Bukan Sekedar “Gema Suasana”

Tinggalkan komentar

Desember 8, 2013 oleh sabiq carebesth

jakarta Biennale

Di kota jakarta yang super urban, seni harus hadir sebagai kritik atas lubang hitam yang diciptakan pembangunan kapitalis. Lubang hitam itu adalah “alienasi” (keterasingan) manusia urban.

Pembangunan urban yang kian mendekati “serba uang” sebagai berhala modernitas, berakibat pada tidak hanya kesenjangan sosial, tapi juga menciptakan sakit mental (neurosis) lantaran terasing dari kemanusiaan dan manusia lain. Dalam konteks itu “manusia kultur” memang harus bersiasat untuk merebut gelanggang kesadaran dan eksistensinya sebagai “manusia natur”. Rumitnya, pada saat yang sama, ruang kesenian mendapati tantangan yang tak enteng, yaitu harus bersiasar antara membangun wacana alternatif dan tuntutan logis dari kebutuhan akan uang untuk menggelar “instalasi” seni.

Di ruang yang kian “pop”, seni dan senimannya tiba-tiba, sekonyong-konyong menjadi berusia usang, sementara yang baru lahir kerap prematur dan berumur pendek lantaran memang jarang yang sanggup menembus usia kenangan yang umurnya terkenal panjang. Maka seni dan seniman dituntut berimprofisasi, atau tepatnya “bersiasat”, jika tidak seniman akan tertinggal dan akhirnya hilang ditelan zaman. Mampukah seni menjadi siasat bagi kedangkalan—dan dengan demikian keterasingan? Bagaimana merebut ruang seni di kurun yang super kapitalis dimana daya magis dari eksentrisme seniman, tak lagi berharga sebagai ‘anutan’ pendamping kehidupan?

Perhelatan 15th Jakarta Biennale 2013 dengan tema “siasat” yang berlangsung di Parkir Bawah Tanah Teater Jakarta, Taman Ismail Marjuki—dengan segala kritik atasnya, harus dikatakan sebagai perhelatan seni yang cerdas untuk mendorong kesadaran publik menciptakan “siasat kebudayaan” terutama di ruang urban yang kian terhimpit oleh ragam kepentingan ekonomi politik, sekaligus kian sempit oleh pakem kebudayaan kontemporer yang tidak hanya mengarah kepada “art plastic”. Dalam dunia soft power dimana seni mencari bentuk instalasinya dalam etalase blog, atau beranda jejaring sosial di internet, seni khususnya di ruang urban, juga kian kehilangan tempat untuk bisa dinikmati (yang arti persisnya: bisa dialami oleh tubuh) masyarakat kota secara langsung.

15th Jakarta Biennale kali ini dengan mengunakan media “parkir” sebagai tempat sekaligus reproduksi ruang dan produksi kritik; berhasil memberi ruang bagi masyarakat kota untuk langsung “mengalami seni” memandang dan boleh menyentuh, larut dan bila mungkin—berkontemplasi sehingga agenda terpenting setiap perhelatan kebudayaan mungkin diraih; yaitu kesadaran akan eksistensi dan kepentingan kemanusiaan dalam zamannya.

Perhelatan yang berlangsung dari 09-30 November 2013 itu dirancang seperti sebuah parade ruang untuk (khususnya warga kota) mengalami seni. Parade Jakarta Biennale berlangsung di beragam tempat (Tur Jakarta Biennela)—selaian di tempat utama Ruang Parkir Bawah Tanah Teater Jakarta, agenda seni juga berlangsung di Museum Seni Rupa dan Keramik, Galeri Salihara, Cemara 6 Galeri— cara semacam itu patut di apresiasi tinggi sebagai siasat kebudayaan kota dalam menciptakan “gelanggang” kebudayaan. Persisnya kebudayaan kota.

Jakarta-Biennale-2013_Yunaidi-Joepoet_31Apakah kebudayaan kota dalam konteks sekarang ini? Tak pelak Jakarta adalah tempat bagi berseminya ruang-ruang kebudayaan urban yang tak tunggal, melainkan terpecah, terkoneksi tidak hanya dari daerah atau etnik, tapi dari belahan dunia global. Jakarta tak lagi sebatas “urbanisme nasionalis” tapi adalah “ruang urban” bagi bangsa-bangsa dan kemanusian secara universal.

Siasat dan Gelanggang

Entah sengaja entah tidak dari panitia perhelatan ini memilih ungkapan “siasat” sebagai tema utama 15th Jakarta Biennale 2013. Ungkapan “siasat” yang pernah romantik pada angkatan zamannya, persisnya ketika Penyair Chairil Anwar merajut sajak dan visi kesenian “humanisme universal”nya di warta sepekan “Siasat” (1948). Maka ketika hari ini “siasat” kembali dihadirkan, tak pelak daya ungkap “Siasat” dengan romantik segera pula akan membawa memoar kebudayaan kita kepada “Gelanggang” yang merupakan koran induk dari lampiran “Siasat”.

Walau era romantik dari “Siasat” dan “Gelanggang” kebudayaan era Chairil lebih tertuju kepada perspektif menacri siasat kebudayaan (kota) melalui “sastra” namun hadirnya kata itu hari ini dalam perhelatan 15th Jakarta Biennale yang lebih merupakan siasat kebudayaan kota dalam medium yang lebih luas dan beragam yaitu “seni” (termasuk di dalamnya sastra), keduanya punya latar dan semangat yang rasanya sama: menyoal kemanusiaan khususnya di ruang urban secara global–humanisme universal.

Arti dan pemaknaanya tentu berbeda dari konteks “humanisme universal” di era Chairil Anwar dan angkatan 45, lagi pula setiap angkatan memiliki zamannya sendiri, hanya jika sebutlah—sejarah itu kerap berulang (L’histoire se repète!) maka 15th Jakarta Biennale mendapat pertanyaan kritisnya: apa yang kita butuhkan sesungguhnya untuk merawat “nilai dan bukan semata harga” kemanusiaan di kota seperti jakarta? Apa yang lebih kita perlukan sekarang: “siasat” atau “gelanggang”? tentu keduanya kita butuhkan dan bertali erat, hanya sampai dimana siasat itu telah mampu menciptakan “gelanggang” bagi kebudayaan urban kontemporer dimana di dalamnya terdapat manusia-manusa kota yang dengan sangat keras berusaha mengetasi tiap jengkal keterasingannya?

Bagi saya, seturut dengan analogi sejarah di atas, “siasat” itu harus melahirkan “gelanggang” bagi terciptanya ruang “pemberontakan” budaya, atas apa? Pemberontakan itu bagi saya terutama ditujukan kepada “alienasi”; melawan keterasingan yang dihadirkan oleh kapitalisme di ruang kota yang kelewat serakah sehingga kerap untuk segelintir individu dengan kapital berlebih, mereka sampai mengorbankan dan menggusur ruang budaya publik.

Pertaruhan eksistensi antara individu penikmat budaya dengan masyarakat pencipta budaya menjadi pertaruhan. Baik bila antara keduanya punya ruang, namun jangan sampai ruang-ruang kota di privatisasi sepenuhnya oleh kuasa ekonomi yang hanya menjadikan kebudayaan sebagai “hiburan”, pariwisata gengsi dan per-adab-an (intelektual) yang seoalah dapat dibeli dengan uang.

Kota harus menjadi ruang produksi seni yang bisa dinikmati manusia agar mampu melewati keterasingan yang kadung dominan diciptakan di pabrik-pabrik yang hanya memproduksi budaya yang hanya bisa dinikmati jika manusia membayar! Pembrontakan kita hari ini terutama ditujukan bukan lagi kepada pemberonakan eksistensial filsafat atau pemberontakan metafisis, tapi kepada keterasingan yang menyerbu ruang kebudayaan-kemanusian kita.

Kritik

Kritik sebagai upaya koreksi dan mengisi lubang hitam dari kekosongan yang tak tergarap oleh perhelatan 15th Jakarta Biennale, tetap penting disampaikan sebagai bandul “lain” dan suara jernih yang mungkin untuk makin menjernihkan siasat budaya yang sudah digarap dengan begitu antusias dalam Jakarta Biennale kali ini.
Kritik terutama ditujukan pada hilangnya individu dan kritik ruang yang masih dominan sebagai “yang urban”. Hilangnya individu berkait erat pada bagaimana “siasat” yang di susun dalam agenda Jakarta Biennale kali ini—sadar atau tidak, dominan untuk menyuarakan suara komunitas, suara warga, namun soalnya kemudian adalah, dimana eksistensi suara untuk memperebutkan ruang bagi individu yang lebih intim dan pribadi? Individu yang memang nir gelanggang? Siapa mereka?

jktMislanya jika kita pergi ke rumah-rumah kontrakan di Tambora, Jakarta Barat atau di sepanjang kanal sungai Danmogot-Cengkareng, nyaring di sana jeritan menyayat suara buruh perempuan yang bekerja di mal-mal dengan gaji minim, tinggal dalam sebuah rumah kontrakan tiga kali tiga meter—itu pun untuk ditinggali dua orang, kontrakan yang hanya terbuat dari triplek, yang antar kamar suaranya bisa terdengar seolah tanpa dinding pembatas, belum lagi ruang yang begitu sempit dan sumpek, jeritan mereka begitu menyayat! Tentu karena kota, khususnya kota Jakarta, bukan semata dihimpun dari suara-suara manusia kota, tetapi juga banyak suara-suara manusia desa, yang di kota mereka tetap tak banyak beranjak dari pabrik, kontrkan kemudian bermimpi buruk pada malam harinya. Atau sekarang sebutlah berapa manusia desa yang bekerja di mall-mall sebagai cleaning service, berapa Pembantu Rumah Tangga yang di datangkan dari desa untuk melayani manusia kota; berapa dari mereka hadir dan memiliki gelanggang di di perhelatan Jakarta Biennale? Atau setidaknya berapa dari mereka bisa “mengalami seni” di Jakarta sebagai sebuah gelanggang eksistensi?
Mengkhawatirkan tentu bila siasat ruang bagi warga atau komunitas, rupanya tanpa sadar terjebak pada sebatas warga kota, konsumen urban, tapi pada saat yang sama mengabaikan dan meningglkan penghuni utama dan terbanyak di Jakarta, manusia dari desa di gelanggang kota; para buruh perempuan yang masih muda usia dan tak punya pendidikan lanjut apa lagi pengalaman “mengalami seni” kecuali dari syair-syair picisan yang tersiar dari handphone yang berdering di sela-sela jam kerja.

Tanpa mengurangi rasa hormat kita pada kerja kreatif yang begitu antusias, perhelatan 15th Jakarta Biennale tampak meninggalkan ruang kosong dari perefleksian eksistensi individu; terutama individu miskin dan terasing, lebih-lebih yang dari desa. Hal itulah yang dalam perhelatan Jakarta Biennale berikutnya bisa menjadi catatan kecil untuk diperhatikan. Jika tidak, siasat dan gelanggang yang hari ini dengan keras diciptakan, mungkin hanya akan sekedar menjadi “gema suasana” yang—seperti dalam sejarahnya di era 1948—hanya berumur pendek saja. (*)

*SABIQ CAREBESTH
Pecinta Buku dan Kesenian, Founder of “Galeri Buku Jakarta”.
Twitter: @sabiqcarebesth

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Desember 2013
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Pengunjung

  • 46,833 hits
%d blogger menyukai ini: