Bagian dua: Kota dan Nostalgia

Tinggalkan komentar

Oktober 17, 2012 oleh sabiq carebesth

Kota dan Nostalgia

Alissa melihat kotanya dari balik jendela pavilumnya. Jendela dari sebuah ruangan kecil rumah sakit jiwa. Ia memandangi kotanya; melihat kepada jalan-jalan dan gedung-gedungnya, ia lalu merasa seperti tengah melihat dirinya sendiri. Kotanya adalah ruang padat berisi fosil-fosil tentang kenangan. Dan ia merasa jiwanya mengering, rapuh, menjadi fosil. Jiwa Alissa yang terkurung sendiri melawan kecemasan irasional yang memburunya entah dari dunia yang mana, kesipan yang segera berganti menjadi rasa sakit ketika sebuah suntikan menerobos pelan-pelan untuk menelusuri rasa sepi yang terkandung di dalam batinnya; ia merasakan perutnya mual oleh pixil dan haldol.
Akan tetapi dalam benaknya yang mendalam, dengan cara yang fantastis dan kadang memuakkan ia masih dapat dilihat dan mengingat semua yang terbaik tentang kotanya; pemandangan burung-burung bangau dan burung gereja yang terbang melintasi kawat-kawat listrik, pagar-pagar besi, rumah beton, kemewahan di sudut kota, burung-burung gereja yang memenuhi kota; kehadirannya membuat kota ini jelita. Namun di penghujung tahun-tahun ini burung-burung mulai jarang terlihat, orang-orang gemar menutup halaman rumah dengan batu atau beton, menebang pepohonan, hingga menyebabkan hilanganya serangga yang mejadi sumber makanan burung-burung. Hilangnya serangga di musim yang panas terasakan seperti kiamat yang melanda burung-burung. Barangkali demikianlah sesuatu memang tak bisa dijauhkan dari bagian kodratnya. Seperti diri dijauhkan dari dirinya sendiri yang asli yang menjadi inti kehidupannya, ia memang mungkin tetap bertahan dalam kehidupannya, tapi selalu dalam kehampaan dan begitu muram sebagaimana Alissa. Dan juga kemuraman yang melanda kotanya bersama ribuan bayangan dari langkah kaki manusia yang berjalan terburu-buru; menjadikan kota ini segera seperti kota lain di dunia; kota metropolis; kehidupan yang nyaris tanpa jeda; kawasan kapitalis yang menuntut semuanya serba cepat, praktis dan lalu habis. Selebihnya keterasingan.

Tapi bagi Alissa, hal paling mudah ditandai di kota ini adalah menandai datangnya musim hujan. Musim itu akan tiba ketika bulan Agustus sampai tahun yang baru tiba. Sepanjang bulan itulah hujan adalah keintiman yang datang tanpa demam, seluruh kota tergenang dalam banjir ; seketika seluruh kota seperti tenggelam dan membeku. Jakarta dalam abstraksi dan ilusi, sebuah kota metropolis yang sekilas mirip dengan banyangan kota-kota khayali dalam negeri dongeng, yang tidak perlu ditanyakan keindahan dan keentengannya, sebab sama dengan ketidaknyataannya. Maka lihatlah kota ini dalam manusia-manusianya bila ingin memahami kenyataanya. Manusia-manusia aneh, ironis, tragis dan seperti tidak nyata, sebab semua manusia-manusia di kota ini menampilkan dirinya dalam sebuah topeng individu yang ringkih, dikalahkan dan tidak mengerti bagaimana merubah semua itu. Setiap manusia di kota ini sesungguhnya dalam kesepian, lantaran setiap orang sebenarnya dalam kesangsian; dan kehidupannya pun sebenarnya berjalan biasa-biasa saja.

****

Di kota ini manusia seperti berkelana dalam kabut. Kehidupan adalah kesepian, tiada manusia mengenal yang lain, masing-masing sendirian. Seolah yang tersisa hanya kekelaman. Masih mungkinkah ada romansa? Masih adakah tempat untuk yang bernama kenangan? adakah tempat untuk Kelembutan melodi dari nyanyian daun jatuh, kesunyian hujan yang membuat burung-burung gemar bernyanyi dan dedaunan menari dalam badai di senja sore? Masih bisa kah Alissa merasakan kelembutan kotanya di antara gelak tawa dan humor kering penghuni rumah sakit jiwa? Ini akan sangat menjengkelkan buat Alissa.

Ruang pavilium tempat Alissa menghabiskan hari-harinya ini hanya selebar dua kali dua meter, sebuah meja besi dengan kasur yang tertutupi seprai warna abu-abu dan kainnya kusam. Sebuah meja kecil dengan laci terbuka dan beberapa buku kegemaran Alissa terletak diantara bungkusan obat dan alat penenang. Dinding itu berwarna putih dan sebagiannya retak. Pencahayaan kamar begitu buruk; selain dari pada lampu yang tidak begitu terang, kamar ini hanya mendapakan cahaya dari sebuah lubang tikus yang tidak langsung menghadap ke matahari. Para pasien di pavilum ini aku yakin tidak akan pernah mengerti betapa romantisnya senja sore yang berwarna keemasan itu.
Sampai beberapa saat lamanya aku masih terus memerhatikan ruangan ini dari lubang yang kubuka lebih lebar, kudekatakan bola mataku lebih dalam seolah aku ini bukan seorang dokter jiwa.
Akhirnya aku membuka perlahan-lahan pintu besinya, Alissa segera terbangun dari rebahnya, sepertinya ia keget dengan pintu besi yang terbanting. Kemudian Alissa dengan capat memperagakan tubuhnya dengan tidak wajar sebagai tanggapan atas suara. Dalam waktu yang lama, matanya terbuka lebar, menatapku seperti menatap malaikat yang hendak menghukumnya dari kesalahan tak termaafkan….ia lalu beridiri di ruang menghadap dinding ….tidak responsif terhadap verbalisasi, sesekali kembali menatap persis ke mataku dengan pandangan kosong …. berjalan bolak-balik dalam ruangan dengan gerak-gerik yang aneh. Entah karena merasa takut ia meloncat menjauh ketika aku mendekatinya. Beberapa kali ia berkata.
”Aku lebih suka kau terlihat seperti itu, dan diam berdiri ditempatmu……..” pekiknya.
Aku tak menjawab. Bahkan aku tak memberikan reaksi fisik apa-apa. Aku menurutinya, menghentikan langkahku yang baru setengah jangkah. Aku lantas kembali memandangnya penuh perhatian, dan ia kembali bereaksi sama, reaksi fisiknya dari sebab kecemasan dan pobia. Aku sengaja tidak berasksi lebih lama, aku hanya diam ditempatku, sambila menatap kepadnaya dalam-dalam dan sesekali memanggil namanya berusaha mengajaknya berkomunikasi.
“Alissa…” panggilku. Aku berusaha mengajaknya bicara lagi setelah beberapa detik berlalu. “Aku akan membantumu untuk keluar dari sini, pulang kerumah dan ….percayalah padaku aku akan bisa menjadi sahabatmu yang baik sejak sekarang. Aku seumuran denganmu dan jika kau mau tahu, biarpun aku seorang dokter, tapi kehidupanku tak kalah kacaunya. Aku sendiri, merasa bosan dan aku juga mengkonsumsi alkohol dalam beberapa kesempatan. Tapi aku akhirnya mengerti, hidup ini indah, apapun warnanya, kita tampaknya hanya harus mengambil pena dan mulai menulis, atau menggambar wajah kita sendiri.” Aku membujuk, berusaha dekat dengannya.
Alissa memandangku dan aku melihat ia sedikit menghirup nafas lega dan mengendurkan dadanya yang menahan sesak. Tapi ia tidak bicara apa-apa, ia hanya memandangku dan sesekali menghirup nafas dalam-dalam. Sampai akhirnya ia kembali menunjukan reaksinya yang tidak wajar. Malah kali ini ia tampak tidak berhubungan dengan tubuhnya sama sekali, menahan tangan di posisi menyudut. Mulai menangis dan meringik seolah ada kalajengking sedang merayap ke ubun-ubunnya. Menyatakan ia ketakutan, menolak mengganti pakian tidur karena harus keluar kamar, ia khawatir tidak bisa berbuat cepat bila terjadi sesuatu.
Aku berusaha membujuknya kembali, au pikir aku harus menjadi diriku, dan bukan seorang dokter yang merunut daftar dan kategori-kategori. Penyakit jiwa harus disembuhkan dengan jiwa, dengan belajar dari pengalaman yang selalu berbeda pada setiap diri dan kesempatannya. ” Tangan kembali ke sisi tubuh. Coba berpikir lurus. Apakah ada cara logis untuk keluar dari teka-teki ini. Jangan lupa pikiranmu, jangan lupa…” kataku. Aku berusaha mendekatinya, aku mencoba meraih tangannya. Alissa menatapku dengan pandangan yang dapat kuartikan lagi. Aku berjaga-jaga dan dalam diriku bersiaga bila ia bereaksi berlebihan, tapi yang terjadi ia malah seperti tersungkur kelantai, duduk dan wajahnya sangat lemas. Matanya memandang kelantai seperti seorang tengah mencari.
”Kepala saya retak di tengah, otak saya jatuh bececeran dilantai dan dengan aneh kujulurkan jar-jariku untuk memungutnya. Dan orang-orang terpeleset di lantai karena cairan licin dari otakku yang pecah dan tercecer di lantai…apakah saya telah mati….” ujarnya kemudian dengan gugup. Emosinya sangat rawan.
Aku mendengarkannya dengan perhatian dan mulai melibatkan diriku terlalu dalam. Sampai rasanya aku sulit lagi membedakan mana dunia yang riil mana yang ilusi. Aku sekali lagi menghela nafasku dan mulai lagi menarik diriku dari ilusi kegilaan ini.
Aku mengerti sekarang dan bisa lagi kukendalikan diriku, membangun benteng pembatas duniaku dan dunianya, aku berusaha selalu dalam dunia yang riil penuh benda-benda, aku harus bisa membedakan diri. Kegilaan adalah teatrikal alamiah, ketika Alissa yakin bahwa didalam tubuhnya bersemanyam seekor binatang buas, maka sebagai seorang psikiater aku harus berpura-pura tengah membersihkan perutnya dengan kuat-kuat, menarik binatang itu keluar dan memperlihatkannya diatas nampan atau bejana. Aku tahu ini adalah tipu muslihat. Tapi nyatanya, aku pikir kemudian, tidak ada cara lain untuk bergaul dengan kegilaan kecuali harus masuk kedalam pentas teatrikal kehidupannya.

******

Perlahan-lahan ia pun mendongengkan kembali fantasinya, yang hanya dengan cara itu hari ini masih sanggup ia lewati. Demikianlah selalu yang dilakukannya menjelang kesembuhannya. Alissa mendongeng, Alissa berfantasi, Alissa melakukannya dalam menulis. Setelah usai ia merangkai kertasnya menjadi burung-burung kertas ; aku memungutnya selalu, kutumpuk dan kurapikan, ku tuliskan selalu untuk kisah dan kesembuhannya. Dialah gadis berjiwa besar, kisah hidupnya akan menjadi inspirasi, dan kurelakan tenagaku untuk menyusun kisahnya sampai yang penghabisan.
Apa yang akhirnya berlaku pada dirinya selama dua tahun lebih di pavilium rumah sakit jiwa adalah sebuah kegilaan yang datang tanpa demam; sari pati dari melankolia yang mengerikan bagi dirinya sendiri. Sebuah fobia, manic histeria yang dimunculkan dari kelam jiwanya yang jauh; jiwa masa kanak-kanaknya.
Bagaimana hendak mengatakannya seorang gadis yang gila, ia tak mengalami perubahan fisik yang mencolok kecuali pada tatapan matanya yang bersama berlalunya waktu tidak lagi memesona, semakin redup dan wajahnya beku. Di atas semua itu, ia adalah gadis normal dengan reputasi yang seluruhnya baik, gadis cerdas, mudah bergaul dan punya banyak relasi. Itu akan mudah dilihat dari caranya melihat dan mendengarkanku atau orang lain ketika tengah mengajaknya bicara. Ia tidak berlebihan dalam mendengarkan dan merespon. Sisa-sisa dirinya yang besar dalam pendidikan keluarga yang lembut dan hangat masih tampak jelas dalam dirinya.
Tetapi ia juga tidak akan bisa menutupi dirinya yang asli; ia yang dalam jiwanya merasakan sakit yang tak bisa ia mengerti, yang bila hal itu hadir, anehnya, ia malah memilih untuk menikmatinya, merasakannya seolah rasa sakit itu adalah kiriman dari malaikat lelaki yang tengah menginginkannya tumbuh. Tatkala banyak orang mengobati rasa sakit yang dikandung jiwanya dan berusaha membuangnya seolah hal itu tidak pernah berlaku, Alissa justru menyelam lebih dalam dan seperti seorang ilmuwan ia meneliti bekas-bekas lukanya, seperti ia tengah berusaha membiasakan diri dengan rasa sakit ketimabang menghindarinya. Dan sesungguhnya ia perlahan-lehan mulai mendambakan untuk bunuh diri setiap kali nostalgia hidupnya berusaha muncul kepermukaan kesadarannya. Nostalgia yang terbenam itu dirasainya seperti jalinan benang cerita yang nyaris tanpa akhir dan kadang tanpa garis penghubung yang memberitahunya dari mana semua itu berasal-berakhir. Perlahan-lahan keadaan itu membuatnya sulit membedakan kehidupan yang nyata dan hanya ilusi, sampai nanti ia barangkali akan benar-benar bunuh diri seolah di masalalunya ia pernah bunuh diri dan mati, dan kali itu ia akan mencobanya kembali.
Keinginan ganjil itu selalu hadir bersamaan dengan kilatan labirin masa silam yang hadir menggugatnya tanpa ia bisa melawan lagi. Saat itu terjadi ia seperti melihat dunia ini begitu kacau, rasanya ia ingin pergi mengasingkan diri kedunia yang lain, tetapi ia tidak tahu mesti kemana, sampai akhirnya yang ia bisa lakukan adalah menghabiskan hampir semua waktunya untuk memikirkan hal itu.
Alissa menyukai menulis. tetapi ia selalu gagal dalam usaha tersebut. Sebab hal itu pada mulanya bukanlah seni, tetapi emosi; yang ia lakukan hanya untuk menghindari kehidupan; ketakutan dan rasa cemasnya.
Waktu berjalan tanpa rasa beban akhirnya. Inilah yang kurasakan, seperti seorang guru kepada muridnya, aku mulai terbiasa dan membanam dalam empati hati yang melebihi diriku sendiri. Aku mulai merasakan apa yang mungkin dirasakannya. Aku berusaha mengenalinya, belajar darinya, dan aku berusaha selalu membantunya. Aku menarapkan prinsip-prinsipku dengan cara yang baik agar dia bisa menerimanya. Lalu bersama waktu yang berlalu menjadi bulan, bulan menjadi tahun yang pertama aku merasawat Alissa, aku melihat matanya, mulutnya, lengannya, otot di leher dan garis rahang pipinya, mengencang, semakin kuat, ia harus menghembuskan sesuatu, umpatan, rasa putus asa, dan ahirnya dalam diam saja. Aku melihat saat ia mulai kehilangan kendalinya dan sepertinya ia hendak menerkamku seperti musang kecil yang kelaparan. Dan bila melihatnya dalam kehilangan kendalinya aku selalu melihatnya dengan perasaan tidak terima, melihat penjaga yang merobohkan tubuhnya, menyuntiknya dengan cairan Pixel, lalu ia pun tersungkur, jatuh dan lelep mengasing entah ke dunia yang mana.

# Sabiq Carebesth, Oktober 2012

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Oktober 2012
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 47,944 hits
%d blogger menyukai ini: