Suatu Tempat dan Suatu Waktu di Daerah Bahasa

Tinggalkan komentar

April 4, 2012 oleh sabiq carebesth


(Sebuah Pengantar untuk Buku Memoar Kehilangan)
Oleh: Afrizal Malna
“Sajakku
Sajakku sajak
Aku bersajak bukan untuk membeli tuak
Dari candu jiwa hingga mabuk tergeletak
Sajakku bukan sajak
Aku mabuk untuk merengkuh utuh isyarat
Candu jiwamu kutenggak hingga tergeletak
Sajakku sajak mabuk
Sajakku bukan sajak
Sajakku sajak
Bukan aku; juga bukan kau
Sajakku hanya sajak
Sajak…Sajak…”

(Ciawi, Juli 2011)


Bahasa menjadi sebuah wilayah, sebuah daerah. Ia terjaga. Seperti entitas yang selamanya tidak berubah lagi. Di sana, bahasa menandakan suatu waktu, suatu masa, keadaan. Di sana, bahasa menyatakan penggunanya, pemakainya. Penggunanya kali ini seorang penyair, Sabiq Carebesth. Pilihan katanya, diksi dalam puisi-puisinya, menandakan bahasa sebagai sebuah waktu.
Puisi-puisi Sabiq dalam kumpulan ini, rata-rata ditulis tahun 2010 dan 2011. Tetapi 2010 dan 2011 bukan lagi menandakan realitas bahasa. Dalam bahasa yang digunakan Sabiq, 2010 dan 2011 hanya sebagai dokumen waktu. Bukan waktu sebagai kehidupan yang menahan kita di dalamnya. Realitas ini sama seperti seseorang yang kehidupan internalnya ditandai oleh produk-produk, ungkapan, rasa bahasa maupun perspektif-perspektifnya yang semuanya datang dari masa yang sama. Namun realitas internal ini berada dalam realitas ekstenal yang seluruhnya datang dari masa yang lain. Sebuah gerhana realitas dan gerhana waktu sekaligus.

Ia seperti pesawat telfon yang masih menggunakan kabel. Namun dunia di luarnya tidak lagi menggunakan kabel, melainkan sudah menggunakan sinyal. Sebuah gambaran yang mirip dengan salah satu puisi Sabiq (Pelukis dan Gadisnya). Puisi yang menggambarkan pelukis yang akan melukis gadis yang dipujanya. Tetapi gadis itu telah tiada. Dan sang pelukis juga kehilangan gambaran sosok gadis itu: aku tak sanggup jadi bayangan bagi kelammu.

Gerhana waktu yang membuat puisi-puisi Sabiq seperti sebuah perjalanan tidak untuk menempuh perjalanan itu sendiri, tetapi justru untuk berada dalam kendaraan yang mengangkutnya, yaitu bahasa: pujalah di dinding sepimu. Dalam kendaraan ini (dinding sepimu), kita kemudian bertemu dengan banyak hal dari berbagai perjalanan yang sudah berlangsung, pertemuan-pertemuan maupun perpisahan-perpisahan yang sudah sudah terjadi. Tetapi dalam kendaraan ini pula kita bertemu dengan kehilangan yang terus berlangsung, terus-menerus, di tengah banyak hal yang sudah terjadi. Dia yang kemudian melepaskan batas-batas ontologis untuk menghadirkan tatanan waktu yang dibawa oleh puisi.

Beberapa pilihan kata dalam puisi Sabiq seperti: kanvas jiwaku, semesta, kalbu, mahkota, senandung, seruling, nun muram, di bibir nasib, sulam kelambu merupakan diksi yang membuat bahasa berhenti di suatu waktu atau suatu masa. Ungkapan kanvas jiwaku mengandaikan sebuah masa dimana seniman pelukis masih menempatkan roh sebagai pencitraan terhadap seni lukis yang hidup, “jiwa yang terlihat” dalam pengertian S. Sudjojono (jiwa ketok). Hubungan antara manusia atau seorang seniman dengan media dan peralatan masih berada dalam hubungan langsung, berada dalam pesona yang memenuhi dirinya. Hubungan ini di masa kini kian menjadi hubungan materialistis atau fungsional. Perubahan ini berlangsung besama dengan menghilangnya diksi kalbu yang hampir tak pernah lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Dunia kalbu, suara hati yang pernah romantik itu, tenggelam bersama berbagai perubahan yang melandanya.


Munculnya kembali diksi kalbu dalam puisi Sabiq, mengingatkan kembali tradisi puitik maupun komunitas semiotik yang membuat diksi ini pernah penting sebagai konsep yang menjelaskan nilai-nilai yang hidup dalam komunitas semiotik itu. Hal yang sama dengan ungkapan di bibir nasib, mahkota, tudung sutra biru atau sulam kelambu. Komunitas semiotik di mana tubuh dengan objek yang digunakan tubuh masih berlangsung sebagai hubungan langsung yang prosesnya bisa diikuti. Bukan proses instan dalam pabrik. Komunitas semiotik di mana kemerdekaan masih merupakan tema bersama: Yang meronta meminta tanda. Bahwa hidup kita merdeka (“Masa untuk idaku”). Kemerdekaan dalam konsep komunitas semiotik ini telah kian bergeser dengan realitas masa kini dimana materialisme dalam budaya uang kian menjadi penanda utama.

Visi yang sama senilai dengan konsep kemerdekaan, kembali bisa ditemukan dalam puisi Sabiq: engakau mulia dalam apa yang engkau kehendaki, engkau mulia dalam apa yang kau kerjakan… Judul puisi ini “Memoar Kehilangan”, sekaligus digunakan Sabiq sebagai judul untuk buku kumpulan puisinya ini. Judul yang memang mewakili visi tentang “waktu yang hilang yang mewarnai hampir seluruh puisi-puisi Sabiq. Penggunaan diksi Sabiq, yang menahan bahasa berhenti di wilayah pengguna maupun di wilayah waktu tertentu, membuat puisi-puisi Sabiq dalam kumpulannya ini melahirkan kembali alam dengan malam sebagai malam, langit luas, angin laut, tanda kepergian dengan menggunakan pantai maupun kapal, manusia dan alam yang masih bisa menari bersama di ruang terbuka.

Menari dan bernyanyi masih merupakan ekspresi penting dalam puisi Sabiq. Dalam beberapa strategi puisi yang ditulis Sabiq, unsur rima masih memainkan peran dengan permainan vokal a, I maupun u yang umum digunakan dalam penulisan sanjak, seperti sajak “Babak Asmaradana” ini:

Memilih kuda pacu
Niat hati mau melaju
Tapi tunggu dulu;
Bawalah serta masalalu

Hal yang sama juga berlangsung dalam interior puisinya “Tetap di sini; Jangan kemana-mana”. Judul yang juga bisa dibaca sebagai “puisi pernyataan” tentang bahasa yang harus tetap di sini, tidak berubah bersama dengan perubahan politik maupun ekonomi. Atau dalam puisi di atas: Tapi tunggu dulu; bawalah serta masalalu. Bahasa harus terus mengandaikan kontinyuitas waktu, dan bukan mengukuhkan terbelahnya waktu antara masalalu dengan masakini.

Salah satu puisinya, Cermin Retak, mempertanyakan gadis-gadis desa yang pergi meninggalkan desanya, bekerja di kota sebagai buruh dengan gaji rendah dan tinggal dalam rumah kos murah. Tarikan kota kepada perempuan desa, walau kualitas hidup di kota jauh lebih buruk daripada di desa, memperlihatkan ambruknya desa dalam imajinasi sosial kita. Perempuan-perempuan desa pergi bersama dengan bahasa dan gaya hidup desa. Ungkapan gadis juga kian hilang dalam pergaulan bahasa di kota, di mana ungkapan ini mewakili komunitas semiotik sebelumnya untuk perempuan yang masih lajang atau perawan. Menahan bahasa untuk berhenti pada batas waktu tertentu, dalam hal ini signifikan untuk melawan perubahan yang kian menghancurkan kualitas hidup maupun imajinasi sosoial kita bersama:

Kemana perginya gadis desa
Kemana larinya ibu dan adik-adik
Mereka tidak ada di sekolah
Tidak di sawah
Pergi dari rumah
Jadi perempuan perkotaan
Ya jadi buruh
Tidur dikontrakan kumuh
Harus menipu diri sendiri
Setiap hari
Sebab gaji rendah

Interior puisi seperti yang dilakukan Sabiq ini, pada satu sisi seperti melawan proses destabilisasi bahasa yang berlangsung terus-menerus sejak pemerintahan Orde Baru. Bahasa menjadi bagian dari mode yang terus berubah bersama dengan perubahan kekuasaan, pergeseran modal dan pasar, maupun perubahan gaya hidup. Sabiq menyebutnya sebagai “metafora waktu”, sebagaimana dengan salah satu judul puisinya: Aku terlempar pada bayangan hampa. Dari metafora kecantikan setubuh masa. Bayangan disandingkan lebih dekat dengan kecantikan, tubuh dan masa.
Waktu sebagai dokumen beralih menjadi waktu sebagai memori. Memori yang terlempar, tersingkirkan. Bayangan di sini menjadi penting sebagai perayaan atas memori yang terlempar itu. Bahasa yang dihentikan atau terhentikan dari perjalanan perubahannya, dalam puisi Sabiq menjadi sebuah entitas dimana kita bisa menyimpan kepercayaan-kepercayaan kita, sejarah identitas, dalam peralihan waktu seperti ini. Dan memori diperlakukan sebagai ibu kandung dari kepercayaan maupun sejarah identitas ini. Memori tertinggal dan selalu bersama dengan konteksnya sendiri.

Posisi memori dalam konteksnya, tidak tersentuh oleh konstruksi sejarah apa pun yang memprovokasinya, bahkan oleh konstruksi sejarah yang sistematis dan kontinyu terus berusaha menguasai waktu dan memperspektifkan realitas:


Ziarah Malam
….
Jika kami terlambat
adakah kami harus menebus dengan ribuan waktu?
Sedang bagimu betapa tak bergunanya menghitung waktu:
Waktu berlalu
Waktu bergerak maju
Mengitari kekinian mencari kemarin


Memori, bahasa, puisi dan waktu merupakan personifikasi dari seseorang sebagai dia dari mereka yang berusaha menyelamatkan memori, ingatan, kenangan dari agresi sejarah. Walau memori ini hidup dalam sebuah perjalanan kehilangan terus-menerus. Memori seperti tidak mendapatkan waktunya untuk memasuki prosesnya sendiri, sekaligus tidak mendapatkan bahasanya untuk menjadi bagian dari para penghuni bahasa masa kini. Tetapi dengan cara ini pula personifikasi dari “dia-yang-kehilangan” itu mengingatkan kita kembali tentang waktu, bahasa sebagai tanda-tanda untuk membaca diri kita sendiri. Puisi di sini menjadi sebuah “gerhana waktu” dan “gerhana bahasa” sekaligus. Dia ditutupi oleh bayangannya sendiri sebagai wujud dari “dia-yang-kehilangan”. Visi dari “dia-yang-kehilangan” ini adalah mencari “yang-kemarin”, seperti dalam puisinya Ziarah Malam di atas.

Hampir seluruh puisi-puisi Sabiq Carebesth dalam kumpulannya ini lahir sebagai gerhana bahasa dan gerhana waktu dari “dia-yang-kehilangan” itu. Saya degan sadar berusaha tidak menyertakan biodata mengenai Sabiq Carebesth untuk membaca kumpulan puisinya ini, hanya karena saya tidak ingin justru kehilangan “gerhana waktu” dan “gerhana bahasa” dalam puisi-puisinya. Kesadaran yang sekaligus membuat saya menemukan pantulan puisi yang berlangsung terus-menerus antara waktu sebagai dokumen dan waktu sebagai kehidupan. Di antara keduanya adalah kehilangan: ditabur dipemakaman cinta yang kita matikan sendiri, merupakan pantulan puisi yang saya kira merupakan inti dari negosiasi waktu yang kemudian dilakukan Sabiq antara kenangan dengan masakini. Ungkapan ini berlangsung dalam puisinya Asmara Tanpa Senggama.
Negosiasi waktu seperti itu, antara kenangan dan sejarah, melahirkan semacam persuasi terhadap sesuatu yang tidak berhenti, walau kenangan telah berhenti. Persuasi sebagai hasil dari perjalanan pencarian di luar sejarah masakini. Ketika kenangan berhenti, dan waktu terus bergerak, sejarah terus berubah, kenangan kemudian menempuh jalannya sendiri, menempuh pencariannya sendiri. Konsistensi seperti ini bagi Sabiq, dan saya menyetujuinya, adalah jalan kegilaan yang memang harus dilakukan. Karena kenangan tidak sama dengan rapuhnya bahasa yang ikut berubah bersama dengan perubahan sosial-politik. Dalam hal ini, kita tidak bisa berharap memperlakukan bahasa sebagai bagian dari infrastruktur sejarah. Karena, pada kenyataannya, sejarah juga dikonstruksi dengan “permainan bahasa”:

Ia turut menari kini
Dalam pencarian
Sampai penghabisan
Dan diukirnya sebuah nama dan cinta
Dengan tinta hitam dari samuderamu

Ia menatap padaku:
Seorang gila dalam segelas kopiku

Ia, serupa aku.
(Kepada segelas kopiku)

Dalam puisi di atas, negosiasi dan persuasi itu berlangsung sebagai tarian; janji pencarian sebagai tinta hitam. Keduanya adalah kegilaan, seperti kopi yang diteguk setiap hari. Dalam prosedur waktu puisi Indonesia modern di mana kesepian merupakan nyanyian bersama para penyair modernis umumnya, maka kesepian pada puisi-puisi Sabiq Carebesth merupakan keterkecualian: Kesepian diterima bukan sebagai terbelahnya waktu oleh perubahan. Melainkan, karena berhentinya kenangan pada periode tertentu bersama dengan bahasa, visi, hubungan-hubungan antara manusia dengan alam, maupun dalam pergaulan gender. Kesepian bukan dalam perspektif modernisme yang mencari masadepan sebagai harapan, melainkan justru mencari masa kemarin sebagai cara melihat sejarah dari dalam kenangan.


Lalu apakah puisi bagi Sabiq dalam perspektif waktu kehilangan itu? Di awal tulisan ini, saya mengutip salah satu puisi Sabiq yang berjudul “Sajakku”. Puisi ini melibatkan tuak, candu jiwa, mabuk dan isyarat sebagai material interiornya. Dalam interior ini terjadi penyangkalan dan penerimaan secara bersamaan antara “sajakku bukan sajak” dengan “sajakku hanya sajak”. Kata hanya merupakan toleransi yang khas antara penyangkalan dan penerimaan.
Pada puisi dengan judul Puisi Untuk Puisi, Sabiq memberi rincian lebih memantulkan puisi sebagai kejadian yang berawal dari kenyataan-kenyataan dalam perspektif tubuh dan media. Puisi dimetaforkan sebagai “bahasa-yang-tak-bisa-memilih-kata”, sebagai “suara-yang-tak-bisa-memilih-bunyi”, dan sebagai “pembaca-yang-tak-bisa-menafsirkan”:

Puisi tidak punya mata
Untuk memilih kata-kata

Puisi tidak punya telinga
Untuk mendengar bisikan kelana

Puisi tidak punya kekuatan
Untuk menerjemahkan sabda langit

Puisi tidak punya kuas dan kanvas
Untuk melukis keindahan

Tamsil yang digunakan Sabiq untuk menyatakan bagaimana puisi diposisikan, dalam kutipan puisinya di atas,

merupakan cara yang paling sia-sia untuk mensejajarkan puisi dengan media lainnya dalam mempersepsikan dirinya sendiri. Tamsil itu bukan konsep negatif dalam melihat puisi. Tetapi puisi memang ditempatkan sebagai media yang tak terbakukan. Puisi seperti sebuah penggaris yang berada di luar ukuran.
Puisi tidak berhubungan langsung dengan dialetika sejarah, karena ia bertopang pada kenangan. Konstruksi sejarah kadang dibuat untuk orang lupa kepada kebenaran, ketika sejarah seakan-akan digulirkan sebagai peristiwa publik. Menghidupkan kenangan menjadi cara untuk melawan lupa: Puisi adalah ingatan/ Museum bagi jiwa yang kehilangan/ Waktu yang menjelma kenangan/ Agar tak musnah dalam kegilaan/ Dari zaman yang gemar lupa. Puisi juga menjadi ukuran untuk melihat kualitas kehidupan publik dalam rejim politik yang menindas: Puisi adalah kebohongan/ Dari kemerdekaan yang terpasung/ Oleh kebodohan dan ketakutan.

Puisinya “Kepada Penyair”, merupakan cara yang sama dalam melihat hubungan antara puisi dan penyair sebagai hubungan yang non-representatif: Adakah yang lebih tak seirama seperti antara penyair dan puisi?/ Tak pernah sepaham tak perah kan bersekutu/ Dibentangnya jarak sejauh-jauhnya batas jarak/ Setiap jeda adalah jalan pulang ketitik mula/ Setiap mula adalah jarak sejauhnya.
Cara memisahkan antara puisi dan penyair melalui ekstrim seperti dilakukan Sabiq tersebut, merupakan pembacaan yang diposisikan sebagai peristiwa dimana penulis atau penyair telah mati lebih dahulu sebelum sampai ke tangan pembacanya. Pembaca dilahirkan dari penyair yang terlebih dahulu “dimatikan” di dalam teksnya sendiri. Karena itu penyair merupakan kehadiran yang non-representatif dari puisi yang ditulisnya sendiri. Penyair telah dimatikan terlebih dahulu, sebelum pembaca melakukan hal yang sama berdasarkan berbagai strategi pembacaan. Dengan cara seperti ini pula “jarak” dibaca sebagai “optik”: titik yang menentukan penghadiran jarak dan segaligus titik yang menentukan bagaimana jarak itu dilihat atau diproyeksikan.

Hubungan optik dan titik, dalam hal ini bisa dibaca sama sebagai hubungan antara penyair dan puisi; juga optik dan titik sebagai bahasa dan kata. Maka, ketika optik dilihat sama sebagai titik, pembacaan pada moment ini terjatuh menjadi peristiwa kecelakaan narasi. Dan bahasa yang juga terjungkal ketika ia dipaksa dibaca oleh bentukan-bentukan baru pada bahasa akibat perubahan politik maupun ekonomi.

Kecelakaan pembacaan itu merupakan bagian dari adanya dinding yang dibiarkan kosong pada puisi-puisi Sabiq yang bergantung pada kenangan sebagai dinding utamanya, dan metafor Gadis sebagai bayangan ruang dari dinding tersebut. Kritik terutama datang dari adanya dinding yang dibiarkan kosong itu. Kekosongan yang membutuhkan detil lebih banyak lagi untuk mewujudkan kesaksian kenangan menjadi perayaan kenangan atas waktu yang hilang. Dalam puisinya yang saya kutip sebelumnya di atas (Puisi untuk Puisi), memang dihadirkan subyek dinding sebagai dinding yang tidak berjendela. Dinding kusam dimana jendela dihadirkan tidak dalam bentuk fisiknya, melainkan sebagai lukisan pada dinding kusam itu. Ini merupakan visualitas yang provokatif untuk menghadirkan realitas dari waktu kehilangan, mata yang tak bisa memilih kata, dan telinga yang tak bisa mendengar bisikan. Visualitas yang sekali lagi menjelaskan sebuah masa dimana puisi dan senilukis masih berjalan sebagai kembaran bahasa antara kata dan titik, kalimat dan garis.

Gadis yang sosoknya tak tergambarkan lagi, yang sering dijadikan subjek metaforik untuk waktu kehilangan dalam puisi-puisi Sabiq, merupakan subjek yang berada dalam pergulatan terus-menerus untuk menempatkan kenangan dalam romantiknya. Kenangan yang dibuat menggunakan pakaian berlapis-lapis dari kesunyian, kehilangan, kematian, kerinduan, kesedihan, kemabukan, kegeliaan hingga kemarahan. Lapisan-lapisan ini membuat pantulannya sendiri untuk menggemakan kenangan. Dan rupanya hanya puisi yang bisa menggemakan kenangan seperti ini.

Akhirnya saya ingin menutup tulisan ini dengan mengembalikannya kepada salah satu puisi Sabiq yang ditulis dengan strategi prosa (Sublim).

Begini:
Seperti setiap sunyi dan kesepian yang mengajarimu berlari lebih jauh; kedalam dirimu sendiri.***

#Afrizal Malna , 2011

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

April 2012
S S R K J S M
« Mar   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Pengunjung

  • 44,765 hits