Dua Orang Melihat Hujan

1

Oktober 13, 2012 oleh sabiq carebesth

Dua Orang Melihat Hujan*

Hari itu adalah hari sabtu yang biasa-biasa saja, dua orang asing datang bersama, di sore hari ketika senja bermega kemerahan itu tertutup kabut dingin bulan Agustus 1993.
Dua orang asing duduk terdiam di kursi warna cokelat dari kayu dolken di atas hamparan rumput hijau di serambi gereja Sion, keduanya sama-sama tidak tahu dari mana masing-masing datang, dan keduanya tak berusaha untuk tahu. Satu jam berlalu masih terdiam memandangi hujan di situ. Terus terdiam sampai beberapa saat lamanya seolah mereka adalah burung-burung gereja yang terbang di antara hujan hari itu, atau bunga-bunga, atau kupu-kupu, mencari jejak untuk berlari di antara tembok-tembok kelam gereja Sion Jakarta.
Beberapa menit dan mereka tak saling memandang, tidak sama sekali biar pun hanya sekelebat saja, mereka tidak saling berkata-kata; keduanya hanya saling menyapa dengan nafas yang berhembus dengan sesak, hela nafas yang terambilkan lebih dalam dari kedalaman jiwa yang jauh. Deru nafas yang bergerak keluar begitu perlahan-lahan, menimbulkan suatu bunyi yang mirip dengan suara butir-butir padi yang mengadu terbentur angin. Dan keduanya tak berusaha saling mengenal. Masih terus membenam dalam dunia kecil sendiri-sendiri. Gadis jelita itu, yang adalah Alissa, luput dalam sebuah buku yang tengah dibacanya, sementara laki-laki asing dengan mata mempesona itu hanya terdiam melihat ke kejauhan; dirinya pasif dan dingin, entah apa yang tengah menguasai pikirannya, dunia mana yang tengah ia lihat, tak satu pun yang tahu pasti. Dan sampai kapan pun ia hanya lelaki asing bagi Alissa yang datang pada suatu hari itu, datang entah dari mana kemudian duduk menyebelahinya di gereja. Ia asing, tidak lebih dari itu.
“Bagaimana bila hujan nanti tiba dan tidak akan pernah usai, selamanya hujan? Apa kau akan tetap duduk di sini? Bagaimana bila hujan itu tidak akan berhenti sampai kita menjadi tua di sini, membeku menjadi batu tua; ataukah kau tengah menantikan hujan sore ini? Supaya jiwamu yang terasa kering dan dipenuhi rindu pada hari lalu menjadi sejuk?” laki-laki itu bertanya. Mencoba memulai pembicaraan tanpa berusaha memandang Alissa.
Alissa mengabaikan semua itu begitu rupa, membenamkan dirinya dalam sebuah buku yang tengah dipangkunya dengan penuh perhatiaan. Sebuah novel karya Albert Camus.
“Apakah kau pernah berpikir seandainya Tuhan tidak ada? Bagaimana kau akan berharap orang lain untuk melihat padamu, pada kehidupan dan impian-impianmu, agar perduli padamu?” ujar Alissa tiba-tiba.
Suaranya lirih, tatapan matanya masih tertuju kepada kejauhan, ia sepertinya sama sekali tak berharap mendengarkan jawaban apa-apa, atau mengharap sesuatu untuk memecahkan kebekuan suasana.
Lelaki itu tetap tidak bicara apa-apa sampai beberapa saat lamanya sehingga keduanya kembali terjebak dalam diam yang membingungkan. Akan tetapi situasi yang diam itu dengan perlahan-lahan dan aneh telah berhasil memekarkan suatu pengertian dalam diri Alissa bahwa laki-laki disampingnya itu tidaklah seperti laki-laki yang lain yang pernah ia temui sebelumnya.
Laki-laki itu tampak begitu aneh dengan burung kertas yang dimainkan ditangannya seolah ia ingin mengajak burung artivisial itu bicara; Alissa merasa laki-laki itu bicara pada burung kertasnya, bukan pada dirinya, sehingga Alissa pun tidak dapat mengatakan pada awalnya apakah laki-laki dengan celana jeans hitam dan jaket jeans warna biru yang di kancingkan sampai leher itu adalah seorang yang tertutup, atau seorang yang puitis, atau seorang yang sombong, seorang bonaparteis penganut ide-ide absolut, seorang demonstaran penentang rezim militer, atau seorang kriminal yang ulung. Terlalu banyak yang harus diterka, dan apa perduli Alissa akhirnya.
Maka jadilah kemudian, sesekali bila ia tahu laki-laki itu tengah melihat ke kejauhan, ia menoleh kepada laki-laki itu, dengan sembunyi-sembunyi, kemudian kembali berkonsentrasi pada bukunya bila laki-laki itu menggerakkan badannya. Maka sesaat berikutnya, Alissa tidak hanya menoleh, ia sudah mengambil peran dan tempatnya dalam pentas waktu yang tengah berlangsung, ia kini memperhatikannya, dengan tatapan yang menyelidik. Dilihatlah olehnya kemudian suatu profil diri dari laki-laki itu dengan lebih terang sebagai laki-laki kurus pucat yang kelihatan lebih tua daripada usianya yang ia taksir dua puluh lima tahun. Wajahnya pucat nyaris-nyaris seperti beku, dengan pipi cekung dan rahang yang tirus tapi kokoh menunjukan sebuah kewibawaan khas seorang laki-laki. Tahi lalat di leher yang tak begitu kentara, rambut setengah ikal, seringainya aneh, tidak wajar tetapi garis-garis di wajahnya menampilkan kepekaan dan keberadaban, dan tampak cahaya hangat yang berbinar dimatanya. Tetapi yang paling penting dari semua itu adalah kedua matanya yang bersinar memesona. Hal itu nampak aneh, ataukah justeru menjadi istimewa, tetapi Alissa tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang penting. Kedua mata yang memesona itu memang menarik perhatian Alissa, ia memikirkannya sejenak, tetapi kemudian Alissa mengabaikannya.
Alissa tersinggung dengan sikap dingin lelaki itu. Ia setengahnya seperti melihat gambaran dirinya sendiri. Dan ia merasa heran pada dirinya sendiri mengapa ia begitu saja merelakan dirinya untuk memperhatikan laki-laki itu, laki-laki yang hanya asing saja dan tak ia ketahui namanya. Akan tetapi ia lebih merasa heran sebab entah mengapa walaupun ia rasa tersinggung, tetapi hatinya merasa kagum dan lega.
Waktu beranjak dan menit demi menit terlewati. Kini keduanya duduk dengan ragu. Alissa kini menjadi risih dengan kebekuan yang tak juga mencair itu. Ia kini berharap yang sebaliknya, ia kini perduli, ia kini gugup dan ingin memulai pembicaraan lebih dalam, lebih jauh.
Dan yang ia tunggu hadir tanpa di duganya, mulut lelaki itu bergerak, suaranya lirih dan kali ini matanya memandang persis di bola mata Alissa. Wajahnya ragu dan tunduk.
”Apa yang selama ini kau lakukan di saat mendung seperti kini, ketika burung-burung gereja seperti enggan berkelana; seluruh dunia seperti dalam diam. Siapakah yang bergerak dalam kesepian yang dingin semacam ini. Bagaimana bila nanti kau akan menanggung dari hidupmu suatu hidup yang beku, dingin dan kau tidak dapat menerima semua itu walau hal itu kau sadari nyata, bahwa kau sendirian, dan menunggu untuk sesuatu yang tak akan pernah ada lagi ? apa kau pernah memikirkan hal itu?”
”apa layak bagi manusia, bagi jiwa-jiwa besar untuk memperlihatkan keresahan di hadapan dunia yang bahkan sedetik lagi kita tak pernah tahu yang akan terjadi? Lagi pula apakah kita dapat menolak lagi…? Apa ada yang harus manusia pikirkan lebih dalam selain bahwa ia memilih untuk diam atau berbuat sesuatu sebagaimana hatinya menginginkan?” Alissa balas bertanya.
“Kita semua berada dalam kekacauan, kita semua tragis, terserah akhirnya untuk menjadi murung atau membayangkan bahwa kita pernah berbahagia sampai kita menyadari betapa terasingnya kita, lalu kembali terbiasa dan kembali berbahagia.”
“Sendirian?” tanya Alissa.
“Setiap orang akan sendirian. Untuk apa mencari keramaian hanya untuk membohongi diri sendiri bahwa kita sendiri.”
“Aku akan memilih menari, mabuk di atas meja, merayakan kegilaan sebagai ontologi matematika keterasingan. Dan aku bahagia, pernah, sedang dan akan terus begitu.” Ujar Alissa, bibirnya menyunggingkan senyum kecil, tampak seperti sayap burung gereja tertimpa gerimis. Aduhai manisnya.
Tiba-tiba laki-laki itu merendahkan duduknya, sampai sejajar dengan pundak Alissa, sesekali pundak mereka bersentuhan dan menjadi lebih dekat. Tetapi tampaknya, Alissa membiyarkan hal itu terjadi, atau memang ia tidak menyadarinya.
“Wajahmu murung…tahukah kau, saat kita menemukan seseorang yang dapat membuat kita bahagia atau sebaliknya, maka dia pun memiliki arti; bahkan ketika kita tak dapat mengerti apa artinya ia bagi hidup kita?” ujar laki-laki itu, suaranya terdengar datar dan letih. Tapi sekali ini ia menatap Alissa, tatapannya lebih lama dan lebih dalam. ”aku hanya menebak kisah dimatamu.”
Tak butuh waktu lama, ungkapan laki-laki itu semakin membuat Alissa merasa laki-laki itu aneh, absurd, hampa dan begitu asing. Dan yang lebih membuatnya kesal adalah ia seperti melihat sebuah cermin atas dirinya sendiri. Alissa pun semakin tak mengerti dengan semua yang dikatakan laki-laki itu. Lebih dari itu ia mulai merasa risih. Namun Alissa sesungguhnya bukan risih sebab laki-laki itu, tetapi karena kata-kata itu seolah-olah begitu tepat sebagai gambaran dari dirinya sendiri. Dan segeralah rona kemuakan yang khas dari perempuan-perempuan berwibawa pun terpancar di sorot matanya yang, justru dengan magis membalas tatapan lelaki itu dengan lebih dalam, atau karena dirinya tak dapat lagi mengendalikan sesuatu yang tiba-tiba bergejolak dalam hatinya antara ketersinggungan dan rasa dekat.
Menit dan jam kembali berlalu, hujan tak juga reda, keduanya makin menjadi asing, memendam jauh, duduk membeku, terus saja terlibat dalam suatu kebekuan yang mirip dengan lukisan Picasso, terlalu indah, tapi tetap saja hanya gambar dari kebekuan. Tapi tetap tak terelakan keresahannya. Dan Alissa sekali itu tampak seperti sebuah lukisan perempuan dalam sebuah labirin, ia tak kuasa menahan rasa tersesatnya lagi:
“Anda bagitu aneh. Tapi aku tidak perduli. Aku menganggap hal itu wajar. Dan tidak harus ada kaitannya denganku, bukan?” kata Alissa dengan sinis.
Bendungan jiwa yang beberapa saat lalu ia pertahankan kini runtuh. Sejenak kemudian sesuatu yang seperti magis pun serasa mengalir membanjiri jiwanya. Terlalu sulit untuk dikendalikan bahkan oleh rasa muak dan kemarahannya yang membakar.
Laki-laki itu hanya tersenyum kecil. Memndang Alissa lebih mendalam, lantas menerbangkan burung kertas ditangannya kuat-kuat. Burung itu terbang terbawa angin melintasi pagar putih gereja, terbang entah kemana.
“Apakah memang benar, dalam cinta orang lebih sering diam dari pada berkata-kata?” kata laki-laki itu dengan suara datar.
“Anda tidak sedang bicara padaku, bukan?” balas Alissa.
“Seandainya ada orang lain di antara kita?” jawab laki-laki itu.
Alissa lantas menutup buku dipangkuannya dan membatasi halamannya dengan jari telunjuknya. Kemudian sekali lagi menatap laki-laki itu lekat-lekat. Sebuah tatapan yang lebih tampak sebagai suatu rasa heran dan terganggu daripada simpatik.
”Hai lelaki aneh, atau apa lah aku harus memanggil anda, hanya aku sangat heran bagaimana anda terus bicara denganku dengan suatu perkataan yang jauh seolah-olah anda memiliki masalalu yang begitu mendalam denganku, sedangkan kita baru sekali ini bertemu?” sergah Alissa, “anda seorang Platonik yang ulung, sadarkah kau dengan ilusimu?”
“sedetik yang baru saja kulewatkan denganmu sudah jadi masa lalu. Aku mengenanganya dan merasa bahagia dan akan begitu. Bukankah tidak membutuhkan waktu alama untuk mengenali masa lalu?”
Alissa tampak kesal dan segera memalingkan muka mendengar kata-kata yang seperti tak terhubung dengan pertanyaanya. Dan itu menjadi kesempatan bagi lelaki itu untuk memandangi Alissa seperti cara memandang seorang ilmuwan dalam sebuah laboratorium. Maka tampaklah padnaya kini dahi Alissa seperti mendung di atas air, dan yang melihatnya seketika akan membayangkan sebuah romantisme jiwa tanpa batas untuk duduk dan berdua di tepi danau paling hampa di kehidupan ini jika memang ada, untuk sekedar bicara dan merefleksikan kehidupan dengan damai. Bentuk lekukan pada leher Alissa, lengkung alis dan gerutan di antara kedua belahan bibirnya… “Apakah kau memiliki impian?” ujar laki-laki itu kemudian.
Alissa menghela nafas, ia tampak berusaha mengendalikan diri.
“Hari ini adalah hari pertunanganku dan kau mengerti sesuatunya. Kuharap kau tidak berpikir lebih jauh. Bahwa setelah ini kurasa tidak akan ada kisah apa-apa di antara kita. Karena bahkan nama anda pun aku tidak ingin tahu.” Jawab Alissa dengan tutur terjaga. Suaranya tenang tetapi cukup jelas. Ia bicara dengan paduan tempo dan rima yang sempurna seperti cara bicara gadis-gadis jelita dari keluarga kaya yang berpengetahuan. Dan sebentar kemudian ia terheran pada dirinya sendiri kenapa ia berusaha untuk tahu menanyakan nama lelaki aneh itu.
“Apa kau pernah memiliki cinta sebelumnya?” ujar laki-laki itu dengan ringan. Ia tampak tak berusaha menyebutkan namanya.
“Aku tidak pernah memikirkan hal itu…” jawab Alissa.
“Kau mencintainya?”
“Itu bukan sesuatu yang wajib untuk kuberitahukan pada anda, bukan?”
“Berbahagialah sebelum kau kehilangan kesempatan; sebelum dunia dengan kejam memaksamu untuk melupakan, membuatmu menunggu sampai akhir. Maksudku apakah kau pernah merasa jatuh cinta?”
“Aku sudah putuskan tidak akan menimbang dan memilih. Kebahagiaan adalah ibuku, aku sudah serahkan urusan perjodohan padanya. Dan aku memang tidak perduli, apa yang membikin ibu bahagia pastilah juga baik buatku.” Ujar Alissa cepat, tiada ragu dalam kata-katanya. Sebab kata-kata itu sudah ada dalam dirinya, dalam benaknya semenjak ia masih kanak-kanak dan kehilangan ayahnya.
“Bagaimana jika kau menemukan cinta setelah semuanya terjadi?”
“Jangan bodoh. Kata-katamu hampa saja.” Ujar Alissa terburu. Ia memalingkan wajahnya. Sesuatu dalam wajahnya berusaha ia sembunyikan sebab ia seperti merasa tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, jiwanya.
Alissa sudah begitu lama hidup dalam ilusi masa kanak-kanak yang menderitakan hatinya dan membuatnya sama sekali enggan mempercayai hatinya sendiri. “Kehidupan adalah emosi, insting atas kehendak untuk memutuskan di sini dan sekarnag. Kebahagiaan dan apapun ditentukan oleh hal itu, tidak yang lain, hati yang ragu dan mendalam tidak ada tempat dan berhentilah menjadi sentemintil. Segala hal seperti baru dan spontan.” Kata Alissa pada diri sendiri. Ia ingin bertahan dan membela dirinya entah dihadapan siapa.
Tapi nyatanya ia tidak dapat membohongi dirinya sendiri, kali ini ia merasa dirinya sedang memulai segalanya, segala hal yang terasa baru dan sejenak membuatnya merasa bahagia. Satu hal yang nyaris serupa ketika ia menemukan sebuah kata-kata untuk puisinya, tetapi kali ini ia faham perasaannya yang membumbung dan begitu kuat.
”Aku sudah tidak perduli. Dan berapa kali aku harus katakan, itu tidak ada kaitannya dengan anda, bukan?” ujar Alissa. Dirinya memang tengah menghujat, ucapannya ketus, tetapi ia sebenarnya hanya dalam usaha meyakinkan dirinya bahwa jauh disana dirinya yang asli masih ada; perempuan yang lebih sering lemah, tetapi masih memiliki cinta sejati.
“Katakan padaku, bagaimana jika hari ini adalah hari dimana kau sungguh-sungguh menyadari bahwa hatimu menemukan satu cinta? Katakanlah padaku apa yang akan kau putuskan; apa kau akan mengejarnya dan memberitahukan perasaan cintamu? atau kau akan membiyarkannya berlalu dan membiyarkan dirimu sepanjang hidup menunggu?” ujar laki-laki itu dengan emosi yang tepat. Suaranya terjaga dan lirih. Tetapi tatapannya memastikan kali ini ia meminta jawaban atas pertanyaanya. Dan Alissa tak kuasa lagi menahan tatapan yang begitu menghujam perasaanya. Ia berusaha mengalihkan pandangannya ke tanah, atau ke petir yang menderu samakin sering.
“Kau sedang jatuh cinta jelita.” Ujar lelaki itu dalam hatinya.
Alissa tak menjawab, atau memang tidak dapat menjawab, bergeming pun tidak.
Sampai beberapa saat lamanya Alissa masih terdiam seperti patung batu. Kembali membenamkan dirinya dalam buku yang sebentar tadi di acuhkannya.
“Katakan padaku, dan tidak usah khawatir, setelah ini tidak akan ada apa-apa diantara kita, bukankah kau akan segera bertunangan, dan aku pun akan melanjutkan hidupku. Jadi mari bicaralah dengan lebih tenang dan setelah ini anggaplah tidak pernah ada kesempatan diantara kita untuk bertemu lagi. Apa yang akan kau lakukan dengan semua itu, bahwa terkadang kita tak dapat menolak cinta sejati yang sering datang di waktu yang tidak tepat. Apa kau akan memilikinya, atau kau akan melupakannya dan melanjutkan hidupmu seolah pernah terjadi apa-apa” desak laki-laki itu, ia berkeras dengan pertanyaanya.
“Anda keras kepala, apa hubungannya semua itu denganku.” Ujar Alissa. “Barangkali tidak ada. Tapi kenapa kau ragu untuk memjawab pertanyaanku?”
“Terserah denganku.”
Mereka bertatapan kembali, saling menatap sampai tergambarlah bayangan diri mereka sendiri dalam sorot mata yang saling bertabrakan. Suatu tatapan mata yang menjadi obor dari dua cermin yang merefleksikan hidup antara hidup keduanya.

”Beranilah untuk memilih bintangmu sekalipun kau tidak tahu apa yang akan terjadi dengan malam hari. Dan biarkanlah bintang kecil itu tetap bersinar sekalipun kau tak memilikinya.” kata lelaki itu dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Sementara itu hujan kembali menetes, turun dengan lebih deras, seperti benang sari berguguran dari kelopak bunga-bunga.
Keduanya saling bertatap tak mengerti, seolah kehidupan menjadi tidak nyata, tetapi sesuatu telah terjadi, menimpa hati dan menjadi dalam.
“Aku harus pergi.” Kata Alissa kemudian.
“Kau memang akan pergi.”
“Apa?”
“Jangan katakan selamat tinggal.”
“Memangnya kenapa?”
“Kita tidak pernah tahu jika dimasa depan kita akan memiliki kesempatan untuk bertemu lagi.”
“Anda terlalu yakin….”
“Semoga anda bahagia dengan pertunangan anda.”
“Tentu saja.”
“Jangan mengundangku untuk pernikahan anda nanti.” Ujar laki-laki itu ketika Alissa
“Bagaima mungkin. Aku saja tidak tahu nama anda.” Ujar Alissa, masih lagi menatap laki-laki itu lekat-lekat, dan ia tak tahu kenapa ia tersenyum. Senyum yang manis, manis sekali malah. Kemudian Alissa dalam hatinya sungguh-sungguh merasa tidak mengerti mengapa ia berujar seperti gadis-gadis manja. Ia mau menyesalinya. Tapi terlambat.
“Galen.” Ujar laki-laki itu menyebutkan namanya.
“Alissa…..” Ujar Alissa membalas.

Semuanya usai. Keduanya berpaling berjalan ketujuan masing-masing. Mereka bertatapan kembali, sekali lagi, saling menatap sampai tergambarlah bayangan diri mereka sendiri dalam sorot mata yang saling bertabrakan. Suatu tatapan mata yang menjadi obor dari dua cermin yang merefleksikan hidup antara hidup keduanya.
Sementara itu sisa cahaya senja di barat yang jauh telah menghilang, terbentang lah landskap luas nan bebas; kabut gelap yang berarak ke kejauhan itu dihinggapi sisa burung-burung gereja yang terbang ringan bermain dengan sisa mendung, menembus awan pekatnya, untuk kemudian menghilang ditelan kejauhan di antara pohon palem dan pagar putih gereja Sion. Petang kini jadi kelam dimana-mana, dimana-mana malam, menghias pada dua hati mereka yang diam.

*Jakarta, Oktober 2012
Sabiq Carebesth

Iklan

One thought on “Dua Orang Melihat Hujan

  1. Oddie berkata:

    Kadang sebuah cerita yang sederhana datang dari sebuah pertemuan yang aneh.
    Hmmm…
    Suka sekali dengan penutupnya.

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Oktober 2012
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 46,296 hits
%d blogger menyukai ini: