ttg “Memoar Kehilangan” Kumpulan Sajak Karya Sabiq Carebesth

Tinggalkan komentar

Desember 13, 2013 oleh sabiq carebesth

memoar kehliangan

=============
Beberapa pilihan kata dalam puisi Sabiq Carebesth seperti: kanvas jiwaku, semesta, kalbu, mahkota, senandung, seruling, nun muram, di bibir nasib, sulam kelambu merupakan diksi yang membuat bahasa berhenti di suatu waktu atau suatu masa. Ungkapan kanvas jiwaku mengandaikan sebuah masa dimana seniman pelukis masih menempatkan roh sebagai pencitraan terhadap seni lukis yang hidup, “jiwa yang terlihat” dalam pengertian S. Sudjojono (jiwa ketok). Hubungan antara manusia atau seorang seniman dengan media dan peralatan masih berada dalam hubungan langsung, berada dalam pesona yang memenuhi dirinya. Hubungan ini di masa kini kian menjadi hubungan materialistis atau fungsional. Perubahan ini berlangsung besama dengan menghilangnya diksi kalbu yang hampir tak pernah lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Dunia kalbu, suara hati yang pernah romantik itu, tenggelam bersama berbagai perubahan yang melandanya.

==================

Interior puisi seperti yang dilakukan Sabiq Carebesth ini, pada satu sisi seperti melawan proses destabilisasi bahasa yang berlangsung terus-menerus sejak pemerintahan Orde Baru. Bahasa menjadi bagian dari mode yang terus berubah bersama dengan perubahan kekuasaan, pergeseran modal dan pasar, maupun perubahan gaya hidup. Sabiq menyebutnya sebagai “metafora waktu”, sebagaimana dengan salah satu judul puisinya: Aku terlempar pada bayangan hampa. Dari metafora kecantikan setubuh masa. Bayangan disandingkan lebih dekat dengan kecantikan, tubuh dan masa.
Waktu sebagai dokumen beralih menjadi waktu sebagai memori. Memori yang terlempar, tersingkirkan. Bayangan di sini menjadi penting sebagai perayaan atas memori yang terlempar itu. Bahasa yang dihentikan atau terhentikan dari perjalanan perubahannya, dalam puisi Sabiq menjadi sebuah entitas dimana kita bisa menyimpan kepercayaan-kepercayaan kita, sejarah identitas, dalam peralihan waktu seperti ini. Dan memori diperlakukan sebagai ibu kandung dari kepercayaan maupun sejarah identitas ini.

IMG_9474===============
Ia turut menari kini
Dalam pencarian
Sampai penghabisan
Dan diukirnya sebuah nama dan cinta
Dengan tinta hitam dari samuderamu
Ia menatap padaku:
Seorang gila dalam segelas kopiku
Ia, serupa aku.
(Kepada segelas kopiku)
Dalam puisi di atas, negosiasi dan persuasi itu berlangsung sebagai tarian; janji pencarian sebagai tinta hitam. Keduanya adalah kegilaan, seperti kopi yang diteguk setiap hari. Dalam prosedur waktu puisi Indonesia modern di mana kesepian merupakan nyanyian bersama para penyair modernis umumnya, maka kesepian pada puisi-puisi Sabiq Carebesth merupakan keterkecualian: Kesepian diterima bukan sebagai terbelahnya waktu oleh perubahan. Melainkan, karena berhentinya kenangan pada periode tertentu bersama dengan bahasa, visi, hubungan-hubungan antara manusia dengan alam, maupun dalam pergaulan gender. Kesepian bukan dalam perspektif modernisme yang mencari masadepan sebagai harapan, melainkan justru mencari masa kemarin sebagai cara melihat sejarah dari dalam kenangan.
=======

============
Negosiasi waktu seperti itu, antara kenangan dan sejarah, melahirkan semacam persuasi terhadap sesuatu yang tidak berhenti, walau kenangan telah berhenti. Persuasi sebagai hasil dari perjalanan pencarian di luar sejarah masakini. Ketika kenangan berhenti, dan waktu terus bergerak, sejarah terus berubah, kenangan kemudian menempuh jalannya sendiri, menempuh pencariannya sendiri. Konsistensi seperti ini bagi Sabiq, dan saya menyetujuinya, adalah jalan kegilaan yang memang harus dilakukan. Karena kenangan tidak sama dengan rapuhnya bahasa yang ikut berubah bersama dengan perubahan sosial-politik. Dalam hal ini, kita tidak bisa berharap memperlakukan bahasa sebagai bagian dari infrastruktur sejarah. Karena, pada kenyataannya, sejarah juga dikonstruksi dengan “permainan bahasa”

=======
sabiqcarebesth2014Gadis yang sosoknya tak tergambarkan lagi, yang sering dijadikan subjek metaforik untuk waktu kehilangan dalam puisi-puisi Sabiq, merupakan subjek yang berada dalam pergulatan terus-menerus untuk menempatkan kenangan dalam romantiknya. Kenangan yang dibuat menggunakan pakaian berlapis-lapis dari kesunyian, kehilangan, kematian, kerinduan, kesedihan, kemabukan, kegeliaan hingga kemarahan. Lapisan-lapisan ini membuat pantulannya sendiri untuk menggemakan kenangan. Dan rupanya hanya puisi yang bisa menggemakan kenangan seperti ini.
Akhirnya saya ingin menutup tulisan ini dengan mengembalikannya kepada salah satu puisi Sabiq yang ditulis dengan strategi prosa (Sublim).
Begini:
Seperti setiap sunyi dan kesepian yang mengajarimu berlari lebih jauh; kedalam dirimu sendiri. (*)

Afrizal Malna
2011
====Pesan buku ini? dapatkan harga spesial dg pemesanan via: twitter @sabiqcarebesth / (inbox) Facebook at: Sabiq Carebesth.

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Desember 2013
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Pengunjung

  • 43,834 hits
%d blogger menyukai ini: