# Sebuah Pemakaman Bahasa Di Atas Kasur

Tinggalkan komentar

Maret 7, 2013 oleh sabiq carebesth

# Asmaradana

img_62871Duduk sendiri dalam etalase waktu yang memajang tubuh mati, senyuman tanpa rona; seperti hujan di terik sewaktu burung gereja kehilangan daun yang menyembunyikan serangga; seperti masa lalu menelan seluruh kotamu dalam kenangan.

Jalan-jalan kembali asing bersama mendung yang menggenapi petang yang begitu sia-sia menjadi pemanis malam sebelum kelam sungguh-sungguh membentangkan masa lalu di atas ranjang; telanjang bulat menjadi waktu di jam dinding berwarna kelabu, namun pada matamu tetap saja rahasia paling sunyi yang dikandung lautan biru tak kunjung tergenapi; kepada yang dirindu tak pernah sanggup kehilanganmu mencumbu.

Inilah tangisanku yang tak mungkin kau pahami, lirih jeritnya hanya sepetik tali harpa dalam sebuah pesta pora tentang lupa dari masalalu yang terlalu pilu untuk dikenang sebagai keberlaluan waktu oleh sejumput hujan yang menepikan namamu di atas pasir dalam pantai jiwaku dimana ribuan kuda pacu tengah menderu menuju kesendirian; menempuhi suara yang membimbing bunyi kepada kedalaman dari ketidaksanggupanmu menyembunyikan cinta.

Itu lah waktu dan ruang bagiku, dan bagimu, kekasihku; dan aku membuat ribuan jendela, aku membukanya beribu kali berkali-kali tapi tak pernah kutemukan kota dengan bus kota, jembatan panjang, gedung-gedung tua dengan burung-burung yang meulikaskan masalalu menjadi lebih sempurna dari kesakitannya; dan lorong-lorong sunyi dari kali-kali mati di pinggir jalan tanpa lampu malam di mana dulu kita pernah berjanji berkali-kali untuk saling bertemu, kembali.
Aku membuat lagi jendela dari pengapnya ruang yang memenjarakanku tanpa waktu dari detik dan dentangan jam; waktu yang kerap menjadi kecil bagi masa depan yang angkuh bagi waktu yang meresmikan diri menjadi masalalu; dan kubuka jendela, ah tapi semua kembali hampa; tak ada kota yang sama seperti kota milik kita waktu itu, tak ada senja seperti senja yang waktu itu, sayangku; sewaktu kau mengucup bibirku dengan air mata terakhir yang bisa kusingkap sebelum akhirnya kalbuku menggigil, kembali di dekap sunyi, kembali tak mengerti

2013

# Selamat Malam

Waktu yang merenggutmu dari takdirku adalah puisi paling sunyi yang digariskan di atas kanvas sebagai lukisan surgawi yang maha ngeri. Tujuh puluh ribu kehilangan yang kutempuhi menjadi rindu tanpa penghabisan; menjelma kutukan bumi dari nyanyian waktu yang menyuguhkan kepedihan yang kau kira lukanya disebabkan persetubuhan paling kelam malam itu; senggama dari ribuan nafsu dalam gejolak paling pasang dari gelombang jiwa yang nganga disapu rasa hampa yang ingin digenapi janji persekutuan abadi tanpa dinding dan puisi. Persetubuhan asamara kita malam itu meniti tiap jengkal dari tebing samudara yang menggelegar di antara leher dan dagumu. Malam kini samudera itu masih kah ada? Selamat malam, tapi apakah ini malam?

2013

# Malam di Mata Lembutmu
Malam yang sekarang bukan malam yang kemarin, tapi malam memanglah malam pada malamnya yang kelam; dihujam-hujamnya segala yang tajam kedalam dirinya seperti sebuah ritual kehampaan, malam yang muram bagi jiwa yang menyunggingkan hasrat kebebasan.
Tumpah ruah pada malam kini, kesepian pada tempatnya sendiri, sesunyi-sunyinya, disandarkan kepada hening yang nyaris tak dapat dikenangnya.

O, kemana ramai lampu kota dan canda kepiluan dari cinta yang ditaruh dibibir nasib, pada malam kini tak ada yang mencari malam. Malam pada malamnya sendiri, berjajar seperti barisan waktu yang berdetak lirih-lirih pamit berlalu.

Bahasa tiba-tiba menjadi berat, bobotnya seperti mendung luluh lantahkan bunyi dari setiap kidung yang dibunyikan dengan bahasa yang berat seperti suara jazz yang tak pernh ingin berhenti dalam jeda-jeda yang mematah-matahkan rasa menjadi gelombang rasa yang aduhai berat serupa tubuh telanjang di etalase toko yang memajang kenangan ketaktergapaian, duh aduhai… pada tangismu yang tak bisa kudengar lah bahasa kerap kali kurebahkan; tapi apa kau tahu?

Sebuah tatapan menyelinap, kupandang jelas pada bola mata yang terpelanting dalam kolam jiwa yang maha meragu, pandanganmu yang biasanya, tatapan mata lembutmu…

2013

# Sunyi
Tak ada kelambu rindu bagi dingin di malam kelabu; sejengkal jarak dari jiwa yang mengamuk meluluhlantahkan setiap gejolak; mengubahnya menjadi diam yang melesatkan segala gerak. Cinta menjelma onggokan bisu dari karang dada yang menyesak; kapankah ia berganti rupa? jadi deburan ombak yang menggelombangkan hasrat rindu agar terpecah sunyi.

Aku menelan sendiri ribuan tanya yang pada wajah lelapmu berganti menjadi rahasia paling purba di mana gelap dan cahaya dipersatukan oleh kegamanganmu. Cinta yang dulu hamparan kebebasan menjelma bulir dari tiap keterasinganmu; Aku jadi senyap jadi sebutir awan jadi sungai yang mengalirkan air ke jauh, tak pernah tahu perahu kertasmu di hilir yang mana, lalu malam berakhir dengan segala kebisuan; bagai air surut dari kali jiwa setelah gemuruhnya hempas.

2013

# Asmara Tanpa Senggama
Di kota tanpa nama, apa aku tersesat di antara ribuan kehilangan-kehilangan yang tak bernama; tak ada duka lara cinta dan hampa tak ada; yang ada tak ada memang demikian engkau dan aku ada di tengah kota tanpa senja tanpa sungai tiada air tanpa kebanaran dan kesalahan kecuali semua benar kecuali semua salah; hanya ada aku hanya ada engkau, tak bisa sembunyi sebab dinding-dinding telah berganti gambar-gambar tanpa kata, tanpa angin dan jelaga makna menyisakan satu cahya mengukir nama yang bukan aku menamai kecuali engkau menyebut namamu sendiri; aku gemataran seperti sekujur nyawaku ditali oleh namamu, jangan mengagetkanku, aku gemetaran;gemataran-gemetaran; dingin membekukan, apa aku gila? Rangkullah aku hingga hilang seluruh, ya memang aku milikmu, kamu, hilang bentuk kembali menjadi kamu; ya memang padamu lah aku berkisah dan menyembah dengan asmara tanpa senggama; dengan rindu tanpa tanya, ya padamu lah aku ingin di ambil dalam kemabukan yang memurnikan kenekatan kesadaranku keharibanMu.

2013

#Bukankah itu malam yang kemarin?

Bukankah itu malam yang kemarin? Seperti rasa didekap gelombang, menunggu pasang diwaktu subuh nanti menjelang; apa kita kan bertahan?
Kita yang terlalu dini menjadi sepi sebelum sempat menempuh sunyi. Hai lihat, bukankah itu malam yang kemarin? Sewaktu cahya redup dijendela, dan redup pula rasa di sekujur jiwa, ah…

Januari 2013

# Sebuah Pemakaman Bahasa Di Atas Kasur

Tiba-tiba bahasa berubah rupa menjadi panti jompo, aku seperti kursi roda yang menunggu kerapuhanmu tersebab luka dari rindu kalbumu yang menua. Seeokor kucing diam di depan pintu, aku lalu kehilangan laguku dalam sekali tatapannya. Rupanya dicurinya dariku sebuah darah daging bahasa yang sejak lama kutimang dilemari tua dari jiwaku yang ingin memacu laju dipunggung waktu di antara sungai-sungai di punggungmu.

Aku tahu pada kalbumu masih rindu pada malam sewaktu kita biasa duduk di depan pintu, seperti kucing di depan pintuku, dan kau berada jauh di dalam matanya.

Maka pada jendela kamar yang bukan angin pada dinding berlumut ketabahan seperti ketika bibirmu dahulu kukucup dengan ragu dan seketika aku berada digerbang kalbumu yang menyeruakan aromo kepiluan paling dalam dari bahasa yang urung terlafadzkan menjadi air mata di kelopak matamu yang landai seperti kepiluan di tebing keheningan dimana dahulu di jendela kamarku senyummu tertinggal di kaca jendela sebelum jatuh dalam segelas kopiku dimana seoarang gila terbenam dalam iramanya tari-tarian kegilaan dari suara kalbu yang tertahan dalam kelam ngilu dari bahasa yang kehilangan cahaya dimatamu; barangkali dicuri seekor kucing yang menyembunyikan rindumu dibalik matanya.

“seandainya aku bisa menjadi lampu kota di tengah harimu yang sudah jadi malam.”
Aduhai alangkahnya malam ketika kutemukan sebuah pemakaman di atas kasur tidurku dengan nisan yang diukir dengan tarian paling ria pada pualam punggungmu dimana masih lagi bisa kusesapi wangi aroma kembang kertas dari tumpukan bahasa yang tak terbaca. Disitu dulu cinta dimakamkan, telah lama seoarang yang gemar dengan hujan bulan September tak datang menziarahi; barangkali puisi lupa menunjukan padanya jalan kembali.
ah, hari sudah jadi malam rupanya, kukucup keningmu dikaca jendela kamarku. Tapi di luar hujan pelan-pelan mencuri bibirmu dariku. Selamat jalan…

Jakarta, 2 Desember 2012

Sabiq Carebesth is the author of “Memoar Kehilangan” (2011) Kini tinggal dan bekerja di Jakarta. Twitter: @sabiqcarebesth

#puisi ini dimuat di kompas.com: Maret 2013, http://oase.kompas.com/read/2013/03/01/00502172/Puisi-puisi.Sabiq.Carebesth

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2013
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pengunjung

  • 46,296 hits
%d blogger menyukai ini: