Teologi Tanah

Tinggalkan komentar

Maret 27, 2012 oleh sabiq carebesth

Masalah tanah semakin berkembang sepanjang sejarah ke periode sejarah manusia. Sejak manusia hidup dengan nomaden (berpindah-pindah) dengan mempertahankan hidupnya melalui berburu dan meramu, kemudian menjadi bercocok tanam untuk dimakan hasil buminya, hingga tanah menjadi kapital primadona untuk menumpuk kekayaan hasil produksinya. Perkembangan mode produksi masyaralat inilah kemudian mencatat persoalan konflik persengketaan tanah tidak pernah padam sampai sekarang.
Masalah muncul seiring dengan perubahan status tanah dari yang sebelumnya bebas dari kepemilikan, bebas untuk mengakses kekayaan yang ada di atasnya, berubah menjadi adanya sistem kepemilikan. Semula kepemilikan atasnama kelompok atau suku, lalu berubah menjadi kepemilikan pribadi. Penguasaan tanah kemudian menjadi dikuasai oleh negara seiring dengan berdirinya negara modern, sebagaimana diperkenalkan domain theory ala Raffless.

Lalu, bagaimana pandangan agama (Islam) mengenai masalah tanah ini? Doktrin agama sudah jelas dan tegas dari awal, bahwa di atas manusia terdapat Tuhan sang Pencipta sekaligus Penguasa. Status tanah atau bumi yang kita tempati ini hakikatnya adalah milik Allah, dan manusia hanya khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi untuk bisa mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bagi manusia dan semesta alam. “Kepunyaann-Nya lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang ada di bahwa tanah,” demikian firman Allah dalam al-Qur’an (QS. 20: 6)

Dengan demikian, doktrin Islam jelas menolak sistem feodalisme, di mana tanah itu milik seorang raja, dan hanya raja yang berkuasa atas tanah, selain raja tidak berhak memiliki tanah. Dalam feodalisme, rakyat biasa (kawula) tidak berhak atas tanah, ia hanya boleh menggarap tanah dengan memberikan upeti kepada raja sebagai pemiliknya. Sistem inilah yang disanggah oleh Islam, karena –sekali lagi, tanah itu milik Allah.
Kata tanah digambarkan atau disebut dalam al-Qur’an sebagai: 1) bahan asal diciptakannya manusia, dan tempat dikebumikan manusia nanti setelah mati, 2) sebagai tempat tumbuhnya kehidupan dan akan sirnanya kembali tanaman tersebut, 3) sebagai bagian dari semesta dan isinya, seperti gunung, tanaman, matahari, langit, bintang, dan hewan. Istilah tanah atau bumi (Arab: ardl) disebut berulang kali di dalam Alquran sebanyak 462 kali. Ini menggambarkan betapa vitalnya konsep ini dalam Islam.

Dalam Alquran, bumi digambarkan sebagai sebagai mahd (QS. al-Zukhruf [43]: 10), mustaqarr atau qarâr (QS. al-Mu’min [40]: 64), firâsy (QS. al-Baqarah [2]: 22), bisâth (QS. Nuh [71]: 19) dan mihâd (QS. al-Naba’ [78]: 6). Dari berbagai jumlah ayat ini, dapat ditarik beberapa pernyataan. Pertama, tanah bukanlah objek pemilikan. Tanah dimiliki Tuhan, dan bahwa hanya Ia satu-satunya pemilik tanah, beserta semua yang ada di atasnya. Bumi adalah ciptaan Tuhan yang mesti dikelola secara benar. Tidak satu pun manusia yang berhak mengklaim memiliki bumi sejengkal pun karena bumi ini adalah milik-Nya. Untuk itu, manusia tidak boleh arogan ketika memiliki tanah di bumi.

Kedua, bumi tampil sebagai bagian kehidupan: tanaman, hewan, burung dan manusia. Tanah yang hijau adalah ciptaan Tuhan untuk kesejahteraan umat manusia. Gambaran tentang warna hijau adalah gambaran kesuburan, dan segala yang positif, konstruktif dalam hidup manusia. Di atas tanah yang hidup, terdapat pula berbagai jenis binatang, yang sebagaimana tanaman, diperuntukkan untuk kemaslahatan manusia dengan hubungan saling melestarikan dan menghargai (mutual-respect). Jadi, dapat dikatakan bahwa tanah merupakan medan keanekaragaman ciptaan yang seharusnya hidup atau eksis berdampingan dan saling menghargai dengan dasar ketulusan dan persahabatan.

Berikutnya, tanah atau bumi dilukiskan sebagai keluasan yang lurus, panjang, empuk, luas, lebar untuk manusia guna berjalan dan tinggal di atasnya. Ibaratnya bumi merupakan ibu pertama kita. Di atasnya kita hidup dan dibesarkan. Dari anugerah yang ditumbuhkan bumi kita makan. Oleh karena itu, bumi mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh kita, lantaran bumi merupakan padang tindakan manusia untuk memenuhi kebaktiannya dan melaksanakan kepercayaan yang diberikan Tuhan kepadanya. Di antara hal-hal tersebut adalah untuk tidak membiarkan bumi begitu saja, namun sebaliknya harus dihijaukan dan dijadikan produktif, bukan dibiarkan begitu saja.

Dari pentingnya tanah dan pengelolaan atasnya, maka muncullah berbagai konsep dalam fikih Islam yang memberikan perhatian pada kesucian dan pentingnya penyuburan terhadap bumi, di antaranya, ihya’ al-mawat (menghidupkan lahan yang tidak produktif) dan hima (lahan konservasi). Rasulullah Saw menyatakan, “Siapa pun yang menghidupkan tanah yang tidak produktif, maka ia berhak untuk memilikinya.” Selain itu, Islam juga mengembangkan konsep yang disebut hima (lahan konservasi), yang sekarang ini mungkin bisa disamakan dengan cagar alam, suaka margasatwa, atau taman nasional.

Tapi masalah tanah ini sudah berkembang sangat kompleks. Sistem kepemilikan yang diterapkan sampai sekarang telah menunjukkan ketimpangan atau ketidak adilan yang mencolok. Ada satu orang kaya yang memiliki lahan hingga jutaan hektare, tapi sebaliknya terdapat jutaan orang miskin yang tidak memiliki sejengkal tanah pun. Bagaimana agama memandang hal ini? Memang tidak ada larangan dalam agama bagi seseorang yang ingin memiliki jutaan hektar lahan, atau dengan kata lain aturan tentang batasan kepemilikan itu tidak diatur dalam agama. Memang bukan urusan agama mengatur masalah ini. Tapi dari ajaran agama lah suara yang paling keras menentang tindakan memperkaya diri sendiri. Dikatakan bahwa “tidaklah kamu beriman jika tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetanggamu kelaparan.”

Jadi agama tidak mengatur masalah tata kelola pertanahan, namun memberikan landasan etis, yakni keadilan. Negaralah yang berhak menguasai dan mengaturnya, sebagaimana yang telah dimandatkan oleh konstitusi. Masalah atur-mengatur ini kelihatannya tehnis, tapi sangat ideologis dan politis, yakni menyangkut mau diarahkan ke mana kebijakan negara itu? Apakah untuk menyejahterkan rakyatnya, ataukah untuk menumpuk pundi-pundi kekayaan segelintir orang. Apakah kebijakan itu berpijak kepada keadilan dan pemerataan atau lebih memihak kepada yang kaya. Dalam hal ini, sebenarnya suara Islam sangat tegas dan nyaring pemihakannya terhadap kelompok lemah atau rakyat miskin (mustadl’afin).

Dalam Hadits, Nabi Muhammad saw. menegaskan bahwa “As-sulthan dhillu’llah fil ‘ardl ya’wi ilaihi kullu madhlum”, artinya adalah penguasa itu ibarat menjadi bayangan Allah di muka bumi, di mana menjadi tempat berlindung para kaum yang teraniaya (lemah). Hakikat negara itu ada jika kaum lemah terlindungi. Dalam konteks pembagian tanah ini, secara ideologis agama jelas merekomendasikan kepada negara (penguasa) untuk mengutamakan kaum yang lemah, yang tidak punya tanah atau yang kekurangan lahan. Dan ini wujud keadilan Allah yang telah diamanatkan kepada manusia di muka bumi. Wa’llahu a’lam.

**Suraji, Pemerhari masalah pesantren dan Politik Agraria

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 46,296 hits
%d blogger menyukai ini: