dalamnya ia menemukan nyanyian yang bisa menghiburnya dari perasaan malas dan kejengkelan yang mudah saja mencuat hanya karena malam ternyata terlalu cepat berlalu sebelum sempat menuntaskan cumbu rayuan.
Pelacur-pelacur di satasiun adalah teman terbaik bagi kesepian yang merajam-rajam sukma seorang buruh yang tak punya cinta dan tak pernah memiliki kesempatan mengerlingkan mata pada seorang perempuan jelita di loby hotel. Tak semua orang memiliki kesempatan untuk mengekspresikan perasaanya pada seseorang yang lain. sebagian terlalu lugu sebagian terlalu kelu untuk menerima kenyataan bahwa cinta di kota tak pernah buta!
Cinta di kota memiliki mata setajam rusa. Ia menyukai keindahan sekaligus kemewahan yang gemerlapan. Di kota, sepi dan redup adalah siksaan. Tiap perempuan ingin berjalan dengan sepatu terbaik dan memastikan bahwa ia sama terasingnya dengan geromobolan yang lain dalam sebuah pagelaran seni dengan tiket masuk yang kelewat mahal. Mereka adalah orang-orang kaya dan para juru hibur yang biasa memampang wajahnya di televisi. Sebagian dari mereka bergeser ke kerumunan ruang-ruang kesenian, panggung-panggung teater dan orasi puisi paling kritis atas pemerintah (tapi tak merubah apa paun) semua itu telah meningkatkan gengsi yang maha dahsat bagi sebuah identitas yang dijual terbatas; kata dan intelek!
Alissa tak harus menipu dirinya sendiri untuk kedua hal itu karena ia memiliki keberuntungan yang membuatnya bisa saja menjadi penjudi kelas kakap yang memasang taruhan bukan untuk meraih untung, tapi untuk menertawakan kekalahan lawan mainnya atau nasib sialnya sendiri.
Hidup bagi golongan kaya seperti Alissa adalah hidup yang membutuhkan tawa dan keceriaan yang di dapat tidak dari komedi putar, tapi hidup yang tragis. Alissa memiliki kekayaan yang cukup dari usaha property milik orang tuanya. Ia juga memiliki keluarga yang melek kesenian sehingga tahu benar kalau anaknya membutuhkan pendidikan yang baik untuk bisa merasai seni dan menakar harganya.
Alissa bisa melukis dan punya kamampuan yang sarat pengalaman untuk membuat sebuah tulisan pendek yang menarik untuk editorial sebuah majalah fashion paling dibaca kalangan perempuan perkotaan. Ia tak selalu menaruh namananya kecuali ia benar-benar yakin bahwa ia telah membuat sebuah pandangan hidup atas sebuah fashion paling kontemporer dengan gaya tulisan dan sudut pandang yang menggugah sekaligus mengesankan arsitokrat perkotaan.
Apa yang paling mahal dari itu semua: getaran! Ya perasaan yang bergetar dan jantung yang berdetak diliputi hasrat akan hidup. Meregang kebebasan yang setiap saat siap terkekang oleh ikatan-ikatan.
Barangkali kita perlu berdansa dan menarikan getaran semacam itu. Alangkahnya rasa, iringan musiknya adalah tiap-tiap yang spontan, melepas dan dengan demikian hidup di kota masih bisa dirasakan detaknya.
Aku menutup buku harianku dan kembali belajar untuk tertidur. Di luar adzan subuh menggema dengan pilu. (*)

@sabiqcarebesth, Juli 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Juli 2014
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Pengunjung

  • 44,282 hits
%d blogger menyukai ini: