Bagian keempat: Lilin yang meredup

Tinggalkan komentar

Oktober 19, 2012 oleh sabiq carebesth

Lilin yang meredup.

18.00 Wib.
Di luar angin hanya berdesir menyisir debu dan bau plastik di sepanjang kanal air kota tua Jakarta. Burung gereja bermandi senja mempelengi keemasan menjatuhi tembok-tembok, bergelantungan di antara kawat-kawat listrik, gereja putih Sion dan stasiun kereta tua.
Itu semua tampak magis. Tapi cobalah tengok ke dalam rumah sakit jiwa ini, tempat dimana aku bekerja dan sekaligus terasing, dan hanya karena pertemuan tak terdugaku dengan Alissa dalam rumah sakit jiwa ini, sebagai pasienku, aku punya sedikit kenangan yang manis untuk bisa bertahan dalam keabsurdan sebagai seorang psikiater.
Ruang ini menyusur seperti gua, tawa yang terdengar kering udah menggelegak sejak langkah kaki masih selangkah dari pintu utama pavilium, makin berjalan menjauh ke dalam, sendu tanpa rupa dalam wajah para gila adalah pemandangan nyata, nyaris seperti sebuah drama tanpa alur dan tanpa akhir; sebuah pentas drama tanpa dialog! Ruangan Alissa berada di ujung lorong ini. Menghadap ke arah kota tua melalui jendelanya.
Jendela yang segera akan memekarkan paradoks dalam keabsurdan melihat dunia di luar jendela. Dan alissa akan tampak seperti sebuah lukisan roamntik jika tengah berdiri di balik jendelanya, ia cantik dan wajahnya menunjukan kesempurnaan emosi.
Suara klakson kereta api terdengar juga di ruang ini seperti suara lonceng gereja memanggil jamaat, di luar pasti kereta api sedang menunggu dengan terburu penumpang yang juga terburu-buru; berebut mau menuju yang dirindu, seperti jamaat dalam gereja merindukan perbukitan Sion.

Sekarang tengoklah padaku, hanya bisa menikmati minumanku, menghisap rokok kegemaran dengan sembunyi-sembunyi dan tak ada yang kurindu, dan aku juga jadi tak harus terburu-buru karena aku tak tahu yang mau kutuju. Maka dalam keadaan batas kemuakan yang demikian Alissa memberiku suatu rasa hidup dengan cara yang tentu saja aneh dan tidak langsung, Alissa memberiku kesempatan untuk hidup dan menikmatinya; menunggu Alissa terbangun dari mimpinya. Itu saja

tentangku. Seorang dokter dan psikiater yang terasing, sendirian, tragis dan tak ada yang dituju sehingga hanya bisa hidup dalam kemuakan akan keterlibatan yang intim dengan seorang gadis muda yang irasional seperti Alissa. Barangkali hanya itu yang bisa dikenang jika aku nanti mati. Tapi toh aku juga tak seberapa perduli.
Hari ini aku sengaja menjenguknya di penghabisan sore, ingin kuceritakan padanya tentang senja dan desaku yang jauh, mengajaknya agar lebih aktif dan berharap pada kesembuhannya dapat berjalan lebih cepat, tapi rupanya hewan liar dalam pikirannya mengusiknya dan beberapa saat yang lalu para penjaga dan suster pasti merobohkannya dengan suntikan penenang. Wajahnya nampak pucat dan tiada warna, dalam tidak sadar matanya masih menampakan kegelisahan dan rasa cemas yang belum juga bisa kedefinisikan. Pengaruh suntikan penenang pada Alissa akan membutuhkan waktu empat atau lima jam untuk mengembalikannya kepermukaan dunia yang dipenuhi benda-benda ini.

Aku mengamati Alissa begitu lama, seperti sebuah fosil dari pualam yang dikerjakan oleh pemahat sebagai pengabdian terakhir sebelum pemahatnya memilih mati, sungguh sebuah karya seni yang indah. Tapi entahlah, ini suatu yang mustahil dan tidak semestinya terjadi pada Alissa, ia sungguh tak seharusnya menjadi hambar pipinya, kecut pada bibirnya dan tatapannya begitu muram; lagi pula dari buku yang berserakan di ranjang tidurnya aku bisa mengerti siapa dirinya dan dari mana ia berasal. Buku-buku yang berserakan itu adalah buku yang jarang dimiliki gadis seumurannya bahkan di kota sebasar Jakarta ini.

Sebuah buku menarik perhatianku , buku tua dan kertasnya memudar, kuambil di atas mejanya, tapi sebuah buku diary segera mengintip dari baliknya, dan buku itu seketika melibatkan sebuah metanomia layaknya aku seorang pengarang fiksi handal. Aku segera menjulurkan tanganku dan meraihnya tanpa menimbulkan keberisikan yang berarti.
Aku tahu ini tidak akan begitu baik bagi sikap seorang dokter, tapi aku harus melakukannya demi membantunya mengingat lebih dalam segala yang kini tak bisa ia angkat kepermuakaan dunia benda-benda berkalang keheningan kota Jakarta ini. Aku tak perduli, aku membangun pembenaran untuk diriku sendiri, kupikir buku harian ini adalah sebuah peta awal menuju jalan sunyi menelusuri kandungan jiwanya yang seperti labirin sempurna bagi manusia yang kehilangan.
Aku membacanya dengan penuh ketelitian, setiap katanya menyumbalkan perhatian dan tanda tanya untuk digaris bawahi:

“Malam telah tiba kembali, dan bagiku seperti tak berbuah setiap kalinya. Redup mengalun saat siang dan malam, antara terik dan nyaman, mentari dan gemintang, bagiku tiada berbeda; sebab terkenang padamu. Aku merasakan kesunyian mulai menyata seperti biasanya. Aku membangunkan tubuhku, duduk dan melihat sekililing, kurasai seperti ada yang datang.
Pintu utama menuju ruangan ini bergerak dengan pelan, kudengar suaranya berdecit. Bau harum seperti wangi kopi dan vanila menyebar kedalam ruangan ini bersama langkah kaki yang halus dan hati-hati.
Kemudian langkah kaki itu semakin mendekat kedalam bangsalku….sesosok laki-laki bergerak ke arahku seperti sebuah bayangan, sosok itu rupawan dengan rambut ikalnya yang tampak lusuh, matanya tajam, kemerahan teteapi teduh. Tatapan matanya yang mencahaya kemerahan mengalirkan magis kemuraman yang teramat melankolis, mata itu lurus kaku ke arahku, dan aku seolah begitu saja tersihir untuk patuh kepadanya.
Dalam kegelapan malam yang meraja sejadi-jadinya, laki-laki bermata kemerahan itu seperti cahaya yang memintaku untuk tidak membuat berisik dengan telunjuk jari tangan yang ditempelkan di bibirnya yang berdesis.
Laki-laki itu dekat di sisiku. Duduk di atas kasur biruku, memandangku dan perlahan-lahan membimbing tanganku. Ia membawaku keruangan dimana biasanya aku di ajarkan untuk memanjatkan doa.
Ruangan ini nampak sepi dan selalu gelap. Sengaja tidak ada pencahayaan yang terang kecuali dari sebatang lilin yang menyala di atas meja di dekat meja piano. Terdapat beberapa gambar dan lukisan laut dan perahu di bawah senja yang cahayanya terbelah sayap sepasang bangau. Juga lukisan anak-anak di suatu hari yang ceria.
Lelaki itu masih memegangi lenganku. Ia kini meletakkan kedua tanganku di atas pundaknya ketika ia duduk di kursi piano. Dan aku berdiri membeku di punggunggungnya yang tampak putih seperti dermaga hayalan.
Kemudian ia memainkan piano itu, menyentuh dan menekan batang-batang piano tua itu dengan kelembutan yang sempurna; nyaris seperti sebuah kematian yang datang perlahan-lahan; nada pun mengalun dengan halus menciptakan bunyi seperti sebuah sungai sedang menari sendiri ditengah gulungan ombak yang membadai di sebelahnya; dan hutan-hutan menjeritkan kesepian orang-orang yang mati sembunyi-sembunyi.
Aku tersihir, setiap saatnya makin larut mendengarnya; seolah-olah aku pernah mendengar suara dari bunyi dentingan piano itu, seolah aku pernah mengalaminya dan mendengarkan seorang melantunkan puisi-puisi mistik dengan harmoni yang putus asa dan begitu sedih dalam sebuah nada dari matra yang tampak kacau.
Kekacuan yang sama meliputi perasaanku ketika dengan satu tangannya yang kanan lelaki itu membimbing tanganku untuk meraih sebuah kertas dan pena yang terletak di meja piano, ia memintaku menuliskan sesuatu sekehendak hatiku agar menjadi harmoni musik dan lyriknya.
Tujuh ilin yang meleleh di atas meja doa memancarkan cahaya yang semakin kemilau, bertambah terang hingga menjadi kilatan yang membanjiri kedua bola mataku yang terasa redup.
Maka dengan bentangan cahya mempelangi yang sedemikian rupa, seketika membawaku jauh dalam mimpi, dengan perlahan-lahan ruangan ini seperti berganti bentuk, dan begitulah aku terus menuliskan sesuatu seolah aku adalah jarak bagi setiap bentuk dan benda-benda di sini :
Dinding tebal berwarna laut di ruangan ini dengan samar dan perlahan sepeti bayang-bayang kemudian mencair menjadi kali-kali yang memanjang hingga jauh. Lukisan anak-anak itu seperti bergerak dan hidup, mereka bermain dan meraih sebuah perahu kecil untuk mereka larungkan. Burung-burung bangau seperti terbang mengepak-ngepakkan sayapnya di atas ombak
Ruangan ini berganti bentuk seluruhnya, aku merasa berjalan-jalan di dalamnya; melewati tepian laut yang membiru dengan ketenangan yang sempurna, melihat batu-batu tua yang berlumut-lumut biru di pinggir karang pantainya, airnya sesekali mengerling tertimpa matahari. Aku menyusuri sepanjang bibir pantainya hinggga tiba di sebuah bukit yang menjulang, dermaga yang tampak seperti sebuah gereja kecil yang di pagari cemara. Lalu dari balik cemara itu menyeruak sebuah cahaya kebiruan yang ternyata mata seorang gadis kecil yang jelita, Gadis bermata sedih itu serupa aku; lalu menatapku dan dengan tatapan matanya menggiringku untuk patuh mengikutinya hingga kesebuah meja piano di sisi mimbar khotbah dalam gereja.
Gadis kecil itu meraih gagang-gagang piano yang terletak di dekat meja altar yang menyala dua lilin di atasnya. Gadis kecil itu memainkan lagu yang tidak kukenali, bibirnya yang merah bergerak-gerak seperti melafalkan sebuah sajak yang terdengar seperti firman suci, lantunan lagu itu berhenti saat aku sepenuhnya tersihir. Gadis kecil itu mendekatiku, memanjatkan pangkal kakinya hingga tubuhnya nyaris jatuh diatas dadaku. Bibirnya mendekat dan aroma nafasnya persis di lubang hidungku, aroma nafas yang begitu harum, menyebarkan aroma yang oriental dan bila bibir itu kemudian menempel di pipiku untuk beberapa saat lamanya, bisa lagi kukenali gadis kecil itu sungguh serupa aku, dialah wajah kanak-kanakku, musik itu, nyanyiannya, adalah musik dan laguku. Aku seperti terbang dalam sebuah malam dansa yang mempesona.

Aku berdansa dengan diriku; dengan aku yang masih kanak-kanak.
O, kemanakah gerangan pergi lelaki itu ?
Kekasihku..kekasihku…musik dari melodi kesunyian; hening.
Kegelapan! Kegelapan-kegelapan….
Lilin itu tiba-tiba mati tertiup hembusan angin dari sudut jendela. Kedinginan menusuk-nusukku dengan kuatnya, tulangku seperti tiada berdaging dan berkulit, kedinginan yang begitu nyata dan tubuhku menggigil begitu rupa.
Keheningan itu menyata dengan sempurna. Tiada cahaya, tiada lagu dan nada lagi. Hanya sebuah tubuh yang kurasai mendekapku dengan begitu erat seolah enggan membiyarkanku dalam kedinginan yang nyaris membuatku beku ini. Tubuh itu seperti kedinginan pula, mendekapku semakin erat hingga detak jantungnya bisa kudengarkan mau seirama dengan detak jantungku.
— Bagaimana itu seorang yang asing datang dengan tiba-tiba; hadir dalam sepenggal kehidupan kita seperti sebuah takdir yang mengintip sejak masa yang jauh. Takdir itu menunggu dan seperti sebuah lingkaran besar seorang tidak bisa menghindar.–
Aku mulai tersadar dengan suara itu. Kegelapan ini begitu nyata. Sebuah gerak tangan berkelebat menyalakan api dari tangannya. Menyalalah kembali lilin itu untuk memberi terang. Dan betapa aku tersadar tubuhku tengah tergelatak lunglai, sekujur tubuh nyeri dan sakit. Dan aku tersadar, untuk mulai berusaha menerima keadaanku, aku dirumah sakit jiwa, itu lah kenyataanya.
Aku hanya bisa mengingat perkataanya, sesuatu yang jauh yang dihadirkan selalu dimasa kini dan menuntun terus menerus hidupku dalam bayang-bayangnya yang tak pernah berhasil kuredam.
Jam berdentang di dinding, membunyikan gema yang menjengkelkan, pukul 21. 00. Aku tahu ini waktuku untuk kembali kedalam mimpiku, terjun bebas kedalam ketidaksadaran dimana larutan pixil yang disuntikan dengan kasar oleh seorang suster akan mengakhiri ceritaku hari ini.
Dan rasa kukehilangan; kehilangan diriku.”

22.00 Wib. Aku melihat pada Alissa masih tertidur lelap dalam pengaruh obat dan suntikan anti depresan yang diberikan padanya sejam yang lalu. Aku melihat pada wajahnya, betapa kesepian itu ada dalam dirinya sendiri, kesunyian itu ada dalam hatinya, kenangan itu hanya miliknya. Selamat malam Alissa, aku tak sanggup menelusuri lebih jauh belantara kelam untuk menemukan keberadaanmu yang kau sendiri begitu bimbang.

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Oktober 2012
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 46,296 hits
%d blogger menyukai ini: