Aku meraih botol Vodka, rasanya…

Tinggalkan komentar

Juni 5, 2014 oleh sabiq carebesth

(bukan tulisan serius, hanya bagian dr tulisan lain yg lbh utuh; hanya sekedarnya ngopi dan menikmati malam ini)

Aku hampir saja tertabrak mobil. Salahku juga, entah ke mana pikiranku berlari, aku memikirkan begitu banyak hal, kadang aku menjadi lelah sendiri karena pada akhirnya aku hampir selalu kehilangan pemikiranku. Aku berusah amengejar dan menemukan kembali apa yang baru saja kupikirkan. Tapi hasilnya kosong.
Aku mulai mengalami kesusahan dalam belajar, membaca saja aku mulai susah fokus dan konsentrasi, apalagi menulis. Tapi aku memiliki harapan yang bagus karena aku berpikir bahwa aku mungkin butuh istrhat yang cukup.
Aku telah bekerja, maksduku menulis selama tujuh hari tujuh malam dengan perut lapar dan tak bisa membeli vodka di tiga hari pertama. Hari-hari berikutnya aku mendapatkan uang dari honorarium menulis. Aku pergi ke toko dan membeli beberapa botol vodka yang kubutuhkan. Telur, tebung, kopi, minyak, terigu, sarden, bawang bombay, paprika, lada hitam dan daging secukupnya.
Aku telah bertekad, aku harus menyelesaikan novelku dalam 7 hari yang telah kupersiapkan dengan matang. Aku lapar, tidak punya uang, dan memutuskan untuk tak menulis apa pun selain yang berhubungan dengan novelku dan dengan cara yang mengesankan aku megikuti ceritanya, hasrat tokoh-tokohku dan pada saat yang tepat, aku akan kembali mengambil kendaliku dari tokoh-tokoh rekaanku dan suka atau tidak, menyenangkan atau tidak bagi mereka, aku akan mengakhiri novelku dan menulis paragraf terakhir novelku dengan pertimbangan yang paling penting.
*
Aku menulis dan terus saja menulis, sehari pertama aku menyelesaikan 7 halaman yang mengesankan. Hari ke2 aku menulis enam belas halaman, kemudian 17, 4, 8, 10 halaman dan pada hari ini, hari yang ke tujuh, aku telah memastikan bahwa aku hanya tinggal memutuskan untuk apakah tokoh protagonisku harus mati bunuh diri karena bosan dengan penderitaan yang mengerikan (yang sebenarnya telah ia lebih-lebihkan sendiri sehingga menjadi tragis, lengkap dengan bobot membosankan yang tak ia buang dari hari-harinya) atau aku harus memberinya sebuah kebahagiaan kecil yang membuatnya menjadi berarti—dan betapa remehnya kan jika membiarkannya bahagia dengan hal kecil yang tak menarik sama sekali bagi kajian filsafat dan psikoanalisa? Akan jauh lebih mengesankan jika tokoh protgonisku bunuh diri, dan jika itu final menjadi keputusanku untuk menutup paragraf terakhir novelku, aku masih harus memikirkan apakah ia bunuh diri dengan cara yang menyenangkan atau mati dengan mengerikan; aku juga masih harus memikirkan apakah cukup bila ia bunuh diri secara eksistensi saja, tanpa harus membunuh dirinya dengan cara yang menjijikkan?
Aku benar-benar merasa seperti ada hewan yang merayap dalam kepalaku. Kakiku rasanya kehilangan tulang-tulangnya, lemas seperti agar-agar. Aku membiarkan perutku keroncongan, aku tak ingin ada moment-moment yang hilang ketika tokoh rekaanku sedang bergerak maju menginginkan nasibnya sendiri atas mati atau tidak ia, atau karena aku merasa bahwa jika aku berhenti menggerakkan jemariku aku akan kehilangan intensitas yang susah payah kudapatkan sebelumnya; atau karena aku merasa bahwa aku benar-benar—dan ini yang sebenarnya kualami, bahwa aku meraskan kenikmatan yang intim saat menulis. Aku merasa dinding-dinding kamar ini hilang bentuk menjadi apa saja yang kuperlukan, aku merasa bahwa buku-buku yang berserakan menjadi barang paling indah di dunia, aku seperti melihat diriku seperti mahluk hidup satu-satunya yang hidup dan betapa kesepian atau kebahagian menjadi tidak ada artinya, aku hampa, tapi tak merasakan lara, dan mengarang beberapa tokoh rekaan memberiku kehidupan yang lebih utuh, bahwa aku tak sendirian, aku bisa merasakan kesedihan, kemurungan, atau putus asa yang berlebihan dan keinginan untuk mati yang mengecewakan dan ragu-ragu.
Dalam enam hari yang berlalu aku hanya makan tiga kali, selebihnya aku hanya makan buah pada jam 13.00, lalu makan pada pukul 00.00 aku makan sebiji telur ayam, aku melanjutkan menulis sampai subuh kembali. Aku hanya tidur tiga jam, pada jam 8 pagi aku mulai lagi menulis dan aku hanya memerlukan sedikit vodka untuk memulainya. Sampai malam ini aku telah membaca ulang naskahku dan aku telah meastikan bahwa aku telah menulis lebih dari 250 halaman! Jika saja aku bisa mengerjakannya saat seharusnya aku menyelesaikan dan mengikuti sayembara. Tapi kemudian kupikir aku telah menyiapkan diriku sendiri untuk menyelesaikan novel ini dengan cara yang mengesankan semacam ini. Sekarang malam ketujuh, dan aku hanya memerlukan satu halaman atau dua halaman lagi untuk menyelesaikan naskah ini.
Aku telah menyiapkan diri untuk malam yang sangat mengesankan bagiku. Aku memastikan bahwa aku memiliki cukup uang di ATM-ku untuk pergi ke kafe dan melewati malam tanpa ragu. Aku menyiapkan diri sejak pagi, aku tidur secukupnya, bangun dan membersihkan diri dengan malas. Aku merapikan buku-buku yang berserakan. Menggosok gigi dan memastikan aku cukup segar untuk menyambut malam yang akan segera datang.
Seperti biasanya aku keluar ketika senja menjelang—ketika aku berjalan melewati pintu kamarku, aku merasa bahwa aku sedang mengulang saat-saat pertama aku memulai menulis novel ini—begitu bergairah dan hidup terasa mengesankan walau bermacam penderitaan tak bisa dielakkan. Aku pergi dengan taxi, aku mendengarkan musik(…….) sepanjang perjalanan. Aku melihat wajahku berseri-seri di kaca mobil, aku merasa ini saat yang paling sempurna untuk mati, sayangnya bukan kita yang menentukan kematian.
Tiba di kafe aku seakan terlahir kembali. Cuaca begitu cerah dan hangat. Dinding-dinding berwarna kemerahan dijatuhi warna senja. Malam yang nanti kembali akan mengesankan, aku akan menulis dengan ringan, aku telah memikirkan semuanya dan aku akan membiarkn tokoh rekaanku memilih kata-katanya sendiri untuk mengakhiri ceritanya. Aku akan menulis dengan perlahan dan aku akan mempersembahkan novelku untuk…tak ada salahnya tak membubuhkan halaman persembahan. Hal itu memang sentimentil, tapi tak ada salahnya dibiarkan kosong.
Aku meraih botol Vodka, rasanya…

Hmmm bersambung ah…
5 Juni 2014
@sabiqcarebesth

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Juni 2014
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Pengunjung

  • 46,295 hits
%d blogger menyukai ini: