Prometheus Harapan Rakyat*

Tinggalkan komentar

Maret 28, 2014 oleh sabiq carebesth

IMG_7096

(Esai ini dimuat di kolom Analysis SINDOWeekly Edisi No. 04 Tahun III 27 Maret-2 April 2014)
Oleh: Sabiq Carebesth**

Bersabarlah dalam sunyi, tampaknya demikian kaidah politik yang diajarkan Megawati Sukarnoputri pada publik tahun-tahun terakhir ini. Dalam sunyi homo politicus menajamkan diri, berefleksi dan akhirnya berkontemplasi dari ruang (kepentingan) personal kepada ruang kebangsaan; dari kemenangan kepada kerakyatan. Kita semua berharap demikian, bukan?

Penunjukan Joko Widodo atau yang lebih populer disebut Jokowi—sebagai calon Presiden dari PDI Perjuangan (14/4), segera menjadi fenomena politik yang menghubungkan banyak faktor dalam berbangsa dan bernegara dari ekonomi sampai peta afiliasi kepentingan sesaat menjelang pemilihan umum. Di atas semua itu, akan kian jelas juga siapa yang transformatif siapa yang reaktif.

Keadaan serba paradoks dan ambigu sebagai akibat dari pertarungan pencitraan kaum reaktif dalam membendung transformasi politik kerakyatan akan juga menciptakan momentum yang tepat bagi kematangan politik nasionalisme (kedaulatan) kerakyatan (demokrasi) di mana di dalamnya agenda-agenda kerakyatan selama ini diperjuangkan.
Agenda politik nasionalisme kerakyatan harus mengambil momentum politik sekarang ini. Jika tidak, proses demokratisasi dan semangat reformasi akan kembali sebatas mengartikulasi agenda politik elit. Mei 1998 ketika Soeharto akhirnya melepaskan kekuasaannya harus jadi pelajaran berharga.

Siapa yang akhirnya mengambil memonetum dan keuntungan dari perubahan kondisi sosial politik yang tercipta dari desakan agenda politik kerakyatan? Bukan rakyat dengan agenda-agenda populisnya dari soal tanah, upah, penuntasan kasus pelanggaran HAM dan pemenuhan hak ekonomi sosial dan budaya yang mengisi agenda reformasi, sebaliknya dominasi politik elit yang kembali mengambil alih—kemudian dengan segera menjadi mapan dan oligarkis. Kaum demagog pun kembali mengisi ruang-ruang politik walau sebelumnya mereka jelas-jelas anti demokrasi dan anti agenda kerakyatan. Haruskah keadaan itu kini terulang?

***
Bak mitologi dalam tradisi Yunani, Jokowi hanya “Prometheus” si pencuri api kebudayaan dari kuasa Dewa-Dewa. Namun “api” kebudayaan politiknya ada dan mewujud dalam gerakan buruh tani pedesaan, intelektual organik terorganisir baik dalam bentuk gerakan miskin perkotaan, perempuan, atau “opisisi” urban khususnya di Jakarta.
“Api” itu yang kita butuhkan untuk menjadi obor zaman kegelapan yang melanda bangsa ini sekarang. Zaman kegelapan yang ditandai oleh krisis pangan, krisis etika dalam politik, krisis kemanusiaan dalam pendidikan, krisis kehidupan dalam kesenian.

Pekerjaan kita bersama sekarang adalah membangkitkan Prometheus dari tidur mitologisnya. Jokowi mungkin saja adalah perwujudannya, tapi tanpa “api”—yang adalah kebudayaan yang tumbuh dari penderitaan rakyat selama ini—apa gunanya?

Satu hal yang pasti, bahwa kondisi (peluang yang tercipta dari pencapresan Jokowi) harus juga dilihat sebagai peluang mengakhiri kebuntuan politik kerakyatan yang selama ini macet akibat kekosongan kepemimpinan—dalam artian ketiadaan kehendak politik untuk membela kepentingan rakyat; berbahasa dengan rasa dan bekerja dengan cara-cara rakyat. Sekaranglah saatnya bagi front politik kerakyatan melakukan penajaman dan kontekstualisasi ide (ologi) sambil tetap menjaga idealisme kepeloporan; yaitu sebagai teman terdekat dan tersetia bagi “wong cilik”.

Kita membutuhkan pemimpin yang melampaui “Sisifus”, kita butuh yang serupa Prometheus yang berpandangan bahwa manusia dan alam disekelilingnya merupakan ciptaan yang sungguh-sungguh baik dan indah, buat apa bila tanpa kebudayaan? Seperti indonesia yang gemah ripah loh jinawi, tapi buat apa bila tanpa api yang menyalakan lentera kesadaran akan kemanusiaan yang adil dan beradab? Kita butuh figur Prometheus yang demi terbitnya fajar kemanusiaan (budaya) berani menanggung resiko, bahkan bila ia sendiri harus menanggung hukuman dan marah dewa-dewa politik yang kuasa. Sanggup dan beranikah Jokowi?

HARAPAN
Jokowi atau Joko Widodo, bagaimana pun nama itu telah membawakan gairah baru bagi “modernisasi” politik dan demokrastiasi di negara ini. Gairah itu menjadi sedemikian penting sekarang bagi kehidupan demokrasi kita mengingat sebagain besar dari kita tampak telah jadi bosan dan frustasi dengan fenomena politik yang justeru cenderung oligarkis (berkongsi untuk kepentingan sendiri-sendiri dan kelompoknya) dan dipadati para demagog (tak tahu malu walau jelas korup tapi pandai juga beretorika meraih citra).

Dalam kondisi semacam itu, penunjukan Jokowi sebagai calon Presiden telah memberi harapan. Harapan politik bagi agenda-agenda kerakyatan seperti kesejahteraan, upah, tanah dan kedaulatan atas sumber-sumber ekonomi strategis yang seharusnya dikelola negara untuk sepenuhnya kemakmuran rakyat dan keadilan sosial; penegakan hukum dan toleransi.

Harapan (politik) tentu bersifat tak pasti. Kesepakatan (politik) selalu mengandung dalam dirinya sendiri “pembatalan” kesepakatan—justeru agar harapan itu dirawat dan diperjuangkan. Agar kita sebagai rakyat turut mengawal Jokowi seandainya nanti jadi presiden, agar ia tak mengabaikan rakyat dan kepentingan kerakayatan segenap rakyat indonesia terutama yang papa dan jelata.

Jokowi tak mungkin sanggup sendiri, tekanan tentu akan datang dari sana sini, kepentingan-kepentingan ekonomi (bisnis) dan politis akan serta merta saling bersaing mengisi logika politik Jokowi seandainya nanti terpilih sebagai pemimpin. Bijak bila kita sebagai “yang berharap” terjadi modernisasi politik nasional, turut serta mengawal agenda pembaharuan dan modernisasi politik yang dihadirkan dari penunjukan Jokowi sebagai calon presiden. Harapan tersebesarnya sederhana, impian politik Sukarno bisa tegak kokoh berdiri: Tri Sakti. Indonesia menjadi bangsa yang jelas kepentingan nasionalnya, bermartabat, berdaulat, dan mandiri. (*)

*Artikel ini adalah versi yang lebih panjang dari yang dimuat di Analysis SINDOWeekly
**Sabiq Carebesth, Bibliofil, Pecinta buku dan Kesenian. Twitter: @sabiqcarebesth

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2014
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pengunjung

  • 44,282 hits