Perihal Penderitaan (bagian 1)

Tinggalkan komentar

Mei 13, 2014 oleh sabiq carebesth

9752491551Rambut dan kulitnya kecoklatan, giginya putih, bibirnya padat dengan gerutan-gerutan tipis yang membuat bibir itu seperti basah. Lagi pula ia memiliki bentuk telinga yang tipis dan sebuah tahi lalat di bawah hidungnya.

Aku ingat kenapa dia mengatakan padaku bahwa ia bisa berjalan seperti para model di FashionTV, selain karena ia memiliki tubuh yang tinggi dan rambut panjang kecoklatan yang sehat, ia rupanya memiliki bentuk kaki kanan yang setengah berlekuk sehingga kaki kirinya terkesan lebih tinggi, hal itu membuat cara berjalannya seolah selalu berlenggok sekaligus rapuh. Aku baru benar-benar memperhatikan, tepatnya mengingat, cara berjalannya yang jelita.
Jika ia bukan seorang kaya dengan warisan bisnis tambang yang dimiliki kelurganya, tentu ia akan mengejar impian menjadi model dan bisa mendapatkan uang untuk memenuhi biaya yang ia perlukan guna membayar kekacauan dan absurditas hidupnya. Tentu saja, absurditas hidup dan kekacuan yang harus dialami (dipilih) seseorang dalam hidupnya membutuhkan harga yang tidak murah. Paling sedikit ia butuh uang lebih banyak untuk membayar minuman yang lebih enak dari air mineral kalengan.

Oh ya tentu bukan pula maksudku mengatakan bahwa seorang dengan bentuk tubuh yang jelita ingin menjadi model sebatas untuk mendapatkan uang. Tentu kebanyakan mereka memiliki motif yang lebih tinggi dari materi. Misalnya soal eksistensi, melindungi dirinya dari kesepian dan kegelapan karena seorang model akan berjalan dibawah kilauan cahaya dan keramaian yang santun. Seorang model juga membutuhkan panggung untuk bermain peran, menjadi orang lain selain tidak gampang juga merupakan tantangan—maksudku, sebuah pakaian adalah sebuah jiwa, suatu karakter tertentu dan untuk itu seorang model berkepentingan memahami detail, menerjemahkan setiap nafas imajinasi sehingga ketika ia berjalan di atas catwalk ia bisa mengisi bentuk dengan jiwa.

***
Aku barangkali telah mencintainya. Tapi betapa tabahnya perasaanku pada penderitaan. Cinta pada Alissa begitu indah, sama dengan penderitaan yang harus kutanggung karena walau kekagumanku padanya berbalas, tapi antara kami tetap tak ada alasan untuk bersama.

Aku tahu Alissa mengangumiku. Ada hal aneh baginya yang membuatnya nyaman denganku. Hal aneh yang sama juga kudapati pada Alissa. Tapi tentu saja kami tak mungkin hidup dengan keanehan. Cinta yang berharga adalah cinta yang salah. Tapi dunia terlalu normal untuk menerima cinta yang berharga.

Jika bukan karena aku merasakan ada getaran yang mendesak dalam perasaanku, tentu hampir bisa dipastikan tak ada yang layak disyukuri dari semua yang kulewatkan dengan Alissa. Getaran itu begitu kuat, seakan-akan kami telah ditakdirkan bertemu dan memastikan bahwa dalam diri kami terdapat getaran yang sama dalamnya. Getaran itu akhirnya menyakitkan. Betapa konyolnya penderitaan ini karena bukankah kami sebaiknya bercinta saja?
Tapi nyatanya tidak. kami tidak bercinta. Kami hanya merasakan getaran. Kami belajar memahami sentuhan hingga ketika bulu guduk kami serasa diterjang musim dingin yang tiba-tiba. Kami membeku rasanya. Kami seakan berada dalam lorong gelap di mana kami saling memastikan bahwa kami bergandengan tangan. Tapi hendak ke mana? Lorong ini tak punya ujung. Dalam kegelapannya, kami bersama hanya untuk tahu bahwa perjalanan membutuhkan ujung untuk memastikan bahwa apa yang kau lewati berharga.

Tapi bagi kami, jika kami mencari ujung dari lorong waktu ini, itulah saatnya kami behenti merasakan getaran, saling melepaskan gandengan tangan sembari belajar memahami bahwa kehidupan bukan lorong panjang di mana kami sama-sama ketakutan; kedinginan sehingga kami sebaiknya bergandengan. Sebab akhirnya apa artinya kami terus bergandengan tangan jika kami tak bisa sama sekali mengenangkan perjalanan, dan kami juga akhirnya tak bercinta?
Barangkali itulah yang telah kualami dengan Alissa. Cinta yang platonik. Tetapi begitu bijaksana. Dan sayangnya kami juga menderita. Apakah kami akan mengubah jalan ceritanya? Sehingga kami akhirnya arif bahwa dalam kehidupan nyata kebijaksanaan tak pernah sempurna. Dalam kesempurnaan ia mengandung penderitaan. Jadi manakah akhirnya yang lebih bijak: menjalani kebijaksanaan dan tak menderita, atau arif bahwa kebijaksanaan yang paling arif adalah mengalami penderitaan dan berbahagia dengannya. (*) bersambung..

Mei 2014
Sabiq Carebesth

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Mei 2014
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 46,295 hits
%d blogger menyukai ini: