Chairil Anwar, Antara Cinta-Kemerdekaan dan Kematian

Tinggalkan komentar

April 28, 2014 oleh sabiq carebesth

Oleh: Sabiq Carebesth

Membaca sajak-sajak Chairil Anwar, terkadang aku berpikir tentang dunia yang dibangun Chairil. Ia sampai, kemudian ia tidak perduli—memang dunia yang dibangunnya itu untuk kehidupan zaman, bukan untuk dirinya sendiri.
Kadang ingin kukatakan pada sesiapa saja, bagaimana tidak intens dan kokoh itu puisi-puisi Chairil, ia saja lengket menyatu dengan hidup/kehidupan. Ia di dalam kehidupan itu; ia piih hidupnya di dalam kehidupan dan ia jalani sedalam puisi dan sajaknya.
Bagiku puisi dan atau sajak Chairil konsisten berpaut pada dua tema: (1) cinta kemerdekaan, (2) kematian. Kedua tema itu menyusun dengan begitu kuat gagasan-gagasan dalam sajak dan puisi Chairil. Dengan dua tema itu, singkatnya bisa kusebut: puisi Chairil adalah hidup Chairil itu sendiri. Hidup Chairil adalah bukan hidupnya sendiri melainkan melampaui kediriannya, ia menjadi jiwa dari unverse; inspirasi. Seperti jiwa-jiwa besar lainnya, ia barangkali dan lebih kerap bukan orang besar, hanya bohemian malam dan tukang kluyur yang dekil, istilah Nietzsche “Cuma pandir cuma penyair”, tapi sebagai yang berjiwa besar, hidupnya menginspirasi! Ia mencipta langgam dari kehidupan yang lebih bebas dari kekangan-kekangan dan doktrin dogma, ia menyusun puisi indonesia modern dengan berani dan bervisi cerdas.
Keberanian dan kecerdasan Chairil dalam mengusung dan melahirkan “yang modern” dalam puisi dan kehidupan zamannya tampak jelas dari dua tersebut di atas. “Cinta kemerdekaan” adalah tema yang melekat pada Chairil sebagai suatu fase kehidupan: dari keterasingan, pelarian, asmara yang bermuara pada kesadaran bahwa “kemerdekaan” melampaui (hasrat) kehidupan itu sendiri. Dalam sajaknya “Diponegoro”, “Pelarian”, “Mirat Muda-Chairil Muda” adalah gambaran dari tema kemerdekaan yang meluap-luap dalam kecerdasan dan keperdulian Chairil pada kehidupan melalui seni puisi.
Tema yang kedua, “Kematian” bisa kite refleksikan pada sajak dan puisinya sepanjang tahun 1949 yang memuncak pada hari kematiannya, 28 April 1949. Sepanjang tahun itu kematian mengisi hampir seluruh selubung gagasan dalam puisi-puisi dan permenungan pribadi Chairil.
Satu fase kesadaran—anti klimaks kearifan; “sekali berarti sudah itu mati”. Seolah ia ingin berpesan pada kita semua, jika pun mati datang menyebelah, bisalah diri saat sedang dalam puncaknya, bukannya saat tengah turun dan terasing. Katanya, “Aku sekarang orangnya bisa tahan, sudah berapa waktu bukan kanak lagi../ dulu memang ada suatua bahan, yang bukan dasar perhitungan kini.”
Demikianlah sajak dan puisi Chairil begitu hidup. Sebab sajak dan puisinya terkait erat dengan kehidupan. Kehidupan yang pada hakikatnya berisi dua hal utama: cinta kemerdekaan dan kematian (yang berarti).

@sabiqcarebesth

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

April 2014
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Pengunjung

  • 47,944 hits
%d blogger menyukai ini: