Surat Kepada Inne Nun jauh di senja Amsterdam

Tinggalkan komentar

Mei 25, 2014 oleh sabiq carebesth

Kepada Inne
Nun jauh di senja Amsterdam

Aku menulis surat ini untukmu, kau ingat dengan kafe-kafe yang kita jelajahi ketika malam? Jakarta yang menyenangkan, kelam sekaligus di dalamnya ada surga kecil bagi mereka yang bisa hidup berdampingan dengan keterasingan. Kau ingat kafe dan senja sore yang terakhir kali itu?

Cinta membumbungkan senja sebagaimana kafe telah melayani kehampaan menjadi kehidupan yang berbobot dan berjiwa. Jika saja masih kau ingat sore kita di kafe Cikini yang redup, atau di kafe-kafe sepanjang jalan yang riuh dengan kegembiraan dan rasa lelah, barangkali seperti jalanan pariwisata di Paris. Oh apakah kamu sudah ke paris sekarang? Alangkah tidak mudahnya mengatakan bagaimana aku ingin ke paris setelah sebelumnya bersepeda di jalanan kota Amserdam.

Inne, aku sangat merindukanmu karena keterasinganku yang luput dari kota yang berubah dalam beberapa bulan terakhir. Orang-orang akan menjadi aneh dengan malam dan aku telah kehilangan hal terbaik yang bisa kumiliki dari impianku pada hidup. Rasnaya aku seperti gelandanan malam yang kelaparan dan orang-orang melihatku dengan tatapan mata menyelidik dan jalang. Aku akan segera menjadi barang langka, tapi tetap saja mereka memiliki selera yang sangat rendah pada kebebasan yang bisa mereka lihat dari mataku. Orang-orang kian modern dan anehnya mereka telah menjadi mapan dan kian takut pada kebebasan yang pernah mereka imipikan dahulu.

Inne, inilah kota jakarta yang kau sukai. Kau telah singgah dan mendapatkan pengalaman terbaik walau hanya beberapa minggu. Aku tahu bahwa apa yang telah kita lewati indah. Indah adalah kata yang sama absurdnya dengan pengalaman batin yang tak bisa kuceritakan padamu sampai hari itu akhirnya kau berangkat ke Belanda. Entah kapan kita akan bertemu kembali. Entah apakah kau akan duduk sendiri di kafe dan aku menyediakan satu kursi kosong untukmu. Atau …
Kita tak pernah tahu pada hidup. Pada cinta juga pada penderitaan yang begitu mengerikan untuk kita hadapi sendirian sampai ketika penderitaan itu benar-benar menemui kita dengan jalangnya. Seperti yang kuhadapi sekarang, aku sendirian dan karenanya aku menderita. Bukan kesendirian yang kutakutkan, tapi zaman kian berbenah dan aku telah jadi terbuang. Kesepian melandaku dengan bengisnya mirip seperti kesepian yang dialami pelacur-pelacur tua di Senen yang telah terbakar. Aku dan seperti halnya mereka mencari kehidupan, kami tak segan pada kematian, tapi betapa mengerikannya kesepian. Kami mencari jalan tapi hanya pada malam kami bisa berjalan.

Inee aku ingin mengakhiri suratku, tanpa “NB”, walau kau tahu, rupanya aku sangat rindu. Semoga satu ketika kau kembali ke Jakarta, aku di kafe yang sama, menunggumu dengan kesia-siaan yang biasanya. Tak ada yang harus dipikirkan di jakarta. Seperti kau tahu, jakarta untuk dinikmati, bukan untuk dipikirkan.

Salam..
*Mari menulis surat cinta, sambil ngopi*

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Mei 2014
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 46,295 hits
%d blogger menyukai ini: