Alangkah Konyolnya Penderitaan (cerita yang belum selesai)

Tinggalkan komentar

April 14, 2014 oleh sabiq carebesth

9752491551

Aku pergi ke kafe yang sama seperti saat kami terpuruk dan terasing kemarin malam. Aku mengira ia masih akan memakai rok pensil sebatas lutut dan jaket, coat dari bahan kain linen atau satin duchesse dengan potongan yang pas di badan, tetapi tidak ketat, sehingga membuat siluet tubuhnya terlihat kukuh sekaligus anggun. Ah tapi itu hanya imajinasiku saja tentang suatu malam yang menyenangkan dengannya seperti malam yang lalu. kebenarannya bisa jadi ia hanya akan mengenakan celana jeans dan kaos polos kegemarannya.
Tapi nyatanya imajinasi hanya memenuhi keindahan paling absurd yang bisa ditimbulkan pikiran atas tubuh yang lain. imajinasi hanya mungkin diwujudkan jika kita berkuasa atas obyeknya sendiri. Tetapi terkadang bahkan kenyataan bisa melesat jauh melampaui imajinasi. Kenyataanya malam ini Alissa mengenakan gaun warna merah transparan yang menggoda, tetapi tak vulgar. Gaun merah itu tampaknya terinspirasi oleh film musikal dari Spanyol berjudul El Amor Brujo (1986). Poseido dari bahan sifon yang dilipit kecil-kecil secara manual segera memberi kesan sensual yang berkelas. Gaun itu seakan mempresentasikan dirinya yang tak menyukai kemewahan, tapi di sisi lain tetap seorang jelita yang glamor dan cenderung subtil dengan apa yang ia kenakan. Melihatnya duduk di tengah kerumunan pengunjung lain yang mengenakan tampilan biasa-biasa saja seolah tengah melihat sebuah fashion show bertema Edgy Philosophy koleksi perancang Sapto Djojokartiko. Aku yang memandangnya seketika terasa seperti jatuh, tetapi melayang.
Siapa pun yang melihat sensualitas sempurna pada tubuh dan fashionnya malam ini takkan mungkin mencurigainya sebagai pelacur kesepian. Melainkan gadis sexi pembaca Jeans Paul Sarte yang tak pernah benar-benar bersimpatik pada kepribadian Simon de Boliviar.
“Aku tak mengerti ..” suaranya terputus. Aku bertanya apa yang tak ia mengerti, tapi ia tetap tak mengerti. Rupanya ia hanya ingin memulai pembicaraan. Dan antara kami memang tak mengerti mesti membicarakan apa. “Aku tak mengerti dan karena aku tidak mengerti maka?” katanya berseloroh.
“Kenapa hidup harus dimengerti? Kenapa sebagian orang memaksan diri agar cinta dimengerti?” kataku kemudian.
“Cinta?” ujar Alissa genit. “dimengerti?” imbuhnya. Ia membenarkan letak duduknya dan memberiku tanda ia siap mendengarkan dan bicara penuh perhatian.
“Pengertian tentang cinta, bagaimana menurutmu?” tanyaku.
“Cinta telah kehabisan daya untuk dimengerti atau benar katamu, untuk apa cinta dimengerti? Setiap kita pernah merasa bahagia kerena cinta, setiap kita pernah merasa kecewa karena cinta, sebagian kita mengerti kenapa dan sebagian yang lain tak mengerti harus bagaimana dan ketakmengertian itu kembali terulang dengan penderitaan yang sama mendalamnya untuk dirayakan tapi kemudian merasa semua penderitaan dan usaha untuk mengerti cinta adalah hal yang sangat konyol,” kata Alissa bersemangat. “Aku terlalu bersemangat dan bicara terlalu panjang.” Ia tersenyum dan mereguk segelas lemon tea di hadapannya. aku tersenyum kecil dan berusaha keras berpikir. Aku mungkin terlihat gugup karena Alissa juga terlihat demikian. Tapi aku terlatih menyembunyikan kegugupanku. “Aku memang suka memesan lebih dari dua jenis minuman saat tengah duduk di cafe.” Katanya gugup. “iya aku tahu. Aku telah menyaksikan ini 4 bulan terakhir sejak aku mengenalmu di malam yang buruk di Stasiun kota.” Kataku. Alissa tersenyum.
“Kenapa kau memilih duduk di dekatku saat itu? Bukankah banyak kursi kosong di peron stasiun ketika itu? Kau ingin menggodaku?”
“Entahlah. Aku bahkan tak ingat itu kau.”
“Ah kau menipu.”
“Ya aku memikirkan hal lain saat itu.”
“Kau mau ke mana memang?”
“Aku tak ingin ke mana-mana. Aku menyukai stasiun kereta dan aku senang duduk di tempat di mana orang-orang tak mengenalku dan aku sendiri tak harus menunggu siapa-siapa atau haris ke mana-mana. Bagaimana denganmu?”
“Kurasa aku merasakan yang sama.” Kata Alissa. “Aku pulang dari kantorku dan entah kenapa aku memarkir mobilku di stasiun kota. Aku merasa senang melihat langit-langit stasiun yang menjulang tinggi sehingga keramaian di stasiun itu terlihat hanya seperti kekosongan belaka. Aku merasa sendirian. Aku merasa sepi, dan aku memberi diriku sendiri kesempatan untuk tak memikirkan apa pun kecuali hal yang kulihat dan kurasakan saat itu juga.”
“Aku melihatmu berjalan dari pintu dan wajahmu seperti kebimbangan sempurna yang bisa kubayangkan dari keceriaan seorang perempuan jelita sepertimu.”
“Kau melihatku lebih dulu jika begitu?”
“Entahlah, tapi kurasa iya.”
“Aku melihatmu sejak aku berjalan dari pintu gerbang ke peron. Aku melihat lelaki asing yang sama sekali tak mengancamku jika dia duduk disampingku. Aku merasa kau akan duduk dan kau menyimpan banyak cerita yang tak habis-habisnya kukagumi. Aku tak tahu apa yang kucari dari seorang asing.”
“Kau berharap aku duduk di dekatmu?”
“Secara tidak langsung. Aku memainkan pernaku yang baik di hadapan nasib.”
“Nasib yang memilih atau kau yang menuntun nasib berpihak padamu.”
“Keduanya mungkin.”
“Aku duduk di dekatmu dan diam untuk beberapa lama”
“Dua kereta berangkat ke tujuan Jogjakarta; dan kita masih saling membisu.”
“Peron stasiun jadi lengang setelah kereta ketiga menuju Surabaya berangkat. Hanya kau dan aku duduk di kursi yang sama dan tak ke mana-mana.”
“Kau terlihat udik dan aneh.”
“Aku akan melewatkan malam itu jika saja kau tak bertanya lebih dulu.”
“Ya, aku menanyakan namamu dan apa kau menyukai membaca buku di dalam peron stasiun?”
“Aku tersenyum dan kukatakan padamu aku menyukai buku yang sama persis dengan buku yang mengintip dari dalam tasmu.”
“Anna Karenina..”
“Aku sangat takut dengan bayanganku sendiri saat itu.”
“Aku tak tahu pada bagian itu. Apa yang kau takutkan?”
“Aku takut kau melemparkan dirimu sendiri ketika kereta ke empat tiba dari Semarang.”
“Aku tak ingin bunuh diri. Aku takut walau jujur aku kerap memikirkan bunuh diri. Tapi aku tentu takkan memilih cara yang sama seperi yang dipilih Anna. Itu terlihat konyol dan terlalu membuat ramai orang-orang di Stasiun kereta.”
Aku tersenyum kecil. Aku tak ingin membicarakan bagian itu. Aku takut dengan kematian. Aku sering juga membayangkan bunuh diri dan aku selalu ketakutan dengan hal-hal mengerikan dari bagaimana seseorang mati.
“Mari kita bicara hal lain saja,” Ujar Alissa menghadapi keheningan sejenak yang menghimpit kami. “Aku sama sekali tak ingin membicarakan bagaimana Barcelona akhirnya tak lolos ke babak semi final.”
Aku mengiyakan dengan menatap matanya. Aku merasa tiba-tiba bergairah. Tatapan matanya, satu yang terbaik yang dimiliki Alissa. Keteduhan yang akan menghapus semua persepsi dari pakain yang ia kenakan.
“Pesanlah kopimu lagi.”
“Hari telah jadi larut kataku.”
“Aku ingin malam ini tak sendirian.”
“Kau bisa pulang ke rumah dan memeluk ibumu”
“Aku ingin melihat subuh.”
“Aku tak bisa melihat kau sepanjang malam menenggak Vodka.”
“Kali ini aku berjanji hanya red wine. Aku menyimpannya di mobil.” Alissa tersenyum.
Aku tiba-tiba ingin kembali ke marku dengan segera dan menyelesaikan tulisanku agar bisa segera mendapat honor dan aku akan terbebas dari hutang-hutangku. Lagi pula aku butuh membeli beberapa perabobotan dan bahan makanan yang lezat agar aku bisa berdiam dalam kamar tanpa harus disela keluar untuk kebutuhan perut, aku ingin fokus dan menyelesaikan bukuku—buku dan menyelematkan nyawaku dari krisis keterasingan.
“Kita habiskan waktu di meja ini saja?” kataku, aku berusaha membujuknya untuk mengakhiri malam ini.
“Tidak, mereka akan tutup menjelang subuh. Kita tak bisa memiliki subuh di sini.”
“Jadi?”
“Terserah padamu. Kita bisa berjalan di luar atau ke mana saja.”
“Ke peron stasiun?” ah apa pula kukatakan. Kenapa tak kukatakan agar pulang saja.
“Kita akan mencobanya.” Jawab Alissa, wajahnya berbinar.
Hampir pukul dua dini hari. Kami menutup malam dengan gairah yang tak kami mengerti. Satu hal yang pasti kurasakan; bagaimana jika malam ini aku sendirian dan tak ada Alissa? Mungkin Alissa memikirkan yang sama denganku. Dan itu berarti malam telah membuahi mahluknya dengan perasaan absurd tentang asmara. Tapi aku tak ingin memikirkan hal itu. Aku rasa Alissa biasa menjalani malam-malam di meja kafe seperti sekarang ini dan ia bisa saja melewatkan hal yang sama absurdnya dengan lelaki lain. Aku cemburu? Mungkin saja dan ini sangat menakutkan.
“Aku tak pernah sebelumnya duduk di Kafe ini hingga larut dan menemui seseorang dengan dandanan yang tak cocok untuk pergi ke kafe selain karena aku ingin pergi ke pantai pada subuhnya.” Ujar Alissa tiba-tiba. Bisa jadi ia memahami apa yang kupikirkan. Dia perempuan yang pintar. Dia tentu mengerti hal bodoh yang kupikirkan.
“Kita akan ke pantai.” Kataku entah bagaimana. Alissa menghentikan jalannya ketika kami hampir sampai di tempat mobilnya terparkir.
“Ini malam yang hebat. Thanks..” katanya sembari menjatuhkan sebagian tubuhnya padaku. Aku menyangga sekuat tenagaku. Aku benar-benar gugup, tapi aku terlambat menyadari.
Mobil pun melesat melewati jalan-jalan yang dijatuhi cahya keemasan dari lampu-lampu mercury, pelacur paling cantik kota Jakarta telah menjadi tua dan preman-preman telah kehilangan peran di jakarta yang kian modern. Gerombolan malam bingung membedakan tato di lengan mereka karena tato telah menjadi hiburan kelompok berduit dengan kesadaran tubuh yang rasis, sementara itu preman-preman jalanan berganti menjadi orang-orang santun dengan kesadaran yang kian terpinggir. Tali-tali kapan seperti penunjuk nyata kami telah sampai di jemabatan Pelabuhan Sunda Kelapa. Kami memasuki gerbang pelabuhan tanpa kuslitan berarti. Alissa cukup jelita bagi para penjaga pos, lagi pula ia memiliki cukup uang untuk membuatnya tak telalu banyak bicara. Ia hanya tersenyum, mengulurkan sedikit uang tips kemudia mobil melaju melewati sandaran kapal-kapal pengangkut. Buruh-buruh malam, buruh-buruh kapal tengah sejenak menikmati malam bersama segelas kopi yang kutahu lebih seperti jagung rebus dicampur arang. Kopi terbaik negeri ini hanya bisa dinikmati di cafe mahal oleh aristokrat pengetahuan dan mereka yang kelebihan uang, tapi tidak untuk buruh angkut seperti mereka. “sebagian dari mereka seperti ayahku, bedanya ayahku tak dipekerjakan dan kerasa kepala, tapi sama kerja kerasanya. Aku tahu persis apa yang mereka bela.” Kataku. Alissa terus membawa mobilnya, lebih pelan, dan “Aku turut bersimpati walau aku tak bisa merasakannya dengan pasti.” Balasnya. “Mereka merasai duka menjadi cinta, mereka membiarkan tubuh mereka di dekap cinta yang jadi mistik dalam keringat mereka demi istri dan anak yang jauh di rumah. Kesabaran mereka tak dapat di ukur dengan malam yang indah seperti yang tengah kita cari. Mereka menghapuskan duka derita dengan dekapan terindah, mereka seolah-olah bernyanyi ria; ‘biar kita menipu diri dengan hangatnya cinta, melupkan luka-luka dan tidur malam yang sejenak akan menjadi obat paling baik untuk melupakan penderitaan dengan tenang’, aku bisa mendengar nyanyian semacam itu dengan cukup jernih.” Aku meracu sekenanya. Aku merindukan ayah, aku merindukan orang-orang di desa, aku seperti mereka. “Apa yang kau rasakan sekarang?” tanya Alissa tiba-tiba. Aku setengah gugup melepaskan uluran kenangan yang sebentar melesatkanku pada rumahku. “Aku merasa betapa konyolnya penderitaan orang-orang kota”. Suara rem berderit, Alissa tampaknya menginjak rem mobil dengan lekas. Barangkali dia tersinggung. “Tidakkah kita ingin membicarakan hal yang lebih indah di sepertiga malam begini?” katanya kemduian. “Kita di mana?” tanyaku, aku merasa bingung. “Kau yang membawaku kemari. Kita telah berputar tujuh kali mengelilingi labuhan ini dan kau hanya melihat buruh-buruh angkut membawa beban di punggungnya dari kapal ke truck seperti Sisifus yang menderita tapi Camus sendiri memaksa kita melihatnya tengah berbahagia.” Kata-kata Alissa terdengar berbisa. Aku selalu saja merasa paling tidak bisa menghadapi kemarahan perempuan, aku terlalu rapuh untuk hal semcam itu. Kemudian kukatakan padanya untuk memarkir mobil di ujung deretan kapal, menghadap ke arah timur dan memastikan kami masih tetap dalam jangkaun cahya yang menyala dari atap-atap kapal.
“Duduklah” kataku padanya, memintanya duduk di atas kap mobil,
“Jangan menggodaku, aku tetap marah padamu.” Balasnya.
“Tidak, naiklah, aku serius.”
“Kau selalu serius dan itu terkadang sangat menjengkelkan.”
“Naiklah dan kau akan melihat subuh yang merengkuh lautan”
“Bantu aku naik.”
Aku gugup tapi kuraih tangan kirinya, sementara tangan kanan Alissa bertumpu pada pundak kiriku. Ini tampak rumit tapi kuraih pada punggungnya sampai ia duduk di atas cap mobil.
“Kau meraih punggungku”
“Ya aku meraihnya.”
“Kau berani?”
“Tidak juga.”
“Kita akan berpelukan sambil merasai degub jantung yang memburu?” kata Alissa, matanya jelita mengerling, tangannya masih erat di punggungku. “sebutlah dengan—berdansa.”
“Mungkin saja, tapi aku tidak berani.”
“Satu saat kau akan berani. Barangkali kau membutuhkan sedikit Vodka.”
*Bersambung…


*Sabiq Carebesth 2014

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

April 2014
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Pengunjung

  • 44,768 hits
%d blogger menyukai ini: