Puisi adalah keterhanyutan pada kamar yang dindingnya terbakar

Tinggalkan komentar

November 6, 2013 oleh sabiq carebesth

Brand New High Heels Shoes In Fashion For Girls  (3)#Puisi adalah keterhanyutan pada kamar yang dindingnya terbakar

Di tepi jalan kakimu mantap berjalan menepi lewat tepian jalan dan aku menatapmu dari kejauhan dengan hasrat seperti iblis atau faust yang mengira bisa membuat matahari dari sisa mimpi—tuan barang tentu habis rapat tentang puisi yang menguap seperti soda susu di warteg bersama radhar yang setengah mampus—tapi matanya beringas menatap gedung-gedung meniupi gedung waktu mengepalkan jeritan robohkan…robohkan…biar seisi kota jadi lautan!!

Cikini menjadi lukisan lampu-lampu yang membuat gambar para penari memiliki bayangan sehingga bayangan itu bisa jadi panutan langkah sepatumu menjejaki puisi di pinggir jalan revolusi yang pekikan dengan kegamangan yang serak-serak: kadangkala revolusi tidak ada lagi—bagi lelaki tua yang kadung terbiasa dengan pembakaran gereja penjara-penjara pikiran, kecemerlangan universal yang ditarikan di panggung tanpa nafsu—akhirnya kudapati langkahmu yang kuyuh matamu yang membidik seekor burung asing di atap sebuah gedung: di sanalah engkau hendak menuju duduk terpaku menjadi batu tua yang lupa warna basah dari tanah dan air di sawah.

Puisi adalah keterhanyutan pada kamar yang dindingnya terbakar sementara kekanak-kanakanmu telah sia-sia membakar api. ruang yang tebakar hangus menjadi tanah liat, bahasa dan tubuh perempuan yang takkan pernah kau cumbui.
Kita bersalaman di tepi jalan dari Cikini tempat pemberangakatan keterasingan: hanya jalan tak pernah merupa bimbang: penyair dianugerahi hujan sebagai keberlangsungan menapaki keberlaluan atau sebelum mengucap selamat jalan hujan menjadikan penyair sebagai pemakaman bagi bahasa yang melukiskan waktunya sendiri. Ah.. (*)

#Hujan di matamu
Aku memandang lantai, bola mataku seperti terjatuh menggelinding, kemudian ketika gerimis turun dengan gravitasi kenangan yang segera melembabkan kesunyianku; aku menemukan matamu memandang arahku seolah itu tatapan matamu yang paling pilu sewaktu kita memutuskan kelana sendiri-sendiri—kita lalu telah kembali bersama di ruang sebuah hotel dengan jendela yang terbuat dari hujan sebagai hiburan bagi dua kalbu yang masih ngilu lantaran waktu-waktu dan hujan yang barangkali masih sama dengan hujan ketika bola mataku menggelinding kemudian ketika gerimis turun aku mendengarkan monologmu yang kau tulis di lembab kaca jendela;

”aku memungutnya, aku simpan dilemari es agar awet dan sejuk; aku memandangi matamu; terus-menerus kadang sampai larut, pagi, hujan aku masih terus memandangi matamu dan terasa olehku bagaimana aku tetap membutuhkan tubuhmu—tubuh-tubuh yang tak kau rawat, seperti dinding-dinding kota yang lapuk, kedinginan dan lembab oleh hujan yang sama dengan hujan di pemakaman sewaktu aku memutuskan jatuh cinta padamu. Malam ini kita duduk, ingin rasanya aku memandangi matamu; dua mata kita memandangi hujan; hujan-hujan yang lain dari hujan yang pernah menyaksikan kita saling mencari tatapan yang dahulu…”

Kamu menjengkelkan ya? Seperti hujan yang memaksaku untuk tinggal; kemudian perlahan-lahan menari.(*)

cbtshoes

cbtshoes

#Arisan Waktu di Kota Tanpa Ruang
Orang-orang sibuk arisan waktu di ruang ajaib yang berbatasan dengan batas-batas paling pendek dari ingatan: Aku sendiri memandang ke luar jendela, orang-orang terpana melihat kesedihanku, barangkali aku terluka oleh cinta yang baru saja singgah di hadapanku—tertawa dan menatap kaku dalam segelas kopi– luka-luka dari tubuh waktu mengangga menyulam sukma dengan rajutan luka-luka, bisakah tatapanmu menyediakan ruang bagi sunyiku?

Ada jeda yang menihilkan jarak dari baris-baris sajak yang mencari tempat untuk menjejak; melipur lukanya jiwa oleh kehilangan-kehilangan; betapa pentingnya tanggal dan bulan bagi penyair sebab tahun-tahun telah kehilangan hikayat untuk kerinduan yang hendak menyatukan dirinya dengan ruang sebagai kenangan.

Anakku mengambil senapan mencoba menembaki ketidakmengertian yang melanda waktunya: orang-orang di sekeliliingnya sibuk mengalunkan waktu-waktu; belajar menyusun waktu dari reruntuhan ruang yang diciptakan dari kepingan kenangan..(*)

Sebentar lagi hujan sayang

Sebentar lagi hujan sayang…dimeja yang mana kita hendak menaruh ingatan? Sebelum kota menjadi banjir dan kita harus meletakan kenangan tentang waktu ke dalam ransel atau membungkusnya dalam kantung plastik bersama sisa kopi yang belum habis mengisahkan masalalunya.

Sebentar lagi hujan sayang…“mungkin tak jadi hujan!” katamu, lalu bagaimana aku telah kedinginan? Bagaimana aku merasa harus menaiki meja karena lantai tempatku berpijak telah jadi sungai dengan air yang membanjiri sepanjang dinding-dindingnya. “hujan dipikiranmu merembes sampai tumpah ke dalam gelas kopi lalu meja lalu lantai lalu wajahku— jika saja bukan sebab aku menemukan bayi-bayi merah padam dalam dirimu; sudah kutinggal kau berlalu dan tak kupeluk kalbu dari tubuhmu yang kedinginan dan hampir roboh oleh sunyi.”

Sebentar lagi hujan sayang, bantu aku beranjak dari banjir…(*)

twitter @sabiqcarebesth
30 Oktober 2013

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

November 2013
S S R K J S M
« Okt   Des »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Pengunjung

  • 46,295 hits
%d blogger menyukai ini: