Dua Orang Melihat Hujan, Bagian Kedua

Tinggalkan komentar

Oktober 19, 2012 oleh sabiq carebesth

Cinta;Sebuah Gambaran yang berharga

Setelah ia dipermudah oleh dirinya sendiri ia kini memberontak (juga pada dirinya sendiri), untuk menguasai sepenuhnya dirinya. Memberontak berarti menguasai diri sendiri; bahwa dirinya yang asli harus dipertahankan. “Tapi apakah yang harus dipertahankan dari diriku?” pikir Alissa.
Apakah hari yang sejenak bersama Galen sungguh-sungguh sesuatu yang patut ia syukuri bahwa dirinya memperoleh kebebasannya kembali, kebahagiaan dan rasa damai tanpa takut akan kehilangan. Tapi kebebasan dari apa? Rahasia apa yang sedang membahasakan dirinya sendiri dalam bahasa jiwa yang menggetarkan dan kini tangah berdiri telanjang di depannya?
Alissa tidak dapat sepenuhnya mengerti, semua rahasia yang tengah bergejolak dalam batinnya begitu gemuruh dan biar pun semua itu kebenaran namun ia sama sekali tak dapat memegangnya; ia hanya merasa gelisah, hatinya membumbung dan keceriaan menguasainya, mendorongnya kepada keinginan hidup yang reaktif, seoalah ia sedang mundur selangkah dan untuk pertama kalinya melihat dunia dengan lebih luas sekaligus berjarak; ia menatap kepada segala hal yang terasa baru dan ia belum juga mengerti.

Alissa hanya merasa semenjak hari bersama Galen yang walau ia lewati hanya sebentar saja, tiba-tiba sebuah gambaran baru muncul di depannya, sebuah gambaran agung dan berharga. Dan tanpa diduga, sedalam atau sekeras dorongan dalam hatinya, hasrat untuk memuja dan menghormati. Apakah Galen adalah Beatrice laki-laki? Walaupun Alissa belum pernah membaca semua senirai episode The Divine Comedy, namun ia tahu mengenai Beatrice lebih jauh dari lukisan tiruan yang di gambar Sang Pelukis. Lukisan itu menggambarkan seorang malaikat perempuan muda, bertungkai dan berlengan panjang dan ramping, dengan kepala yang panjang, jenjang yang sempurna pada tulang halus lehernya, dan rona wajah yang begitu halus, wajah yang bercahaya dan menggetarkan jiwa.

Pada Galen, bahkan pada bayangannya yang perlahan-lahan menjadi intens dalam lamunannya, Alissa selalu gugup dan tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya, walau begitu ia berharap Galen mendengarnya. Demikianlah ia mulai menyadari betapa Galen memiliki pengaruh yang luar biasa pada dirinya. Bayang-bayang wajahnya, kekanak-kanakannya dan kedewasaanya sekaligus yang bersahaja ada di depannya; menjadi harapan baru yang membimbingnya kembali bagai bintang kecil pada keluasan horizon langit yang purnama. Galen diam-diam telah menghubungkannya kembali dengan gerejanya, dimana ia mendoakan segala yang terbaik untuk hidup Galen yang walau hanya seorang asing saja baginya.
Bayangan Galen mengubah kembali Alissa untuk mencintai gereja dan merindukan rumahnya. Mulai saat itu hingga seterusnya ia menjauhi bar-bar dan anggur, dan ia enggan keluar malam dalam kejumudan dunia yang absurd. Ia dapat lagi menyendiri dengan dirinya kembali, dengan perenuangan-perenungannya akan kehidupan gereja dan Tuhannya. Ia kembali membaca dengan senang, dan berjalan-jalan di dalam kota hingga jauh. Tetapi ia juga mengerti ia belum dapat mengambil pilihan apapun untuk dirinya sendiri? Apakah ia sedang membayar terlalu mahal demi sesuatu yang akan membuatnya terlihat wajar? Nyatanya ia tak punya kepastian tentang dirinya sendiri; keinginan, harapan, tujuannya; ia serahkan dirinya sepenuhnya pada kehidupan ini, kemanalah hidup akan membawanya dan berapa yang harus ia bayar rasanya ia sudah tidak perduli. Benar ia tampak lebih memiliki dirinya sendiri, ia ke gerejanya dan menulis, membaca buku dan mengerjakan apapun yang juga dilakukan mereka yang sejenis dengannya, tapi ia hanya menginginkan agar dirinya tampak wajar, tidak lebih!!

”Ketika dunia ini kita rasa tidak cukup memberi makna pada kehampaan kita, saat keabsurdan total mengawangi hidup kita; mungkin disanalah kita mesti arif bahwa dalam kosmos yang besar ini kita tak selalu menjadi subjek tunggal; atau lebih seringnya kita malah menjadi korban.” pikirnya.

Kerinduan pada Galen kembali lagi, terus-menerus mengusiknya. Ia tidak tahu kabarnya, keberadaanya, atau siapakah dia, keluarganya, kehidupannya, dan detail-detail yang lain yang mungkin untuk ia ketahui. Tapi sekarang ia tengah dalam suatu kesadaran bahwa ia menyembunyikan perasaanya, dan menyimpan dengan rapi di sudut hatinya semua kenangan yang rindu pada pertemuan singkat itu, ia menyimpannya sebagai kenangan yang manis yang ia sembunyikan dalam catatan buku hariannya, dan ia menyadari dalam semua kisah yang sejenak saja terlewati itu dirinya begitu kaku dan berkata selalu dengan ketus; semua itu adalah akibat dari keangkuhan dan rasa malu, kegugupan dan ia ingin memperbaikinya. Tapi apakah ia akan kembali memiliki kesempatan di masa depan untuk kembali bertemu?
Kemurnian itu seperti keterburu-buruan yang datang mengagetkannya, sulit dipahami tetapi hatinya tahu; dirinya tak dapat menolak lagi kehadirannya, sesuatu yang harus ada dan harus ia alami; kerinduannya, perasaan cerianya bersama Galen benar-benar mengubah dirinya. Kemarin ia seorang gadis muda yang sinis, sekarang ia adalah pembantu suster Magdalena yang baik dan bebas, yang mengajarkan kepada anak-anak Sion musik dan karya besar para pujangga dan filosof.
*****
Segala hal yang baru seperti hadir begitu saja, bagaikan butiran kecil bintang-bintang di ahir musim hujan; semua tampak seperti begitu mempesonakan, tapi ia sama sekali tak dapat mengerti. Alissa tidak tahu, Ia tak memahami yang terjadi dengan dirinya sendiri, ia mungkin sedang jatuh cinta.
”Ketika seseorang hidup begitu lama dengan bayangan sesorang, dengan intensitas dan kerinduan dari jarak yang sedemikian rupa, seorang sedang terjebak tanpa suatu cara pun untuk melarikan diri, tersesat sejauh-jauhnya dalam labirin kelam di antara harapan dan ambang ilusi. Barangkali seorang tak ingin tinggal di situ; hanya ingin melangkahi tangga-tangga pengalaman hingga akhirnya dapat pergi menjauh sendirian ke sana, kepada takdir dari dunianya di mana ia akan berdiri di atasnya dengan ketabahan yang sulit dimengerti oleh mereka yang hatinya lemah.” pikir Alisa, dan ia memikirkan hal itu terus menerus sebagai usaha memberi jembatan untuk rahasia perasaanya dengan pengalaman yang tengah gemuruh di jiwanya. Rahasia yang akhirnya hanya bisa ia rasakan saja dan sendirian.
Apakah dia sedang mengeluhkan dirinya? Tidak, tidak sama sekali. Ia tak mengeluhkan kesendiriannya, perasaanya yang sepi dan terasa hampa, tapi dia sedang mencari cara bagaimana seorang seperti dirinya dapat bertahan hidup sendirian.
Apa yang dapat dipahami olehnya sekarang? Dia hanya bisa menyadari sesuatu yang mungkin tengah terjadi dalam dirinya, yang sedang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada kehidupan, membiyarkan kehidupan itu membawanya, keman pun akan membawa, kepada keasingan dunia yang mana? Tujuan takdirnya! Dan ia tidak tahu dimanakah dirinya berada di tengah kepasrahan dan ketabahannya dihadapan kehidupan; orang-orang, pikiran-pikiran, bencana, anugerah; segala yang tampak sebagai kebetulan yang sepenuhnya menempatkan dirinya tidak sebagai subjek; ia sepenuhnya takluk! Apakah ia harus yang membawa kehidupan atau kehidupan yang membawanya sejauh-jauhnya kepada takdirnya sebagai perempuan dan sebagai manusia? Lama-kelamaan ia sadar bahwa yang dilakukannya, semua yang dikerjakan dan kepasrahannya di hadapan kehidupan, sepenuhnya hanya agar ia terlihat wajar.
Tapi perubahan baru yang tiba-tiba itu memancing sejumlah rasa heran dan kadangkala ejekan dari gadis-gadis seumurannya yang mengenalnya di sekitar tempatnya tinggal; sebenarnya mereka tidak terima dan cemburu pada kebangkitannya. Tapi sekarang ia memiliki sesuatu yang ia cintai dan ia hormati, ia tempatkan ditempat yang tinggi dalam hidupnya dan ia perjuangkan. Ia memiliki teladan kembali, hidupnya di penuhi oleh isyarat-isyarat rahasia dari hatinya dan sebuah rasa pembaharuan yang membuatnya kebal terhadap ejekan. Ia telah pulang kembali pada dirinya walaupun hanya sebagai budak dan pelayan bagi bayang-bayang keceriaan yang ia dapatkan dalam kenangannya yang sebentar dan asing bersama Galen.

Dari semua upaya yang ia lakukan untuk menunjukan pendirian barunya, ada satu upaya yang benar-benar penting baginya. Bukan melukis dan menggambar apa yang dihasratinya seperti pada masa kanak-kanaknya. Tetapi ia kini melanjutkan dalam menulis dan memainkan musiknya. Bukan suatu herarki dan deferensiasi yang tengah ia bangun dalam semua itu, tetapi ia sekali lagi arif, dalam melukis ia merasakan suatu ketidakmampuan untuk mengatasi kecemasan dan ketakutan yang bersumber dari dalam dirinya sendiri seperti dulu ia berusaha menggambar wajah Beatrice.

*****

Apa yang diharapkannya? Apa yang bisa ia lakukan sekarang untuk mengatasi semua pesona dari dunia baru yang mencerahkannya bersama kehadiran Galen? Namun sekaligus juga menghadirkan perasaan sepi yang begitu rupa yang membuatnya merasa ditinggal sendirian dalam kegelapan. Ia ingin bicara padanya, ia ingin memberitahu segala ketidakmengertiannya dan berharap Galen mendengar sesuuatunya. Mengertikan dirinya tanpa ia harus bicara apalagi meminta. Bila memang Galen adalah dunia yang disediakan sebagai bagian dari persimpangan hidupnya, bukankah Tuhan akan membukakan hatinya agar dapat berjalan bersama?
Satu dari dirinya mengatakan bahwa hidupnya akan terus berjalan dan ia akan bisa melewati semuanya sampai akhir bahkan bila ia tidak akan pernah bertemu dengan Galen kembali. Tetapi dirinya yang lain juga merasa sebagai seoarang manusia yang asing dan absurd, yang dengan aneh mengharapkan cinta melebihi sebuah pujian dan kasih sayang. Di atas semua itu ia sangat ingin, selalu, setiap saatnya malah, untuk menghabisakan seluruh waktu yang ada dengan Galen, berdiskusi dengan wajah itu, yang hanya bisa ia ajak bicara dalam bayangan saja, sebuah ilusi yang kemudian menguasai seluruh dirinya. Kefiksian hidupnya menjadi lebih nyata dari kehidupannya yang tampak apa adanya.

****

Kini bila ia tengah berdiri kembali di depan gerejanya untuk Galen; untuk harapannya bila mungkin akan kembali bertemu dengan Galen, ia benar-benar telah tumbuh dan menjadi gadis dewasa yang matang. Ia terlihat memesona dan menarik perhatian saiapapun yang melirik kepadanya. Seorang akan terjungkal sanubarinya karena mata Alissa yang menatap kepadanya. Sesuatu yang sungguh ia dapati dari ibunya, rumahnya yang kaya dengan paduan sunda-eropa kedua orang tuanya, dan tentu saja dari sebentar pengalamannya bersama pendidikan sopan santun yang diberikan secara khusus oleh suster Magdalena kepadanya di asrama gereja ketika ia kecil dahulu. Itulah yang membauat tatapannya begitu mempesona dan tajam menggoda seperti pandangan mata seorang Geisha. Dia tinggi dan ramping, berpakaian anggun, dan dengan wajah cerdas dan rahang kelelaki-lakian. Alissa benar-benar tampak seperti gadis Beatrice dalam imaji pemuda Dante, yang lembut seperti seorang malaikat perempuan muda, bertungkai dan berlengan panjang dan ramping, dengan kepala yang panjang, jenjang yang sempurna pada tulang halus lehernya, dan roman wajah yang begitu halus, wajah yang bercahaya dan menggetarkan jiwa.

”Kita yang tak seberapa kenal, baru sekali saja bertemu. Tapi aku adalah yang memanggilmu pada setiap ingataan yang kurujuk dalam kisah denganmu. Serasa aku berdiri di dunia ini tanpa pijakan apa pun, apakah ini tidak berarti? Apakah ini bukan kehidupan? Aku kirimkan semua yang bisa kuharapkan dari Tuhanku hanya untukmu, aku mengabaikan diriku sendiri dan hanya untuk berharap agar kau baik-baik saja sehingga kita akan memiliki kesempatan untuk kembali bertemu.”
Begitulah ia meminta pada Tuhannnya untuk kebaikan Galen walau ia sendiri tak punya kepastian apapun, tidak biyar sekedar apakah ia akan kembali bertemu dengan Galen ataukah tidak?
Cahaya lilin pun menerangi ruangan, apinya menghangatkan dari dingin hujan di luar, Alissa pun kembali menangkupkan kedua helai tangannya di dadanya; terbenam dalam doanya hingga begitu lama sampai sebuah angin yang berhembus menerobos melalului jendela gereja memadamkan nyala api lilin itu. Dan kecuali dirinya beserta Tuhan yang ada dalam dirinya, tak ada siapapun yang tahu apa yang ia minta dalam doanya dan untuk siapa. Tapi hatinya sendiri pastilah tahu, ia sedang meminta kepada Tuhannya untuk kebaikan seorang yang hanya asing saja.

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Oktober 2012
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 45,245 hits
%d blogger menyukai ini: