Bencana Mental; (bagian Akhir)

Tinggalkan komentar

Oktober 26, 2012 oleh sabiq carebesth

Bencana Mental;

Pada Alissa sekarang, matanya menjadi semakin cekung, tubuhnya kecil, dan tak terawat. Sekalipun begitu ia nampak seperti perempuan matang yang tenang sehingga mungkin tidak akan ada yang menyangka bahwa jauh dalam dirinya ia seperti gelombang laut yang selalu gelisah dan tidak bisa tidur ketika malam harinya, dan selalu mimpi buruk; terjaga ketika tengah malam, lalu ngeluyur sendiri kehalaman rumah, kejalan-jalan, atau ketepian laut. Dan seperti lautan, pada keluasannya ia sendiri menderita kesakitan yang paling mendalam dari kerinduan yang tak sampai pada kucupan burung bangau.
Alisssa semakin lusuh, duduk di kursi sandar dikamarnya dan menulis, berpakain kuno dan memandangai kekosongan yang jauh di balik jendela seperti gadis remaja yang tengah menuggui sesuatu dengan paras beku dan perasaan putus asa. Namun kemurungan dan kepasifan itu perlahan-lahan menjadi dirinya sendiri dan Alissa merasai damai dalam dunia kecilnya yang ilusif. Singkatnya hal itu menggiringnya kepada ambang batas psikis yang rawan, tidak nyata namun mencekam dan menghadirkan rasa cemas. Menjadikannya seperti setiap orang yang menyerahkan diri pada dunia dan menginginkan bunuh diri.
Suster Magdalena berkunjung kerumahnya petang itu tatkala Alissa masih duduk di kursi sandarnya dan menulis. Ketika Suster Magdalena duduk di kursi yang menghadap padanya, Alissa nampak tak menggubrisnya. Tetapi suster Magdalena sangat tahu bagaimana bersikap pada Alissa dan membuatnya bicara, ia sama sekali tak menunjukan rasa simpati dan iba pada Alissa.
“Aku tak ingin seperti orang yang ditinggalkan dalam kegelapan. Jadi apa yang aku lakukan, tak dapat kuhindarkan. Ya, untuk memastikan, kupikir aku dituntun oleh Tuhan. Aku menarik dari kepercayaan itu sebuah kepastian akan kebahagiannku. Dan kemudian aku terus berhenti untuk mempercayai bahkan dalam hal itu, sehingga tergantung hanya pada diriku sendiri. Tapi sekarang aku tidak mengenali diriku sendiri dalam tindakan-tindakanku. Ada satu hal, satu hal yang menyakitiku, dan yang namun demikian diciptakan bersamaku, yang tidak ingin kumiliki; cinta–sehingga segala halnya terasa berubah. Atau sekurangnya caraku memandangnya berbeda; dan sekarang segala sesutunya tampak berbeda.—kalau begitu apakah ini berarti Tuhan sedang membutakanku?” kata Alissa setelah beberapa saat lamanya merasa dirinya di abaikan suster Magdalena. Bicaranya lebih seperti seorang yang menggumam. Kemudian kembali pada pensil dan buku hariannya.
“Kengerian hukuman yang kau tanggung telah melebihi kengerian sebentuk kejahatan atau dosa yang kau buat.” ujar Nyonya Magdalena tanpa melihat kepada Alissa.
”Aku rasanya, ingin melarikan diri dari Tuhan yang menyelubungiku dan lari juga dari diriku sendiri. Sesuatu yang absurd dan supramanusia sedang menyiksaku. Bahwa aku tak tahu jenis penderitaan baru apakah ini.” Balas Alissa.
“Kita harus berhenti melihat yang tampak untuk dapat mengerti apa yang tak terlihat. Kita harus berhenti melihat dunia, jika kita ingin melihat Tuhan. Kenalilah dirimu sendiri niscaya kau akan mengenali-Nya,” Nyonya Magdalena menatap Alissa. Kemudian ia meneruskan. “dan aku hanya dapat mendoakanmu untuk jenis kebijaksanaan adi manusiawi yang sedang kau jalani. Namun pikiranku tak dapat menemanimu sepanjang jalan itu. Aku tetap seorang anak bumi ini dan percaya bahwa manusia, dari jenis apa pun, dan bagaimanapun salahnya kau menilai dia, harus memainkan kartu yang dia miliki. Tak diragukan lagi kau telah dapat menggunakan kemalanganmu dan menarik keuntungan dari sana untuk memperoleh kontak yang lebih erat lagi dengan Tuhan.” Kata Suster Magdalena mencoba menasehati Alissa.
“Atau malah tidak sama sekali. Seolah-olah ia tak ada.” ujar Alissa ringan.
”Semua yang kurang bertumbuh dalammu adalah penderitaan. Kembalilah pada wajah-Nya yang kudus.”
”Aku telah merasakan hal-hal baik dari bumi. Adalah manis buatku berpikir bahwa sesudahku, karena aku, menusia akan melihat diri mereka lebih bahagia, lebih baik, dan lebih bebas. Demi kebaikan kemanusiaan masa depan, aku telah menyelesaikan tugasku. Aku telah hidup. Aku menjalaninya dan kurasakan deritanya, dan aku tidak mengeluh atau berusaha megobati sakitku.”
”Bukan kebahagian yang harus kau harapkan, tetapi penyelamatan.”
***

Ketika kehidupan lahir makin tertutup dari Alissa, makin ia merasakan suara hatinya. Demikianlah Alissa berani menyanyikan kegirangan dalam permainan pianonya; sedang ia menarik diri dari jurang kesedihan. Ia ingin memuja kegirangan yang direbut dari penderitaannya sendiri, sampai malam habis, sampai pagi berkabut dingin kembali mengganti harinya yang lain.
Hari-hari berlalu, Alissa sesungguhnya tidak pernah dapat melupakan akan hari yang hujan itu. Maka ia akhirnya hanya dapat meyakinkan dirinya dengan suatu pikiran eksistensial bahwa barangkali segala sesuatu dalam hidup ini mesti dibiasakan. Hidupnya pun menjadi terasa absurd, paradoks, komplusif, jungkir, dan melelahkan.
Adalah periode yang penuh kesulitan bagi gadis jelita yang sensitif ini ketika ia harus terjebak dalam suatu cinta yang absurd dan ahirnya membuatnya begitu depresi seolah ia tercuri dari dirinya sendiri;terjebak dalam suatu kelelahan menyeluruh seperti ia merasa telah terlepas dari inti kehidupannya. Dan itulah waktu-waktu ketika ia merasakan dirinya bagaikan kuda; ia mondar-mandir melihat bayang-bayang dirinya sendiri maju-mundur dihadapannya. Dan ia tahu ia harus berpaling dari dirinya sendiri untuk bisa melihat…tapi ia mesti berpaling kemana? Sanggupkah ia melarikan diri? Bukankah ia sudah melewati masa kanak-kanaknya yang berat, dan dari penderitaan batinnyaya itu ia kemudian menraik seutas tali halus kebahagiaanya. Hanya bukankah ia tidak mencari kebahagiaan? Ia menyadari hal itu, yang dicarinya adalah dirinya sendiri, siapkah ia di bawah langit yang luas ini? Untuk apakah ia hidup dan berusaha untuk menjadi manusia yang wajar seperti siapapun. Ia lelah untuk menjadi sama dengan kehidupan, ia ingin menjadi sesuatu seperti yang di inginkan nuraninya sendiri, tapi hal itu selalu tidak mudah, yang diinginkannya tampaknya adalah segala hal yang berbeda dengan dunia di sekelilingnya; ia tak berniat untuk menjadi demikian, tapi dorongan yang begitu kuat dalam dirinya selalu tidak dapat ia tentang, apakah dirinya komplusif atau seorang yang reaktif? Bukankah dalam semua itu ia pun menjadi seorang yang sangat absurd?
“Aku adalah yang ingin berlari ke depan?” demikian pikirannya selalu bertanya-tanya, “tapi apakah aku akan melakukan itu sebagai gembala? Atau sebagai perkecualiaan? Atau justru aku hanya ingin meninggalkan diriku sendiri?” dan selalu lah terasa baginya kehiduannya adalah antara dirinya sendiri dan ilusinya. Ia berharap, dalam keadaan yang sebenarnya ia sadari keterjebakannya dalam labirin dirinya sendiri, ia berharap akan datang sebuah perahu kecil dari perlambang kemurnian hatinya yang akan membawa keluar menemu jalan. Sayangnya hal itu selalu terasa mustahil bersama dengan keinginan hatinya yang terasa mulai berlebihan dan berada jauh diluar kesadarannya.
Maka sejauh apapun ia dapat mengenangkan semua yang terlewati untuk meyakinkan dirinya pada masa depan hubungan cintanya yang absurd dan berharap akan datang suatu kesempatan di masadepan untuk mempertemukan mereka kembali, kenyataanya semua itu hanya melelahkannya saja. Melampaui apa yang bisa ia pikirkan untuk kerinduaan hatinya pada kisahnya bersama Galen, sepanjang hari ia menunggu, mencari dan menyusuri jalan-jalan dari Gereja sampai jalan pulang menuju rumahnya, namun tak sekalipun ia menemukan isyarat bahwa harapannya akan segera menjadi nyata.
Sepanjang pagi saat ia bangun dari tidurnya yang buruk, ia selalu menanyakan hari apakah ini dan tanggal berapakah sekarang; dan ibunya dengan rasa kecewa yang ironis selalu meyakinkan lebih dari dua tiga kali atas jawabannya. Ibunya pun semakin merasakan kerawanan mental yang menimpa Alissa.
Di dalam kamarnya Alissa menggunakan kelender lama yang sudah lewat setahun sebelumnya. Dua kenangan pun menghuni jiwanya, satu kehidupan ilusi yang pekat dalam bayangan nostalgia akan hari-harinya yang sejenak dengan Galen, satu kehidupan lainnya adalah dirinya sendiri yang sekuat tenaganya mau tetap terlihat wajar bersama dengan khidupan orang-orang yang mesra dan bersimpati padanya. Dalam beberapa momen Alissa berusaha keras agar dapat berkorespondensi dengan orang lain dan selalu mencoba hangat. Akan tetapi setiap orang yang mengenalnya di kotanya mulai mengerti betapa Alissa sebenarnya hanya memerdulikan imajinasinya sendiri. Akibatnya, Alissa menjadi selalu gugup kecuali pada saat-saat yang sudah tersusun rapi. Belakangan, bahkan pada saat sebaik apapun kesalahan-kesalahan kecil sering berlaku dan makin membuat kehidupannya kacau. Ia mulai mengurung dirinya di dalam kamar sampai batas waktu yang tidak wajar, tidak selalu bicara setiap kesempatannya. Ia tak lagi merasa bugar, bahkan mengalami kesukaran dalam menysun kalimat-kalimat. Bicaranya kurang baik dan tuturnya kurang mantap.
Semua kisah yang terlewati itu seolah menggariskan pada Alissa untuk mencapai keputusasaan dan rasa sepi yang kini dengan absurd merenggutnya. Pencarian yang sia-sia, melelahkan dan membuatnya begitu lelah.
Alissa semakin mengurung dirinya di dalam kamar. Menata sebuah rungan yang di pikirkannya sebagai menghasilkan ketenangan. Kamar itu oleh Alissa tidak diberi pencahayaan apapun kecuali beberapa lilin putih yang dipasang di pojok-pojok ruangan ini, beberapa lampu listrik berwarna gelap, tetapi tidak pernah terlihat menyala kecuali jika ibunya datang menjenguknya sekedar memastikan ia masih sehat. Sebuah jendela yang menghadap ke jalan dan pencahaayan akan langsung menerobos kamar itu ketika senja sore mulai rekah, atau ketika rembulan tangah purnama. Maka jadilah kamar di lantai dua rumahnya itu menjadi semacam pintu dari gua gelap yang pencahayaannya hanya serupa bayang-bayang.
Hal lainnya dalam kamar yang dipersepsikannya dapat memeberinya ketenangan itu adalah piano, lukisan kuda-kuda berwarna hitam dan putih. Kuda-kuda yang mungkin memimpikan untuk berlari dan menjemput kebebasan batinnya sendiri. Alissa mengkorespondensikan dirinya dengan hasrat kuda sebagai perlambang kebebasan dan penghambaan yang bebas dalam berlari menyusuri jalan dahaga. Tetapi seperti kuda-kuda itu yang tetap tak terfahamkan hasrat kebebasannya kecuali sebuah ringkikan yang terdengar senyap, serupa kesakitan, dan barangkali segala hasarat yang di inginkan imajinya adalah tetap rahasia. Sebab pastilah, setiap batin manusia memiliki damba yang sifatnya rahasia, dan akan selalu menjadi rahasia, atau bahkan diri sendiri saja tidak bisa memahaminya. Tetapi ketika manusia menemukan rahasia batin yang di kandung dirinya sendiri secara diam-diam dan sembunyi itu, maka saat itulah manusia menjadi dirinya sendiri; dengan intim sekaligus sepi. Mungkin pula terasing dalam suatu dunia yang tidak sama dengan dunia yang mengada.
Dalam kamar itulah Alissa kemudian banyak menulis. Tak seperti hari yang lalu dimana ia banyak menulis surat-suratnya, kali ini Alissa mulai menulis dengan runut dan panjang tentang dirinya, ia berpikir untuk menulis aoutobiografi kesepiannya sebagai sebuah memoar sebelum ia berpikir tentang kematian.
Di kamar itulah Alissa menghabiskan hari-harinya dan seolah ia mendapati apa yang di damba hatinya yang tengah kacau. Saat ia berharap ia menjadi dirinya sendiri, yang sebebas-bebasnya, seluas-luasnya, semerdeka-merdekanya, seenteng-entengnya, seringan-ringannya; sehampa-hampanya, sekali pun ia senidri merasa semua itu tragis dan ia terasing. Di jendela kamarnya pula ia gemar terduduk sedu menerbangkan burung-burung kertas.
Kamar itu seperti membayang dalam ruang kosong dan Alissa memenuhi ruang kosong itu. Ia sangat menyukai keheningan yang dialirkan dari kamar itu, ia memiliki dunia kecilnya sendiri sebagai teman; buku-buku, dan lukisan-lukisan yang dikerjakannyua sendiri dengan ekspresionis dan lebih merupakan intrepretasi yang bebas dari jiwanya, dan dunia kecil itu memberinya sutau perasaan nyaman dan bahagia tanpa harus mengeluarkan penghormatan dan teknik-teknik sosial yang tak ia miliki. kamar itu adalah dirinya. Seperti seorang seniman, ia membuatnya. Dan seperti karya seorang seniman, kamar itu membentuk Alissa; utuh dan terasing. Maka kehidupan Alissa pun terus dipermudah oleh kesendirian, kurang pandainya bergaul sebagai seorang gadis, dan segala macam kegagalan personal, karena ia tak mencurigai maupun iri pada orang-orang diluar kamarnya, dan ia memang menghindari mereka.
Apakah itu berarti sebuah pertahanan terhadap dunia luar yang kejam? Karena itu, setiap hal yang mengusik seisi kamarnya, mengusik bukan hanya pada kaca jendela, lukisan atau buku-bukunya, tapi juga pada dasar yang kuat yang telah menjadi diri Alissa sendiri. Hilangankan Alissa dari kamar itu dan ia akan tinggal sebagai seorang terasing yang telanjang, hampa dan sendirian. Demikian lah akhirnya.

******
Terkadang Alissa memikirkan bagaimana ia menginginkan semua keanehan yang tengah dilewatinya tanpa syarat, yang sekali-kali tersadari oleh akal sehatnya sebagai tidak wajar. Ia mendambakan momen-momen yang demikian; berharap mendapati keheningan yang didamba dari dunia ini. Kembali ke alam dan menyelaraskan diri. Tapi apakah artinya sebuah pengertian tanpa perasaan? Mengapa dirinya yang tumbuh sejak kecil dalam lingkungan yang saleh dan ketat, dibentuk dalam lingkungan dimana kisah hidup orang-orang kudus adalah modal dasar pendidikan dan sumber hiburan, tetapi kemudian semua itu seolah tidak dapat mengatasi kerisauan yang di kandung oleh hatinya. Kehidupan religius yang melingkupinya sejak ia masih sangat kecil, sejak umur tiga tahun, dan telah menjadikannya sebagai seorang gadis yang mencintai seni dan ilmu pengetahuan, kemudian kini melihat cermin dari perefleksian dirinya sendiri sebagai seorang perempuan yang menatap langit dengan tercerabut dari bumi; gagal mengatasi ilusinya sendiri. Terbang menjauh menembus awan jingga dan seoalah tak menemukan jalan kembali
Demikianlah dalam bulan-bulan terakhirnya menjelang tahun yang baru akan kembali, Alissa mengurung dirinya selalu dalam kamarnya, membeku seperti air terjun menghamba kepada batu-batu berlumut biru yang menua.
Selama masa-masa itu kehidupannya selalu dalam sangsi, diulati masa lalu, tapi demikian dirinya masih mau berkeras diri, seperti ia masih mau terus bernyanyi selagi ia masih dapat. Dan ia hanya berharap bisa menarik garis paling sederhana sekedar untuk mengerti perasaanya sendiri sekalipun setelah itu ia hanya menginginkan untuk berhenti.
“Aku telah melewati satu hari yang akan cukup buatku melewati sisa kehidupanku. Tidak akan ada hari yang akan lebih baik dari hari itu. Apapun yang terjadi dalam kehidupanku nanti, yang ada biyarlah ada, dan akan tetap ada.” tulis Alissa mengakhiri hari itu sebelum akhirnya ia lelap kembali disembunyikan bantal tidurnya.
***
Alissa tengah tegak berdiri diantara harapan dan hamparan kekecewaan yang menjegal dan menyakitinya setiap kali. Ia mencoba mengacuhkan perasaanya sendiri, mau melepaskan kenyataan yang di sadarinya sebagai ilusi belaka. Tapi sekali lagi ia gagal. Maka dibiarkannya dirinya menjauh dari kenyataan; di tatapnya kembali hujan itu dengan dalam. Rintiknya mengguyur jari-jari tangannya yang merentang seperti tengah menyambut sesorang yang lama dirindukan. Tapi siapakah yang dapat menolongnya? Setiap orang memiliki kekuatan besar untuk menghancurkan dirinya sendiri, dan sesungguhnya atas semua itu hanya dirinya sendirilah yang dapat menolong.
Depresi yang menelan hidupnya hampir tiga bulan ini membuatnya menjadi perempuan lusuh yang lupa bagaimana merawat tubuhnya yang jelita. Kini tubuhnya kurus dan rambutnya yang memanjang menjadi kusam dan kering. Ia bahkan tidak pernah lagi mandi kecuali dengan cara yang tidak lazim; mencampurkan es dalam bak air mandinya. Alissa merasakan bahwa kandungan dingin yang meresap ketubuhnya menjadi dewa ketenangan yang ramah, seolah ia sedang berusaha keras untuk melawan sebuah ketakutan besar yang akan membuatnya lupa bahwa ia masih hidup, dan ia adalah perempuan. Tetapi kedinginan dari uap es yang membuat tubuh dan rohnya menjadi berat tidak bertahan lama. Dan raksasa halusianasi yang menghadirkan ketakutan irasional tiba-tiba, begitu saja dan hadir tanpa demam, menggurita dalam jiwanya. Ketakutan yang membuatnya berpikir bahwa sebuah hewan beracun mungkin sedang merayap di sel-sel setiap sarafnya.
Alissa mengira seluruh tubuhnya sakit dan tidak berfungsi normal lagi. ia sering terlihat memuntahkan gelak tawa yang anggun, namun dengan perlahan-lahan wajahnya menjadi murung dan ia menangis. Gelak tawa yang riang itu seolah telah menghasilkan sakit yang keterlaluan bagi tubuhnya. Ia memegangi jantungnya, kepalanya, paru-parunya, ia merasakan sakit yang sesungguhnya tidak ada kecuali dalam persepsinya yang ilusif.
Tidak ada cacat fisik apapun yang menimpa dirinya, kecantikan dan kejelitaanya. Namun dari gelak tawanya setiap perempuan yang bertemu dengannya akan bisa faham bahwa Alissa mengalami keputus asaan yang begitu mendalam, penderitaan batin yang begitu nyata.
Entah apa yang ia gelisahkan, namun begitulah keadaannya kini; Alissa sering mengeluh bahwa ia merasa gelisah. Ia membayangkan bahwa ada hewan kecil yang menyebarkan sakit dan racun di sekujur tubuhnya, mengalir munuju ubun-ubunya. Namun ia akan dengan cepat berusaha mengelak dan menyembunyikannya dengan gelak tawa yang kering, yang tidak menunjukan kelembutan seorang perempuan cantik dan terhormat seperti dirinya yang asli.
Jika dokter menasehatinya untuk lebih tenang dengan mengatakan bahwa ia adalah sehat dan cantik, ia hanya merespon dengan dingin dan tidak responsif, ia akan mengatakan dengan aneh bahwa ia ingin kelaut, ia ingin mandi dan menenggelamkan kegelisahnnya di tengah lautan.
Tetapi lautan kini hanya menjadi hasrat erotik dari imajinasinya belaka. Yang terjadi malah kini ia sama sekali tak menginginkan untuk pergi ke laut kecuali hanya dalam pikirannya, yang terjadi adalah ia ketakutan dan memikirkan bahwa ia akan mati di telan ombak yang berdebur membadai di tengah laut. Bayangan itu nyata ataukah tidak, tidak ada yang dapat menerka dengan pasti dalam keadaan jiwanya yang begitu labil.
Semenjak itulah Alissa terus tenggelam dalam labirin kecil yang membawanya jauh tersesat ke tepi kegilaan. Hidupnya lebih sebagai emosi yang meledak-ledak akan suatu hasrat obsesif daripada suatu refleksi yang menentukan bakat seninya. Demi sebuah masa depan ilusif yang ia rangkai sendiri agar tidak berahir, ia harus menjalani hampir semua waktunya dalam keadaan yang sangat kacau, seperti ia sedang menjalani sebuah hukuman atas kesalahan yang ia sendiri tidak mengerti. Namun tidak seperti gadis seumurannya yang melewatkan begitu saja kisahnya walau mengerti kemustahilannya, Alissa memilih untuk menyusuri kemustahilannya seperti ia menyusuri pantai tak berujung. Dan semua itu di lewatinya dalam diam tanpa keluhan yang berarti.

***

Bunga-bunga bahagia merupakan waktu pendek ketika Alissa hidup bahagia dengan semua ilusinya. Namun selalu setelah segala ilusinya membimbius dan kemudian membimbingnya kembali kepada kesadaran tanpa ruang, ia pun digiring kembali kepada kesakitan batin dan fisik yang lebih nyata. Akhirnya semuanya tampak seperti bekas reruntuhan dari bangunan kesunyiannya sendiri. Apa yang tersisakan hanya seraut wajah dari bayangan-bayangan ilusi yang fantastis yang hanya membuatnya terasing sampai batas sejauh-jauhnya dari kenyataan.
Alissa kemudian menjadi tipe paling baik dari pribadi seni yang dalam pikirannya romantisme mengawang seperti kupu-kupu di musim bunga. Gambaran simbolis dari hidupnya adalah seninya itu sendiri; suatu ketragisan; dua jurang dimana yang pertama adalah pergulatan untuk memiliki sesorang yang menjadi avatar dari semua keindahan dan kehalusan hidup yang ia bayangkan, sesorang yang akan ia cintai dengan bekas kerinduan dan keterpisahan sejak sangat lama, suatu pergulatan yang lama dan sulit yang hanya di menangkan di depan alam malam yang mengawang-ngawang dalam lamunannya. Jurang yang lain lebih dalam lagi, saat musik pun tak bisa datang untuk menghibur dirinya lagi; penyakit gila, mundurnya otak yang gemilang, drama dari seorang manusia yang mulia yang dengan tidak sengaja menghacurkan hidupnya sendiri.
”kehidupan apa ini, tempat aku terdampar, sangat dingin, sangat hampa dan sangat membosankan? Di mana kamu, secercah cahaya bagi hidupku, ksatria hatiku, di saat-saat aku sungguh membutuhkan? Aku seperti dikubur bersama-sama segala yang telah mati, tapi matikah aku?”
Alissa mulai lelah, sangat lelah. Ia melihat bahwa kata-kata tidak lagi mengalir, pena tidak melaju dan jari-jemarinya segan dan kaku. Dan itu lah hari terakhirnya di kamarnya sebelum keesokan harinya ia terbangun dan menyadari dirinya dalam kamar sebuah rumah sakit jiwa. []

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Oktober 2012
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 43,809 hits
%d blogger menyukai ini: