Memaknai puisi dari bunyi; membaca kumpulan puisi “Memoar Kehilangan” by: Sabiq Carebesth

Tinggalkan komentar

Juni 11, 2013 oleh sabiq carebesth

IMG_9484

Memilih kuda pacu
Niat hati mau melaju
Tapi tunggu dulu;
Bawalah serta masalalu

Menemukan makna dalam puisi melalui bunyi adalah cara tersendiri yang memungkinkan sebuah puisi dimaknai secara lebih utuh.

Sayangnya puisi kontemporer Indonesia sekarang seringkali dimaknai tanpa analisis pada bunyi yang disusun dari rima dan matra serta efoni yang jelas merupkan pekerjaan yang tidak kepalang sulit (lagi mengyasikan) bagi penulisnya yang berhasil memadu-satukan bentuk dan isi puisi di dalam jalinan bunyi-bunyiian dari efek rima dan matra yang seperti melodi musikal.

Padahal memaknai puisi tanpa usaha menganalisis irama bunyi puisi adalah kekeliruan pembacaan atas puisi yang kurang utuh kalau tidak boleh disebut salah. Mengapa? Pada dasarnya bunyi tidak bisa berdiri sendiri tanpa ditopang oleh makna, bunyi secara tersendiri tidak atau sedikit sekali mempunyai efek artistik. Dalam usaha pe-makna-an lah paling tidak bunyi bisa menampilkan warna emosi tertentu dalam sebuah puisi. Dalam penyajian puisi secara lisan (pembacaan puisi) yang harus dibedakan dengan pola suara dalam teks puisi, si deklamator puisi tentu saja menggunakan intonasi yang menyiratkan makna, tak mungkin puisi hanya memakai bunyi-bunyian murni sepenuhnya.

Apa yang dikeluhkan oleh kritikus sastra puisi terhadap puisi kontemporer Indonesia? Keluhan yang bisa jadi sekaligus menjadi harapan public pembaca atas puisi kontemporer Indonesia.

Berthold Damshauser, seorang sastrawan dan kritikus sastra puisi asal Jerman, dalam makalahnya “Merindukan Puisi yang Bukan Prosa: Merindukan Sajak” (editorial Jurnal Sajak, 2011) mengatakan bahwa puisi Indonesia kontemporer tidak ada gunanya didekati dengan pendekatan musikalitas irama susunan kata dan kalimat yang lahir dari efek bunyi rima dan matra. Menerut Berthold puisi kontemporer Indonesia sangat jarang atau tidak lagi memunculkan efek-efek musikalitas semcam itu, malah membaca puisi kontemporer Indonesia (walau tentu tidak semuanya) hampir sama dengan membaca cerita biasa, terkadang hampir sama dengan membaca Koran.

Kritik Berthold tentu saja bisa disanggah, tapi pun tidak semuanya salah. Bahkan Berthold menyandingkan kritiknya dengan contoh puisi Joko Pinurbo tentu saja merupakan sebuah studi kritik dan pengamatan atas puisi kontemporer Indonesia yang tidak main-main. Di luar apresiasi dan kritik Berthold atas unsur musikalitas dari tertib dan disiplin penggunaan rima dan matra dalam puisi kontemporer Indonesia, akan lebih arif jika kita pertema-tama mengembalikan opini tentang puisi kontemporer Indonesia pada satu salah satu definisi puisi.

Puisi dalam efoni, rima dan matra; pencarian makna
Karya sastra, pada sastra puisi khususnya, adalah urutan bunyi yang menghasilkan makna. Pada karya sastra selain puisi, prosa novel misalnya, stratum bunyi memang kadang-kadang kurang penting, bahkan pada sejumlah novel tampak tidak ada fungsinya. Meskipun demikian , stratum fonetik tetap merupakan pra syarat bagi usaha menemukan makna dari sebuah teks sastra.

Rene Wellek dan Austin Warren dalam bukunya Theory of Literature (London, 1977) menunjukan perbedaan antara stratum bunyi pada novel karya Dreiser dan stratum bunyi pada sajak “The Bells” karya Poe hanya bersifat kuantitatif; jadi tidak bisa dijadikan dasar untuk mengelompokkan dua jenis sastra, fiksi dan puisi. Dalam banyak karya sastra, termasuk karya prosa, stratum bunyi menarik perhatian dan merupakan bagian integral untuk menghasilkan efek estetis. Ini berlaku terutama untuk karya prosa yang di susun dengan gaya puitis (yang per definisi merupakan susunan sistem bunyi bahasa).

Sementara itu pada puisi kontemporer (Indonesia) berkembang pula puisi yang ke prosa-prosaan, dan keberadaanya jika di amati mulai dipertimbangkan dan di sahkan sebagai salah satu ragam (bentuk) puisi yang makin ke sini makin sering digunakan sebagai sebuah “strategi” bentuk puisi oleh banyak penyair.

Namun walau demikian, pada puisi yang ke prosa-prosaan (sekali pun sering dikatakan tidak lebih tertib dan ketat pada matra dan rima sebagaimana sajak murni) rima dari ragam bunyi-bunyian tetap menjadi penopang utama sintaklis dalam memunculkan efek estetis dan upaya yang lebih utuh dalam menemukan makna yang dikandung sebuah puisi yang keprosa-prosaan.

Dalam buku antologi puisi “Memoar Kehilangan” karya penyair muda Sabiq Carebesth, kita menemukan sebagian puisinya juga dalam ragam bentuk puisi yang ke prosa-prosaan, namun menurut pengamatan saya Sabiq bisa menjaga diri agar puisinya tak sampai jatuh kedalam bentuk prosa murni seperti cerita pendek misalnya, dan hal itu dilakukan dengan cara menjaga ketat puisi panjang yang keprosa-prosaan itu dengan rima dan matra pda setiap sintaklisnya:
“Cinta adalah cahaya paling tua yang ingin rebah menjadi kemolekan tubuh telanjang di hadapan penyair mabuk: agar tercatat dan terkenang sebelum penghabisan di persimpangan.

Lukislah aku sekarang, dalam kanvas jiwamu, bingkailah tubuhku dengan rindu purbamu, pujalah di dinding sepimu, masih adakah tempat itu di hatimu kekasihku? Aku tak tahu lagi caranya melukis, kanvasku sudah hancur, lusuh digilas waktu yang maha pilu: dan rinduku padamu telah menjadi batu.”

Selai itu, dalam beberapa strategi puisi yang ditulis Sabiq, unsur rima masih memainkan peran dengan permainan vokal a, I maupun u yang umum digunakan dalam penulisan sanjak, seperti sajak “Babak Asmaradana” ini:

Memilih kuda pacu
Niat hati mau melaju
Tapi tunggu dulu;
Bawalah serta masalalu

Hal yang sama juga berlangsung dalam interior puisi-puisi sabiq yang lain.
****
Menurut pengamatan saya sebagai pembaca, buku sajak “Memoar Kehilangan” yang ditulis, bisa di bilang oleh pemula dan masih sangat muda sebagai penyair, 26 tahun, kekuatan dari rima dan efoni serta komposisi matra dalam setiap sintaklis komposisi sajak dan puisi Sabiq adalah penopang dan penjaga yang membuat karya sabiq dalam “Memoar Kehilangan” ini berhasil menyajikan sebuah bentuk puisi dengan berbagai eksperimen ragam yang berhasil. Karya “Memoar Kehilangan” ini dengan konsisten menjaga setiap bunyi seperti bunyi itu membawa pembaca puisinya menjauh kepada masalalu. Melalui efek bunyi yang dimunculkan dalam puisi-puisinya pembacanya dimbimbing kepada tempat di mana puisi-puisi dalam “Memoar Kehilangan” ini diambil untuk kemudian di susun penulisnya menjadi sebuah teks sastra puisi: kenangan. Kenangan yang sekaligus menjadi tema bukunya. Kenanangan yang menempuh jalannya sendiri diluar konstruksi bahasa masa lalu sebagai sebuah teks sejarah tentang waktu yang sudah berlalu. Dan sebagai sebuah buku sajak yang emngambil tema kenangan dan kehilangan, puisi-puisi sabiq berhasil memabuat waktu seperti membeku dan bahasa oleh sabiq dibuat berhenti dalam sebuah gerhana waktu dan gerhana bahasa sekaligus.

Bahasa yang dihentikan atau terhentikan dari perjalanan perubahannya, dalam puisi Sabiq menjadi sebuah entitas dimana kita bisa menyimpan kepercayaan-kepercayaan kita, sejarah identitas, dalam peralihan waktu seperti ini. Dan memori diperlakukan sebagai ibu kandung dari kepercayaan maupun sejarah identitas ini.

Demikian puisi Sabiq juga tampak berhasil menghindar dari keumumam dan simplifikasi mau pun keterjebakan dalam propaganda dunia sehari-hari. Puisinya seperti tidak tersentuh oleh konstruksi sejarah apa pun yang memprovokasinya, bahkan oleh konstruksi sejarah yang sistematis dan kontinyu terus berusaha menguasai waktu dan memperspektifkan realitas.

Pada akhirnya saya setuju dengan apa yang dikatakan Afrizal Malna dalam pengantar untuk buku “Memoar Kehilangan” ini, saya kutipkan sebagai penutup tulisan ini: “Dalam prosedur waktu puisi Indonesia modern di mana kesepian merupakan nyanyian bersama para penyair modernis umumnya, maka kesepian pada puisi-puisi Sabiq Carebesth merupakan keterkecualian: Kesepian diterima bukan sebagai terbelahnya waktu oleh perubahan. Melainkan, karena berhentinya kenangan pada periode tertentu bersama dengan bahasa, visi, hubungan-hubungan antara manusia dengan alam, maupun dalam pergaulan gender. Kesepian bukan dalam perspektif modernisme yang mencari masadepan sebagai harapan, melainkan justru mencari masa kemarin sebagai cara melihat sejarah dari dalam kenangan.” Selamat membaca. ***

Data Buku:
Judul Buku : Memoar Kehilangan
Penulis : Sabiq Carebesth
Penerbit : Koekoesan, Depok
Cetakan :I, Januari 2012
Halaman : xxiv+89

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Juni 2013
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Pengunjung

  • 44,765 hits
%d blogger menyukai ini: