#Tentang waktu yang ketika sore hari tiba seorang penyair gagal menitipkan rindunya pada masa lalu

4

April 10, 2013 oleh sabiq carebesth

IMG_2808#Tentang waktu yang ketika sore hari tiba seorang penyair gagal menitipkan rindunya pada masa lalu

Memanggili hari dengan tahun-tahun dimana sore yang kita lewatkan telah menyadarkan betapa jauhnya kita telah berlalu dari waktu. #tentang waktu yang ketika sore hari tiba seorang penyair gagal menitipkan rindunya pada masa lalu.
“Aku tahu apa artinya senja yang berakhir hari itu? Betapa kita tak pernah sanggup menyandingkan senja denagn hujan yang melanda kota di mana kita pernah ingin menangis sebeb cinta rupanya adalah kerinduan abadi senja kepada hujannya. Ah..

Kenapa hatimu begitu tertutup? Adakah ketakutan pada rindu mencegahmu lelap di bantal masa lalu? Seperti penyair yang tak akan pernah memahami puisinya sendiri.

#sesekali seorang penyair boleh gagal menulis puisi. Dan ia akan lagi teringat kepada anak kecil yang mengira ranjang tidurnya adalah panggung dimana semua orang siap melemparinya dengan bahasa sampai ia terbakar dan seorang penyair menulis sajak untuk puisinya hari itu: ??!?!/() ? Adakah ketakutan pada rindu mencegahmu lelap di bantal masa lalu? Seperti penyair yang tak akan pernah memahami puisinya sendiri.

Sabiq Carebesth, 2013

#Tentang Kenangan

Kalbuku di tengah awan mencari sebuah kenangan yang tercuri dari hening masa silam; apakah ini sudah berakhir? Dan bumi meluruhkan sebuah impian yang menunggu waktu ketika seorang akan berdiri lebih tegak untuk mimpinya. Oh..oh.. sebuah suara melandakan keintiman dalam darinya; sebuah janji tentang waktu yang menunggu__benarkah kau takkan menggenggam kalbuku walau seribu nama–nama kau hapuskan dari keningku?

Kemana kau akan pergi nanti haruskan kuturut pada matamu; tersesat lebih dalam ke inti kalbumu tanpa jembatan yang menghubungkan dengan sebuah genta dari bunyi nama-nama yang kau serukan sebagai pemujaan pada kenihilan;
Bawalah kalbuku diam-diam menarikan bunyi dari nama-nama yang di nyanyikan dengan dentuman kenangan akan waktu yang tak mengenal bahasa; bawalah kalbuku diam-diam ke tempat tanpa bahasa-bahasa tanpa nama-nama; di sana kau mungkin menemukan kenangan..

Maret, 2013

#Tentang Kenangan Di Buku Harian
Kutemeukan kenangan di buku harian, tentang malam dan kesunyian: tentang penantian tanpa musim dan angin, hanya sebuah waktu, yang terlalu pendek untuk akhirnya tahu sepucuk surat cintamu urung terkirim; melapuk dan menua, sepertiku sekarang, sepertimu sekarang. Kamu dimana, sekarang ?

Kelam menengadah muka di ujung malam; menjadi halaman-halaman kosong dari buku harian yang gagal membangunkan rumah bagi waktu kita yang enggan menjelmakan kuda pacu agar bisa kita melaju ke dalam waktu; dimana kita akan duduk, sambil menganyam kerudungmu agar bila nanti turun hujan bisa kusembunyikan wajahmu dari kebekuan yang menarikmu ke dalam masa silam sewaktu sekuntum bunga seroja menengadahkan kekelaman dari hujan yang menjelma air matamu.
Di gurun yang tiada terik, hujan tiba sepanjang senja, akankah pada kalbumu merentang kelambu dari benang paling halus kerudung kalbumu yang terbuat dari sehelai bulu matamu yang telah jadi kaku sebab dingin dari hujan yang kau resapi dengan pandangan penuh duka di antara suara-suara malam yang mengabarkan keberangkatan? bahwa hari itu kita berpisah. Pada hujan sewaktu kita gagal melukis nama kita di kaca jendela. Kita lalu sama beringsut dalam dingin kaku, ingatkah kau?

Aku mencarimu di antara hujan yang merobohkan pohon-pohon, itu yang kutakutkan. Dadaku menyesak luruh lunglai terhuyung menembus kabut mencari sepanjang batas gapai, alangkah rindu kalbuku. Ada apa?

Oh dimana jalan agar petang mengantarkan kelam dan bisa lagi kutempuh jalan dimana puisi menjelma hujan sewaktu wajah kita memadahkan asmara di kabut kelam kota sewaktu sekuntum bunga seroja menengadahkan kekelaman dari hujan yang menjelma air matamu usai membaca surat terakhir dariku yang urung mengatakan aku cinta padamu.

Desember 2012

#Alangkah kanak-kanaknya cinta;

Kabut menggelayuti sepanjang punggungmu, sisa hujan masih menggenang di antara jalan-jalan yang menyembunyikan jejak tari-tarian paling sublim dari jiwamu yang hendak menyongsong sedalamnya getaran yang tak pernah dapat kau pahami bagaimana sebuah puisi tiba-tiba menjelma keheningan sebuah rumah dan kau hanya ingin bersandar di pundaknya;
“Bagaimana jika kabut dingin itu berlalu dari kebun bunga yang kutanman di pematang kalbumu? Apa masih kau ingat bunyi dari setiap angin yang membawakan aroma asing tentang masa depan?”

Betapa takutnya kita dengan masa depan; sebab di sana lingkaran tanganmu punggungku hanya tinggal kenangan; di pundak ringkihku hanya tersisa halus bekas bibirmu dahulu.

Aduh bagaimana aku harus memohon untuk sebuah kenangan? Agar tetap tinggal di antara reruntuhan waktu yang telah memilih berduka waktu itu? Oh jika saja waktu tak pernah terbelah; sebagaimana sebauh usia muda menghamparkan keluasan dan getaran; sebelum sebuah nyanyian mengambilmu dari keriangan. Alangkah kanak-kanaknya cinta;

2013

#Nyanyian Sunda Kelapa

Dari jauhkah dara tiba di Jakarta?

Di antara tali-tali kapal yang mengikat senja
Nyiur bau asin pada buruh angkut membisu saja
Di bawah senja di Sunda Kelapa
Antara kita hanya setapak jarak saja
Sungguh pun laut di sunda kelapa
Memajang gambar kesunyian kita

Di Sunda Kelapa kutambatkan cita
Pada matamu jelaga menghitung masa
Kan juga tiba kenangan rebah di dada
Sebagaimana kita hendak ke tengah samudera;
Siapa bilang Cina-Jawa tak bisa bersama?

Ah di Sunda Kelapa; nyiur angin merenda cerita
Antara kita nanti tinggal kenangan di samudera.

2013

Sabiq Carebesth is the author of “Memoar Kehilangan” (2011) Kini tinggal dan bekerja di Jakarta. Twitter: @sabiqcarebesth

sumber;
Oase kompas.com 4/4/13
http://oase.kompas.com/read/2013/04/04/00394299/Puisi-Puisi.Sabiq.Carebesth

Iklan

4 thoughts on “#Tentang waktu yang ketika sore hari tiba seorang penyair gagal menitipkan rindunya pada masa lalu

  1. Anonim berkata:

    sebelumnya kami minta maaf karena tidak meminta ijin terlebih dahulu.
    beberapa hari yang lalu kami terinspirasi dari puisi ini dan mencoba memvisualkannya

    • sabiq carebesth berkata:

      kita tak pernah benar-benar sanggup pada seni; pada puisi; pada cinta ; suara kemurnian abadi antara jalan-jalan keriangan dan kekosongan; selalu sebuah pemberontakan sekaligus peribadatan yang kudus.

      seperti kita, saya juga jadi ga bisa berkata-kata, visualisasinya mendalam, indah walau pun saya juga tak mengerti dunia seni visual/gambar; tapi semua berlangsung murni dan indah sekali visualisasinya. terimkasih banyak. semoga ttg waktu bisa duduk sebangku di sudut sebuah peron stasiun kereta di jakarta.

      salam,
      /ditunggu kabar-kabarnya di twitter ya; @sabiqcarebesth

  2. Oddie berkata:

    Apa pun isinya di posting ini, komentar saya: luar biasa gaya kawan ini di fotonya ckckck hehehe..

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

April 2013
S S R K J S M
« Mar   Mei »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Pengunjung

  • 44,282 hits
%d blogger menyukai ini: