sedumuk batuk senyari bumi, ditohi pecahing dodo lan wutahing ludiro

2

Maret 27, 2012 oleh sabiq carebesth

Demikian ujaran dikalangan rakyat soal tanah. sedumuk batuk senyari bumi, ditohi pecahing dodo lan wutahing ludiro, yang artinya kira-kira; soal tanah adalah soal yang sensitif dan untuk itu dipertaruhkan dada dan tumpahnya darah!
Di pedesaan kita anak-anak kekurangan gizi, kelaparan, dan sebagian mati karena penyakit yang sebenarnya bisa disembuhkan; namun mahalnya biaya kesehatan tak terjangkau kantong petani desa yang umumnya berlahan kurang dari 0,5 hektar. Anak perempuan putus sekolah, kawin muda, atau ke kota, sekedar jadi buruh rumah tangga. Pendapatan riil petani tidak juga meningkat meski produksi pangan terus meningkat. Padahal, setiap tahun, 25 juta rumah tangga petani memproduksi pangan, meliputi padi, jagung, kedelai, ubi kayu, dan ubi jalar, yang nilainya Rp 258,2 triliun. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, nilai tukar petani terus merosot. Pada tahun 1976, nilai tukar petani 113, pada 1979 dan 1989 bahkan mencapai angka tertinggi, yakni 117. Namun, pada 1993 merosot menjadi 95 dan tahun 2009 nilai tukar petani bulanan tertinggi hanya 101. Penguasaan lahan petani juga makin sempit. Jumlah petani yang berubah status menjadi buruh tani pun makin banyak karena tidak lagi memiliki lahan sendiri.

Ekonomi petani sudah lama ambruk. Di Lombok, dan juga di dairah lain, petani padi baik perempuan mau pun laki-laki hanya “laba nyawa”. Pupuk langka dan kalau ada tak terbeli, tanah makin sempit, air sulit, hutan hancur, sumber daya alam habis dikeruk, dan lingkungan pun rusak parah. Kalau kemudian mereka menjual lahannya, lalu menjadi buruh di negeri orang; persoalannya adalah mengapa hal itu terpaksa dilakukan?? Istri harus menyelamatkan ekonomi keluarga dengan menjadi buruh rumah tangga di negeri asing, yang tak jarang pulang sebagai mayat, cacat berat, atau paling ringan dikemplang gajinya oleh majikan. Seluruh rentetan kebijakan ini adalah akibat dari absennya kebijakan agraria yang berpihak pada rakyat, populis dan memahami relung dalam masyarakat(inner world) masyarakatnya sendiri.
Di atas semua penderitaan itu, pada saat yang sama, keuntungan segelintir korporasi transnasional (TNCs) dibidang pangan dan pertanian meningkat berlipat-lipat, dari 543 juta dollar AS menjadi 1,12 milar dolar AS. Fenomena tersebut tampak jelas memperlihatkan watak dasar korporasi: serakah dan tak punya etika. Ekspansif dan ekspolitatif, selebihnya keuntungan yang diakumulasi sebesar-besarnya untuk kepentingan sendiri. Soal rakyat? Soal nasib petani, anak-anak perempuan?? Tak terpikir!!

******
Sejarah memberi pelajaran dan menuntut kita mengingatnya. Bahwa dalam keadaan yang serba rumit dalam zaman kalatidha semcam itu, rakyat hadir dengan beragam gerakan, pola dan bentuknya. Kita lantas mengenal salah satunya adalah gerakan Millenarisme.

Millenarisme. disebut sebagai salah satu pola utopia dalam gerakan kaum tani. Millenarisme merupakan sebuah kurun zaman yang didamba usai berlalunya kalatidha; dimana segala kegemilangan tata hidup terjaga dalam keadilan, begitu damai dan sejahtera. Tidak ada dominasi dalam bentuk apapun. Tidak ada penderitaan dan ketidakadilan, semua bertanah, semua merdeka, semua bebas. Tak ada paksan tak ada pajak. Namun sebelum zaman itu tiba, sebagai sebuah siklis, bersiaplah menyongsong dan melewati suatu zaman petaka tanpa tata, tumpah keringat juga darah, dan tak jarang Millenarisme itu meminta tumbal nyawa.

Menurut jalan pikiran di atas, alam pikiran semcam ini utopis sifatnya. Namun rentang sejarah mencatat adanya gerakan Samin sebagai kebalikannya. Kaum Samin rupanya sangat rasional dalam berpikir. Mereka mengajukan pertanyaan waras meski keluar dari alam berpikir yang sederhana: mengapa saya harus membayar pajak? Kalau pemerintah memerlukan uang dan saya berkelebihan, maka akan saya berikan; mengapa Negara membebani pajak atas tanah, melarang saya kehutan atau memakai air? Karena, lemah pada duwe, banyu pada duwe, kayu pada due, tanah milik semua, air milik semua, dan hutan milik semua orang? Ada yang beranggapan ini adalah semcam komunisme primitive. Tetapi sebenarnya bukan, karena orang Samin sangat sadar akan hak miliknya sendiri. (Prisma; No. 9, September, 1979)

*****
Rakyat pada dasarnya rasional. Kekerasan hanya lahir bila argumentasi telah mati. Menurut filosof Karl Popper mereka utopis, karena itu salah, karena itu berbahaya; tetapi menurut logikanya mereka rasional, karena dalam alam pikiran rakyat tanah adalah segala-galanya. Tanah telah dikucuri peluh dan darahnya. Demi tanah segala dikorbankan termasuk nyawa; dipertaruhkan dada dan tumpahnya darah; sedumuk batuk senyari bumi, ditohi pecahing dodo lan wutahing ludiro. Di titik di mana argumentasi mati atau dimatikan, dimana rakyat hanya dianggap sebagai simbol panji-panji tanda takluk abadi (seperti metafora Ernest Hemingway), di sana kekerasan mulai, karena baginya kekerasan adalah kelanjutan argumentasi. “Bila hanya tinggal satu kemungkinan yaitu memilih antara menjadi pengecut atau memakai kekerasan, saya anjurkan pakailah kekerasan” kata Mohandas Karamchand Ghandi sang Mahatma.”Dunia ini mencukupi untuk semua, tapi tidak bagi satu orang serakah!!”
******

Tapi semua ini hanya mudah dalam catatan, celetuk Maria Hartiningsih dalam catatannya di harian Kompas, diluar sana tanah adalah komoditas ekonomi dan politik. Sejarah kelam bangsa ini berhulu pada soal tanah. Nasib petani terus menjadi taruhan dan perlawannanya untuk merebut kembali hidupnya selalu mendapat cap hitam: subversif!! (Kompas, 2009)

Rakyat bangsa ini bukan kaum pemalas yang pelupa dan gemar ongkang-ongkang, tapi sepekerja keras apapun; tercurah keringat dan darah, kalau hulu soal penghidupan, yaitu pangan dan lahan, masih terus ditangani dan dikuasai oleh rezim pangan (corporate farming) yang kapitalistik; serakah dan tidak punya etika, maka bangsa ini pasti akan terus miskin dan kelaparan. Tanpa memahami inner world masyarakatnya krisis kronis bangsa ini akan terus berlangsung dan usaha atasnya tanpa memahami relung dalam masyarakat akan selalu patah.

Reforma Agraria bukan sekedar utopia, buah dari kedegilan dan kedangkalan nalar; melainkan ia (reforma agraria) adalah kemestian bagi kedaulatan dan pembangunan bangsa. Maka tak ada pilihan, laksanakan reforma agraria yang sejati, sekarang juga, titik!!


Sabiq Carebesth, Pimpinan Redaksi Jurnal dan Majalah Agricola, Yayasan Bina Desa Jakarta.
At Bina Desa Office, 2010

Iklan

2 thoughts on “sedumuk batuk senyari bumi, ditohi pecahing dodo lan wutahing ludiro

  1. Bambang Santoso berkata:

    Saya berminat jadi mitra Anda dalam rubrik Reforma Agraria, bila cocok silakan kontak saya di 085210190753 08158928158 Tks, Bambang Ard

    • sabiq carebesth berkata:

      salam, trimakasih apresiasinya untuk blog saya.
      trmksh untuk tawaran kerjasamanya. hanya maaf saya dan blog ini lebih oriented ke sastra dan humaniora khususunya puisi.
      saya juga lebih menulis puisi dan bukan pakar pertanahan.
      makalah soal reforma agraria adalah milik penulisnya yaitu Gunawan Wiradi, yang saya comot dari google dan berkesempatan meminta izin publikasi kepada penerbit bukunya karena saya merasa gagasan pikirannya menarik. bila terkait kerjasama saya rasanya lebih ingin mengembangkan blog pribadi ini untuk puisi-puisi karena memang ini saya dedikasikan untk dokumentasi puisi saya.

      salam hormat
      SC

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 45,245 hits
%d blogger menyukai ini: