Monolog Inne

Tinggalkan komentar

Juni 17, 2014 oleh sabiq carebesth

254884_331246130316380_1460383479_nKepadamu di Jakarta yang sepi dan menua..

Akhirnya kita menerima hidup sebagai perjalan yang tak sempurna. Kita tak pernah menemukan kesempurnaan. Sebagaimana perjalanan, kita selalu tak sempurna; selalu ada yang kurang atau tidak pas. Beruntung bahwa kita tak harus merasa kehilangan hidup.

Aku telah memutuskan untuk menempuh perjalanan yang berbeda sama sekali dengan apa yang pernah kita kira. Aku rasa, kita pernah mengira bahwa indah bila aku mengisi kekosonganmu. Tapi perasaanmu tak pernah kosong, atau akan selalu kosong selama kau masih mengira cinta senga sebagai keindahan yang bisa kau genggam. Cinta tak pernah bisa digenggam, ia ada dalam perjalanan-perjalanan, ada di dinding-dinding waktu di mana kau membutuhkannya. Saat kau menziarahi dindingnya, cinta hadir, saat kau menjauh, cinta tetap tinggal. Kau hanya harus menziarahi cintamu dan kau akan menemukan kebahagiaanmu.

Rupanya aku telah mengerti, bahwa di Amsterdam, cinta bisa tumbuh di mana saja, di antara kanal-kanal air yang bersih, bunga tulip, sepeda ontel, atau dinding-dinding kota dari batu bata yang berwarna tanah merah; cinta adalah kebebasan.

Aku telah mendapatkan kebebasanku di sini. Menemukan seorang yang sejenis dan begitu lembut. Kami pergi ke universitas bersama, bersepeda, berfoto di dinding bata, bercinta di pinggir kanal air atau di tengah hamparan bunga tulip dan setiap saat kami menghirup kebebasan yang teramat dalam. Kadang aku ragu dengan kebebasan yang begitu dalam kuhirup, tapi rupanya kebebasan itu begitu nyata dan aku tak bisa menghindar.

Seorang manusia bisa sakit atau merasa kehilangan. Sebagian yang lain tak mencari penawar dan memilih turut pada kehilangannya. Aku telah merasakan sakit yang tak hanya meneror perasaanku, tapi sekujur tubuh dan kelaminku yang perih, apakah bisa diobati? Bagiku tidak. karenanya aku tak lagi mencari penawarnya. Aku memilih membawanya sampai mati dan aku menolak diperkosa oleh laki-laki dalam bentuk yang paling halus sekali pun. Aku telah memilih kehidupanku sendiri, kehidupan yang janggal, tapi aku tak merasakan sakit. Apakah aku salah? Entahlah tapi dalam kehidupanku sekarang aku tak ingin terus-menerus merasa sakit bahkan jika aku pada dasarnya tak pernah disentuh lelaki lagi. Aku pun telah kehilangan keluarga tercintaku dan mendapati mereka jadi abu, apakah bisa diganti? Sebabnya aku memilih untuk ikut menjauh bersama kehilangan—bersama ruh orang tuaku yang telah jadi baka. Aku seakan tak benar-benar lagi dalam fana, sebab sebagian dari kenanganku telah turut pergi bersama kehilangan orang tuaku yang mati sebagai korban sejarah.

Maafkan aku jika pada malam yang pernah sebentar kita lewati tatapan mata kita telah menyiratkan janji bertemu kembali. Bukankah maaf selalu layak bagi pemberani yang berjanji? Tapi mungkin saja kau mempersalahkanku karena kau mengira aku telah mempermainkan perasaanmu. Tapi haruskah kukatakan demikian? Maksudku kau tentu tak sekanak-kanak itu. Kau telah terlalu matang dengan hidup sehingga kau membutuhkan hal-hal yang immateriil untuk menyelematkanmu dari kebosanan pada hidup, atau vodka itu cuku? dan betapa absurdnya malam yang kerap menuding batang hidung kita dengan tudingan miring tentang kesepian dan rasa putus asa yang nyaris menjadi kegilaan.
Oh ya, aku terus membaca tulisanmu di koran-koran melalui internet. Aku selalu merasa bangga pernah bertemu dan menikmati kopi denganmu lantaran hal itu. Kau tahu menulis memberi seorang sebuah penghargaan yang tinggi di hadapan kemanusiaan. Betapa menyedihkan tampaknya nasih penulis di negeri kita. Tak ada yang menolong untuk menebus penderitaannya kecuali rasa bangga yang bisa disematkan dari orang-orang yang memahami.

Aku tahu kau telah menyelesaikan novelmu dan kau menyimpannya dalam laci. Kenapa tak kau terbitkan segera? Aku tahu bahwa masalah satu-satunya yang membuatmu tertahan adalah kau menunggu momen terindah untuk novelmu. Tapi tidak bisa kau bayangkan bahwa momen itu akan hadir saat kau menerbitkan novelmu? Tidak menyenangkan bahwa kau telah menulis sesuatu yang abadi. Kau ingat pertanyaan yang pernah di ajukan seorang tua di kafe? Menulis untuk dibaca atau untuk dikenang? Pertanyaan yang terlalu putus asa dan terasa tua, tapi pada dasarnya akhrinya memang demikian; betapa putus asanya pekerjaan menulis, melelahkan dan hanya sebab cinta kita memiliki tenaga untuk terus berkarya. Kita mengalami katarsis justeru dari kesucian ke kepandiran dan kemabukan yang paling mengerikan sebelum akhirnya kita menyerah dan menelan kesepian sendirian—kerap hingga subuh bernajak dan malam kembali menjadi malam seperti yang kau alami.

Aku berdoa bahwa akhirnya kau akan menerbitkan novelmu dan dengan itu kau dikenang. Alangkahnya indahnya dalam hidup ini ada yang mengenang apa yang telah kita usahakan dengan begitu keras, dan terkadang juga kelam. Kau akan terus beruntung sebab setidaknya ada aku, perempuan yang menjadikan kau lelaki terakhir untuk dicintai. Dan setelah ini biar kureguk kebebasanku di Amsterdam dengan pilihan pribadiku. Sementara kau tentu saja selalu ada tempat spesial dalam hatiku, selalu. (*)

Juni, 2014.

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Juni 2014
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Pengunjung

  • 46,295 hits
%d blogger menyukai ini: