bagian satu: What a Better Day

Tinggalkan komentar

Oktober 19, 2012 oleh sabiq carebesth

What a Better Day

Perempuan itu baru genap dua puluh tiga tahun kemarin, tapi tampak seperti seorang gadis remaja berusia enam belas. Rambutnya bagaikan mahkota terindah dari surga para bidadari, sebuah mahkota cokelat keemasan, lembut dan kuat seperti surai kuda tapi berkilau kilau laksana sutra berwarna merah senja. Rambut itu bergulung di sekitar lehernya. Di bawah rambut itu tersumbal kulit leher yang lembut dan putih, bahu pualam, dan sepasang payudara yang padat. Lehernya yang jenjang begitu menggoda, mngintip malu-malu dari balik helai rambutnya yang kemerahan. Sungguh sulit di ungkapkan, ia cantik, cantik sekali; wajahnya tersembunyi oleh rambut yang lebat. Perempuan itu memiliki wajah yang datar, sepasang mata kelabu yang agak sipit, hidung mancung, dan mulut lebar dengan bibir yang kemerahan seperti kuncup buah ara terbelah. Keliaran dan kekanak-kanakkan, serta keberanian dan kepolosan berbaur.

Namanya Alissa, dan begitulah ia cantik, cantik sekali, sampai akhirnya ia menjadi terasing dan menginginkan kematian; sejak itu jadilah ia serupa kumpulan metafora tentang bagaimana rasanya menjadi yang kalah dan terasingkan. Metafora yang seringkali salah dimengerti.

Alissa mengumpulkan pelajaran kematian dan merangkumnya dalam buku hariannya sejak hari kemarin, saat usainya persis genap 23 tahun; sejak hari itu Hanya ada satu persoalan yang benar-benar serius baginya, yaitu dirinya dan kematian. Memutuskan apakah hidup layak diteruskan atau tidak adalah hal paling intim dan mendalam dalam benaknya. Semua persoalan lain dalam kehidupannya setalah hari itu berasal dari itu. Sekilas ia seperti gadis yang tengah terpengaruh oleh mitologi sisifus, tapi ia sudah membayangkan semuanya, ia sudah membayangkan Sisifus bahagia, bahkan jatuh cinta, bahkan menginginkan sebuah hubungan sex selama sehari tanpa jeda sebalum kembali mengangkat batu, itu pun jika dewa pemberi hukuman mengizinkan sehari jeda untuk melaksanakan niatan intimnya itu. Bahkan Alissa juga sudah membayangkan bahwa Sisifus tidak lagi perduli dengan kebahagiaan, ia tak perduli lagi dengan hukuman atau kebebasan atas segala yang ia jalani, bahkan ia pun sudah membayangkan apa yang dibicarakan Dewa Merkurius saat menangkap Sisifus. Ia mengira apa yang ditanggung Sisifus masih kalah tragis dari hukuman yang harus ditanggung Promoteus yang telah mencuri api dari Jupiter demi memberikan kekuatan sebasar-basarnya pada manusia. atau…..
Tapi bagi Alissa, kematian baginya bukan keinginan cengeng untuk bunuh diri, ia tidak bermaksud untuk bunuh diri, ia bermaksud untuk mati. Kematian baginya seperti hasrat yang datang padanya terlalu dini dan terlalu kuat. Tapi toh kini ia sudah siap, mungkin inilah waktu yang tepat untuk mati, selalu begitu pikirnya. Dan dia sudah banyak bertanya, dia sudah banyak merenungkan ribuan kata, omong kosong dan pengertian tentang hidup, semua berujuang pada hal yang faktual, bahwa setiap orang akan mati, dan tidak akan mati sampai ia siap untuk mati. Maka mati sekarang atau esok atau lusa apa bedanya? Baginya, kematian adalah lelucon di hari libur, sebuah hiburan dan liburan dari kehidupan. Ia ingin kesana, bermain dengan kematian, atau duduk memandangi kamatian. Yang pasti ia adalah subjek satu-satunya dari ribuan objek kematian yang penuh rencana, penuh warna dan bentuk. Kematian baginya seperti kue, kadang terasa asin, manis, getir dan butuh cuka untuk penyedap.

Alissa tahu pada 28 Maret 1941, Virginia Woolf mengenakan mantelnya, mengisi sakunya dengan bebatuan, lalu berjalan menuju River Ouse yang dekat dengan rumahnya. Ia melompat ke arus sungai dan menenggelamkan diri, mengukur kedalaman sungai dan tak pernah ada yang tahu apa yang di dapatinya di kedalaman ketika pada 18 April tubuhnya ditemukan. Ia juga tahu Hemingway sudah begitu banyak menjumpai peristiwa kematian yang membuatnya terguncang saat berada di medan perang di Italia sebelum akhirnya kematian memberinya kehidupan untuk untuk menulis A Natural History of the Dead di musim semi 1961, dan tak pernah ada yang tahu apa yang didapati Hemingway dalam kematian ketika ia akhirnya menembakan selongsong peluru ke dalam kepalanya sendiri. Mungkin, Gabriel Marquez tahu jawabannya dan akan menyuruh setiap orang yang bertanya tentang Hemingway untuk duduk membeku ketika hujan di Boulevard St. Michel di Paris. Hujan yang konon seperti monolog Isabel di Maconda. Hujan yang merasuk kedalam perasaan dengan terlalu mendalam, serupa kematian. Tapi ia tetap tak bisa mengerti apa yang ada di dalam benak Anna Karenina sore itu di Stasiun kereta sebalum ia akhirnya mati. Apa untuk terakhir kalinya ia memutuskan mengingat Krenanin ata Vronskii? Atau dirinya kosong?

Alissa selalu berpikir ada banyak jalan menuju kematian, dan ia mungkin akan memilih salah satu jalannya, dengan caranya sendiri, ia sudah membayangkannya, tapi pada saat ia duduk dan menghabiskan hampir seluruh waktunya di kamarnya untuk membaca dan menulis, ia justeru menemukan gairah terbesarnya untuk hidup, untuk bertahan dari rasa sakit, dan kemudian kembali ke kematian.
“Jeritan-jeritan, bisikan kelana yang tak bisa kukendalikan, membisik antara keinginan untuk hidup dan mati, aku merasa tak sanggup lagi bertahan melewati saat-saat yang menakutkan ini… semalam lagi, dua malam, satu minggu, sebulan? Sampai berapa lama lagi aku bisa bertahan? Dunia mengurungku dalam tubuhku sendiri seperti setubuh darah dan dagingku ruang pengap tanpa jendela. Di dalamnya gema dari suara-suara asing seperti memikik; kadang seperti suara muram yang memohon meminta padaku untuk bertahan dan pada saat bersamaan memintaku untuk sekali lagi mati. Apa kematian itu? Apa rasanya mati? Tidak kah ini terdengar begitu muram? Pernah seorang membayangkan dirinya akan mati, pernahkah Albert Camus membayangkan hari itu ia akan mengalami kecelakaan dan mati?”
Alissa sudah melakukan upaya untuk kematiannya yang pertama dengan meminum obat depresan Golongan SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) dari Fluvoxamine, Fluoxetine, Citaploram, Setraline, sampai Paroxetin melebihi dosis , tapi pil itu tak berhasil mencabut nyawanya. Bahkan dalam beberapa percobaan bunuh dirinya yang lain ia sudah melakukan apa yang dilakukan Coelho atas Veronika . Yang terakhir, Alissa melemparkan dirinya di atas karang lautan ketika ia melihat pemandangan bibir pantai dengan batu-batu besar di Kepulauan Seribu, tapi kali itu pun kematian masih enggan menghampirinya. Tak ada yang ia dapati dari semua percobaan kematian yang sudah ia lakukan kecuali kesehatan mentalnya yang semakin terganggu.
“Aku merasa pasti bahwa aku menjadi gila lagi. Kehidupan yang diliputi kegilaan atau aku yang gila? Tetapi mimpi-mimpi buruk yang terus mencekam malamku merangsek kesudut waktuku; di tepian mimpi seperti hendak menjaringku, kemana aku hendak berlari menjauh? Apakah di kajauhan ada kebebasan? Apakah kematian itu kebebasan? Dari apa, untuk apa? Tidakkah aku hanya terasing dari kehidupan dan dari kematian?”
***
“…. Sekarang semua berlalu entah untuk tahun yang keberapa; aku tak bisa berkonsentrasi; aku mulai mengalami kesulitan membaca dan menulis, ini sangat membuatku merasa bosan dan putus asa.” tulis Alissa dalam catatan hariannya tertanggal 3 Agustus 1997, 3 tahun setelah hari ulang tahunnya yang ke 23.
Sebuah jejak faktual kegilaan yang juga tersirat dalam puisi yang ditulisnya dalam burung-burung kertasnya yang selalu ia terbangkan di antara hujan dan senja muram hampir sepanjang tahun itu; hujan yang membuat senja dikotanya tampak muram.
Kemuraman yang sama pada lekukan burung kertas lambang penantiannya atas cinta dan kematian ; hatinya yang merindu selalu akan kenangan masa silam yang hilang, dan ia masih terus berharap menemukan kembali cintanya, harapannya yang paling mendalam sekali pun hanya pada tempat bernama kenangan.
“Kenangan seperti kabut sore di hari yang mendung usai hujan semalaman, sebuah burung berarak melintas, lalu sayapnya patah tertutup kabut dan ia merasa telah terbang begitu jauh meninggalkan kabut, namun ketika ia menyadari ia masih berada di gumpalan waktu yang sama, waktu yang membeku karena dingin dan karena hujan yang melanda kenangannya. Kecuali ia seorang yang tidak waras, siapa yang tak merindui kehangatan?”
What a Better Day?
Alissa kini berpikir tentang kehidupan, ia bertanya apa hari tebaik itu baginyanya? Pernahkah ia merasainya? Ia mengira hari terbaik mungkin seperti saat seorang merasakan detak jantungnya lenyap dari inti kehidupan: ia hanya merasakan sebuah gelombang, tak terlukiskan dan suci. Lalu tidak akan ada lagi hari yang lebih baik dan bermakna setelahnya. Sebab hari terbaik adalah sebuah akhir dari segala cobaan, kegelisahan; akhir dari segala rasa marah dan rasa frustasi. Engkau menerimanya, engkau merelakan dirimu menjadi martir bagi kehendak nasib yang tertulis atas namamu dan dengan cara yang begitu menyedihkan dan santun kau menerima segala penderitaan, perasaan terbuang dan kau di tinggalkan sendirian bersama kematian.
Hari terbaik seperti segumpal pemahaman akan kehidupan dan segala rupa pengalaman yang setelahnya tafsir atasnya pun berhenti atau terhentikan sekali lagi oleh kamtian. Hari terbaik hadir bersama keinginan untuk mengahari semuanya, kematian yang hadir ditengah kehidupan, hidup yang tak akan pernah menuntaskan kegelisahannya sendiri; kehidupan yang selalu malas berjalan menuju kematian, kecuali kau yang membawanya kesana, dengan terpaksa atau sukarela.
Dan bagi Alissa, ia telah menyimak sebuah profil parsial dari rasa sakit dalam kehidupan dan dalam kematian. Hasrat hidup dan mati datang silih beganti, membisik padanya seperti sebuah teka-teki. Lalu apakah yang bersembunyi di balik teka-teki itu? Mungkin serupa sebuah soneta melankolis di malam perayaan, Silent Night, Holy Night; silent day silent heart…hati siapakah yang tidak terasing di malam sunyi?

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Oktober 2012
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 44,282 hits
%d blogger menyukai ini: