MASIH ADAKAH “SYIMPHONI HATI” DI JAKARTA??

Tinggalkan komentar

September 10, 2013 oleh sabiq carebesth

simfoni jakartaOleh : Sabiq Carebesth
Selalu saja ada seseorang yang tertawa lepas dalam kegelapan, mengeluarkan serangkain lelucon dan sindiran-sindiran tajam; bahwa kota seharusnya jangan pernah disalah artikan oleh kata-kata yang menjelaskannya. Itulah gambaran dan pengertian sebuah “kota” sebagaimana kota-kota “imajiner” milik Italo Calvino dalam buku “Invisible Cities”. Adakah hal itu serupa dengan kota Jakarta milik (anda)? Bagi saya, identitas paling faktual dari Jakarta adalah bahwa Jakarta itu “sebuah kota”

Di kota seperti Jakarta, tawa yang paling lepas adalah tawa dari mulut yang paling berbusa menyembunyikan derita. Tawa lepas dalam kegelapan nun muram rumah kontrakan, jembatan panjang, gubuk liar yang menunggu gusuran; adalah rentetan ironi yang disampaikan melalui kebohongan benda-benda sebagai penanda yang membuat tawa lepas dan kebahagiaan segera berganti rupa menjadi ketragisan.

Itulah tanda-tanda kota Jakarta yang tak pernah bohong; lukisan ke-tragis-an dari jiwa modern yang ironis. “Ada apa Jakarta?” Pertanyaan (dan sekaligus inti gagasan) itulah yang di ajukan kepada segenap perupa dalam pameran bersama Art Venture IV di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada 21-29 Agustus 2013. Lalu ada apa dalam lukisan-lukisan “Ada Apa Jakarta?”

***
Lukisan adalah meditasi yang sublim yang mengambil jarak dari realitas sekaligus pada saat yang sama menancapkannya lebih dalam ke dalam; kenyataan. Berhasilkan lukisan para perupa yang sebagian telah memiliki galeri kenamaan di Jakarta tersebut menerjemahkan tanda-tanda Jakarta dalam kebohongannya yang tragis? Saya harus segera menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan pengamatan simbolik saya yang hanya sekilas; berhasil! Semua lukisan yang ada bagus dan memenuhi kelayakan kolektor saya kira, hanya tak jarang, walau indah secara visual, tapi kerap gagap dan salah arti dalam menempatkan jakarta yang tetap menusiawi dan penuh romansa.

Lukisan-lukisan kerap masih dijadikan sebagai medium yang secara kaku menerjemahkan opini publik dari realitas di luar kanvas lukisan, dijadikan sebagai perkakas utama, akibatnya, kesenduan alami dari romansa yang mungkin dihadirkan oleh sebuah lukisan, kehilangan perannya untuk menghadirkan sekaligus menjadi: “realitas yang lain.” Bukankah “lukisan” tentang jakarta yang muram, banjir, minim ruang publik, bisa berulang kali dihadirkan oleh layar televisi? Bukankah setiap hari kita menontonnya, bahkan hidup di dalam lukisannya yang buram?


SALAH ARTI

Simbol tentang Jakarta kerap atau bahkan selalu dihadirkan dalam medium visual seni yang muram (tapi toh nyatanya jakarta terang benderang), kumuh dan marjinal (tapi Jakarta pun pusat dalam banyak pengertian dan anda bisa lihat berapa mega Mall yang setiap menit lantainya dibersihkan), sungai dengan kanal-kanal air yang hitam, rentetan musim yang kerap berarti banjir, jakarta juga adalah simbol bagi kemacetan baik jalan raya, atau juga kemacetan dalam hal sosio-kultural seperti kemacetan pikiran, keterbukaan, kemanusiaan yang sebenarnya bukan hanya macet, tapi bahkan nyaris involutif atau sebutlah, padat merayap (tapi Jakarta juga mimpi paling absah dari setiap impian yang progres, bahkan di Jakarta orang-orangnya berjalan cepat-cepat; dan semua yang serba cepat dari informasi, politik, bisnis, transaksi, mode) Jakarta adalah tempat yang menghendaki serba cepat, tapi kadang juga karena sempitnya tempat, Jakarta juga bisa berarti berhimpit-himpit, himpitan, atau terhimpit.

IMG_1315Hal tersebut tampak misalnya pada karya “Maaf…Ada Hajatan!” karya Afriani. Lukisan yang menggambarkan bagaimana orang di Jakarta tak memiliki tempat di halaman rumahnya untuk menggelar hajatan kecuali dengan menutup akses publik berupa jalan umum. Dalam pameran Art Venture IV tersebut juga terlihat lukisan Rizal MS dan Triyono Budhi tentang keberadaan kaum marjinal di kota Jakarta. Gabriella Indira Satri yang menampilkan lukisan tentang banjir. Nisa Anggraini dengan gaya naif melukiskan jalan-jalan Jakarta yang macet. Yudi Hermunanto dengan lukisannya yang berjudul “Selamat Datang Aja Deh!”. Ada pula Arina Restu Handari yang menggambar ondel-ondel, serta R Sahyo yang menggambarkan suasana pasar rakyat.

Lukisan yang lain hampir serupa dalam menggarap tema “Ada Apa Jakarta”, para perupa masih tampak menggambarkan Jakarta sebagaimana pandangan kebanyakan orang dimana bisa kita katakan: “demikianlah adanya jakarta.” Apakah nada itu terlihat pesimis dan “salah tafsir”?

Saya sebagai penonton dan pecinta lukisan dan Kota Jakarta merasa bahwa tema dan gagasan dalam melihat Jakarta masih bergantung pada ungkapan-ungkapan aksara dan wicara yang lazim membuncah di Jakarta baik di berita koran, TV atau di kehidupan sehari-hari.

Ada sisi lain yang tak saya dapatkan dari Jakarta dimana saya berharap dunia lukis bisa memberikannya. Inilah yang saya sedikit merasa harus memberi catatan, sebagai penonton dan penduduk Jakarta. Saya ingin bertanya; selain kebohongan realitas melalui simbol-simbol aksara dan wicara, masih adakah romansa di Jakarta? Dimana tempatnya cinta kasih di tengah ibu kota yang serba cepat, banjir, orang-orang yang terpinggirkan, masyarakat yang minim ruang publik, bagaimana kemanusiaan di jakarta di rawat bila tak dengan hati? masih adakah simfoni hati di Jakarta?

“SYIMPONI HATI”

Lukisan dengan ukuran terbesar dalam pameran itu dipajang di dinding ujung yang berfungsi sebagai pusat perhatian, itulah lukisan “Melawan Trend” karya Afriani yang dengan baik mewakili tema ironisme waktu dari keberlaluan dan kekinian zaman dalam menerjemahkan Jakarta sebagai sebuah “kota”, kehidupan, sekaligus peradaban. Namun hal itu menurut saya, terasa belum mencukupi dalam usaha menerjemahkan pencarian saya malam itu; pencarian warna lukisan soal perasaan, tentang hati dan kenangan. Bahwa di Jakarta, sebuah romansa masih bisa dilukiskan.

Saya mencari dengan perasaan nyaris kecewa karena berpikir hanya akan mendapati jajaran lukisan yang menggambarkan evolusi Jakarta yang super cepat sebagai sebuah kota metropolis yang super konsumtif dalam berbagai hal, dan kian kapitalis secara budaya.

Namun harapan saya akhirnya lunas di hadapan sebuah dinding yang memajang tiga lukisan dengan media Acrylic on Canvas karya Yul Hendri. Salah satu dari tiga lukisan karya Yul itu berjudul “Syimponi Hati”. Dan rupanya “Syimponi Hati” masih ada di Jakarta yang serba ironis dan tragis, kebanyakan ambivalen dan dipenuhi paradoks pada realias dan simbol kehidupan sosial budayanya.

“Syimponi Hati” karya Yul Hendri mungkin bukan lukisan terbaik yang ada dalam ruangan besar Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki malam itu, tapi lukisan itu bagi saya berhasil menyelamatkan perasaan dan kognisi kehidupan Jakarta. Bahwa di atas segala perubahan sosial dan kultural sebuah kota yang nyaris sama imajinernya dengan mimpi-mimpi manusia di dalamnya; sehiangga hampir sebagian dari realitas di kota seperti Jakarta adalah realitas yang bohong, soal hati, perasaan, tetap mendapat monumen penting bagi penanda kehidupan kota yang jujur, sebuah simfoni tentang romansa zaman dari sebuah kota bernama Jakarta.

Akhirnya, apalah Jakarta tanpa simfoni dari hati manusia yang senantiasa bergetar pada seni dan kemanusiaan? Barangkali memang benar; di kota, kebohongan tak pernah terletak pada kata-kata, namun ada di antara benda-benda. Tanpa simfoni hati, Jakarta hanya akan menjadi benda-benda mati yang tak pernah bisa berkata-kata untuk menyusun kenangannya sendiri yang kerap sendu. Serupa kesenduan dari “Syimphoni Hati” dalam lukisan Yul Hendri; yaitu sebuah kesenduan yang tak lagi mencari penawar, tapi kesenduan yang sudah diterima sebagai bagian dari simfoni hati yang dibunyikan oleh biola jiwa yang terhimpit di Jakarta.[]

SABIQ CAREBESTH
Pecinta Buku dan Kesenian, Founder of “Galeri Buku Jakarta”.
Twitter: @sabiqcarebesth

tulisan ini dimuat di kolom ruang putih jawa pos: http://digital.jawapos.com/shared.php?type=imap&date=20130901&name=H15-A231050

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

September 2013
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Pengunjung

  • 47,981 hits
%d blogger menyukai ini: