Ekonomi: Pertumbuhan Manis di Angka

Tinggalkan komentar

Februari 7, 2013 oleh sabiq carebesth

oleh: Sabiq Carebesth

Sabiq carebesthEkonomi Indonesia mutakhir adalah sebuah darama sekaligus keajaiban. Di tengah terpaan badai krisis finansial Eropa dan Amerika, ekonomi Indonesia bisa melesat 6 % , bahkan mengalahkan India dan Cina.

Tidak hanya itu, dunia bahkan meramalkan Indonesia akan menjadi raksasa. Saat ini saja, jumlah orang kaya di Indonesia meningkat lima kali lipat, hal yang paling spektakuler dan tercepat dalam dekade ini. Majalah Forbes menunjukkan kurun 2008–2011, kekayaan 40 orang terkaya Indonesia naik empat kali lipat lebih. Angkanya sekitar US$20 miliar (Rp 190 triliun), atau setara dengan kekayaan 77 juta orang miskin di Indonesia, atau juga setara 70% APBN 2011. Fantastis, bukan?

DSC_0380(1)“Drama” kemudian dimulai ketika kita menyimak kenyataan bahwa Indonesia juga menunjukkan “pertumbuhan” angka kelaparan dan impor pangan yang sama tingginya. Data Global Hunger Index (GHI) atau indeks kelaparan global dalam sembilan tahun terakhir, menunjukkan Indonesia paling buruk dalam mengatasi kelaparan. Kinerja kita kalah jauh dari negara-negara yang dulu tidak ada apa-apanya, seperti Laos dan Kamboja.

Ironis. Di tengah kinerja penanggulangan kelaparan yang buruk, Indonesia juga sekaligus menjadi negara pengimpor utama kebutuhan pangan.

Secara faktual, ada dua hal yang bisa dicermati. Pertama: dengan pertumbuhan penduduk 1,49% per tahun, pada 2015 penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 255 juta jiwa. Penduduk sebanyak itu memerlukan beras dengan produksi setara 68,47 juta ton gabah kering giling. Untuk memenuhi beras sebanyak itu, dibutuhkan lahan padi 13,38 juta hektare. Namun, pada 2015 hanya tersedia lahan 13,20 juta hektare. Lahan itu saja masih tergerus alih fungsi. Singkatnya, Indonesia akan mengalami defisit lahan pangan seluas 730.000 hektare pada tahun 2015.

Kedua: Indonesia memang tampak belum serius mengurusi sektor pertanian dan masih menjadikannya anak tiri—bahkan sapi perahan bagi industrialisasi dan perdagangan berorientasi ekspor. Hal itu tampak misalnya pada kebijakan anggaran. Alokasi anggaran pada subsidi pangan dan pertanian pada APBN 2013 hanya Rp41,4 triliun, lebih rendah dari Rp42,7 triliun di APBNP 2012.

Nah, apa guna pertumbuhan finansial yang tinggi kalau hanya menguap dan kita kehabisan sumber daya karena sudah habis dijual kepada investasi asing? Bagaimana pertumbuhan yang faktor utamanya dari sektor konsumsi pangan hendak dipertahankan, kalau rakyat kebanyakan pendapatannya makin turun akibat kerusakan struktural di kantong-kantong kemiskinan, terutama di pedesaan?

Pertumbuhan ekonomi sejatinya bakal semu, kecuali pemerintah memperhatikan sektor pangan yang “berkedaulatan”, kemudian negara dan rakyat bahu-membahu menyediakan, menghormati, dan menjaga keamanan dan ketahanan pangan. Sejarah telah membuktikan bahwa persoalan pangan adalah persoalan “hidup-matinya bangsa”. Sejarah juga sudah terlampau sering bercerita kalau kegagalan pangan kerap menjadi awal kejatuhan sebuah rezim politik yang tengah berkuasa.

tulisan ini dimuat pada SindoWeekly edisi Januari 2013: http://www.sindoweekly-magz.com/artikel/45/i/10-16-januari-2013/analysis/99/manis-di-angka

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Februari 2013
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

Pengunjung

  • 46,295 hits
%d blogger menyukai ini: