ttg figur-figur di dalam lukisan dan jiwanya

Tinggalkan komentar

Oktober 31, 2013 oleh sabiq carebesth

sabiqcarebesth

sabiqcarebesth

Jiwa Underexposed Dalam Sejarah Figuratif
Oleh : Sabiq Carebesth*

Ibarat tulisan panjang, footnote dari figur-figur dalam kanvas sejarah adalah jiwa-jiwa, begitu juga dalam lukisan figuratif tentang figur-figur. Dalam lukisan yang cenderung figuratif unsur “jiwa” begitu menentukan apakah “figur” di atas kanvas zaman kekinian itu bisa hidup, ataukah justeru terjebak dalam sebuah frame figuratif sebagai potret sejarah yang membeku dan semata kaku.

“Kanvas” dan “jiwa” dalam sebuah lukisan mengandaikan sebuah masa dimana seniman pelukis masih menempatkan roh sebagai pencitraan terhadap seni lukis yang hidup, “jiwa yang terlihat” yang dalam pengertian S Sudjojono kita kenali sebagai “jiwa ketok”. Pergulatan itu begitu “ketok” (terlihat) dalam pameran tunggal bertajuk “Underexposed” karya pelukis Patrick Wowor di Galeri Cipta III TIM Jakarta, 19-30 sepetember 2013.
***

lukisan berjudul_aku maish utuh dan kata kata belum binasa _acrylic on canvas 2013Sebagai pelukis, Patrick Wowor pelukis yang introvert. Demikian disebut Kepala BP. PKJ-TIM, Drs. Bambang Subekti dalam pengantar untuk pameran Underexsposed. Sisi introvert tersebut rupanya besar pengaruhnya dalam karya-karya lukisnya, khas dari jiwa yang muda umurnya. Tak heran bila kemudian tema-tema lukisan seperti kegelisahan zaman dari “anak lahir sempat” dalam istilah penyair Chairil Anwar—dalam mempertanyakan kesejarahan dari cerita-cerita tentang sejarah kemasa-laluan sekaligus keintiman dengan kesunyian masa depan, kental dalam pamerannya kali ini.
Upaya, dan bahkan usaha luar biasa keras (pergulatan) mempertanyakan ruang yang diselimuti gerhana waktu dari sejarah “figur” seperti Sukarno, Wikana, Wiji Thukul, dan si “AKU” dan si “Korban” sejarah, telah menyusun sebuah komposisi lukisan figuratif yang cenderung kaku, demikian ragu; introvert.

Kebimbangan jiwa dari usaha deformasi bahkan pendistorsian figur yang disengaja (atau pun tidak) oleh Patrick Wowor pada saat bersamaan sesungguhnya menghadirkan kepada subjek “Aku” pelukis, sebuah “hamparan jiwa” yang miminjam sebaris sajak (Memoar Kehilangan, 2011)—yang meronta meminta tanda. Bahwa hidup kita merdeka.
Apakah kita merdeka? Pernyataan itu mempertanyakan; dan pertanyaan itu menegaskan. Salah satu lukisan Patrick dalam pameran ini yang dibuat tahun 2013 “Dimana..adalah sebuah pertanyaan, pencarian, dan harapan.” menegaskan jawabannya.

Underexsposed dalam konteks lukisan Patrick Wowor bagi saya bukan semata menyangkut gambar figur-figur sejarah yang di pamerkan (dilantai dasar) pameran ini, yang dalam bahasa Bonnie Triyana dalam pengantar kurasi pameran ini dianalogikan sebagai: “jarang disebut atau absen dalam buku-buku sejarah dan soal-soal atasnya tak pernah terungkap di mata publik” seperti figur Wikana yang hilang tak tentu rimbanya semenjak peristiwa 1965, atau juga Wiji Thukul yang juga hilang di kurun sejarah Orde Baru, atau “Siapa Korban-Korban Siapa” dalam kurun sejarah keduanya.
Tapi lebih dari itu, saya justeru menyaksikan pameran Patrick kali ini lebih tepat sebagai “hamparan jiwa” yang oleh Patrick sendiri, sejauh sebelum pameran ini berlangsung, diperlakukan sebagai kekelaman zaman yang hanya dipajang di dinding kesepian pelukisnya sendiri. Dan kali ini Jiwa underexposed itu mengejewantahkan diri dalam panggung sejarah (pameran seni rupa) yang figuratif.

2 Jiwa
Pameran tunggal Patrick Wowor yang berlangsung di Galeri Cipta III bagi saya merupakan pameran 2 jiwa dalam ketunggalan seorang Patrick. Jiwa yang pertama adalah jiwa yang dihamparkan sebagai juru bicara sejarah dan penanya distorsi historis; jiwa yang kedua adalah jiwa murni subjek pelukis yang memiliki hubungan langsung dan intim antara Patrick sebagai subjek pelukis dengan media dan alat lukisannya. Hubungan langsung yang penuh pesona dari kedalaman jiwa yang di zaman kini kian tergerus oleh hubungan materialisme konsumtif dan bangunan sosial budaya yang kelewat fungsional.

2Entah sengaja atau tidak, tempat pameran di Galeri Cipta III memang terdiri dari 2 lantai, lantai dasar dan lantai di atasnya; pada yang pertama (lantai dasar) terdapat lukisan figuratif yang mengeksplorasi subjek ketimpang peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh sebagai tema ketimbang sejarah sebagai gagasan-gagasan (suasana jiwa). Lukisan-lukisan di lantai dasar menampilkan begitu kentaranya jiwa yang gamang, bertanya, berharap, dipenuhi “empati ketok” tampak nyata dalam lukisan di lantai dasar seperti terdapat pada lukisan berjudul “Aku masih utuh dan kata-kata belum binasa” (acrylic on canvas 2013) yang bergambar sosok penyair yang hilang Wiji Thukul dengan mata yang di perban sebagai simbol “korban” sekaligus keberanian menabur biji dari bunga perlawanan di tembok kekuasaan; juga pada lukisan berjudul “Siapa Korban-Korban Siapa.” (2013) yang merupakan mimesis-deformatif tumpukan tengkorak kepala-kepala dari yang ingin disebut sebagai “korban sejarah”.

Sementara di lantai yang lebih tinggi, di atasnya, tampak dipamerkan lukisan-lukisan yang menurut pandangan subjektif saya, jauh lebih jujur, manusiawi, dimana “jiwa ketok” Patrick terhampar lebih tegas dan luas. Ungkapan jiwa seorang muda yang memandangi negaranya, bangsa dan zaman dari kurun kemanusiannya dari kacamata jiwanya sebagai seniman pelukis. Jiwa yang memandangi jiwanya sendiri. Lukisan-lukisan dengan tema yang lebih intim dan mendalam di atas kanvas—yang nyaris begitu utuh. Sungguh ungkapan jiwa (jiwa ketok) yang total.

***

Di lantai atas, jiwa yang ke 2: kita akan menemukan lukisan-lukisan yang lebih manusiawi, menampilkan figur-figur juga, tetapi sekaligus sebagai gagasan-gagasan, tentang jiwa dari figur-figur manusia seperti pada lukisan “Deadline”, “Jalan Hidup”, (acrylic on canvas 2013), atau “Lupa Diri” (2009) yang menggambarkan seorang manusia bermain piano dengan gesture tubuh tampak condong ke bawah yang mewartakan pada mata yang memandang—betapa fokusnya, dalam menggarap selami seni atau permainan bahkan sampai mengabaikan kepentingan tentang diri sendiri (lupa diri positif), juga ada lukisan “Tarian Kata”(2010) yang berupa gambar lelaki dengan gelas di tangan kiri dengan landscape ilusi dari bayangan sesosok perempuan dan sebuah peristiwa keterasingan pada sepatu high heel yang tampak di tebalkan dengan garis yang mmbentuk bayangan siluet erotika, itulah lukisan yang akan mengantarkan kita untuk sebuah “Pertemuan Jiwa” (2013) yang tergambar seperti garis halus dengan warna muram yang membentuk batas-batas.

Tema lukisan dimana jiwa begitu hidup, kental dan mendalam terdapat juga pada “Pertemuan Malam (2013), “langit redup di depan teras”, “kulihat kelelawar menari mengitari tiang bendera yang kosong dan dia tetap merdeka walau tanpa bendera” (acrylic on canvas 2013)–adalah kedamaian yang membuat lukisan-lukisan tersebut “menjadi satu dengan sepi itu”, (2013); kita jadinya lebih siap memasuki kesepian, sendirian, tempat dimana jiwa biasanya betah tinggal dan hidup.

Hal tersebut sangatlah berbeda dengan lukisan-lukisan di lantai dasar yang lebih kuat tentang figur sebagai tokoh, tapi “jiwa-jiwa” yang membuat figur tadi menjadi tokoh sejarah, bisa jadi justeru tak tergambar. Dalam hal itu pula saya ingin mengira bahwa lukisan pada dasarnya adalah tentang jiwa dan bukan tentang “potret” sejarah semata. Memang ada sejarah atau kisahan dari peristiwa-peristiwa yang jejaknya pernah berlangsung di masa lalu, tapi toh lukisan dan sejarah itu sendiri membutuhkan jiwa untuk meng”exsposed”.

Di sinilah kritik terutama ditujukan pada unsur “jiwa” yang kurang tergarap dalam “Underexsposed”, atau mungkin terasingkan melebihi figur-figur yang sosoknya dalam panggung sejarah, justeru begitu berjiwa. Sukarno, Wikana, Wiji Thukul, mereka memang terbuang di perlintasan sejarah, sebagian bahkan “hilang”, tapi jiwa mereka? Jiwa figur-figur sejarah itu terus menghidupi sejarah bahkan sampai kini. Jadi bagaimana sejarah figuratif bisa “hidup” tanpa jiwa di panggung sejarah kekinian?

Akhirnya, Underexposed bagi saya adalah hamparan jiwa dari jiwa di bawah jiwa sejarah (manusia sejarah) yang telah berhasil menunjukan bagaimana suasana batin dari jiwa masyarakat indonesia; atau singkatnya, underexposed adalah “jiwa ketok” Partick Wowor Yang meronta meminta tanda. Bahwa hidup kita merdeka. (*)

*Sabiq Carebesth, Founder of Galeri Buku Jakarta. Twitter @sabiqcarebesth
============================================================

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Oktober 2013
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Pengunjung

  • 47,981 hits
%d blogger menyukai ini: