Keluhan Jiwanya yang Terakhir

Tinggalkan komentar

Oktober 25, 2012 oleh sabiq carebesth

Keluhan Jiwanya
yang Terakhir.

Sekarang usai segala kehampaan, hidupnya adalah keluhan dari jiwanya yang terakhir, Alissa mulai meragukan kehidupan; ia tidak bersedih, juga ia tidak merasa dirinya tersakiti, ia sudah melampaui kandungan jiwa semacam itu.
Semua terasa hanya membuatnya hampa dan merasa sakit, tapi juga semua yang sudah dilewati dari perasaan kehilangannya itu, terasa baru baginya. Kehidupan mengejutkan dan memerintahkannya bergerak menuju keajaiban-keajaiban; sesuatu yang tak pernah diketahui.
Ketika ia tengah dalam penyerahan dirinya secara absolut kepada kehidupan, ia merasa menemukan dirinya yang asli, dan sekaligus ia merasa seperti seorang bayi yang begitu halus dan lembut, dengan kasih sayang orang-orang, dan dalam dirinya di anugerahi begitu banyak keajaiban, sekalgus perasaan tragis.

Dalam kamarnya Alissa seperti pahlawan dalam istana kesepian, keluhan dari jiwanya yang terahir, ia mengabdi sebagai air pasang yang menjilat pualam.
Kamar dengan dinding-dinding kasar yang dilapisi oleh kapur putih, diterangi oleh jendela berdaun hijau yang menghadap ke arah jalan raya dimana ia akan dapat langsung melihat jalan antara gereja dan perumahan tempat tinggalnya. Beberapa waktu ia merubah posisi tempat tidur, sehingga jendela yang menghadap jalan raya berada di kaki, bukan di kepala tempat tidur, dan dengan cara ini Alissa dapat melihat senja ketika membenam, juga orang-orang yang lewat pada hiruk-pikuknya jalanan.
Hari itu ia menyandarkankan pungungnya ke dinding. Ia terpesona oleh sebuah pemandangan ketika semburat senja yang mempelangi mulai rekah; kemudian cahayanya menerobos melalui jendela menggantung diwajahnya yang jelita tetapi tampak murung.
Ia bangkit dari dipan tidurnya dimana ia sering menuliskan surat-surat cintanya kepada bayangan Galen, lalu berdiri mendekati bayangan dirinya sendiri yang membesar, semakin dekat semakin bayangan itu menjadi sirna, cahaya senja itu menjadi dirinya sendiri. Ia berdiri dengan mata terpejam, menghirup aroma hari-hari menyedihkan yang telah berlalu hingga ia kehabisan nafas. Kemudian ia memeriksa seluruh kamar itu dengan penuh ketelitian seolah setiap benda adalah sebuah wahyu. Selain tempat tidur bertirai, ada sebuah lemari berlaci dari kayu mahoni, meja berlapis pualam yang juga terbuat dari kayu mahoni, dan sebauh tempat duduk bersantai yang dilapisi beludru merah. Di dinding samping jendela terdapat sebuah jam berbentuk segi delapan dengan angka-angka romawi yang berhenti pada jam tujuh belas lebih dua puluh semenit.
Tak lama setelahnya hujan angin beserta petir datang dan membuat segala hal terasa beku. Alissa mengambil kesempatan dari keadaan itu untuk mencoba tidur setelah dari malamnya ia tak dapat memejamkan mata.
Hujan begitu deras, antara pelangi dan mendung. Hujan yang tiba-tiba. Hujan yang seperti juga hujan di hari itu pada Agusutus yang dingin di depan Gereja tatkala nasib mengajaknya pada permulaan magis atas cintanya bersama Galen.
Alissa memang kemudian tertidur dalam keheningan setelah peristiwa-peristiwa yang datang silih berganti. Ia tahu dan yakin, apa yang dipilihnya dalam hidupnya selama ini adalah benar; ia sudah memilih untuk merasakan bahagia sekalipun hanya dalam cinta yang ia kenang sendirian. Ia mau mencoba tersenyum sepanjang hari-harinya karena kisah di hari yang hujan itu, bahwa hujan itu telah menghadirkan waktu untuknya mengalami suatu perasaan magis untuk mencintai, di mana saat ini ia memperolehnya hanya dalam tidurnya yang tidak tenang.
Saat itu tanpa disadari olehnya, di sudut kamar itu, di sebelah tempat duduk dengan beludru merah, pembantu di rumah itu mengawasinya untuk memastikan bahwa tidak ada hal buruk satupun yang menyerang tidurnya.
***
Sesuatu membangunkannya. Sesuatu yang membangunkannya itu datang dari dalam dirinya yang asing. Dari mimpi di tidurnya yang gelisah. Tidak ada yang mengerti, bahkan dirinya pun ragu. Hanya kedua matanya kemuduian basah oleh air mata.
“Jangan, jangan tunjukan padaku hal itu,” Ujarnya, entah pada siapa.”aku sudah mengiranya, tapi aku tidak akan kuat untuk mempercayainya. Aku tidak akan sanggup untuk menyadari bahwa Galen yang kucintai mati dalam kecelakaan hari itu di Gereja di hujan bulan Agustus.”
Kemudian tergambar padanya antara mimpi dan magis yang mirip kenyataan, sebuah kecelakaan yang tragis dan mengambil Galen dari kefanaanya dunia. Sebuah kecelakaan yang sama persis dilihatnya ketika ia masih kanak-kanak dulu. Kecelakaan di depan gereja Sion tatkala dalam pandangan mata kanak-kanaknya saat itu ia melihat seorang lelaki tengah menuju kekasihnya di dalam kedai, gadis muda jelita yang serupa dirinya sekarang. Dan kini ia hanya tahu, tidak dulu tidak ketika itu atau dalam nyatanya, ia tetap tidak dapat menyelamatkan laki-laki itu dari takdirnya. Pun dirinya dari kehilangannya selamanya. Ia merasakan betapa maha kuasanya waktu, begitu buasnya nasib dan ia berhadapan dengan kematian yang menjadi kematiannya, sendirian.

Ketika ahirnya Alissa membuka matanya dan terbangun dengan detak jantung yang begitu lambat, ia melihat jam di dinding menunjuk jam sembilan belas empat puluh lima menit. Ia nyaris tidak percaya dengan waktu, segalanya terasa begitu panjang dan melelahkan, tetapi ia hanya sebentar saja melaluinya, tidak lebih dari satu jam.
Pembantu di rumah itu datang untuk membantu kebutuhannya. Tak lama kemudian pembantu itu mendekati Alissa dan berusaha menyuruh Alissa untuk makan sayuran rebus dan segelas susu putih hangat. Alissa menolaknya meskipun belum makan apa-apa sejak hari kemarin. Tetapi ia memerintahkan pembantunya agar makanan itu di letakkan saja di atas meja di dekat tumpukan buku-bukunya sehingga bisa makan jika ia merasa nanti membutuhkannya. Dan segeralah ia meminta agar pembantu itu meninggalakannya sendirian.
Alissa menyalakan rokok kegemarannya sambil berjalan kejendela dan menuliskan kata-kata pahit pada buku hariannya. Kemudian melihat keluar melalui jendela dan menyaksikan satu persatu sisa hujan yang mereda menjadi rintikan gerimis.

”Tuhan yang berada dalam diriku
bisa menyentuh lubuk perasaanku
Tuhan yang bertahta di luar tenagaku
Tak bisa menahan tenaga-tenaga lahir
Demikianlah penghidupan menjadi beban
Kuingin mati dan jijik akan hidup.”

Aroma apel menyebar dalam benaknya. ia tergoda dan memungut Apel merah itu setalah beberapa saat lamanya ia terbius oleh aromanya. Lalu menggigitnya dengan rakus, mengunyah seperti anak-anak, dan merasakan buah itu bagian demi bagian, kemudian menelannya sedikit demi sedikit dengan desahan panjang seraya mengingat kenangannya bersama Galen dan semua itu dilakukannya sambil terus menulis.

”Adalah pengorbananmu, kemauanmu
yang mendorong aku dalam kerjaku
jauh dari kegaduhan dunia
yang bisa timbul dalam kesepian yang kau berikan.”

Ia lalu merasa putus asa tanpa sebab. Kemudian ia duduk ditempat tidurnya dengan sekumpulan buah Apel di antara jari-jemari kakinya dan memakan semua buah Apel itu satu demi satu, hampir-hampir tanpa manarik nafas. Pembantunya yang masuk kembali tanpa ijinnya menatap Alissa dengan terkejut ketika hanya sebiji buah Apel yang tersisa.
”Ini bunuh diri, Alissa.” Ujar pembantu perempuan itu dengan rasa khawitir sungguh sembari buru-buru menyodorkan segelas susu. Alissa mengikuti ucapannya dengan nada humor yang ceria,”Inilah kehidupan. Kehidupanku juga.”
Pada jam dua puluh tepat, jam di dinding itu kembali berdentang dan Alissa meminta pembantunya kembali meninggalkannya seraya berpesan agar tak menghawatirkan keadaanya dan meyakinkan tidak akan terjadi apa-apa yang buruk. Selama setengah jam lamanya Alissa mual-mual, kram menyerangnya perutnya dan membuat kondisinya parah. Alissa kembali tertidur karena merasa kelelahan menanggung sakitnya.
***
Meskipun Alissa menolak untuk makan malam, pembantu perempuannya sudah selesai menyiapkan makan malam untuk Alissa. Makan malam itu pun ahirnya berjalan tanpa Alissa karena hingga jam delapan malam tidak juga ada tanda-tanda Alissa terbangun dari tidurnya.
Tepat ketika jam di ruang tamu berdentang menunjuk jam sembilan malam, lampu dikamar Alissa menyala. Buru-buru Nyonya Mariana menghampiri Alissa dalam kamarnya dan mendapatinya masih lusuh di atas dipan tidurnya. Nampak benar wajahnya menjadi pucat dan tubuhnya terlihat lemah. Nyonya Mariana membawakannya obat yang di buat oleh dokter keluarganya. Tetapi, Alissa nampak menolaknya dengan halus.
”Letakkan saja di meja, ibu. Tidak usah khawatirkan Alissa. Alissa akan lebih baik jika melihat ibu dapat beristirahat dengan lebih baik.”ujarnya.
Nyonya Mariana tidak dapat menolak permintaan Alissa dan segera meninggalkannya, membiyarkan Alissa terbawa dalam takdirnya sendirian, diam-diam. Terasakanlah kemudian oleh Alissa tubuhnya gemetar oleh keringat dingin ditulang-tulangnya. Penghibur satu-satunya adalah petikan indah musik yang menghembus dari mesin pemutar yang ia nyalakan. Sedikit demi sedikit, kekacauaan dieperutnya reda, rasa sakitnya lenyap, sampai musik berakhir ia masih mengambang dalam ketiadaan.
Tangannya bergerak-gerak melipat-lipat kertas origami yang dibuatnya sendiri dari lembaran kertas buku hariannya yang berisi surat-surat fiktifnya. Dan dengan suatu ketenangan yang tidak wajar, sebuah burung kertas usai di ciptakannya bersama imaji yang membumbung; dua buah burung kertas, tiga buah, empat dan entah berapa burung kertas sudah ia terbangkan melewati jendela kamarnya.
Burung kertas itu terbang menyusuri lebar loteng dan menabrak kaca jendela; terjatuh oleh udara lembab sisa hujan yang tadi. Lalu dengan kebingungan, Alissa berjalan mondar-mandir tidak menentu dalam kamarnya, sebuah lapisan tipis putih membayangi kedua matanya, dan perlahan-lahan menuruni kepalanya, matanya yang berwarna merah tua melebar dan melotot dengan penuh kesangsian dan rasa seperti dirinya tengah kecewa. Ia tidak mengerti udara macam apa yang tak mengizinkannya keluar, tetapi membawakan padanya keindahan masa kanak-kanaknya di ruang yang lain dari kemurnian hidupnya yang tabah.
Dia kemudian berbalik kearah timur layaknya seorang sufi tengah memandangi israq, atau sebagian Yahudi tengah menatap kepada Yerusalem; bagi dirinya, kaca jendela itu adalah dinding ratapan yang nyata atau sebuah kerinduan yang suci tengah menghadapkan dirinya pada sang kekasih abadi. Dan ketika malam itu menjelang menjadi separuhnya, situasinya kembali normal karena hujan lebat kedua menjernihakan udara dan menciptakan ketenangan bagi Alissa.

SC, Oktober, 2012

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Oktober 2012
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 44,765 hits
%d blogger menyukai ini: