Kepadamu di penghujung malam Jakarta yang muram

Tinggalkan komentar

Juni 3, 2014 oleh sabiq carebesth

(balasan surat Inne kepada lelakinya)

Kepadamu
Di penghujung malam Jakarta yang muram

Kita telah melewati sore yang menyenangkan dan betapa tidak mudahnya, bagaimana pun tampaknya, meninggalkan Jakarta. Kau sendiri tahu, aku lahir dan mati di sana, jiwaku maksudku. Aku tak punya kehidupan lagi di jakarta sejak hari yang buruk di Mei 1998 waktu itu.

Aku telah melihat bagaimana hubungan paling intim dipisahkan. Rasanya seperti tubuhku di belah. Aku kehilangan ayah dan adik kecilku; bagian hidupku. Tak mudah menjalani kehidupan dengan keadaan separuh. Sangat tidak mudah dan kau tentu bisa berempati dengan pengalamanku walau takkan sama rasanya dengan sungguh-sungguh melihat ayah sendiri terbakar, atau entah sengaja di bakar, adik kecil yang baru belajar berjalan, harus berlari demi berada di sisi ayahnya yang terbakar. Dan aku? Aku tak ingin menceritakan padamu kembali bagaimana rasanya seorang memaksaku membuka pakaian, meremas dengan kasar payudaraku yang baru mulai rekah, mencengkeram bibirku seakan seorang sedang memakan buah apel segar dan tak ada yang menghentikan sampai kurasakan entah berapa kali tubuhku diguncang-guncang, nyeri dan pedih, tapi aku tidak mati.

Aku takkan melupkan hari yang mengerikan di Mei 1998 itu. tapi ada yang lebih mengerikan bagi mata yang memandang, tapi tetap tidak berdaya melawan, Kakekku. Ia bisu dan lumpuh, tapi penderitaan itu tak sebanding dengan melihat gadis kecil, cucunya, menghadapi kengertian yang bahkan tak bisa dipahaminya sendiri; ia berdiri dengan kaki yang baru bisa berjalan kembali setelah sepuluh tahun lumpuh. Kengerian itu telah merasuki sampai ketulang-tulangnya. Memompa sel-sel yang mati sehingga dengan rasa yang tak tertahankan, ia berdiri dan kembali mengingat caranya berjalan untuk menolong cucu mungilnya yang telah pingasan.

***
Satu waktu jika kita diberi kesempatan dan aku kembali lagi ke Jakarta, kau harus turut denganku ke Bangka. Kakek dimakamkan di antara batu-batu granit besar seperti permintaanya. Ia menyukai lautan, ia menginginkan kebebasan dalam kematiannya, dan ia telah memilih sendiri batu nisannya di tepian pantai Romodang. Kau harus berziarah dan berterimakasih karena jasanya ia telah memberi kita kesempatan bertemu. Menikmati segelas kopi, dan jika tidak salah, merasa bahagia dan begitu lepas.

Ya, satu ketika aku akan kembali ke Jakarta, aku akan menemuimu di kafe biasanya, kita akan pergi keesokan harinya ke Bangka. Menikmati pantainya yang putih dan bercahaya seperti paha wanita. Merasakan angin yang gemulai, pasir yang hangat dan batu-batu granit yang menimbulkan musik menakjubkan jika ombak dan angin datang kala petang. Tapi itu juga kalau kau berkenan, lagi pula aku tak pasti apakah saat aku kembali ke Jakarta nanti, kau masih sendiri dan bebas pergi ke pantai denganku. Tentu padamu sudah memilih seseorang. Aku bisa melihatnya dari matamu walau kau tak berusaha menceritakannya padaku. Tapi aku hanya menduga saja. Kau yang lebih tahu perasaanmu sendiri.
Oh ya tapi tentu saja, aku ingin bertemu lagi denganmu. Aku ingin duduk seperti petang itu hingga larut malamnya. Membicarakan dengan lepas dan spontan segala yang tak bisa kita katakan dengan cara yang kacau atau pada psikiater sekali pun. Aku berharap kau di sana baik-baik saja. Aku berharap kau tetap menulis. Aku membacanya dari internet, tapi rasanya tak menadapati lagi tulisanmu. Apakah kau sudah berhenti menulis? Menurutku alangkah baiknya bila kau terus menulis. Ada yang tak bisa digantikan oleh apa pun selain bahasa yang disusun dalam sebuah proses menulis. Kejujuran yang intim, kepedihan yang mendalam, kemerdekaan yang begitu bergairah, hanya bisa kau dapati dengan menulis. Aku tahu aku tak seharusnya menasihatimu begitu. Kau sangat paham pada hal itu. Tapi barangkali seorang boleh putus asa, sampai ia menghitung, bahwa di sudut dunia ini, ada seorang yang membaca apa yang kita tulis dengan penuh kerinduan. Jadi apakah kau akan menulis kembali?

Aku prihatin dan telah bisa menebak bahwa akhirnya kau gagal dengan novelmu. Aku belum pernah membacanya bahkan selembar pun, jadinya aku tak bisa berkomentar. Aku menghargai karena semua penulis merahasiakan karyanya sampai ia benar-benar siap, bukan penulis sejati kalau tak bisa mengukur kesempurnaan dalam seninya dan kejujuran dalam kemerdekaanya. Aku bisa memahaminya. Aku hanya percaya bahwa satu waktu kau akan bisa menyelesaikan novelmu. Aku tahu kau telah menyiapkan itu untuk seseorang yang penting dalam hidupmu sebelum ada aku. Tapi aku bisa juga memahami, bahwa kehadiranku tak bisa ditampik.

Aku atau seorang dalam masa lalumu sama platoniknya bagimu, hanya ide sempurna dalam syimposium cinta yang tengah kau dedahkan. Tapi percayalah padaku, syimposium akan berakhir pada satu rentang yang memuncak, dan kau harus memilih tetap di atas panggung, atau turun membuka tirai, melewati jalanan terik, pergi ke kafe, menembus malam, merasa sepi, tapi kau punya kemungkinan bertemu dengan seseorang yang nyata, yang barangkali telah menunggumu lama turun dari panggung platonikmu sendiri. Kau harus menyadarinya. Setidaknya bahwa dalam hari-harimu yang lalu, ketika kau memilih hidup, keluar kamar, menembus terik jalanan, ke kafe, sampai pada akhirnya kau menemukanku. Apakah aku telah lama menunggumu datang? Mungkin saja.

Kau bisa menebak di sana, aku sedang tersenyum. Senyum manis sekali, senyuman yang kau sukai. Kali ini aku memang benar-benar tersenyum, senyum yang manis sekali, kusengaja memang untukmu. Sebagai doa semoga kau bahagia di sana. Dan jika kita berkesempatan bertemu kembali, semoga kau telah meraih impianmu. Aku ingin menemuimu sebagai seorang novelis! Berjanjilah padaku untuk hal itu.
Aku merindukanmu

Semoga kita bisa bertemu kembali, di kafe yang sama, dengan segelas kopi. Eh, ga pake Vodka ya..

Salam dari Amsterdam…

[bersambung..]
@sabiqcarebesth, 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Juni 2014
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Pengunjung

  • 45,245 hits
%d blogger menyukai ini: