Puisi dan Politik (Pemberontakan) Rendra

Tinggalkan komentar

Maret 13, 2014 oleh sabiq carebesth

1ws2Rendra adalah realitas akbar yang mentransendensikan kemurnian masa kanak-kanak, intelektualitas dan pemberontakan kedalam entitas politis dan historis yang disebut bahasa; bahasa yang menjelma menjadi realitas dalam sajak, prosa dalam drama dan cerita pendek serta esainya dan terutama realitas dalam puisi Rendra. Membaca puisi Rendra adalah mendengar bunyi dari kalimat pemberontakan yang tak tersusun dengan bahasa; tetapi sebuah jeritan panjang ribuan hewan terluka dalam sukma kenangannya yang telah menjadi mistik bagi pemberontakan jiwanya; Aku mendengar jerit hewan yang terluka…
Sejak kumpulan sajaknya yang pertama “Ballada orang-orang Tercinta” pada 1957, nada dasar puisi Rendra sudah jelas: pemberontakan pada pengangkangan akal sehat dan kemanusiaan. Orang-orang tercinta itu adalah sosok-sosok wanita memelas menyedihkan, ditinggal, tak dimengerti, disakiti, difitnah; penderitaan yang dikenal penyair sebagai jerit hewan yang terluka; atau mereka yang berujud aktivis yang dihilangkan, perempuan Tionghoa yang diperkosa dalam tragedi, ataupun tawanan-tawanan dari musuh yang kejam, yang membutuhkan kesaksian penyair.
Sajak dan dramanya adalah kesaksian demi keselamatan kehidupan dan pemberontakan terhadap apa yang mengancam kepunahan kehidupan—itulah nada dasar dari sajak-sajak dan drama karya Rendra.

Pemberontakan Rendra
Apa yang mengesakan dari Rendra adalah ia bersetia kepada dirinya sendiri. Ia tumbuh dan mengecap pengaruh dari sana-sini, ia mempunyai segi-segi dan saat-saat kelemahannya. Namun hampir setengah abad ini Rendra menjadi “ikon” utama perikemanusiaan di Indonesia. Dan “pemberontakan” bisa dikatakan sebagai tema dominan karyanya.
“Yang saya maksud dengan pemberontakan bukanlah pemberontak yang memperjuangkan kekuasaan pemerintahan atau lembaga lainnya. Pendeknya bukan mereka yang memberontak dengan orientasi politik atau kekuasaan. Melainkan mereka yang selalu memberontak terhadap keterbatasan keadaan dirinya. Jadi kaum pemberontak yang sejati akan mempunyai orientasi: mengulur batas-batas situasi manusia.” Demikian Rendra pernah menulis semasa hidupnya.
Dalam pengertian itu, Rendra sang penyair dan sang manusia adalah memang pemberontak; seorang yang selalu sibuk dengan melonggarkan kungkungan dan pembatasan-pembatasan keaadaan manusia, “dia ingin mengulurnya.”
Pemberontakan Rendra terus merangkak dari yang kedirian sampai kepada yang kemasyrakatan. Melibatkan kebebasan diri dalam solidaritas dengan sesama adalah politik kepenyairan Rendra.
Bagi Rendra, penghayatan eksistensi diri, kehidupan, masyarakat dan alam, kosmos dan Tuhan senantiasa merupakan suatu kesatuan. Tekanannya berbeda-beda dalam berbagai periode kehidupan Rendra, yang pasti pemutlakan dan pengisolasian aspek-aspek tersebut secara terpisah dalam kepenyairan Rendra adalah mustahil.
Sajak yang ditulisnya terutama sajak-sajak yang dibuat di Amerika dalam kumpulan “Blues untuk Bonnie” pada 1971 menkonfirmasi kemesraan yang kian mendalam dan menjadi satu dalam penghayatan lyris eksistensi Rendra terutama lewat erotika, keterlibatan sosial serta kaitan kosmis. Inilah tahun-tahun yang menandai makin menguatnya pemberontakan Rendra, ia terus menggugat dan menyuarakan kesaksiannya.
Sajak berjudul Blues Untuk Bonnie sangat mengharukan, mengisahkan seorang negro tua dari Georgia yang menghabiskan sisa usinya dalam keadaan terasing dan terpencil dalam kesepian menyanyikan lagu-lagu di sebuh cafe di Boston: Sambil jari-jari galak gitarnya/ mencakar dan mencakar/menggaruki rasa gatal di sukmanya.
Namun dalam kurun yang sama tidak absen pula sajak-sajak cinta yang ekstatis, dimana keterhanyutan menemukan ekspresinya dalam simbol-simbol kosmis: “Kupanggili Namamu”: Sambil terus memanggili namamu/amarah pemberontakanku yang suci/bangkit dengan perkasa malam ini. Juga dalam sajak “Suto untuk fatimah”: duapuluh tiga matahari/bangkit dari pundakmu/tubuhmu menguapkan bau tanah/dan menyalalah sukmaku.
Maka kendati terombang-ambing oleh suatu kurun yang tak menentu dari Surakarta, Yogyakarta sampai Amerika, benang merah kesenian Rendra tak pernah putus, kesaksian; dengan memperdengarkan pertanda-pertanda; tidak untuk membawakan pemecahan politik, namun untuk menunjukan jalan kearah pengertian dan harmoni. Hal yang tampak nyata dalam tokoh Jose Karosta, sang penyair dalam drama “Mastadon dan Burung Kondor” 1973. Dari drama inilah asal nyanyian “Sajak Burung-Burung Kondor” yang terkenal itu lahir; Burung-Burung Kondor itu sebagai roh-roh bangsa yang menderita, yang di malam hari menjauhkan diri ke atas gunung, mencari sepi dan mendapat hiburan darinya—“Karena hanya sepi mampu menghisap dendam dan sakit hati.”
Jadi apa arti Rendra untuk manusia zaman sekarang? Pasti akan dikatakan bahwa pemberontak yang menentang dewa-dewa kekuasaan ini adalah model bagi manusia kontemporer, bahwa suara protesnya yang bangkit puluhan tahun yang lalu di Halaman ITB (Institut Teknologi Bandung) 19 Agustus 1977 ketika membacakan puisinya “Sajak Sebatang Lisong”, memuncak hari ini dalam sebuah ledakan sejarah yang tidak pararel. Namun pada saat yang sama, sesuatu mengatakan kepada kita bahwa korban penganiyaan zaman ini—jerit hewan yang terluka– masih berada di antara kita, dan bahwa kita masih tuli terhadap jeritan keras pemberontakan manusia yang memberi tanda kesepian; seperti potret pembangunan dalam puisi (1993). (*)

Sabiq Carebesth, 2013

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2014
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pengunjung

  • 43,809 hits
%d blogger menyukai ini: