Sastra Kita dan Keterasingan Masyarakat Kita

Tinggalkan komentar

Oktober 12, 2012 oleh sabiq carebesth

Sastra Kita dan Keterasingan Masyarakat Kita

Oleh : Sabiq Carebesth

by; 2_14_11_christoph_niemann100591

Sastra dan Pengarangnya
Sastra pada awalnya adalah usaha yang dilakukan dengan derajat emosi estetik dalam menirukan (atau pikiran yang menafsir) realitas empirik menjadi sebuah bentuk dunia baru; sebagai usaha untuk meruangkan kepalsuan kenyataan (fenomena-fenomena yang sarat rekayasa; sebuah konstruksi sosial) kedalam tafsir subjektif dalam usaha membenarkan kenyataan yang dianggapnya melenceng. Dalam hal itulah kasusastraan melayari alam reflektifnya untuk akhirnya tidak hanya berbuah kontemplasi, namun lebih jauh suatu pertobatan (konversi) ke dalam ruang praksis yang terdialektika kedalam negasi kualitatif; meninggalkan sesuatu atau melampaui sesuatu. Selanjutnya tentu saja, pengarang berperan sepenuhnya atas pilihan tema, bentuk, dan gaya mimesis-nya dalam menghadirkan kembali kenyataan (dengan sekian tafsir subjektifnya pengarang).
Maka bagi sastrawan, dunia sastra adalah media eksistensialis bagi pengarangnya. Di dalamnya pengarang memilihkan bahasa dari kedalaman (hati) estetikanya sendiri, ungkapan jiwa yang tersentuh dalam magis estetis; baik pengalaman empati indrawi sebagai sebuah solidaritas sosial maupun alam imajinasi yang ekstase.
Pengarang, dalam upayanya mencipta kembali, dan upaya tafsirnya atas realitas-empirik tentu saja menggunakan medium intinya yaitu: bahasa. Pikiran, pengalaman dan usaha estetik menghadirkan kenyataan fiksi lantas membentuk sebuah ‘teks sastra’ atau karya sastra dalam publik sharenya.
Di sinilah awal mula peran sastra dan bagaimana suatu karya sastra mengambil komitmennya untuk menafsir kembali realitas dengan bahasa sastranya–yang sementara di luar cara-cara sastra, realitas makin terdominasi sekaligus terdistorsi oleh susunan “bahasa” lain dalam bentuk misalnya berita di koran, atau visualisasi media elektronik.
Di tengah makin terdominasinya bahasa diluar bahasa sastra oleh modal dalam membahaskan realitas, bahasa sastra menemukan konteksnya yang, sekaligus krusial. Krusial dalam arti bahwa tidak ada juga yang dapat sepenuhnya menjamin bahwa teks sastra dalam sebuah karya sastra sungguh-sungguh murni patut untuk dilihat sebagai sebuah self otority teritory of mind yang absolut dan murni.
Perkara yang hadir kemudian adalah, apakah teks sastra dalam karya sastra merupakan refleksi sadar pribadi pengarang atas realitas? Bahwa subjektifitas dan interioritas kebenaran penilaian selalu saja merupakan sebuah polemik tambahan dalam pengadilan kebenaran yang objektif? Hal ini mesti dilihat arif, bahwa memproduksi karya sastra adalah memproduksi subjektifitas yang terakumulasi sebagai sebuah komitmen atas dunia, atas kebenarang yang masih mungkin, sebuah alternatif di seberang fakta-fakta. Namun harus bijaksana pula bahwa subjektifitas dalam karya sastra justru merupakan sebuah usaha mencari kebenaran yang masih tersisa dalam zaman sekarang ini di tengah menguatnya trend pop-culture yang meruangkan semua sisi realitas dunia dalam keseragaman. Keseragaman yang zaman generasi kita ini terdominasi oleh suatu struktur ekonomi bernama Globalisasi-Neoliberalisme.
Letak penting sekaligus fundamen teks sastra hari ini adalah keintimannya dengan motifasi yang terinternalisasi dalam diri para pengarang, sekaligus usaha untuk menunda dahulu mengatakan kebenaran pada fakta-fakta yang ada di sekeliling kehidupan kita sekarang sebagai sesuatu yang semata-mata—realitas.
Konstruksi dan sekaligus usaha teks sastra untuk mendekonstruksi fakta-fakta menjadi usaha menemukan realitas adalah hal yang patut menjadi trendsletter dunia kesenian (kasusastraan) kita sekarang ini, demikian pula pengarangya.

Realitas dan Keterasingan Sastra Kita
Kita sama berharap bahwa kebudayaan diharap mampu ‘membantu’ untuk memfasilitasi resistensi sekelompok masyarakat kita (yang sadar) akan polemik sekaligus ironi neo-liberalisme beserta hegemoni budayanya. Hegemoni budaya neoliberalisme yang seringkali menjadikan sastra berikut juga filsafat tentang keindahan, sebagai perkakas untuk mencurigai filsafat materialisme (kerja) dan di sisi yang lain sekaligus mendistorsi filsafat kerja dan keterasingan sebagai semata-mata materi kebendaan serupa gaya hidup dari fashion sampai gedget.
Kebudayaan sesungguhnya kita harapakan mampu untuk membumbungkan harapan baru akan sejarah generasi kita yang sudah mulai mengalami apa yang disebut Emile Durhaim sebagai anomi. Ketidaknormalan yang lebih ingin saya artikan sebagaimana apa yang orang-orang di awal abad ke -19 menyebutnya sebagai suatu masyarakat yang sakit; suatu masyarakat yang terasing dari kemanusiaan dan manusia lain. Keterasingan yang justeru hanya dapat dipahami dalam sebuah kerja dan dengan filsafat kerja.
Zaman kita sekarang ditandai oleh berlimpahnya materi, segala hal tersedia, asal ada uang. Tapi di sisi lain, sebuah bencana telah terjadi, yaitu kehancuran hakikat manusia sebagai pribadi. Keterasingan manusia di tengah-tengah kehidupan modern sekarang dimana kapitalisme dengan segala watak inheren yang dikandungnya terus memoderasi dirinya agar tetap kokoh dalam melangsungkan hegemoninya di atas sebagian besar “kelas” tak bermateri dengan membangunkan kesadaran semu dan meninabobokan kesadaran kritis. Lalu dimana peran sastra hari ini? Kemana refleksi (sosial) kepengarangan harus ditujukan?
Kebudayaan (kasusastraan) diharapkan mampu menjadi khasanah yang dinamis yang mungkin untuk mendampingi pengetahuan dunia kita; dalam banyak hal, sastra mungkin untuk menjadi avatar tempat mangkal jejak-jejak ingatan yang masih mungkin untuk ditapaki dalam horizon jagad yang semakin terlihat hampa dan seragam saja.
Tapi ini lah persoalannya, bahwa kemudian sastra rupanya dengan tidak sengaja mengambil untung dari etalase sejarah kebudayaan kapitalisme dengan cara memajang dirinya sebagai hiasan dunia kapitalisme yang tidak normal agar seolah-olah dunia dengan kebudayaan kapitalisme menjadi tampak normal.
Di tengah kekacauan dan keterasingan masyarakat karena melayani intensifikasi kerja sehari-hari yang eksploitatif, sastra lalu memberi kesegaran tersendiri bagi keterasingan manusia. Tengoklah betapa sexinya seorang di jam pulang kerja atau di luar jam kantor duduk di kafe atau dalam bus trans Jakarta sambil membaca buku sastra? Alangkah hampanya.
Sayangnya, walau pegiat sastra kita, dari mulai penulis sastra sampai kritikus sastra, itu pun kalau ada kritikus sastra di sini, cenderung membiarkan komunitas pembacanya makin terjeremab dalam sebuah keterasingan yang dihadirkan oleh sebuah buku sastra agar seolah-olah kehidupan menjadi tampak normal dan wajar saja. Padahal penulis sastra di sini sekeyakinan saya, adalah juga pelahap buku-buku filsafat seperti Karl Marx, Albert Camus, Freud dan Jung, atau Herbert Marcuse yang dengan berlimpah mengulas keterasingan manusia dan keterasingan kerja dalam dunia kapitalisme. Lalu dimana letak perlawanan dari kesadarannya?
Kemana sastra zaman sekarang dalam melihat konflik agraria, konflik hubungan industrial yang di alami ribuan buruh? Krisis identitas dan integritas yang di alami sebagian masyarakat bangsa ini? Sastra sekarang seperti larut sendiri dalam segelas kopi yang direguk pegiatnya dalam diskusi-diskusi kecil di Salihara atau di Taman Ismail Marzuki, atau di kafe-kafe di mana pegiat sastra yang sekarang kebanyakan adalah orang kaya, kecukupan materinya, malah sebagian artis dengan segala modal sosial yang dimiliki dari keartisannya, atau redaktur sebuah koran besar dengan gaji yang juga tergolong besar. Hendak melayani siapakah sastra kita hari ini? Sastra kita rupanya cenderung melayani kehampaan dan melankolia, ya tentu tidak semua tapi kebanyakan demikian lah adanya.
Kehampaan dan melankolia itu menurut saya, tidak hanya “kehampaan” dan “melankolis” sebagai kata yang akrab dalam sebuah teks sastra, tapi juga dalam jagad mental masyarakat yang melankolis dan hampa kesadarnnya. Saya sedikit melihat ada hal kecil yang terabaikan dari organisme kerja (kebudayaan) oleh para penggiat budaya di sini, yaitu bahwa perenungan yang bersifat filosofis (daya kritis) adalah masih penting, jadi bukan semata-mata kebudayaan sebagai peniruan yang nyata dalam keindahan yang terkomposisi secara proporsional, tapi sebuah daya ledak yang berani, tidak simetris, sebutlah sebagai suatu khayalan rasio yg mungkin atau tidak mungkin bagi pengetahuan manusia; kritik atas rasio murni atau kritik atas kemurnian itu sendiri.
Agak sulit hari ini meniscayakan deferensiasi antara kecemerlangan rasio dalam menata matematis momentum kultural dari yang ingin saya sebut sebagai tradisi zaman kita. Lagi pula dalam usaha dari tiap-tiap sastrawan untuk menafsir tradisi sebelum ahirnya terbelalak dalam melihat sejarah yang sudah terjadi, agak kebingungan dari sudut mana semua itu harus di baca dan lalu ditafsir sebagai realitas bahasa yang tak terprovokasi oleh negasi ekonomi politik sehari-hari?
Horizon bahasa yang dibentangkan hanya mengkilat untuk melihat titik penindasan yang seolah-olah wajar sebagai bagian dari dialektika pikiran bangsa ini yg sering merangkak dalam batas-batas ke-tabua-an.
Namun sejauh mana bangsa ini dan dialektika tradisi pengetahuan kebudayaanya mungkin untuk dijadikan pegangan idiologis, kritisisme, hal itu masih tampak terlalu rumit, lagi pula terlalu sedikit naskah yang ditulis dengan estetika hati yang murni untuk menjadi minimalnya bahan perbandingan.
Akhirnya saya berharap sedikit refleksi ini akan menjadi sejumput alasan untuk kita memulai membuat liris, baris dan bahasa (zaman) kita; sebuah sejarah yang melampaui takdir historis bahasa sastra kita sekarang. Namun bagaimana pun, sastra dan massa sebagai sebuah hubungan kognitif dan dialektis di tengah himpitan anomi sosial dalam sebuah masyarakat yang melankolis, sastra semestinya dapat sedikit menjadi pegangan nilai, penuntun moral, sekaligus harapan bagi kebebasan sebagai politik dan politik sebagai kemerdekaan. Dan dengan demikian sastra bukan hanya kumpulan teks puitis lagi melankolis yang dicetak di jilid menjadi sesuatu yang disebut sebagai buku sastra dalam rak-rak display di toko buku, tapi lebih dari itu sastra mungkin untuk tidak kehilangan daya kritis, solidaritas untuk mendampingi pengetahuan dunia, sejarah, dan dengan demikian transformatif.
Jangan sampai sastra hanya menjadi cermin dari kehampaan dan melankolia; menjadi sastra yang bingung lalu jadi menyedihkan, ringan dari bobot beban yang ditanggung kebanyakan masyarakat di zaman ini sebagai akibat dari kemapanan dan kesadaran semu dunia kapital.

#Sabiq Carebesth, Penyair dan Pecinta Sastra. Tinggal dan bekerja di Jakarta.

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Oktober 2012
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 44,282 hits
%d blogger menyukai ini: