Oh kehidupan aku menikmatinya setiap malam dan terasing setiap sore..

Tinggalkan komentar

April 14, 2014 oleh sabiq carebesth

[PERISTIWA 3 Adegan I] Sebenarnya Aku sama sekali tak ingin menceritakan soal ini, hal menjengkelkan dan sangat jauh dari pengertian yang subtil tentang hidup modern yang mungkin pernah diimpikan para profesor etika di kota ini, tapi toh inilah yang terus terjadi dan tumbuh mengisi kehidupan kita semua; kebebasan gadis-gadis membicarakan kelamin pria sambil menyulut rokok kegemaran di tengah kafe atau pojokan restoran, sementara yang para lelaki sibuk membenarkan kelamin sendiri-sendiri. Sebagian yang lain merasa tak memilikinya.

Tapi itu hanya topik permulaan, kami akan segera membicarakannya karena bahkan kami bisa mendengar saat itu juga obrolan tentang kebebasan dan sex dari meja sebelah kami, tiga orang gadis usia dua puluhan—tapi kutaksir takkan lebih dari dua puluh dua tahun, mereka duduk dengan sembarangan dan menunjukan keributan dari mulut mereka yang bicara seperti lidah mereka tengah kelu dan hanya bisa menjulurkan seperuhnya untuk menyentuh langit-lengit mulut mereka dan mengatakan sesuatu ungkapan dengan artikulasi yang jelas dan detail. Mereka bicara seperti penggerutu politik yang frustasi—persis di depan meja ketiga gadis tersebut duduk dua orang lelaki setengah baya berbadan besar dengan perut buncit dan seorang temannya yang berbadan lebih kurus dengan tangan yang terus bergerak-gerak ekspresif saat tengah menyampaikan gagasan tertentu yang terdengar mengecewakan. Ketiga gadis ini terus meracu tentang hal-hal yang tampaknya membuat kedua lelaki di meja depannya tak bisa fokus pada masalah pelik yang tengah mereka bicarakan.

Malam kian larut sampai ketika ketiga gadis itu memasan minuman dan makan ringan dengan suara kasar dan menggelikan, sedangkan pelayan mungil itu tampak seperti budak yang tak menggenggam kebebasan sama sekali untuk jengkel. Pelayan itu terus melayani permintaan-permintaan kecil ketiga gadis itu dengan kepatuhan yang manis; pelayan itu telah tiga kali bolak-balik untuk memenuhi permintaan gadis-gadis itu sambil sesekali kulihat ia menikmati sekerjap keindahan yang bisa dilihat kedua matanya pada lengan mungil gadis dengan singlet warna pink yang tampak dikenakan dengan sembarangan sehingga BH yang menyangga payudaranya sesekali meruah seperti bentuk apel hijau kemereh-merahan.
Aku menatap Alissa, ia mengerling, aku tersenyum kecil. “nikmati saja, itu kenyataan, sedang yang dalam otakmu hanya pemikiran—tak pasti jadi kenyataan?” katanya lirih. Aku nyaris tak kuasa menahan tawa, tapi tak kubiarkan aku berkelakar. Aku sendiri merasa aneh bahwa aku dan Alissa merasa saling memasuki kehidupan masing-masing dan merasa ceria. Kami ak sadar tengah kasamran? Entah lah…

[PERISTIWA 3 Adegan II]

Aku sering tiba-tiba merasa seperti ini. Aku merindukan kenangan dan ingin menangis di sore ketika sepi seakan hanya menyisakan kenangan sebagai satu-satu yang pasti kumiliki. Aku merindukan melihat rumahku, aku merindukan masa kanak-kanak, pada suasana dan orang-orang sederhana yang kini kian membuatku terasing dari kehidupanku yang sesungguhnya. Aku merindukan stasiun kereta di mana aku dahulu pernah memimpikan pergi dan kembali pada waktu senja dengan seorang gadis impian yang untuk pertama kalinya melihat keramahan orang-orang desa dan cara mereka menawarkan kue untuk dibawa pulang sebelum petang menjadi benar-benar larut.

Ada jalan berkilo-kilo meter hanya untuk melihat sebuah cahaya yang dinyalakan dari pesta layar tancap; tapi sekarang tak ada lagi layar tancap. Orang telah menggantinya dengan telivisi di dalam rumah masing-masing dan semenjak itu mereka menjadi mengenal privasi; ruang untuk bersendiri dengan kenyamanan ego yang nyaris tak bisa dimasuki lagi oleh kebersahajaan yangmungkin dari kehidupan komunal untuk menikmati suasana kota melalui layar kaca.

Sekarang orang desa tak ubahnya manusia di kota yang gemar sendiri-sendiri. Maka kupikirkan pulang pun tak memberi perasaan lega yang kudambakan. Aku akan tetap sama terasingnya dengan kebingunganku melihat kesibukan kota yang telah mengganti segelas kopinya dengan segala yang paling mahal untuk sebuah kesia-siaan yang absurd. Tapi aku lalu bertanya dengan diriku sendiri; tidakkah ini kehidupan?

Aku menikmatinya setiap malam dan terasing setiap pagi dan inilah kehidupan yang mesti di jalani? Kota telah membentuk kebiasaan-kebiasaan dan bukankah itu dibentuk oleh rasa bosan dan tiap-tiap usaha mengatasinya telah membentuk langit malam dan ketika pagi harinya kami memoles kebosanan yang sama untuk disiasati pada malam harinya? Ini lah jakarta tempat orang sepertiku merayakan kebosanan dengan keramaian yang selalu gagal dipahami—tapi semua orang diam-diam saja hingga semuanya telah begitu terlatih untuk menari dengan iringan musik kehidupan yang nyaris sama saja setiap malamnya. Oh kehidupan aku menikmatinya setiap malam dan terasing setiap sore..(Bersambung..)

#nah kalo sore-sore dapat naskah yg macam ini, apa pula pendapatmu? *mari ngopi item…

@sabiqcarebesth, 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

April 2014
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Pengunjung

  • 43,834 hits
%d blogger menyukai ini: