Krisis Imajinasi Politik

Tinggalkan komentar

Mei 30, 2014 oleh sabiq carebesth

photo(17)

Oleh: Sabiq Carebesth*
(Artikel ini dimuat di SINDOWeekly Edisi 20 Mei-4 Juni 2014/ No 13 th III)

Pukul rata. Visi dan Misi calon Presiden baik Jokowi mau pun Prabowo hanya beda-beda tipis. Muatannya sama-sama bagus dan gurih dalam retorikanya, kendati sama-sama kabur dalam bangunan argumentasinya. Tapi satu hal yang pasti, tampaknya dalam politik utama di Indonesia sekarang, visi-misi bukan yang utama. Yang terutama penting adalah “politiknya”.

Terlepas dari runutan gagasan dan uraian cita-cita yang ditawarkan, kelemahan visi-misi kedua capres tersebut justeru terletak pada dua alasan. Pertama, visi-misi tersebut klise dan monoton sehingga terkesan miskin imajinasi. Kedua: visi-misi tersebut tidak memberikan gambaran dan harapan tentang kemungkinan membangun kebangsaan indonesia modern di masa depan.

Imajinasi kebangsaan di dalam politik kenegaraan menjadi sangat penting. Indonesia telah belajar dari sejarahnya sendiri bahwa negara-bangsa ini dibentuk dan tersusun dari ‘imajinasi’ politik kebangsaan segenap rakyatnya.
Imajinasi politik sejatinya adalah batas moral yang membedakan politik sebagai sebatas memenuhi kebutuhan pokok sendiri-sendiri, dengan politik sebagai usaha menyusun imajinasi bersama sebagai sebuah bangsa melalui jabatan-jabatan kenegaraan yang memungkinkan sebuah kebijakan imajinatif diambil guna mempertegas identitas kebangsaan yang bermatabat di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia dan sejarah modern.

Dalam hal kenegaraan, imajinasi rakyat menjadi sangat penting bahkan melebihi imajinasi pemimpinya sendiri. Kalau imajinasi (politik) kebangsaan tidak dibangkitkan, maka tidak akan ada apa-apa yang perlu diwujudkan melalui kekuasaan negara nantinya. Kalau pemimpin tak bisa memberikan visi-misi yang mampu merangsang imajinasi politik rakyat atas masa depan bangsanya ke depan, akan miskinlah proses politik yang berlangsung. Rakyat tak tahu ke mana pemimpim akan membawa negara ini.

Tanpa imajinasi kebangsaan indonesia modern, politik niscaya akan terjebak dalam ruang kekuasaan tradisonal yang tidak hanya kerap buntu, tetapi membosankan, penuh intrik, perselingkuhan, dan ketidak becusan. Jika sejarah jadi pelajaran, imajinasi politik yang miskin itu juga pernah berujung pada lahirnya tirani. Ingat Soeharto?
Sementara itu, kekosongan pemikir(an) yang bijaksana dan mendalam (filsafat) di dalam demokrasi yang cenderung liberal, akan halnya membiarkan revolusi berjalan tanpa lampu penerangan. Mereka yang tahu jalan tentu tak masalah. Tapi bagi berjuta-juta rakyat yang bergerak bergerombol, hanya ada kengerian di deapn sana. Dalam kegelapan tanpa pemikaran bijak, maka yang ada hanya kegugupan, reaktif dan gagap melihat perubahan. Padahal dengan segala yang dimiliki indonesia sekaligus ancaman atasnya, kebangsaan indonesia modern merupakan keniscayaan. Namun di atas kesemuanya itu, momentum politik kali ini adalah momen yang menentukan (decisive moment) bagi kebangsaan indonesia modern.

Tiga Tantangan
Tahun 2014 adalah momentum untuk menata landasan bagi kebangsaan indonesia modern. Apa tantangannya? Pertama: secara demografis, indonesia dan politik demokrasi akan mulai dihiasi oleh angkatan muda yang mengenal dunia politik setelah peristiwa Mei 1998. Sebagian memiliki kultur politik kader militan akan suatu nilai perjuangan tertentu, sebagian yang lain mengandalkan empati pada situasi politik kontemporer.
Kedua: secara geografis indonesia akan hidup dengan sumberdaya alam yang sebagian besarnya telah mejadi hak kelola swasta terutama asing akibat politik investasi yang terbuka atas sumberdaya alam yang tersedia. Hal lain adalah peta geopolitik kawasan yang kian derterminan dan berubah.

Ketiga: dalam ruang sosiologis, kita akan menjadi bangsa yang masyarakatnya adalah konsumen pangan dan jasa dengan pemenuhan kebutuhan yang sebagian besar diporoleh melalui impor. Dalam kondisi semacam itu mau tak mau, kita akan hidup dalam ruang sosioligis yang tidak hanya konsumtif (dan jadi tidak kreatif) tapi juga minimnya lapangan pekerjaan yang bisa menyebabkan situasi sosiologis yang anomis (tanpa tata aturan) sebagai akibat dari hilangnya orientasi ekonomi nasional dan krisis identitas kebangsaan yang terjadi.

Oleh karenanya politik dalam Pemilu 2014 ini harus dilihat sebagai momentum menentukan (decisive moment) tidak hanya dalam konteks politik (kekuasaan), tetapi juga dalam ruang demografis khususnya menyangkut manusia muda indonesia; ruang idiologis terkait falsafah kerakyatan dalam konstitusi dan Pancasila; ruang sosiologis dan antropologis menyangkut kedaulatan nasional atas sumber daya alam dan perubahan geopolitik kawasan.
Singkatnya, harus ada yang memikirkan dan kritis terhadap wacana kompleks dari (proses) sejarah demokrasi di indonesia. Pemikiran kritis diperlukan untuk mengisi krisis imajinasi politik agar demokrasi tetap terawat dalam semangat kebudayaan indonesia yang egaliter, musyawarah dan senantiasa bergotong-royong. (*)

*Peneliti di Lingkar Pemikir Indonesia (LiPI)

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Mei 2014
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 47,981 hits
%d blogger menyukai ini: