ttg renda-renda kesenian “Willy” Rendra

Tinggalkan komentar

Mei 16, 2013 oleh sabiq carebesth

merenda Rendra#tulisan saya ttg renda-renda kesenian “Willy” Rendra” at Voice+ Vol 10 Mei 2013 (cover utama Lola Amaria)–bisa didapatkan majalahnya di Toko Buku di Jakarta, Gramedia, Leksika & Gerai Sevel 7, Jakarata.

Sinopsis
–Merenda Rendra–

Yogyakarta tahun 1974, bocah lelaki yang tengah menginjak dewasa itu mendengar suara-suara seperti jeritan, dan ia menulis sajaknya: Aku mendengar suara/ jerit hewan yang terluka../Orang-orang harus dibangunkan./Kesaksian harus diberikan. /Agar kehidupan terus terjaga…

Apa arti Rendra untuk manusia zaman sekarang? Pasti akan dikatakan bahwa pemberontak yang menentang dewa-dewa kekuasaan ini adalah model bagi manusia kontemporer, bahwa suara protesnya yang bangkit puluhan tahun yang lalu di Halaman ITB (Institut Teknologi Bandung) 19 Agustus 1977 ketika membacakan puisinya “Sajak Sebatang Lisong”, memuncak hari ini dalam sebuah ledakan sejarah yang tidak pararel. Namun pada saat yang sama, sesuatu mengatakan kepada kita bahwa korban penganiyaan zaman ini—jerit hewan yang terluka– masih berada di antara kita, dan bahwa kita masih tuli terhadap jeritan keras pemberontakan manusia yang memberi tanda kesepian; seperti potret pembangunan dalam puisi (1993).

Tahun-tahun kemudian lahirlah dari tangan Rendra muda “Sajak Malam Stanza”. Penemuan dirinya berkembang melalui bentuk lyris, dengan segala gapaian gelap dari bawah sadar, kecemasan pada maut, keterpencilan dan kesepian; juga penghayatannya yang ekstatis dari puncak-puncak eksistensi manusiawi tentang kebebasan. Tetapi mawas diri dan penemuan diri Rendra tidak pernah lepas dari kaitan dengan masyarakatnya, kaitan dunia dan kosmos, yang senantiasa menjiwai sajak-sajak Rendra sejak mulanya.

“Apalah artinya renda-renda kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apalah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. Kepadamu aku bertanya..?” (Sajak Sebatang Lisong)

Apa yang mengesakan dari Rendra adalah ia bersetia kepada dirinya sendiri. Ia tumbuh dan mengecap pengaruh dari sana-sini, ia mempunyai segi-segi dan saat-saat kelemahannya. Namun hampir setengah abad ini Rendra menjadi “ikon” utama perikemanusiaan di Indonesia. Dan “pemberontakan” bisa dikatakan sebagai tema dominan karyanya.

“Yang saya maksud dengan pemberontakan bukanlah pemberontak yang memperjuangkan kekuasaan pemerintahan atau lembaga lainnya. Pendeknya bukan mereka yang memberontak dengan orientasi politik atau kekuasaan. Melainkan mereka yang selalu memberontak terhadap keterbatasan keadaan dirinya. Jadi kaum pemberontak yang sejati akan mempunyai orientasi: mengulur batas-batas situasi manusia.” Demikian Rendra pernah menulis semasa hidupnya.

Dalam pengertian itu, Rendra sang penyair dan sang manusia adalah memang pemberontak; seorang yang selalu sibuk dengan melonggarkan kungkungan dan pembatasan-pembatasan keaadaan manusia, “dia ingin mengulurnya.”

kover utama Voice+ Vol Mei 13

kover utama Voice+ Vol Mei 13

…kendati terombang-ambing oleh suatu kurun yang tak menentu dari Surakarta, Yogyakarta sampai Amerika, benang merah kesenian Rendra tak pernah putus, kesaksian; dengan memperdengarkan pertanda-pertanda; tidak untuk membawakan pemecahan politik, namun untuk menunjukan jalan kearah pengertian dan harmoni. Hal yang tampak nyata dalam tokoh Jose Karosta, sang penyair dalam drama “Mastadon dan Burung Kondor” 1973. Dari drama inilah asal nyanyian “Sajak Burung-Burung Kondor” yang terkenal itu lahir; Burung-Burung Kondor itu sebagai roh-roh bangsa yang menderita, yang di malam hari menjauhkan diri ke atas gunung, mencari sepi dan mendapat hiburan darinya—“Karena hanya sepi mampu menghisap dendam dan sakit hati.”

Rendra Sakit. Berbagai upaya pengobatan tak menyembuhkan sakitnya. Selama sakit itulah, dia dijaga siang malam oleh anggota Bengkel Teater dan sejumlah kerabat. Berkat bantuan seorang kenalan lama, dia kembali teringat meditasi. Tanpa buang waktu lagi, dia melakukan meditasi dan berhasil menghilangkan frustrasinya. “Masa saya begini hancur. Lalu saya coba menulis Allah, bismilah. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar kembali”.

Kupanggil kamu, kekasihku/ kubutuhkan kamu di meja makanku/ duduk di sisi dukaku/ membelai luka-luka dalam jiwa,

Demikian lah Rendra yang sederhana, sejak menginjak dewasa sampai tua, tidak pernah punya tempat tidur. Dia hanya tidur beralaskan tikar. Meja tulis saja, baru dimilikinya setelah diberi oleh Hariman Siregar. Bahkan menjelang wafatnya, penyair sebesar Rendra kepada karibnya Emha Ainun Najib curhat ingin punya mobil Innova, hal yang tak pernah kesampaian sampai baris puisi terakhir yang ditulisanya pada 31 July 2009 di Rumah sakit Mitra Keluarga, “Tuhan aku cinta padamu”. Puisi untuk terakhir kalinya itu tak sempat lagi terdengar seperti gelegar suara Rendra yang biasanya, sebab hari itu 6 Agustus 2009 Rendra meninggalkan Indonesia Raya menuju Tuhannya diusia ke 73 tahun.

Sepotong sajak Rendra tentang Ronin (samurai yang menganggur): “Akulah Ronin yang mengembara/Air sawah minumanku/Dingin malam selimutku/Aku setia mengunjungimu” –sajak yang tidak pernah didokumentasikan, kecuali oleh Danarto, telah secara gamblang menampilkan sosok Si Burung Merak, seniman besar Indonesia yang merdeka yang tetap setia mengunjungi masyarakat Indonesia, mengabarkan kemerdekaan berpikir, berkehendak, dan melakukan segala sesuatu.

“Rendra, aku menunggumu, di awal musim dingin, yang membuat November berwarna putih. Kita berjanji, tidak membawa Hamlet dan Amangkurat ke pesta itu. Pesta yang penuh dengan bau tangan ibumu.” (rendra diares: lubang bahasa”)

twitter @sabiqcarebesth, 2013

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Mei 2013
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Pengunjung

  • 43,809 hits
%d blogger menyukai ini: