[Jakarta Malam] Alangkah konyolnya penderitaan

Tinggalkan komentar

Juli 15, 2014 oleh sabiq carebesth

DSC_0880

Prolog

Di kota ini, kemungkinan-kumungkinan terbaik untuk kehidupan ditentukan di malam hari. Persis ketika lengit-langit di atap kota ini telah berganti warna menjadi sepenuhnya merah keemasan. Warna keemasan dari sisa senja petang, atau bias lampu mercury, mungkin juga dari bayangan makeup pelacur kota yang bersandar di dinding-dinding toko.
Di Jakarta waktu menuntun kita ke dalam anganan paling kelam dari malam-malam yang penuh kekhawatiran, dan tahukah bahwa malam telah merubah kita menjadi mahluk aneh. Apakah keanehan itu membuat kita kesepian? Entahlah.

Inikah cara kita bicara? Aku ingat bagaimana caramu bertanya, dengan nada suara lirih, tapi begitu kelam. Kita bicara tentang sesuatu yang kalut, berkabut dan kita bukan menyengaja mengaburkan kejelasan dari tiap-tiap yang bisa kita jelaskan dengan gamblang melainkan karena memang kita hidup dalam segala yang serba saparuh, tak utuh, terbelah dan terasing, akibatnya bukan hanya terdengar tidak jelas tetapi takkan pernah tuntas.

Malam berlanjut sebagaimana pengunjung kafe yang datang silih berganti demi mengatasi migren yang hanya cocok disembuhkan dengan melihat lampu-lampu malam atau aroma sebuah kafe yang yang berbau wangi parfurm sosialita Jakarta.

Akhirnya setiap orang akan pergi menempuh jalannya sendiri-sendiri dan ketika malam tengah larut kita merasa begitu sepi. Hanya ada satu hal yang kita pikirkan, betapa sia-sianya kehidupan. Kita berharap jalan kembali ke tiada, kepada keabadian yang megah. Tapi..(*)

1
Penderitaan pertamaku memuncak ketika aku akhirnya tahu seorang gadis usia dua puluhan hanya memilih satu hal untuk pasangannya: kemapanan. Ungkapan pendek yang menjengkelkan. Kemapanan adalah barang absurd yang akan terus mereka puja: kesantunan, uang belanjaan dan reputasi pasangan. Puisi tak masuk sama sekali dalam daftar yang gadis-gadis butuhkan kecuali hanya untuk menghibur kesedihan mereka karena belum menemukan lelaki yang mapan. Alangkah malangnya puisi!

Jakarta memang dunia asing, semua yang asing ada di sini, dan seperti setiap yang asing, pelan-pelan ia menjadi—seolah-olah penghuni pertama, dan penghuni yang asli kian terasing. Ah tapi mari kita kembali kepada ceritaku tadi soal perempuan-perempuan umur 20-an dengan impian absurdnya: kesantunan, uang belanjaan dan reputasi pasangan.

Kesantunan, ini lah perkaranya, bahwa dalam kesantunan orang hidup dalam ketegangan antara menjadi masyarakat atau menjadi manusia. Bisa anda bayangkan bagaimana jika seorang lelaki harus hidup terus menerus dalam kesantunan? Ia akan berusaha menjadi apa yang diinginkan masyarakat. Masyarakat menjadi momok yang terus menekannya untuk menjadi laki-laki dan menjadi manusia. Seolah bahwa cara duduk, cara makan, siapa yang harus membayar atau bagaimana cara manyapa harus sesuai dengan kaidah-kaidah kebaikan yang dikonstruksi oleh sekumpulan manusia berkuasa yang disebut masyarakat. Jadi alangkah tertetakannya lelaki semacam itu? Ia terus berada dalam ketegangan dan kecemasan untuk memastikan bahwa dirinya sesuai dengan masyarakatnya. Kesantunan semacam itu menciptakan tingkat setres yang akut, depresi mendalam yang terus dipendam agar tak sampai dipahami oleh diri sendiri.

Oh gadis-gadis…bayangkan saja bila anda harus hidup dengan laki-laki yang terus menerus dalam ketegangan mental semcam itu? Dari mana anda berharap perhatian dan romantisme? Ah yang benar saja. Paling-paling anda akan menjadi sasaran dari ekspresi ketertekanan dan perasaan cemas yang terus menekannya bagaikan omong kosong dari hantu yang tak kasat mata tapi terus setiap saat memperingati kita untuk mengucapkan terimakasih atau berpamitan dengan senyuman yang pantas sebelum meninggalkan tempat duduk? Alangkahnya konyolnya kesantunan bukan? Penderitaan pertama dari identitas yang sama artinya penderitaan pertama yang harus anda tanggung dari harapan yang sebaliknya bahwa kesantunan dari pasangan anda akan membawakan harapan yang kedua; uang belanjaan!

Uang belanjaan adalah momok paling mengerikan bagi laki-laki yang hidup dengan kesantunan. Mudah saja bagiku menjelaskan kepada anda—dengan sedikit mengejek betapa konyolnya anda mengharapkan uang belanjaan, kecuali bahwa anda adalah seoarang sebutlah, juru hibur. Di mana anda dibayar untuk menghibur seorang lelaki yang dalam dirinya menanggung ketegangan antara keinginan untuk membuang putung rokok di atas meja kerja (bukan di asbak atau tempat sampah) dengan pada saat yang sama ketakutan bahwa hal itu sangat tidak santun dan dzalim. Percayalah padaku anda tak akan bisa mengharapkan kebahagiaan dari anak kecil berwujud laki-laki dengan keinginan sex sebagai penutup omong kosong di tengah malam. Bercintalah dengan bijaksana dan tenang jika anda ingin sedikit merasakan kebahagiaan. Bukan dengan laki-laki yang terburu-buru dan gugup menghitung kesantunan seolah hal itu akan memberinya sebuah piala dan surat penghargaan: “anda tergolong manusia santun”.

Omong kosong bertajuk surat penghargaan: “anda tergolong manusia santun” adalah asumsi salah yang dibangun perempuan usia dua puluhan tahun untuk mengharapkan hal ketiga dari pasangannya selain kesantunan dan uang belanjaan: reputasi.

Kesantunan akan memberikan kekayaan dan kekayaan akan memberikan satu cara hidup yang lebih lambat dan baik-baik saja dan itulah reputasi. Saat anda duduk disebuah cafe dan dengan suatu cara duduk tertentu anda begitu sopan menunggu pelayan datang dan sebagai perempuan anda sudah bisa memastikan bahwa pasangan anda akan mengambilkan buku menu dan mempersilahkan anda menunjuk anganan anda tentang makanan yang enak dan romantis. Oh, malangnya anda bahwa justeru yang lebih menyenangkan adalah memilih sendiri menu makanan anda tanpa harus memerdulikan apakah pasangan lelaki anda menyetujui atau apakah ia telah memilih menu makannya lebih dahulu. Alangkah konyolnya reputasi yang bahkan tak bisa untuk membeli sepiring nasi (sebab anda tak mungkin menerima sepering nasi gratis jika anda seorang dengan kemeja “reputasi”)—hidup memuja kebebasan atau sebaliknya, penderitaan.(*)

bersambung..

@sabiqcarebesth, 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Juli 2014
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Pengunjung

  • 47,944 hits
%d blogger menyukai ini: