bagian ketiga : Alissa

Tinggalkan komentar

Oktober 19, 2012 oleh sabiq carebesth

Hampir tiga bulan berjalan, Alissa tak kunjung menunjukan tanda-tanda kesembuhannya. Dan aku mulai merasakan kejiwaannya yang perlahan-lahan memintaku melibatkan diri dalam drama ketidakwarasannya sepenuh jiwaku.

“Aku tidak bisa mengingatnya. Kepalaku terasa sangat sakit, hentikanlah ini, aku mohon hentikan…” teriak Alissa sambil terus memegangi kepalanya, rasa sakit yang tengah menyerang ubun-ubunnya membuatnya menggelinjang-gelinjang seperti seorang putus asa yang mengamuk di tengah kota. Kamar selnya pun berantakan dalam seketika. Buku-buku berjatuhan di lanatai, bantal dan seprai, seisi kamar seperti potret reruntuhan pasca tsunami. Aku tidak bisa berbuat banyak dengan yang tengah terjadi, dan ini selalu terjadi dalam setiap terapi, aku berusaha untuk tetap tenang dan berharap kekacauan ini akan cepat mereda.
11. 30 WIB
Kekacauan mereda setelah beberapa lama obat penenang itu beraksi dalam tubuhnya. Aku meraih tangannya, mencoba menuntunnya untuk berjalan keluar kamarnya dan mencoba lebih aktif. Aku mengajaknya melihat pemandangan diluar, melihat cahaya dan pepohonan yang tampak masih basah di jatuhi hujan sebentar yang tadi.
Aku merasa dalam beberapa menit kemudian keadaan jauh lebih baik. Aku tidak boleh berputus asa, aku harus membujuknya dan membantunya memiliki keberanian untuk mengingat segala sesuatunya. Hanya dengan menghadirkan ingatannya yang utuh Alissa akan kembali pada kehidupannya yang nyata sekalipun semuanya tidak akan kembali sama serupa seperti awalnya.
Secara sederhana aku berpikir bahwa seorang tidak boleh kehilangan bagian dari hidupnya, mimpinya, masa lalunya, begitu juga Alissa; atau jika ia kehilangan ia tidak akan pernah menjadi utuh dan ia akan terus dalam pencarian tanpa penunjuk jalan dan ia tidak tahu dimana tujuannya akan berakhir.
Kami berjalan pelan menuju ruangan di paviluam dimana aku dan Alissa biasa duduk dan mengobrol. O, apa yang kurasakan ini, saat tanganku bersama dalam genggamannya aku merasakan suatu empati yang tiba-tiba mengahalau semua keraguanku untuk menganggap Alissa seperti binatang buas. Kenapa aku berpikir untuk meninggalkan Alissa sebelum kesembuhannya? Oh tidak, aku harus berada di sini bersama Alissa, dan bila aku harus meninggalkan rumah sakit jiwa ini, itu juga bersama Alissa. Dan setelah itu mungkin aku mengundurkan diri dari pekerjaanku.

Kami duduk berhadapan pada dua kursi di dekat jendela pavilium, kursi bergerak-gerak, berdenyit seperti suara rem yang di injak kuat-kuat dan terburu; suara dentuman dari injakan kaki yang digerakkan dengan intensitas yang semakin cepat dan sejurus kemudian melambat, suara-suara itu terdengar seperti senjata tajam yang diayun-ayunkan ke arahku, siap menghujamku bila aku lengah. Denyitan suara itu membuatku tersadar kembali dimanakah aku kini duduk.
“Pejamkanlah matamu,….” Ujar Alissa padaku tiba-tiba. Suaranya lirih dan tenang. Aku merasa seperti dikendalikan. Tidak ini hanya sebuah permainan mental.

Sejenak kegelisahan dan perasaan takut menyeruak dalam diriku. Apa yang akan di lakukannya saat aku memejamkan mata? Tak ada siapapun di ruangan ini kecuali aku dan jiwanya yang sakit.
Aku berusaha menenangkan diri dan berpikir rasional. Aku adalah orang waras dan ia tidak. Mestinya aku lebih bisa berpikir rasional; setidaknya lebih tenang dan terlihat wajar.
Alissa melihatku sekali lagi sebagai usaha memintaku mengikuti keinginannya, ia sedang mengajakku terlibat dalam teater kegilaannya. Aku pun mengikuti keinginannya, sambil diam-diam aku menyembunyikan bolfoin ditanganku dengan posisi terhujam sempurna kearahnya; jika terjadi sesuatu, aku akan menikamkan bolfoin ini ke arahnya, dan tidak perduli apakah akan mengenai matanya, kepalanya, atau apapun dari bagian tubuhnya.
“Jika tidak ada pilihan, apa yang bisa disesalkan,” pikirku setelah tadi aku mengingat di ruangan ini tak ada satu pun penjaga yang berjaga bila terjadi sesuatu.
“Lihatlah kegelapan yang hitam itu.” Ujar Alissa setelah aku memejamkan mataku.”lihatlah kepada cahaya yang hitam itu; yang pecah menjadi partikel-partikel cahaya yang putih kekuningan, menyublim menjadi percikan cahaya kuantum dalam gelap. Kemudian menggelombang ke arahmu dengan lambat namun kilat. Seperti bintang-bintang kecil……”
Aku mendengarkannya, dan aku menyaksikan semua yang dia katakan dalam terpejamnya mataku. Percikan-percikan itu, bintang-bintang kecil mengarah kepadaku, semakin lama aku merasa aku adalah objek seluruhnya tempat percikan cahaya-cahaya itu jatuh mengenaiku.
“Apakah kau dapat berkonsentrasi pada satu butir cahayanya?” ia bertanya.
Aku masih memejamkan mataku dan aku menggeleng.
“Itulah yang aku alami. Aku tidak dapat berkonsentrasi. Perhatian yang bercabang-cabang ini menyulitkanku. Dalam kenyataan aku mengutip berbagai percakapan yang berbeda dari masalaluku. Aku seperti pemancar. Aku mendengar suara dari mana-mana, tetapi aku merasa pikiranku gagal menangani semuanya. Sulit untuk berkonsentrasi hanya pada satu suara saja, pada satu ingatan saja. Bahwa dalam saat yang bersamaan aku dapat melihat dengan jelas semua yang dulu ada dalam hidupku, hari-hari itu, kisah-kisah itu…..tapi ahirnya semua berlalu seperti percikan cahaya yang halus.” Terangnya dengan suara yang lembut.
“Sekarang bukalah matamu. Kenangan itu hanya ilusi, walau sebentuk cahaya yang indah?” tukasnya padaku, seolah ia seorang penasihat dan aku orang yang sakit.
Ketika kemudian kubuka mataku seperti di inginkannya, aku melihatnya tersenyum menang seperti mengerti dengan kehawatiran yang kupikirkan, dan ternyata hanya halusinasiku yang sama sekali tidak rasional dan tidak terjadi.

Aku berusaha menenangkan diriku kembali. Membenarkan letak dudukku dan membalas senyumnya seolah aku adalah apapun yang dipikirkannya.Kemudian aku kembali mencatat, mengingat apa yang baru saja aku alami. Lalu aku berusaha keras untuk memikirkannya agar bisa kukatakan sesuatu kepadanya.
“Apa yang ingin kau beritahukan dari semua ini padaku?” tanyaku kemudian dengan perasaan heran yang tak bisa kusembunyikan.
“Tahukah kau bahwa jiwaku gagal mengendalikan gelombang cahaya itu…maka pikiranku menjadi gelap seluruhnya. Saat berusaha melepaskan diri dari seutas tali tidak terlihat, seekor burung halus muncul di puncak dunia.” Jawab Alissa, suaranya terdengar tenang walau ia bicara dalam tempo cepat. Selintas ia tampak seperti tengah berkeluh, atau entah hanya berkata aneh. Kata-katanya sulit dimengerti olehku sekalipun ujarannya terdengar seperti gagasan seorang briliant.
Dan hal semacam ini bukan hanya sekali berlaku ; saat mendengarkannya membicarakan sesuatu, sekilas saja, aku memikirkan dan mudah bagiku mencerna artikulasi maknanya, tetapi jika frasa kalimatnya dikaitkan menjadi satu perfect-konjungsi dalam sebuah kalimat sempurna, hal itu terdengar ngawur dan tak dapat di fahamai sebagai suatu pembicaran atau keluhan. Ia terus bicara dalam suatu intensitas yang tidak wajar, tempo yang terlalu capat, dan kadang sangat lambat hampir dua puluh detik jeda dari tiap kata-kata yang meluncur. Dan sekarang aku mulai mengerti, dalam berbicara rupanya ia lebih gemar memerhatikan bunyi suara dari pada suatu kaitan yang menentukan makna pembicaraanya, sesuatu yang sangat wajar bagi para penderita skizofrenia.

*****
Aku terbenam dalam pikiran sendiri terlalu lama. Mestinya aku harus merespon Alissa agar ia tetap merasa nyaman dan aku sendiri membutuhkan segala cara agar tidak terlihat gugup. Aku lalu berkata padanya.
“Walaupun begitu, awalnya semua adalah cahaya. Begitualah dunia, hanya serupa bayang-bayang diantara cahaya dan gelap. Dunia dan manusia tidak bisa ditilik dari gejala yang jelas atau tidak terlihat sama sekali. Tapi bayang-bayang di antaranya. Karena itulah perjuangan manusia adalah untuk melawan lupa. Mencari dan menemukan apa yang hilang dari jiwa kita, dari kesadaran kita. Dan manusia punya bakat yang sama kuatnya untuk merasa kehilangan,” ujarku.
Sejenak Alissa terdiam beku, aku sendiri tak bisa berkata lebih banyak. “mungkin itu berarti sebagai; kegilaan adalah naluri manusia yang murni, yang di kandung setiap manusia.” kataku kemudian. Dan sesungguhnya aku tidak begitu yakin dengan kata-kataku sendiri.
Mendengar ucapanku, kulihat Alissa kembali tersenyum, matanya terlihat berbinar dan itu jauh berbalik dari ekspresi wajahnya beberapa menit yang lalu yang nampak murung dan sedih.
“Katakan padaku bagaimana kau bisa berada disini, apakah kau tidak menginginkan berada di luar sana? Apa kau tidak pernah memiliki hubungan khusus dengan seseorang?” aku berusaha mendesak Alissa dan mengendalikannya, tetapi ia hanya terdiam dalam kebekuan yang tak dapat diartikan.
Melihat matanya yang kembali redup berlari ke-kedalaman jiwanya yang jauh, aku mempersipakan diriku untuk mendengarkannya:

“Aku merasakan kegugupan yang sama seperti yang di alami setiap orang di rumah sakit jiwa ini; kemudian dipaksa tenang oleh suntikan bius yang membuatku menjauh dari dunia yang begitu ramai ini. Sampai rasanya aku semakin terbiasa dengan semua yang berlaku di sini, dan merebahkan tubuhku setiap kali malam mulai larut, berpura-pura terlelap dalam tidur untuk menghindari suntikan ; diam-diam, dan selalu demikian, bila kurasai malam mulai larut dan sepi, aku bangun dan banyak membaca buku. Berjalan-jalan dan mengintip dunia dari balik tembok-tembok tebal ini.”

Aku mendengarkannya, lalu aku berkata pada diriku sendiri bagaimana yang dikatakannya mungkin keluar dari seorang gadis yang tidak waras? Lambat-lambat tidak kusadari bahwa aku telah sejauh ini berjalan di jalan yang asing yang tidak pernah kurencanakan sebelumnya, jalan kegilaan?__tapi pikiran yang menyeruak itu segera bertabur pecah ketika Alissa menatapku, dan sejenak saja atmosfir dari diri yang tidak bisa kupahami itu menggelombang dengan halus kepadaku, menyentak-nyentak kesadaranku hingga rasanya…entahlah apa yang bisa kurasakan. Hal ini semakin sulit untuk kugambarkan setiap saat terjadi. Perasaan seperti terasa sangat halus menembus kalbu dan apa yang bisa kuambil pengertian.
Aku lantas memperhatikan ke dinding dan aku membaca tembok yang sesak oleh tulisan yang seperti struktur sebuah puisi. Tulisan itu memenuhi hampir seluruh dinding.
‘Bagaimana ia bisa melakukannya jika ia seorang Gila?’ pikirku lagi dalam ketermenungan yang belum usai.
Aku membaca tulisan di dinding dimana kini Alissa tengah menatapnya dalam-dalam;

“Apa sebenarnya itu artinya:
Lahir, untuk melahirkan waktu
Dalam kenekatan kesadaran-
Untuk apa “aku”?

“Aku merasakan kegugupan yang sama seperti yang di alami setiap orang di rumah sakit jiwa ini; yang kemudian dipaksa tenang oleh suntikan bius yang membuatku menjauh dari kesadaran yang nyata. Aku semakin terbiasa dengan semua yang berlaku di sini, dan merebahkan tubuhku setiap kali malam mulai larut, berpura-pura terlelap dalam tidur untuk menghindari suntikan….. diam-diam, dan selalu demikian, bila kurasai malam mulai larut dan sepi, aku bangun dan banyak membaca buku. Berjalan-jalan dan mengintip dunia dari balik tembok-tembok tebal ini.” Ujar Alissa, nada suaranya tampak sedan.

Apa yang dikatakannya adalah hal yang mendalam dan waras bukan? Kali ini aku melihat matanya kembali redup, seperti ia tengah berlari ke kedalaman jiwanya sendiri yang jauh, sebuah perjalanan yang mendalam dan aku hanya bisa mempersipakan diriku untuk menyimaknya dengan teliti. Begini katanya:

“Kau menunggu seseorang yang sebagai takdirmu; dialah seseorang yang bakal memberimu pengertian atas rahasia-rahasia hatimu sendiri yang sekarang tak kau fahami dan tidak kau mengerti, lantaran Dialah jawabannya…Itulah yang lelaki asing itu katakan padaku, dan dia tak pernah tahu, dialah seorang yang walau hanya orang asing bagiku, tapi hatiku sampai kedinginan menungguinya. Beberapa tahun yang lalu, dan ternyata itu untuk terakhir kalinya aku bisa bicara dengannya, mendengarkannya bicara dengan kelembutan dan kemanjaan yang khas, sesuatu yang menggetarkan jiwaku. Aku masih ingat kata-katanya, senyuman dan kemarahannya yang istimewa. Semua itu sekarang sudah berlalu…. Tapi dalam kehampaanku hal itu malah menjadi lebih nyata, kenangan yang sebentar bersamanya. Apakah hidupku tidak riil? Aku tidak tahu keberadaanya sekarang, tapi aku berharap dia baik-baik saja. Itulah kebahagiaan yang pernah ia ceritakan padaku; saat kita bisa meyakinkan diri kita sendiri bahwa orang yang kita cintai bahagia di sana, di dunianya di mana ia merasa damai dan bahagia, sekalipun kita tak tahu, tak pernah akan kembali tahu. Dan malam ini rasanya sudah menjadi waktu yang paling tepat untukku kembali pergi dan berlari; semoga tak malah lebih menjauh dari hakikat diri. Rasanya aku sekarang hanya serupa debu; terbang ringan menempel di tembok-tembok yang adalah takdirku juga.”
Alissa lalu terdiam untuk waktu yang lama. Aku terdiam. Beku suasana. Sunyi mendera kami berdua.
Aku berusaha memutar ulang pendengaranku, aku tidak boleh larut dalam apa pun yang dikatakan Alissa; sesuatu yang lebih terdengar sintagmatik ketimbang paradigmatik. Aku berusaha mencernanya dan mengartikannya dengan sebaik-baiknya, dengan apa yang kukenali dari jiwanya yang traumatik.
Kecuali karena ia tak melakukannya dengan sadar, sesungguhnya aku rasa hal semcam itu adalah hal baik bagi mereka yang gemar dengan kata-kata dan mengarang. Kurasa itu bagian dari bakat yang membuatnya istimewa seagai seorang perempuan, sayang dewa-dewa kecil melankolis terlalu berkuasa atas memorinya dan dengan sangat perlahan merebut semuanya darinya, menguasai dan mengendalikannya.
****
Waktu berjalan makin jauh, tak kusadari tiga jam lebih aku sudah bersamanya. Aku harus pergi, dan kurasakan suatu perpisahan yang aneh setiap kusadari aku akan meninggalkannya di tempat sepi ini sendirian. Aku tiba-tiba membayangkan jika malam ini, ditengah kedinginan ini, kami dapat bersama di jalanan dan menyaksikan malam sambil memakan makanan ringan, menonotn film, menonoton sebuah pentas teater, atau apa saja; atau kami bisa bicara di sebuah lapangan di bawah rembulan atau…. Atau aku harus jujur padanya bahwa setelah aku meninggalkannya di pavilum ini, aku berbohong bahwa aku akan berkencan dengan seorang gadis dan melewati malam-malam penuh romansa; yang terjadi padaku adalah tak jauh berbeda dengannya, melewatkan malam sendirian bersama dingin dan kesepian. Yang bisa kulakukan setelah meninggalakan pavilum ini adalah menuliskan kisahnya, sesungguhnya kehidupannya telah menginspirasiku untuk menulis.
Maka sejauh apa aku menjadi semakin sering mimikirkan untuk menghabiskan malam dengan Alissa, kenyataanya yang teralami hanya sebuah pemandangan yang membuatku terlibat dalam suatu empati yang mengerikan bahwa aku mulai tidak tahan membiyarkan suatu perpisahan yang mengerikan bagi Alissa tatkala beberapa penjaga akan menuntun atau menyeretnya ke selnya untuk kemudian membenamkannya dalam dunianya sendiri yang gelap, beku dan tidak nyata; yang di sana ia sendirian dan ketakutan.
Bulan demi bulan terlewati bersama kebersamaan yang tidak mudah. Beberapa kolega dan dokter senior menilai proses pennyembuhan Alissa sangat lambat dan nyaris tanpa kemajuan yang berarti. Seminggu yang lalu, suster yang menjaga Alissa mendapati Alissa sekarat karena menolak makan. Ia mengira dirinya telah meninggal dunia, dan ia berpikir bahwa mayat tidak pernah makan.
“Selain menendang dan dan mencakar apa lagi yang bisa dilakukannya? Aku tidak ingin menyebutmu sebagai dokter yang tidak handal. Tapi jika dalam beberapa minggu kedepan tidak ada perubahan yang berarti, maafkan aku bahwa hari-hari kalian akan segera tamat.” ujar kepala rumah sakit padaku, terdengar seperti sebuah ancaman.
Hal itu memang tidak mudah, kadang aku merasa kehabisan akal sehatku bagaimana mengembalikan Alissa kepada dunia yang di penuhi benda-benda ini. Tapi seperti seorang guru aku mulai mengenali Alissa dan belajar banyak hal pada yang dialaminya. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa semua akan menjadi lebih baik dalam beberapa minggu kedepan, dan aku akan melakukannya dengan caraku sendiri, dengan jiwaku sendiri, dengan rasa kemanusiaanku yang terdalam.
Langit diluar selintas seperti mau hujan. Hari ini hari rabu yang mendung. Aku kedalam selnya dengan perasaan yang lain, sama sekali berbeda seperti saat pertama kali menemuinya. Kali ini aku tak lagi diliputi rasa cemas dan takut yang tidak wajar seperti biasanya. Aku membuka pintu pavilium selnya dengan halus seperti membuka pintu rumah seorang kekasih. Alissa duduk di atas dipan tidurnya, dari pengamatanku keadaannya jauh lebih baik. Aku mendekatinya sampai akhirnya bisa kulihat pemandangan yang lain; aku melihat matanya cekung, tatapannya jauh dan diliputi kegugupan seolah ia lelah mencari dimana suaranya berahir dan pikirannya berawal….
Hari menjadi malam, pukul 21.30. Rumah sakit ini mulai sepi, hanya beberapa dokter jaga saja yang tinggal. Mereka tidak punya pekerjaan lain selain mengatur kehidupan pasien seperti mengatur binatang buas, tanpa emosi dan rasa empati sedikitpun kecuali pada dirinya sendiri; menyuntikkan bius dan lelaplah semuanya. Dan kebinatangan pun usai.

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Oktober 2012
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 47,981 hits
%d blogger menyukai ini: